SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Kematian, Misteri, dan Seorang Pecundang



Tempat minim cahaya ini kurang lebih mirip seperti gua buatan untuk dinding, lantai, dan langit-langitnya terdiri material batu kasar. Disana ada Owen serta dua Lucos yang salah satunya Farhaz.


Dengan meja batu yang tersambung ke lantai disanalah dua laptop berpijak dengan para Lucos tadi sedang bekerja keras menampilkan banyak gambar dari kamera jalanan. Tiap persegi gambaran dari jalanan masih kosong untuk sesaat. Mereka menunggu.


Tak lama dari kamera di jalan wilayah selatan empat mobil yang penuh dengan pemberontak tertangkap sedang lewat. Lucos selain Farhaz, berambut hitam agak keriting serta mata biru menengadah pada Owen. "Mereka sudah di jalan."


"Kalau begitu kabarkan pada Jasmine untuk mengaktifkan prototipe Pictornya."


Lucos tadi mengangguk lalu menghubungi Jasmine. Kemudian di kamera wilayah selatan tepat di jalanan yang mobil pemberontak lewati ternyata berpapasan dengan tiga mobil box yang penuh kerusakan dari peluru. Tiga dari empat mobil pemberontak mengikuti mobil box itu sedangkan satu tetap pada lintasan menuju penjara daerah.


"Ada satu yang menuju ke penjara," ucap Lucos berambut agak ikal tadi.


Owen terdiam sesaat, bimbang. Mereka masih perlu waktu di penjara itu. Jika pemberontak sampai disana pasti mereka mengetahui ternyata tadi itu hanya umpan, ini artinya pengalih perhatian mereka akan tidak berguna.


"Katakan pada Jasmine untuk menarik perhatian satu mobil pemberontak yang sedang menuju penjara daerah." Owen datar.


Mata biru Lucos tadi gemetar sesaat setelah sadar perintah Owen pada Jasmine adalah bunuh diri. Dengan berat hati dia meneruskan pesan itu pada Jasmine. Dan dia memenuhinya.


Kamera wilayah utara menangkap seorang Xordas dengan motor sport biru melintas didepan mobil pemberontak yang sedang menuju penjara daerah. Para pemberontak itu bingung tentunya, tapi setelah menimbang beberapa saat, mereka memakan umpannya. Sama-sama dalam kecepatan penuh mereka saling melakukan permainan kucing dan tikus.


"Baiklah bagaimana status tim penyelamat kita? Apakah mereka berhasil Ostrich?" Owen bertanya ke Lucos berambut ikal.


"Mereka berhasil lima menit lalu, kini mereka sudah dalam tahap pergi dari penjara daerah. Estimasi mereka kesini sekitar sepuluh menit," sahut Lucos berkode nama Ostrich.


Proyektor itu masih bisa mengalihkan perhatian musuh, begitu juga Jasmine yang kini berkendara demi tugas. Ketegangan bertambah saat para pemberontak mulai melakukan serangan.


Mereka disana hanya bisa menonton gugup saat pertunjukan mereka telah selesai. Mesin projektor terkena tembakan lalu menghilangkan proyeksi begitu nyata tadi hingga hanya menyisakan kendaraan tak berawak melaju seperti dikendalikan hantu. Pemberontak itu tahu mereka sudah masuk jebakan, mereka tidak peduli pada motor yang bisa berjalan sendiri, mereka langsung banting kemudi. Dengan kecepatan penuh menuju penjara daerah.


Getaran gua buatan itu menjadi-jadi saat sebuah mobil muncul begitu saja menuembus atap dari ujung ruangan. Benar, mobil itu menembus bebatuan, tapi itu juga ilusi dari proyektor.


Owen langsung menghampiri mobil yang telah berhenti itu. "Aku tahu kalian semua lelah, tapi misi kita belum selesai." Jemari dia menunjuk ke kanan, area cukup luas dengan lantai batu kasar yang ditandai titik dibeberapa tempat. "Para Unvon langsung berbaris!"


Lima belas tentara Supernova berjenis Unvon dengan tertatih berjalan lalu berdiri di titik tanda berada. Mereka mengaktifkan mode Stella. Mata mereka berubah jadi kuning menyala, kemudian seberkas cahaya keluar dari punggung mereka, menyelimuti tangan tiga dari Xordas yang saat ini berusaha tetap tegar daripada lain walau telah berusaha maksimal dalam misi tadi, salah satunya Mira.


Cahaya tadi mulai redup, berganti menjadi sarung tangan biru gelap dengan telapak tangannya yang bewarna biru agak cerah.


