
"Mudah saja, akulah jawabannya," ucap Farhaz dengan percaya diri.
Aeus terkekeh pelan, orang satu ini memang punya banyak kejutan yang tidak masuk akal. "Bagaimana?" tanya Aeus dengan nada menantang.
Seringaian Farhaz berhenti di lanjutkan oleh bibir datar untuk lebih fokus. Melangkahkan kaki mendekat Aeus meraka saling tatap. "Dengan kenaikan pangkat."
"Katakan saja semuanya, aku sedang muak dengan teka-teki," sahut Aeus.
"Akan kucoba jelaskan." Farhaz melipat tanganya di depan dada lagi. "Supernova memiliki kepangkatan berbeda dari militer lain yaitu menggunakan sebutan tujuh bintang paling terang."
Kalau tentang itu Aeus cukup kenal. Sirius adalah bintang yang agak kurang terang dari tujuh lainnya, ini diibaratkan para pelajar yang masih akademi. Sedangkan untuknya yang sudah lulus sudah bernama Canopus yang setara kopral, lalu ada Rigil dengan Letnan, Arcturus dengan Kapten, Vega dengan Kolonel, dan Capella untuk Jendral. Sedangkan untuk yang bintang yang paling terang yaitu Rigel di pegang oleh raja Supernova itu sendiri.
"Aku masih berada di menjadi letnan tiga, dan kau kopral tiga, butuh beberapa misi untuk menaikan pangkat kita yang tentunya memakan waktu bukan? Tapi ada satu cara instan untuk kenaikan jabatan," jelas Farhaz.
"Melalui Rahasia yang diketahui."
"Betul sekali." Farhaz tersenyum kembali namun lekas merengut lagi saat fokus. "Tapi masalahnya adalah rahasia besar apa yang bisa melambungkanku ke Vega atau Capella?"
"Kau... berniat menjadi Jenderal?" tanya Aeus tidak percaya.
"Siapa yang tidak mau menjadi terbaik di jenisnya? Lagipula tiga Jenderal bagian Lucos sudah tua-tua. Setidaknya aku hanya ingin menjadi salah satu mereka."
Ingin sekali Aeus menjelaskan lagi bahwa tugas Jenderal itu pastilah berat. Di tiap jenis tentara dari Xordas, Unvon, dan Lucos memang hanya para Jenderal Lucos yang masih bertahan dalam umur yang sudah bertemu angka sembilan puluh. Mengenai orang terpandang di Supernova dia teringat akan Jenderal Jatson yang pernah bertatap muka dengannya dulu.
"Ini percuma," kata Aeus menghela napas. "Kau masih tidak punya jawabannya."
"Tunggu sebentar." Farhaz mengulurkan tangan seakan mencoba menghalangi Aeus walau padahal jalan keluar berada tepat di belakang Unvon berambut hitam ini. "Jawabannya memang bukan ada padaku, tapi kau. Kau bertemu kecerdasan buatan di luar dimensi kita yang artinya ... maksudku bisa saja memiliki informasi penting. Dia yang menyuruhmu bukan? Kau bisa minta dia beberkan informasi penting kepadamu maka katakan saja kau akan membantunya mengatakan itu pada raja kita."
Aeus menimbang terlebih dahulu. Sebenarnya dia pernah berpikir demikian tapi kecerdasan buatan ini keras kepalanya minta ampun walau dia sebenarnya perangkat lunak—aneh. Atau mungkin dia harus mencoba lebih banyak lagi? Ini kemauan kecerdasan buatan itu, bukan dia.
"Akan kucoba."
"Bagus," ucap Farhaz senang.
"Tapi tentang apa? Dia bisa saja mengelabuiku, maksudku dia adalah kecerdasan buatan, dia akan mencoba melindungi informasi bukan?"
Farhaz mengusap dagu sambil berpikir keras. "Setelah kupikir kurasa tanyakan saja padanya mengenai 'waktu berbeda' itu. Kurasa memang ada yang salah pada waktu kita atau entahlah apa itu."
"Maksudmu..."
"Aku juga tidak tahu. Tanyakan saja itu dan saat kau mendapat informasi berguna kau bisa hubungi aku." Farhaz melangkah pergi melewati Aeus yang masih terpaku sibuk dengan terobosan tentang waktu yang tidak masuk akal tadi.
