SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
(Episode Spesial) Revolution of Superhuman: Kota Harapan



Lucu mengetahui karakter dalam komik yakni seorang pria berumur dua puluh tahunan berambut hitam rapi dengan badan kekar memakai kostum biru ketat berlambang huruf S di depan dada dan jangan lupakan celana dalam merah yang seharusnya berada didalam kini dipajang di luar. Dikenal dengan nama Superman, seorang manusia yang tahan hujan peluru, seorang manusia yang mampu mengangkat empat gajah sekaligus, seorang manusia yang mampu menyerang hanya dengan menatap. Ternyata sosok itu nyata.


Mereka nyata.


Tandanya sangat jelas bahwa tidak boleh memancing di sungai biru lebar ini, bisa dilihat di pinggiran sungai telah terbangun barikade panjang berupa karung dilengkapi perisai baja bewarna hitam lengkap dengan sekelompok tentara Xordas bersenjata yang membidik kearah bengawan tenang pagi itu.


Terlihat juga didekat sana telah berdiri tenda-tenda hijau gelap didalam rimbunnya hutan. Walau keadaan tenang, tidak ada teriakan apalagi tangisan, suasana tetap tegang saat yang bisa dilihat hanya tentara dan senjata. Paduan sempurna untuk mimpi buruk.


"Ada tanda-tanda mereka disana?" tanya seorang Xordas tiga puluh lima tahun berambut hitam rapi dengan warna kulit putih. Dia tengah bersandar di pohon coklat berumur tua mengawasi sungai di kejauhan sana.


"Tidak ada satupun letnan Joule!" sahut tegas prajurit Xordas yang berdiri diatas dahan kurus pohon yang disandari sang letnannya sendiri. Dia masih senantiasa menilik dari balik teropong hitam itu ke arah sungai yang tidak berujung itu.


"Kalau begitu turunlah, dan ikuti aku." Letnan Joule mulai berdiri tegak kemudian melangkah pergi diikitu prajurit pengintai tadi.


Mereka berdua berjalan bersama tapi letnan Joule melangkah mendahului prajurit tadi. Mereka bersisihan dengan banyak tentara yang bergerak sana-sini membawa senjata atau kotak perlengkapan. Keadaan nampaknya memang genting.


"Apa pendapatmu tentang mereka Berg?" sang letnan bertanya.


"Sebenarnya cukup gila pak." Prajurit itu kalau diperhatikan cukup muda, masih berusia dua puluh tahunan, berbadan tegap dengan warna kulit coklat terang dan rambut hitam terpangkas rapi disii kanan dan kiri. "Baru muncul sepuluh bulan lalu dan langsung mengubah dunia."


"Bagaimana tentang tempat ini? Kota Eld yang tenang, kau lahir disini bukan?" Seseorang melintas di depan Joule dan menegurnya, letnan itu membalas dengan anggukan kecil.


"Benar pak."


"Padahal kota ini bersebelahan langsung dengan Adaroth, kota yang paling sibuk, tetapi lihatlah." Mata Joule meloncat dari satu pohon ke pohon lain. "Sungguh tenang dan begitu asri."


"Wilayah disini memang bagus dijadikan perkebunan dan peternakan pak, dari dulu hingga sekarang," sahut Berg terus mengikuti Joule.


Sampailah mereka di tenda ujung kamp, tenda yang lebih luas dan tertutup dari yang lain. Mereka berdua masuk bersamaan dan langsung melihat objek paling penting diatas meja. Sebuah peta negara Aproud yang sangat besar.


Seorang prajurit di dalam tenda melihat kedatangan mereka langsung berdiri tegak kemudian memberi hormat.


"Istirahat di tempat." Isyarat Joule membuat prajurit itu melunak. "Kau sudah memperbaharui peta?" Sang letnan memerhatikan peta.


