
Pagi cerah nan hangat di Adaroth adalah hal yang paling bagus di awal hari ini bagi seluruh masyarakat. Beberapa ada beraktivitas seperti berjualan, bersepeda, atau bahkan hanya berjalan-jalan, sedangkan yang lain ada ikut para tentara membersihkan puing-puing tempat terjadinya pertempuran sehari yang lalu.
Tentu masyarakat masih diliputi rasa takut, namun raja yang berhasil selamat bersama keluarga bangsawan lain menyakinkan semua orang untuk tetap tenang dan terus bersemangat. Ini sebenarnya juga pukulan telak bagi sang raja, negara Aproud yang terkenal harum namanya bersinar prestasinya ini masih dapat diserang. Yang dilakukan pemberontak seperti mengoyang-goyangkan pohon tempat ular bersarang tentu akibat yang akan diterima adalah kematian, kelompok yang bodoh sekaligus nekat.
Berkat penyerangan waktu lalu selain kerusakan ada beberapa fasilitas yang masih perlu masa rehat seperti akademi militer Supernova disini. Para pelajar disini tidak libur sepenuhnya, mereka masih harus masuk kelas namun pengajar serta pelatih mereka sepertinya sibuk mengurus banyak hal daripada hanya mengajar. Banyak yang memanfaatkan waktu berlatih, belajar, ataupun santai-santai seperti Aeus. Dia sedang duduk sendirian di atap gedung akademi yang berlantai tiga puluh lima ini. Melihat matahari perlahan naik merupakan salah satu kegiatan yang dia lakukan untuk menghilangkan gundah.
Saat malam terjadinya penyerangan oleh para pemberontak dia pikir saat itu adalah akhir baginya, sekarang disinilah dia, sedang memandangi mentari timbul. Sedih dia rasakan saat mengingat pemakaman bagi tentara Supernova masih ramai sekali tadi dikunjungi oleh anak, istri, orang tua, dan sanak saudara mereka. Aeus bertanya pertanyaan lucu pada diri dia sendiri saat teringat itu, kenapa bukan dirinya saja yang gugur saat itu, bukan prajurit baik yang terpaksa meninggalkan orang tercinta.
Meninggal pikiran tadi dia berdiri saat matahari segar pagi berganti membakar. Sebuah dentuman nyaring entah berasal darimana diikuti getaran samar-samar muncul. Perasaan deja vu seperti malam saat penyerangan kini Aeus rasakan kembali.
Karena Aeus berada diatas gedung dia memiliki keuntungan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyisir kota dari atas sana. Dua titik di utara dan selatan sedang mengeluarkan ekor asap hitam yang tebal dan panjang. Gema teriakan juga samar-samar Aeus tangkap. Penyerangan lagi? Tidak bisa dipercaya, tapi itu faktanya saat ada kelompok sama yang memakai topeng hitam bergambar tengkorak. Pemberontak.
Aeus panik, ini berbeda dari sebelumnya saat pasukan Supernova saat itu sudah siap dari serangan. Saat kota ini masih perlu untuk memulihkan diri, warga sipil juga masih terkungkung oleh rasa takut, mereka menyerang lagi tanpa peduli hasil yang mereka terima berkemungkinan sama seperti sebelumnya, kalah.
Alat pengeras suara bergetar. "Untuk semua orang yang berada di akademi, jalankan kode penyelamatan dua-dua-empat-nol, sekarang!"
Butuh waktu megingat sandi itu, saat dia sadar apa artinya dia ingin menyumpah. Itu adalah kode yang digunakan saat perang atau semacamnya terjadi, bagi semua pelajar akademi disuruh masuk kedalam suatu tempat untuk berlindung.
Dia mengintip kebawah gedung dan melihat pasukan bertopeng tengkorak membawa senjata merengsek masuk ke akademi. Jumlah mereka yang melimpah itu langsung menyebar cepat seperti virus. Terlambat bagi Aeus, terlambat bagi semua orang disana.
Sekarang yang dia pikirkan adalah tempat persembunyian lain, di kelas, di laboratorium, di gudang, hampir semua tempat dia pikirkan sampai dia tahu tidak ada tempat sembunyi lagi. Kota ini telah diambil alih pemberontak.
Sensasi jarum menusuk dia rasakan dia tengkuk leher dia. Setelah dia periksa ternyata itu peluru dart. Tubuh dia entah kenapa gemetar, perasaan tidak berdaya menggerayami Aeus. Perlahan dia jatuh keras menghantam lantai, kesadaran dia hilang, dan matanya tertutup sendirinya. Dia mulai kolaps.