Beberapa saat kemudian Aeus baru tersadar akan sesuatu. "Tunggu dulu." Dia berpaling menghadap Farhaz yang sudah di ambang pintu keluar. "Aku ... tidak punya kontakmu?" Sebenarnya itu kata-kata yang tidak pernah Aeus pikirkan apalagi akan diutarakan, kali ini lain, maka anggap saja ini terpaksa.
"Kalau begitu aku yang akan menghubungimu." Farhaz membuka pintu dan keluar pergi dari ruang loker sepi ini.
Di belahan benua lain tepatnya disebuah pelabuhan di Washington bernama pelabuhan Tacoma dimana waktu masih pukul tiga pagi—masih gelap—menjadikan suasana masih sepi, berbanding terbalik dengan ramainya peti kemas yang bertumpuk-tumpuk tinggi dan kapal-kapal kargo bertambat di pinggir pelabuhan.
Ukuran kapal disana rata-rata besar, tentunya karena harus mengangkut banyak peti kemas yang berat dan lebar. Tetapi disana juga masih ada kapal-kapal kargo berukuran sedang yang menganggkut muatan yang berjumlah lebih sedikit.
Karena pekerjaan pengantaran barang ini juga mengandalkan kualitas barang serta ketepatan waktu sehingga harus berpegang pada jadwal ketat, disaat harus berangkat, maka berangkatlah mereka. Seperti kapal kargo berukuran sedang yang membawa dua puluh peti kemas beragam warna dan ruang kemudi sendiri berada di anjungan depan.
Berlayarlah kapal kargo itu, menjauhi pelabuhan, mengarungi laut, untuk pergi dari daratan.
Suasana di kapal itu pun masih sepi, beberapa orang mungkin memilih berada di kamar untuk menghindari sentuhan hawa dingin laut di pagi hari atau tidak tertarik keluar karena laut tidak terlalu indah di hari gelap seperti ini, hanya ada hitam dan kegelapan. Tapi beberapa orang nampkanya tidak mempermasalhkan itu.
Di bagian kiri kapal dua orang pria—satu bertopi baseball yang terlihat usang dan satunya lagi memakai tudung jaket berbulu—sedang duduk di bangku berupa kotak kayu, tengah mengobrol, sedangkan di bagian kanan kapal sendirian pria berjangkut tebal terbungkus selimut dengan mata awas mengawasi laut begitu teliti, lalu di bagian buritan kapal ada seorang pria duduk bersandar pada peti kemas yang terlihat jelas memakan apel dengan rakus lalu mengambil lagi di karung goni coklat disebelahnya ketika masih belum puas.
Perjalanan mereka terus berlanjut sampai tak terasa matahari telah terlihat di barat. Di ruang kemudi, kapal dikendalikan oleh seorang pria tua berambut dan berjenggot putih tebal mulai mengulurkan tangganya ke bawah meraih alat komunikasi berupa telepon berkabel spiral yang ada di papan kemudi.
"Kita aman," ucap nakhoda tua itu.
Kemudian dua pria di kiri kapal berdiri dari kotak kayu itu dan mulai membuka kotak berpaku untuk mengeluarkan satu senapan mosin dan satu senapan serbu ak47. Bagian kanan kapal pria berjanggut hitam tanpa pikir panjang melempar selimut di tubuhnya dan terlihatlah sebuah senjata ak47 di tangannya. Pria di buritan kapal menyapu mulutnya dengan lengan baju kemudian menggambil dua buah revolver di karung goni coklat tempat dia menyimpan apel sekaligus menyimpan rahasia lainnya lagi.
Hanya saja pria itu tidak ketahui di bawah air sana dua buah kapal selam berbentuk kapsul sudah menambatkan rantai di buritan, samping kiri dan kanan, beserta dua orang berbaju selam scuba hitam bersenjata M-16 tertempel di punggung yang tengah memanjatnya. Rangkaian baja itu nampaknya cukup stabil karena Supernova bisa menyesuaikan kecepatannya tetapi tetap saja dua tentara yang dari kapal selam menuju kapal kargo harus berjuang melawan terpaan air dengan susah payah hingga sampai ke permukaan. Setelah cukup dekat mereka akhirnya memutuskan untuk menyangkutkan diri ke pagar besi pembatas di buritan tetapi tidak langsung melompat masuk dan mengacaukan operasi rahasia inu.