"Sudah pak," ucap prajurit itu tegas. "Laporan pagi ini memberitahukan bahwa kota Jeldan, Vaga, dan Dorn sudah ditaklukan mereka."


"Astaga! Dorn berada disamping kota Eld bukan? Kuharap mereka berpikir lebih dulu sebelum melanjutkannya kesini." Joule nampak kesal namun dia masih tetap memerhatikan peta.


Setelah peristiwa bermunculannya para manusia super ini, keadaan benar-benar diluar kendali. Saat ini mereka meminta sebuah wilayah untuk kaum mereka sendiri dengan cara revolusi. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka punya kekuatan aneh seperti itu, seperti semua beberapa orang dapat kemampuan itu dan mulai melawan di masing-masing belahan dunia.


Negara butuh waktu berkompromi, tetapi mereka mendesak dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Pertempuran terjadi dari kota ke kota sampai negara tersebut berada dibawah kekuasaan manusia super yang tiap saat muncul pada manusia biasa. Supernova sudah membantu banyak negara yang masih bisa dipertahankan walau pada akhirnya tetap berguguran. Pasukan penjaga dunia ini tidak bisa menyerah, akan tetapi mereka sendiri harus bagaimana saat tempat kelahiran mereka jatuh.


Dari banyaknya kota Aproud, kini hanya sepuluh kota bertahan dan kota Eld disini adalah harapan terakhir sebelum mereka menguasai Adaroth.


"Status pertahanan kita?" tanya Jendral.


"Barikade sudah sampai delapan puluh lima persen. Sedangkan untuk pasukan kita masih empat ratus orang, menurut laporan lima puluh orang tengah di kirim kesini."


"Hanya lima puluh?" Joule merasa kehilangan telinga tadi.


"Kita mengirim banyak pasukan ke negara belanda dan spanyol akhir-akhir ini, jadi saya rasa itulah alasannya."


"Negara kita sendiri masih perlu bantuan ... tapi mereka...." Letnan tidak ingin membicarakan ini, sudah tugas Supernova melindungi negara lain, akan tetapi sekarang mereka juga kewalahan.


Tiba-tiba walkie talkie di ikat pinggang milik Joule berdesir, dia langsung mengulurkan tangan beberapa saat kemudian alat transmitter itu sudah berada disamping telinga. Suara seorang pria muncul dari sebrang sana.


"Apa! Yang benar saja, apa mereka juga tidak perlu tidur!? Kau sudah menceknya kembali?" Joule memberi jeda mendengarkan balasan. "Kalau begitu bersiaplah." Sang letnan nampak sangat terguncang dari percakapan itu.


Dua bawahannya hanya bisa diam ikut tegang. Ada sesuatu yang salah, tapi mereka tetap harus menunggu intruksi jelas agar bisa bertindak.


"Pengintai kita di dekat sungai melihat pergerakan, itu adalah mereka. Jumlah mereka di perkirakan seratus sepuluh orang, sedang terbang kesini." Joule memandangi kedua bawahannya. "Bereskan semua barang disini dan pergi dari sini."


Berg seketika terkejut. "Tidak letnan, aku ingin membantumu."


"Ini perintah! kalau kota ini jatuh dan mereka menemukan rancangan strategi kita disini maka habislah sudah." Joule mencoba berdiri tegak di keadaan tidak seimbang ini, mencoba menatap kedua bawahannya dengan rasa bangga. "Kalian sudah berjuang disampingku selama ini, tapi kalian tidak ditakdirkan gugur disamping seorang sepertiku. Pergilah!"


Keadaan menjadi begitu emosional. Namun Joule tahu sudah tidak ada lagi waktu untuk ini. Dia beranjak keluar tenda dan langsung menghubungi sesorang dengan alat transmitter tadi.


"Letnan Markus! Apakah konstelasi pemanggilan kita sudah siap?"


"Sudah siap dua menit lalu, apakah para Xordas disana sudah berada di posisi?"


