SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Sangkar untuk Raven



Saran Owen membuat Aeus bisa tidur tenang namun saat pagi, dia tidak pernah nampak tenang. Dia begitu ingin membuat waktu terhenti, membuat dia bisa menikmati menit sebelum kebebasanya dicabut. Dia tahu hal yang akan terjadi kedepan itu buruk. Tapi nanti ya nanti. Sekarang dia harus tetap bergerak agar dia tidak menderita lebih banyak lagi.



Pukul sembilan pagi tepat dia berganti baju memakai kaos putih hitam entah milik siapa semalam yang tergantung tidak terjaga juga celana biru longgar. Dia berniat ingin pergi sebentar menikmati pemandangan kota alih-alih mengintai.



Di tangga hendak menuju gudang diatas dia tidak sengaja berpapasan dengan gadis yang dia tidak kenali namun malah mengenali dirinya. Rambut hitam sepanjang dada, mata warna biru jernih dan warna kulitnya yang putih cemerlang.



"Maaf aku tidak ingat siapa kau." Aeus gelagapan.



"Aku yang membuatmu hampir jatuh kau ingat? Motor sport biru?"



Nama dan kejadian mendebarkan sekilas terputar di benaknya. Dia juga mengingat anak kecil dan ibunya yang menghina dia dijalan. "Jasmine?"



Gadis itu tersenyum ramah. "Benar," ucap Jasmine. Berbeda dengan sebelumnya dia selalu memakai jaket kulit sekarang dia memakai seragam akademi Xordas.



Jujur dia jarang bertemu, bertatap, apalagi mengobrol dengan gadis cantik dan baik seperti Jasmine ini. Setidaknya dia harus tahu namanya pikir Aeus. Maka dengan memberanikan diri dia berucap, "kalau boleh tahu, siapa namamu?"



Jasmine terdiam sesaat. "Namaku Jasmine." Senyumnya muncul untuk kesekian kalinya.



"A ... Maksudmu nama aslimu, bukan... Nama kode seperti itu." Diakhir kalimat Aeus tertawa ringan.



"Nama asliku memang Jasmine, dan nama kodeku juga Jasmine, aneh bukan?" Gadis itu tertawa sampai menganggkat bahunya. Aeus perlu mencubit dirinya sendiri agar sadar dan tidak salah tingkah.



"Kau hendak pergi kemana?" Jasmine bertanya.



"Aku... Ingin pergi ke kota, jalan-jalan sebentar sebelum masuk ke mulut singa nanti."



"Benarkah? Mau ku antar? Dengan kendaraan pasti lebih cepat."



Sebenarnya Aeus tidak perlu merasa senang sekali. Tapi itu terlalu manis bagi hatinya. "A-a-apa kau tidak keberatan?"



"Kenapa harus? Baiklah tunggu dulu aku ingin berganti pakaian. Kau mau membanya kali ini? Sebelumnya karena itu tugasku mengantarmu dalam keadaan buta, tapi sekarang kau tidak berniat melakukannya bukan?"



"Eng..." Kalimat Aeus tergantung. "Sebenarnya aku tidak bisa mengendarai motor." Rasa malu menyelubinginya tapi itu lebih baik dari berbohong menurutnya.



Bukan hinaan yang keluar, Jasmine malah tertawa untuk itu. "Baiklah aku yang akan mengemudi. Asalkan kau harus pegangan erat kali ini."



Saat Jasmine sudah selesai berganti pakaian dengan memakai jaket kulit coklat dibiarkan terbuka menampilkan kaos oblong putih, dan celana kain hitam ketat panjang. Dia membawa motor Sport biru yang entah milik siapa keluar dari gudang dimana Aeus menunggu dengan kegugupannya.



"Baiklah, mau kemana?" tanya Jasmine.



"A..." Kalimat Aeus menggantung lagi. Rencana awalnya dia memang pergi ke kota untuk jalan-jalan saja, membiarkan langkah acak yang menentukan tujuannya. "Sebenarnya aku tidak tahu juga. Terserah kau saja."