Setelah melepas selang di mulut, mereka melaporkan diam-diam bahwa mereka telah berhasil naik operasi penyelamatan budak manusia akan dilaksanakan. Kini mereka mulai melangkah ke proses selanjutnya yakni mengintai sembunyi-sembunyi dengan menaikan kepala hingga mata mereka mampu melihat musuh yang hanya seorang diri bersenjata revolver di dekat mereka dan digeladak ada beberapa orang lain lagi dengan senjata senapan serbu.
Agar bisa naik dengan aman ke buritan penjaga dengan baju hawai ini harus dilumpuhkuan terlebih dahulu. Dua lawan satu, mereka akan melakukannya secara diam-diam. Setelah memperhatikan alur patroli penjaga ini yang bolak balik ke kiri dan ke kanan mereka mengatur siasat.
"Mockingjay masuk, aku akan naik terlebih dahulu lalu diam-diam mengikutinya, naiklah saat aman ganti," kata seorang tentara yang masih tersangkut di kanan kapal.
"Lapor ini Mockingjay, pesan diterima, ganti."
Tentara di kanan kapal itu menunggu saat penjaga itu membelakanginya dan perlahan naik, secara hening dia melanglah dengan senapan tepat mengarah ke penjaga pemegang revolver. Perlahan dia mendekati penjaga itu, selangkah demi selangkah, sedikit lagi, sedikit lagi, kemudian penjaga itu berbalik dan terkejut bukan main.
Di saat itu juga tentara itu dengan cepat melangkah panjang dan penuh perhitungan untuk membungkam mulut penjaga dengan satu tangan sedangkan tangan lain meraih pisau taktikal di pinggang dan menusukannya cepat dan dalam di jatung pria itu tanpa sempat melawan.
"Buritan bersih," lapor tentara yang telah membunuh penjaga berbaju hawai tadi. Seorang prajurit langsung naik dari sisi kiri.
Masalah pertama selesai maka mereka langsung pergi, seorang kearah kanan dan satu lagi ke kiri, mereka bersandar pada peti kemas terlebih dahulu dan melakukan pengintaian untuk menimbang kekuatan musuh terkini. Sisi kanan setidaknya ada lima pria orang bersenjata, sedangkan di kiri hanya ada tiga dan tentunya bersenjata.
Tidak ada celah nampaknya, kalau ingin maju mereka harus berhadapan dengan penjaga-penjaga itu sepanjang jalan. Maka mereka mendiskusikan hal ini terlebih dahulu. Menimbang berbagai cara akhirnya mereka memutuskan naik ke peti kemas.
Setelah memanjat peti kemas dengan susah payah mereka berhasil naik dan langsung memantau ruang kemudi sebagi satu-satunya tempat paling tinggi di kapal ini. Ruangan itu sebenarnya cukup jauh dari mereka, perlu senjata berjenis riffle untuk mengenai dua Supernova ini yang mana senjata itu tidak dipegang oleh dua penjaga di atas sana kalau kaca jendela itu tidak berbohong.
Maka mereka bergerak ke depan dengan cepat sambil terus waspada. Mereka sampai di posisi tengah kapal, mendekat ke pinggir peti kemas mereka membidik penjaga dibawah mereka. Serangan dilaksanakan.
Sisi kanan dan kiri di serang bersamaan secara mendadak, sisi kanan menewaskan dua orang sehingga tersisa tiga dan sisi kiri hanya menyisakan satu. Para penjaga yang masih hidup itu membalas tembak sehingga kedua tentara ini harus menarik diri bersembunyi.
Mendengar deru tembakan di belakang, para penjaga di ruang kemudi berbalik dan langsung melompat keluar tepat diatas peti kemas dan langsung menyerbu maju.
Kedua tentara ini memang sudah siap, mereka juga ikut berlari maju menghampiri dua penjaga bersenjata senapan serbu ak47. Dua lawan dua, pertarungan seimbang.
Sedangkan penjaga di sisi kanan di kiri itu terus menembaki dua tentara yang berlarian diatas peti kemas sampai mereka tidak sadar dari dalam air disamping mereka sebuah kapal selam muncul seperti para lumba-lumba saat mengembuskan air ke udara, sayang sekali yang kapal selam ini tidak ingin menghembuskan udara melainkan peluru. Sebuah senjata berbentul silinder dengan empat laras tergabung bersama—gatling—muncul diatas alat selam itu dan mengarah ke para penjaga.