Joule menatap lurus, di dekat barikade sudah berbaris dua ratus lima puluh Xordas. "Kami tinggal menunggu senjata sampai."


"Sudah kukirim."


Hujan cahaya nampak beterbangan dilangit menyebar kemana-mana. Ada yang melayang diatas sungai membentuk bentukan kapal. Lalu ada menyelimuti para Xordas membentuk zirah. Terakhir ada yang membentuk kendaraan besar berbentuk persegi mirip tank.


Pendar sirna, diatas sungai sudah ada satu kapal bertingkat penuh dengan moncong arteleri. Bagi para Xordas berselimut cahaya tadi tadi kini sudah memakai zirah tempur Perseus bewarna hijau gelap lengkap dengan senapan senapan kecil panjang di bahu kiri. Sebagai pelangkap sudah ada sebanyak sepuluh tank bewarna merah gelap.


Sang letnan sendiri telah memakai zirah Perseus sama dengan para Xordas lain, karena di pakaian itu mempunyai fitur komunikasi dia meletakan walkie talkie ditanah begitu saja.


"Semua senjata sudah dikirim, dua ratus zirah Perseus, dua kapal perang Hydra, dan sepuluh tank Taurus. Kami disini juga sudah memakai senjata konstelasi tapi jumlah kami sedikit dan konstelasi pemanggilan begitu rapuh, kalau pertahan kalian dapat ditembus maka kau tahu sendiri maksudku."


Letnan Joule tertawa hambar. "Itu maksudnya senang berjuang bersamamu Jendral Lucos Markus."


Tidak ada balasan lagi. Tidak ada percakapan. Yang mereka perlukan adalah kefokusan mengalahkan para manusia super melakukan revolusi. Karena disini, saat ini juga, jika kota Eld jatuh maka ibukota Aproud akan mereka ambil alih dan saat itu juga tidak ada lagi yang bisa dipanggil harapan. Supernova kalah, dunia kalah.


Satu persatu manusia super yang sekilas terlihat seperti orang biasa sudah melayang di depan barikade, kapal perang, dan para Supernova. Mereka menatap ke bawah tanpa rasa takut, memerhatikan pasukan yang akan di lawan ternyata hanya tikus berzirah kaleng. Tidak berguna.


Tetapi tikus ini yang sudah banyak membantu negara lain menghadapi beragam masalah, merekalah yang berjuang dengan segenap usaha membantu walau diri sendiri tertikam dan teracuni. Mereka memang lawan sengit, namun adakah yang lari? Walau senjata konstelasi perlu usaha lebih besar untuk menumbangkan mereka, itu saja sudah cukup. Satu kemungkinan untuk empat ratus harapan.


Laras besar tank di kapal perang Hydra bewarna hitam dengan garis unggu di beberapa bagian mulai bergerak mengarahkannya ke manusia super diatas sana. Semua Xordas berzirah Perseus juga bersiap terbang untuk menghadang mereka. Pertempuran akan terjadi dan semua orang disana seakan menahan napas tegang.


Jika kapal perang biasa terkena serangan laser seperti itu maka habislah sudah. Untungnya kapal Hydra masih bisa bertahan dan dengan sepuluh arteleri mulai menembaki musuh. Semua tentang mereka memang nyata, peluru berkaliber besar pun dan ledakan masif tetap bisa ditahan kulit mereka itu. Maka dari itu Supernova tidak perlu menahan diri, mereka melancarkan semua yang ada.


Pergulatan para prajurit berzirah dengan manusia super itu nampaknya juga begitu sengit. Ada tiga Supernova menyerang dengan beringas satu musuh, dan dua manusia super sedang mempreteli lengan dari zirah Perseus sampai tangan didalamnya ikut terlepas mengerikan, menumpahkan begitu banyak darah.


"Pertahankan posisi!" raung Letnan Joule pada semua. Saat ini dia menangkap seorang manusia super yang gelisah ingin lepas dari cengkraman Supernova.