"Baiklah." Jasmine memutar kunci motor hingga berdesing ribut. Aeus naik perlahan ke motor, bahkan untuk sedikit menggerakan tangan nyeri langsung muncul menyambar bak petir di atas siku kiri berkat prototipe Auriga yang tertanam disana. Saat ini Aeus berusaha terbiasa akan itu. Setelah naik ke atas kendaraan berdoa dua itu mereka langsung menancap gas pergi.



Aeus memang masih tidak berpegangan, belum, karena Jasmine masih batas standar kecepatan, mungkin karena suasana di pagi ini juga padat dari penduduknya. Anak-anak berseragam, pria berjas rapi, dan ibu-ibu yang membawa kantong belanjaan membuat pagi benar-benar cerah nan hidup.



Mereka masih diam. Jasmine fokus ke jalan, Aeus ke pemandangan sekitar. Jika kota ini tidak dikuasai pemberontak sekarang pasti Aeus bisa pastikan ini harinya yang terbaik pernah ada. Tidak ada pelajaran rumit juga murid-murid penganggu, bahkan dia sekarang bersama seorang perempuan cantik, seumuran, ditambah lagi, keren. Aeus perlu sekuat tenaga memendam rasa senangnya.



Terus memacu motor dengan tenang Jasmine memulai percakapan di perjalanan. Mereka mengobrol beberapa hal dari kehidupan sebelum sekolah, hobi masing-masing, dan hal menyenangkan lain yang mengundang tawa bahagia. Seseorang tolong pukul Aeus karena dia merasa sungguh bermimpi.



Menurutnya kecepatan Jasmine sudah lambat dari biasanya, sekarang dia malah menurunkan kecepatannya lagi. Jasmine yang sedikit membungkuk kedepan karena jarak kemudi agak jauh dari tubuh di motor sport perlahan menegakan tubuhnya hingga hampir menyentuh wajah Aeus.



"Apakah kau pernah berpacaran Aeus?" Pertanyaan membuat napas Aeus tercekat.



"Eng... Tidak pernah." Aeus bingung kenapa Jasmine bertanya itu. Ada kemungkinan kecil, tapi Aeus tahu diri untuk tidak menebak.



"Kenapa?"



Aeus tidak langsung menjawab. Terlalu memalukan untuk dikatakan bahwa dia itu payah, seorang pecundang, karena itulah kenyataanya. Jadi dia mencari alasan lain. "Aku ... Pemalu."



"Bisa kulihat itu." Jasmine tertawa pelan.



Perjalanan terus berlanjut, roda terus berputar dan berputar menjelajah tiap sudut kota Jeldan. Mereka tidak perlu ragu dicurigai, banyak anak muda disini, dan yang mereka lakukan memang sudah biasa kalau hanya jalan-jalan.



Tengah hari sampai, lalu Jasmine memutuskan singgah dan beristirahat di danau objek wisata kota Jeldan yang saat itu sepi. Danau berbentuk bundar tak sempurna yang cukup lebar dengan air hijau gelap yang memantulkan cahaya menyilaukan. Mereka duduk di pinggirnya, bersebelahan.




Melawan kegugupannya sendiri Aeus bertanya, "motor itu kau dapat darimana?"



"Oh, itu sebenarnya milik ayahku, aku dan keluargaku tinggal di kota ini." Jasmine datar.



"Benarkah? Apakah mereka baik-baik saja?"



Jasmine termenung, raut wajahnya perlahan berubah jadi sedih. Dia menggeleng pelan, menjatuhkan air matanya yang begitu berharga. Aeus baru pertama kali melihat perempuan yang selalu tertawa ini menangis.



Aeus meletakan tangan di bahu Jasmine. Hati Aeus bukan terbuat dari batu, tentu dia bersimpati. "Kalau bercerita membuatmu lebih baik aku sanggup mendengarnya jutaan kali."



Jasmine memandang wajah Aeus lalu tersenyum pahit. Aeus yakin walaupun dengan pipi basah dan mata merah Jasmine masih nampak cantik baginya. "Terima kasih Aeus. Tapi tidak, aku tidak ingin kata-kataku membuatku mengingat mereka lagi."



"Kalau itu pilihanmu aku tidak bisa mencegah."



"Aku bahagia berada disini, apalagi saat aku mendengar ada seseorang yang rela dirinya menjadi umpan untuk menyelamatkan kota ini. Sedangkan aku hanya bisa diam tidak melakukan apa-apa." Jasmine mengusap air matanya.