"Seperti yang direncanakan!" lantang Owen. "Kita buat hujan untuk menutupi jejak kita!"


Tiga Xordas memejamkan mata, langsung menjulurkan sarung tangan mereka ke depan. Alat itu mulai aktif terlihat dari telapak tangannya yang mulai menyala biru terang.


"Tunggu sebentar." Salah satu Xordas menghampiri mereka. "Keluarkan setiap prototipe yang kalian simpan, kita tidak bisa salah kali ini."


Mira dan Xordas disampingnya mengambil prototipe belati cancer lalu melemparnya menjauh. Ini memang sebuah kewajiban, karena jika pemakai benda dari konstelasi pemanggilan memakai prototipe jenis apa saja maka akan terjadi ketidakselaraan. Seperti benda itu mendadak kedap-kedip atau tidak berfungsi. Tidak ada satupun yang tahu mengapa tapi itulah yang akan terjadi kalau masih menggunakan benda murni dan tiruan secara bersama.


Mereka yang berada dibawah sini tidak mengalami apa-apa karena terhalang objek diatas mereka. Sedangkan diluar bisa dipastikan sedang terbentuk gumpalan air terbang, menghasilkan hujan buatan. Hanya ada satu konstelasi pemanggilan yang bisa mengendalikan air yaitu konstelasi Aqurius. Dan alat yang dipakai mereka tidak bukan adalah sarung tangan Aquarius.


Farhaz yang masih terpaku melihat adegan kejar-kejaran antara Jasmine dan pemberontak yang ternyata berakhir tragis. Jasmine tertembak dipunggung lalu terpental jauh dan menghantam pembatas jalan begitu keras hingga walau tanpa dilengkapi suara video itu bisa dikhayalkan sendiri suara tulang yang menghantam besi. Terlalu mengerikan hingga Farhaz berpaling sesaat.


Emosi tadi menghilang sekejap mata saat dia merasa pahanya bergetar akibat ponsel yang dia simpan disana. Dia keluarkan lalu menatap layarnya yang berubah jadi hitam dengan huruf dan angka terletak tidak beraturan. Ini tidak lain karena Aeus, dia berhasil meletakan prototipe Auriga. Saatnya memburu informasi para Pemberontak.


Dalam tempat gelap tak berujung Aeus terbangun dan langsung memegangi kepalanya yang sakit sekali. Dia tidak sempat berdiri karena tiba-tiba seorang gadis tujuh belas tahun berambut pirang lurus sepanjang pinggul berponi menutupi dahinya serta memakai gaun putih sederhana membuatnya terkejut.


Mata Aeus tertambat pada wajah gadis misterius ini. Wajah oval, rambut pirang pekat, mata biru sejernih laut dengan warna kulit putih cemerlang. Gadis itu jujur membuat dia merona, sampai kesadaran menarik dirinya bahwa ada yang tidak beres saat ini.


"Apakah aku sudah mati?" Celetuk Aeus yang sebenarnya sudah berpikir panjang lagi rasional. Sebelumnya dia tenggelam bukan? Lalu dia tidak bisa berenang, akhir itu begitu mudah tertebak.


Pingsan? Yang benar saja, dia sudah mati. Jika tidak dia tidak mungkin disambut bidadari seperti dia. "Apakah aku akan masuk surga atau neraka? Atau aku akan masuk dunia lain? Aku bisa terlahir kembali menjadi skeleton dan berpetualang bersama dewi air menjadi ksatria pedang terhebat?"


Gadis itu menanggapinga tanpa emosi. "Tidak ada surga dan neraka. Tidak ada yang namanya terlahir kembali." Ekspresi datarnya membuatnya teringat akan seseorang.


Dari kata-katanya sertinya dia berkata jujur. Dia yang sudah merelakan hal duniawi mulai tertarik bertanya mengenai kenyataan. "Lalu aku dimana ini?"


"Di otak bagian belakang, tepatnya posterior cortical hot zone."


Dagu Aeus jatuh bebas hingga mau tak mau mulutnya terbuka cukup lebar lalu sebagai pelengkap memiringkan sedikit kepalanya kebingungan. Aeus rasa di akhirat tidak ada sekolah sehingga penjelasan singkat nan ilmiah tadi mustahil ada.


"Siapa namamu?" gadis itu bertanya.


Dia berhenti melongo lalu menggelengkan kepalanya cepat-cepat berusaha menyadarkan diri sendiri di dunia yang membingungkan ini. Setelah dia bisa tenang dia mulai bicara, "namaku Raven."