Sebenarnya Joule ingin mematahkan leher atau menusuk jantung dia. Sudah dia coba dan nihil. Tidak ada gunanya jika satu melawan satu, mereka seimbang. Bagi sang Letnan memang ini percuma, tetapi dia tidak bisa melepaskan hiu yang sudah terpancing. Senapan di bahu zirah Perseus mulai bergerak mengarah ke samping kepala musuh dan mulai menembakan laser hijau. Diawali dari telinga kemudian ke sekitarnya, permukaan kulit dia berubah menjadi warna abu-abu bertekstur kasar, dia sedang mengalami proses pembatuan.


Manusia biasa akan perlu beberapa detik, sedangkan untuk manusia super ini terlihat dari prosesnya akan memakan waktu lama. Joule sudah agak lama mengekang musuh ditambah lawannya juga pasti merasakan ada yang aneh pada tubuhnya kemudian mulai menjadi liar sehingga sulit dikendalikan. Sekarang tergantung pada kekuatan sang Jendral.


Di sungai besar tadi nampaknya kapal Hydra sudah mencapai batasnya, tidak puas ditembaki laser para manusia super itu juga menembus dan mengoyak kapal itu sedikit demi sedikit. Tiada yang bisa bertahan akan serangan semacam itu. Tidak satu pun.


Kejutan terjadi saat bagian lampu kiri dan kanan kapal Hydra terbuka lebar. Dua kapal berukuran sedikit lebih kecil muncul dari sana, membiarkan kapal induk perlahan tenggelam. Tanpa menunggu keheranan musuh hilang, dua kapal Hydra tadi menyerang tidak kalah ganas seperti sebelumnya. Sesuai dengan legenda yunani Hydra mengenai seekor naga air berkepala banyak yang jika dipotong kepalanya akan melahirkan kepala lainnya. Senjata yang sempurna, kuat dan berjumlah tak terbatas, tetap saja ada satu kekurangan.


"Mereka tidak bisa selamanya memakai senjata konstelasi, tidak lama lagi mereka akan mencapai batas! Pertahankan posisi" Seorang manusia super berkepala botak dengan kulit coklat berteriak sambil menghindari laser hijau melintas dan protektil meledak bagai kembang api diangkasa.


Entah kenapa Joule gusar mendengarkan ucapan manusia super tadi karena itu benar. "Letnan Markus Sta-" kalimatnya dipotong saat seorang musuh terbang secepat roket hendak menabraknya. Nyaris saja tubuh dia berhamburan ke tanah jika terlambat satu detik saja menghindar dari serangan mengerikan itu. Nampaknya tidak ada waktu bersyukur, karena dua orang tengah melesat lagi kearahnya.


Satu orang melesat dari bawah dan Joule memaksa jet pendorong di tangan dan kaki berakselarai semaksimal mungkin untuk terbang mundur. Nyaris saja, seperti serangan sebelumnya. Bahkan dia tidak punya peluang untuk bernapas, dia harus bersiap untuk ronde kedua. Musuh menerjang cukup ganas dari depan yang langsung dihindari sang letnan dengan menggeser tubuh bagian kiri, lalu dengan tangan kanan terulur mencoba meraih kerah manusia super dengan sangat laju dan akhirnya... dapat.


Langsung saja tangan kanan Joule melingkari leher manusia super itu sedangkan tangan kiri mengunci lengan kiri musuh. Dia sudah tertangkap namun masih tetap memberi perlawanan. Dengan segenap usaha sang Letnan membawa turun musuh ke depan satu tank Taurus. Dia melepas buruannya lalu meninjunnya tanpa memberi kesempatan, serangan terakhir berupa tendangan lutut baja itu ke kulit keras musuh ditambah tendangan dari kaki kanan Joule tepat di atas kepala manusia super itu sehingga musuh hanya bisa tersungkur keras ke tanah.