Deru tembakan tidak bisa dihindari, tembakan beruntun oleh senapan gatling itu membunuh para penjaga dengan cepat.
Kini tinggal pertarungan dua lawan dua yang kini berlangsung sengit. Penjaga itu terus menerus menembak tidak karuan karena menembak sambil berlari, sedangkan para tentara tetap tenang menghindari tembakan. Saat langkah terus melaju, hentakan kaki yang memecah keheningan, jarak mereka makin dekat, prajurit Supernova itu langsung melempar diri bertelungkup dan menembak para penjaga tadi tepat di kepala.
Dua mayat bertambah lagi. Tapi yang penting operasi ini berhasil tanpa ada yang terluka.
Kini penjaga dari lambung yang berdatangan tetapi langsung disambut dengan meriah oleh getling otomatis dari atas kapal selam. Dua tentara yang telah berada di kapal itu menuju anjungan tempat kapal ini dikendalikan untuk menawan pria tua yang langsung menyerahkan diri.
Setelah melakukan pemeriksaan di segala penuru ternyata hanya ditemukan satu orang penjaga lagi yang masih tertidur. Maka dia dan nakhoda kapal diamankan. Khusus untuk pengemudi kapal kargo ini dia diikat dikursi dan ditempatkan di kamar kapal berukuran kecil yang sudah dikosongkan, hanya ada meja di depannya.
Walau mentari sudah naik cukup tinggi namun jendela kamar itu ditutup sehingga tetap saja gelap. Pria tua itu menunggu dan kesal seorang diri disana, sesekali dia mencoba melepas ikatan namun nihil, tapi dia tidak akan berhenti, beberapa saat lagi dia akan melakukannya kembali karena tali ini adalah gerbang pertama kebebasannya, jika terlepas setidaknya ada harapan, benar sekali, harapan yang sangat kecil.
Pintu di tendang keras hingga terbuka, seorang pria berambut hitam rapi berpakaian seragam Supernova hitam dengan garis emas di beberapa bagian, seorang Lucos muncul. Dia tidak sendirian, dia membawa sebuah koper besar di tangan, mengawasi sandera dengan dingin itu beberapa saat kemudian dia meletakan koper itu di meja tanpa bersuara dan membukanya tepat dihadapan pria tua ini untuk menunjukan isinya.
Saat dibuka koper itu terlihat seperti sebuah laptop karena memiliki layar dan papan ketik. Tanpa bicara pria lucos itu pergi dan menutup pintu seolah tidak terjadi apa-apa.
Koper itu berdesing dan layar memunculkan sebuah sosok yang masih kurang jelas. Baru beberapa detik kemudian suara tidak enak itu hilang dan layar menjadi jernih. Terpampang disana sebuah sosok pria tiga puluh tahun berambut hitam lurus berseragam Xordas yang di bagian dada dipenuhi lencana tanda penghormatan.
"Selamat pagi tuan. Baiklah sebelumnya perkenalkan aku adalah David Troy, aku Jenderal Xordas Supernova. Senang bertemu dengan anda."
Pria tua itu terkejut bukan main sampai hampir jatuh bersamaan dengan kursi. Jantung dia berdebar, keringat dingin muncul. Untuk apa orang nomor satu di Supernova, bahkan di dunia berada disini?
*****
Saya kembali bisa update lagi akhirnya, maaf untuk pembaca yang telah menunggu lama sekali. Saya tahu seharusnya tidak beralasan karena saya sendiri juga benci alasan, tapi karena memang banyak hal jadi lambat update. Karena itu saya butuh bantuan kalian karena hanya kalian alasan saya bisa buat cerita lebih bagus lagi dengan like kalau suka, beri dukungan di kolom komentar dan share. Saya sudah punya visi cerita ini akan benar-benar luas dan bagus. Jadi terus dukung cerita ini.
Ngomong-ngomong grup author milik saya sangat saya anjurkan pada pembaca yang udah baca sampai chapter ini karena disana kalian bisa tanya-tanya atau bahkan lihat chapter baru sebelum di update. Saya rasa cuma itu, terima kasih atas dukungannya selama ini.
luciver, salam...