"Itu bukan apa-apa. Sepertinya ini memang takdirku."





Dalam kamar berukurakan kecil sederhana dengan tembok bata serta poster band rock di dindingnya, dan kasur sederhana yang muat satu orang di ujung ruangan. Disanalah Fraust, Owen, dan dua orang Lucos menghadapi kegugupannya sembari menunggu sinyal dari sang umpan.



"Komandan masuk," ucap suara laki-laki di benak Owen. Tidak lain menggunakan prototipe Lupus. "Saya dari tim pengintai sedang melihat si penangkap & Raven mendekati pos jaga pemberontak."



Penangkap adalah warga kota Jeldan sedangkan Raven tidak lain adalah Aeus. Skenarionya si Penangkap menemukan Aeus dirumahnya sedang bersembunyi, lalu membawa dia ke hadapan pemberontak.



"Mereka sudah sampai sekarang penangkap Raven sedang mengobrol pada mereka ... percakapan mereka berjalan mulus, tidak ada tanda-tanda aneh sejauh ini. Akhirnya si penangkap menjauh, dia berhasil menyakinkan pemberontak memakan umpan."



Tidak bisa dipungkiri itu baru tahap dasar dari rencana besar mereka. Setidaknya itu pertanda baik menurut Owen.



Telepati berlanjut. "Raven masih ditawan di pos pemberontak saat ini mereka menunggu angkutan. Dari percakapan yang terdengar kira-kira lima menit lagi mobil yang menjemput Raven datang."



"Fraust." Owen menengok Fraust yang duduk di kursi kayu menghadap tembok bata, diarah utara, arah dimana Aeus ditawan pemberontak disana. "Bersiaplah."



Owen tidak terima kegagalan sedikitpun, resiko mereka besar saat ini dari sinyal Unvon Fraust yang bisa dilacak siapa saja juga sama halnya Aeus. Dia hanya bisa berdoa semoga tidak ada Unvon diantara pemberontak yang mana kemungkinannya memang kecil karena itulah mereka berani mengambil langkah ini.



Benak Owen diketuk lagi oleh suara laki-laki tadi. "Mobilnya sudah datang!"



Owen langsung menghadap Fraust. "Nyalakan penglihatanmu." Fraust mengangguk lalu perlahan matanya berubah menjadi kuning emas meleleh.



"Raven memasuki mobil ... mereka sudah berangkat." Suara itu langsung dia abaikan karena fokusnya hanya pada Fraust yang masih diam membisu.



"Apakah kau melihat sesuatu?" Owen mendekati Fraust berusaha bersabar lagi.



Fraust menggeleng pelan. Apakah Aeus masih belum menyalakan mode Stellanya Atau Fraust memang gagal menangkap sinyal itu. Yang mana saja sama-sama membuat Owen khawatir. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk itu, jadi diam mengamati dengan tenang adalah hal yang dia pertahankan saat ini.



"Mobilnya sudah hilang dari pandangan kami komandan." Suara itu muncul lagi di benak Owen.



"Baiklah, kerja kalian bagus sekarang kembali." Balas Owen memutuskan obrolan telepati.



"Aku melihatnya!" seru Fraust.



Kata Fraust itu bagai angin kencang penghapus badai kekhawatiran di benak Owen. Jika dia berulang tahun, dia ingin sekali itulah ucapan pertama yang dia dengar.



"Kak Aeus sedang berjalan maju lalu berbelok ke kiri dan kanan lalu terus lagi."



Kedua Lucos itu langsung menatap setiap tanda garis dan titik pada peta di meja belajar kayu disana. Mereka masih diam untuk fokus mendengarkan Fraust lalu menentukan jalan apa yang mobil ini ambil lalu dimanakah akan berhenti. Setelah penjelasan Fraust berhenti, kedua mata Lucos membelak.



"Apa hasilnya?" tanya Owen tidak sabaran.



"Mereka membawa Raven ke..." Salah satu Unvon membiarkan kata itu menggantung karena tidak percaya apa yang akan dia katakan.



Lucos lain langsung menatap Owen dengan keraguan lebih sedikit dari Lucos tadi. "Mereka membawanya ke penjara daerah Jeldan."