Disini begitu aneh sampai kebohongan tadi meluncur begitu saja.


"Raven?" Gadis itu menyipitkan matanya pada Aeus sesaat. "Baiklah, aku ingin memberitahumu satu hal." Gadis itu mendekati Aeus lalu menundukan badannya menghampiri Aeus dibawah. Wajah itu berubah jadi sedingin es saat dia berucap, "Hypernova sudah dekat."


Aeus langsung menyeret dirinya menjauh. Gadis ini tidak hanya aneh, tapi mengerikan. "Terserah saja, tapi aku ingin kau memberitahu apa yang terjadi disini? Kenapa semua gelap?"


Gadis itu sedikit tersentak. Tidak disangka dia bisa bingung juga. "Terakhir kali apakah kau ingat melakukan apa?"


Tangan Aeus naik mengusap dagunya. "Tenggelam bukan?" Pose berpikir nampaknya tidak membuat dia cerdas sama sekali.


"Kau mengaktifkan mode Stella, karena itulah kita bisa bertemu disini. Tidak ada batasan dalam sebuah mimpi. Bahkan untuk mempertemukan pikiran dengan pikiran yang berada ditempat dan waktu yang berbeda."


Aeus butuh waktu lama memproses kalimat itu. Setelah sepuluh menit bergulat dengan pikiran dia masih bingung. Dia memutuskan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sedari tadi yaitu bertanya, "apa maksudmu?"


"Aku datang dari dunia lain dan waktu lain."


Aeus tetap butuh waktu mencari makna kata yang sudah disederhanakan gadis itu. Dunia lain? Apakah artinya dia ini makhluk halus? Lalu waktu lain? Apakah dia berasal dari masa lalu Aeus? Seingat dia tidak ingat wajah gadis ini, kalau begitu apakah masa depan? Sumpah ini lebih sulit dari ujian fisika yang dia pernah hadapi.


"Kurasa sudah saatnya kau bangun." Wujud gadis itu mulai kabur. "Ingat apa yang kukatan, beritahu pada Raja Aproud, Hypernova sudah dekat. Jika kita bisa bertemu lagi akan kuceritakan banyak hal padamu." Gadis tadi benar-benar menghilang seperti asap.


Kemudian Aeus terbangun untuk kedua kalinya dengan mulut batuk mengeluarkan air. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah basah Sakura begitu dekat sampai dia rasa jika bergerak pasti mereka akan berciuman.


Sakura langsung menjauh. Aeus berusaha duduk. Kali ini dia lihat seragam dan celana yang dia pakai benar-benar basah. Dia mengalihkan padangan ke arah Sakura yang kini tanpa seragam, hanya dengan kaos singlet hitam. Secepat mungkin Aeus menarik matanya menjauh.


"Jangan katakan kau memang tidak bisa berenang," kata Sakura dengan wajah kesalnya yang tertunduk.


"Aku... memang tidak bisa berenang." Tidak ada gunanya berbohong.


Aeus baru sadar mereka sedang berada di ujung pipa yang berfungsi sebagai parit, meneruskan air yang tergenang di jalanan ke sungai disamping mereka.


Sakura masih mendongakkan kepala menghela napas pelan dan berat. "Tentara macam apa yang tidak bisa berenang? Berkat kau kita terjebak dikota ini dengan seragam Xordas, jika saja kau dapat berenang kita bisa saja sampai pada lubang tiga dengan selamat. Sekarang lihatlah! kita kedinginan, tanpa makanan dan tempat layak." Kekesalan Sakura sudah bercampur amarah sekarang.


Aeus hanya bisa menunduk sambil menahan air mata menyedihkannya keluar. Hati dia tersayat sangat dalam mendengar itu. Dia membuat banyak nyawa berguguran, sekarang malah membahayakan nasib orang yang sudah membantu dirinya keluar dari penjara dan air. Begitu bodoh, sangat tidak berguna, benar-benar payah.


Dalam diam dia berteriak pada dirinya sendiri berusaha menyadarkan. DASAR PECUNDANG!


*****


sebagai permulaan saya minta maaf telat update soalnya saya keterima masuk kuliah jalur sbmptn makanya banyak yang harus diurus. Bagi yang masih setia membaca cerita ini saya ucapkan terima kasih banyak, kalau punya pertanyaan atau saran bisa tulis aja di kolom komentar. satu hal lagi, kalau suka jangan lupa like dan sharenya ya! terima kasih telah membaca.