Akhirnya Aeus dapat sadar. Dia langsung bangun secepatnya sambil menahan pusing dan denyut bagai hantu dikepalanya saat ini. Dia ingat sebelumnya pingsan, yang dia bingungkan siapa yang melakukannya? Dimana dia? Kedua bola mata Aeus menyisir tempat dia tinggali sekarang. Sebuah kamar berukuran kecil, dia sedang berada di kasur putih yang tersambung langsung ke dinding, ada kasur lain disampingnya, yang membuat dia kaget juga adalah ada seorang perempuan berumur tujuh belas tahun berpakaian resmi Xordas–seragam hitam bergaris merah tembaga–saat ini sedang bersandar diambang pintu terbuka, menonton dirinya panik dari tadi.
Aeus berdiri, lalu bersikap protektif. "Dimana aku? Siapa kau?"
Perempuan itu tetap diam. Mata merah dia menatap tajam Aeus. Selain mata, yang menarik dari gadis ini adalah rambut putih sepanjang dagu serta berkulit putih bersih. Pandangan gadis ini membuat Aeus harus menahan diri untuk tidak salah tingkah.
"Kau dipanggil," ucap datar perempuan itu.
"Katakan dulu siapa kau? Siapa yang memanggilku?" Aeus mencoba menegoisasi, namun jawabannya jelas saat gadis itu pergi meninggalkan dia sendiri.
Mau tidak mau Aeus harus mengikuti dia. Gadis ini tidak bisa diabaikan, tetapi dia lebih tertarik pada lorong segi empat berdinding dan berlantai besi hitam ini, suara langkah mereka bergema, gema yang panjang, itu berarti koridor ini cukup jauh.
Setelah lima belas menit berjalan mereka akhirnya berhenti. Gadis itu membuka pintu lalu masuk, Aeus juga melakukan hal serupa.
Ruangan itu ternyata tidak sekecil kamar Aeus tadi. Yang berbeda adalah disini bukan tempat untuk beristirahat melainkan sepertinya untuk bekerja. Ada komputer diatas meja ditengah ruangan, serta laci besi kecil terpampang disudut ruangan.
Ada seorang perempuan dua puluh lima tahun berambut hitam panjang diikat, dia menggunakan seragam hitam bergaris emas tentara golongan Lucos, dia sedang sibuk membaca berkas-berkas di atas laci. Sedangkan yang lain, ada seorang pria Xordas, berumur dua puluh delapan tahun, berambut merah agak kusut.
Sang gadis mengangkat tangan memberi hormat. "Lapor Jendral Jatson, aku membawakan dia seperti perintah anda."
Laki-laki Xordas berambut kusut yang tadinya bersembunyi di depan komputer berdiri. Tubuh dia tegap serta berisi. "Terima kasih Mira." Jenderal Jatson memandang Aeus.
"Siapa kalian? Dimana ini?" tanpa sadar Aeus melupakan penghormatan, atau tidak, sepertinya dia harus percaya dulu apa yang dia dengar, ini bisa saja jebakan.
"Tenanglah prajurit," ucap Jenderal Jatson tersenyum tipis. "Aku Jendral Jatson. Kau berada di tempat amam, di bunker sekarang."
"Kenapa kita sembunyi?" Aeus bicara yang terlintas pada otaknya.
"Kita kalah," lirih Jendral Jason. "Kita diserang oleh pemberontak, dan kalah. Ibukota dan dua kota lainnya telah diambil alih."
Sekarang kenyataan seperti agak mustahil dia terima. Supernova kalah, dan disinilah mereka, sembunyi.
"Bagaimana bisa aku disini?" tanya Aeus.
"Ceritanya panjang, kami membawamu dari atap gedung itu, kami harap kami bisa menyelamatkan sebanyak mungkin tapi..."
"Aku Natalie," kata perempuan berambut dikuncir kebelakang tadi, dia terlihat sudah selesai berurusan dengan berkas-berkas tadi. "Kita memang kalah, tapi kita akan merebutnya kembali. Aku yakin kita semua akan pulang."
Kalimat dari Natalie itu sedikit membuat Aeus tenang. Dia benar, kalah bukan berarti hilang segalanya.
"Sebenarnya ada yang ingin kuberitahukan lagi." Jendral Jason masih berdiri. "Jumlah orang di bunker ini lima belas orang, dua belas Xordas, dua orang Lucos, dan kau, satu-satunya Unvon."
Hari ini ternyata bisa lebih buruk dari yang Aeus bayangkan. Senjata pamungkas Supernova kini tidak dapat digunakan karena setiap konstelasi pemanggilan membutuhkan lebih dari satu Unvon. Saat mendengar dia hanya seorang diri maka dia hanya berucap dalam hati. "Apa yang bisa dilakukan satu bintang?"