Memang gila, sang musuh masih sadar dan kini mencoba berdiri sambil menatap Joule dengan pandangan marah semarahnya. Sayangnya dia tidak bisa balas dendam karena Xordas berzirah Perseus itu sudah terbang pergi.


Dari belakang manusia super tadi melaju sebuah tank Taurus berusaha menabraknya. Dia tidak sempat terbang sehingga terpaksa menahan kendaraan berbobot berat itu hanya dengan kedua tangan. Dia berhasil namun tank itu terus menancap gas. Bagian depan tank mulai penyok, bukan rusak, alat tempur ini memiliki pertahan cukup tinggi karena menurut mitos adalah dewa Zeus yang menyamar. Benar saja setelah beberapa saat menahan dia akhirnya terlindas, dicerna oleh ban baja kasar.


Kini letnan Joule sudah tidak diincar lagi tetapi dia bodoh kalau merasa aman di medan pertempuran. "Letnan markus status!"


"Masih bisa diatasi, ada tiga musuh yang telah berada disini," ucap markus dari saluran komunikasi.


"Tetap pertahankan!" Perintah Joule. "Mereka kewalahan disini, hanya bisa bertahan. Aku butuh sedikit waktu lagi." Dari balik celah persegi panjang di kedua mata Joule memandangi pertempuran disekelilingnya. Mengerikan dan dahsyat.


"Ini sudah dua puluh menit, lakukanlah dengan cepat." Markus juga tidak punya pilihan.


Kemudian pertempuran berlanjut, dua ratus Xordas berzirah Perseus kini hanya berjumlah enam puluh dan terus berkurang sedangkan para manusia super terlihat masih tetap di angka empat puluh. Kapal perang Hydra sudah membelah diri begitu sering sampai yang tersisa adalah kapal kecil walau jumlahnya banyak yakni dua puluh. Nampaknya tank Taurus adalah lawan tangguh, mereka hanya kekurangan satu. Dengan segala kekurangan tenaga dan jumlah prajurit, Supernova tetap berjuang keras membasmi manusia super.


Setelah pertempuran sengit itu terus berjalan akhirnya hasilnya sudah terlihat. Kini hanya ada lima manusia super dengan delapan zirah perseus, dan lima tank taurus. Supernova nampaknya akan jadi pemenang tetapi manusia super itu tetap melawan walau hidupnya harus ditutup dengan cara diledakan tidak manusiawi oleh puluhan proyektil. Sekarang jumlah mereka turun ke angka tiga.


Masing-masing dua manusia super dikekang oleh dua Xordas dan dibawa turun. Mereka dikepung lima tank taurus dan delapan zirah Perseus. Putus asa nampak dari beberapa orang namun seorang masih menatap para Supernova dengan nyalang.


Seorang berzirah Perseus maju kedepan mereka. Topeng baja itu terangkat menampilkan wajah sang letnan Joule. "Sudah berakhir. Lepaskan mereka, mereka sudah tidak bisa kemana-mana."


Mereka dilepaskan, dibiarkan berlutut di depan sang Letnan.


"Tidak ada akhir, Supernova." Salah satu dari mereka berkata datar. "Revolusi masih akan terus ada dan kalian semua mati."


Nampaknya ada seorang Xordas berzirah Perseus mendidih mendengar itu langsung maju hendak menghampiri orang bicara tadi untuk dijawab dengan kekerasan akan tetapi sang Letnan dengan tegas memerintahkan mundur bahkan lengkap dengan ancaman dari tangan terangkat hendak menembak. Prajurit itu hampir membangkang, tetapi dia menarik dirinya.


"Tidakkah kau sudah melihat? Supernova bisa mengalahkan kalian," ucap Joule.


"Dan kami juga bisa mengalahkan kalian," balas manusia super itu lagi.


Joule terdiam sesaat menimbang. "Karena itu kami akan akhiri ini. Kita telah lama dikendalikan hukum 'mata untuk mata' sehingga dunia ini buta. Kita semua tidak bisa melihat kedamaian. Kami akan memberikan kalian tempat tinggal, bukan negara seperti kalian inginkan tetapi hanya kota. Kalian bisa tinggal disana terlebih dahulu menunggu status negara dibuat. Negara lain juga akan menyumbang kota untuk tempat tinggal kalian. Yang kami sesali adalah kami tidak bisa menawarkannya lebih cepat."


Para manusia super ada yang menatap curiga, tidak percaya, dan ikut ragu.


"Salah satu trik kalian lagi manusia lemah?" Manusia super itu berkata sambil menyeringai.


Batas yang disinggung tadi kini tidak bisa dibendung lagi. Semua peralatan konstelasi melebur menjadi cahaya dan beterbangan seperti hujan bintang jatuh di angkasa, menuju ke barisan para unvon di belakang. Supernova kini telah telanjang tanpa senjata kebanggaan mereka. Xordas yang awalnya mengelilingi musuh mulai ketakutan terlihat dari langkahnya mulai mundur.


Nasib mereka benar-benar sudah diujung tanduk. Hanya perlu satu manusia super untuk membantai para Supernova kini. Mereka semua ketakutkan kecuali sang jendral sendiri. Dia tetap berdiri tegak menatap seorang manusia super yang sudah berdiri siap untuk pembalasan.


"Tidak ada tipuan atau trik. Kalian bisa membunuh kami sekarang, kalian akan mendapatkan kota ini dengan mudah walau hanya bertiga. Tapi ini akan terulang kembali, kalian akan membunuh saudara dan saudari Supernova, lalu Supernova juga membunuh orang yang kalian cintai. Kalian yang memegang kesempatan untuk menciptakan dunia lebih baik atau meneruskan... meneruskan dunia kejam ini. Pilihlah." Joule mati langkah, dia hanya bisa mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Dalam matanya masih terpancar harapan maka dari itu dia berani bicara.


Dua manusia super menerjang dua Supernova dan menjatuhkannya. Seorang musuh memegangi bahu Xordas itu dengan kencang sedangkan mata sang musuh sudah mulai menyala hendak mengeluarkan laser mematikan. Satu orang lagi telah mencengkram Supernova dari belakang, melingkarkan tangan dileher dan perutnya bersiap mematahkan.


Prajurit lain memang tidak ada yang lari, tetapi mereka juga tidak bisa menolong. Mereka hanya bisa pasrah.


Seorang manusia super tetap bertatapan dengan Joule secara intens. Seperti bertukar pikiran tanpa bicara selama beberapa saat.


"Mereka akan mati," ucap manusia super itu kepada Joule.


"Maka mereka akan mati secara terhormat." Joule singkat.


Kesunyian lagi. Kini dua Supernova yang tertangkap tadi kini hanya bisa pasrah. Mata manusia super itu mulai menyala terang warna biru dan cengkraman musuh makin mengencang mulai membengkokkan tulang Xordas ini. Tidak ada yang lebih menyedihkan saat melihat saudara seperjuangan mati dan diri sendiri tidak bisa melawan. Rasanya begitu perih.


"Hentikan," ucap manusia super yang berdiri dihadapan Joule. Satu kata itu langsung menghentikan para musuh.


Joule memerhatikan manusia super dihadapannya mendekat.


"Kami sepakat." Manusia super itu mengulurkan tangan yang mana langsung disambut lega Joule.


Mereka saling mengenggem, dengan lembut. Alih-alih remukan yang terdengar. Ada satu suara yang akan terdengar keseluruh benua, itulah suara perdamaian.


Semua telah berakhir.


*****


Untuk kesekian kalianya saya akan memberitahukan kalau suka cerita ini bisa tekan tombol like dan share agar cerita ini dapat dibaca yang lain.


Salam, Luciver