
Kabar manis pertama Aeus terima adalah mereka sudah boleh berhenti melakukan konstelasi pemanggilan. Semua senjata dan peledak milik pemberontak telah berhasil di lumpuhkan.
Kedua adalah Pemberontak sudah mundur sehingga hanya perlu sedikit waktu untuk memusnahkan mereka. Yang mana Aeus tidak punya waktu untuk itu karena dia tengah di kerumuni rasa sakit.
Kini dia tengah bersandar lemas di pinggir gedung memandang bulan yang sama sepertinya, pudar dan ingin lekas menghilang. Darah sudah berhenti mengalir dari bekas luka tembakan itu sedangkan untuk tangannya nampaknya berkat darah kering yang menempel jadi tidak bisa lepas. Pemuda itu tidak punya sedikit saja tenaga bahkan untuk melepaskan itu. Dia sekarat.
"Hei nak," salah satu warga Jeldan mendekatinya. "Bertahanlah."
Aeus begitu lelah ditimpa rasa sakit, bibirnya juga setuju akan hal itu. Ketimbang dia menderita berusaha bicara, dia terpaksa melirik lemah warga itu sebagai balasan yang samar.
Andreas berdiri menjulang di dekatnya kemudian melihat Aeus dengan mata penuh penyeselaan juga haru. "Kau sudah membuktikan dirimu sebagai prajurit, Raven." Andreas tersenyum bersamaan dengan anggukan kecil.
Mata Aeus begitu lemah untuk ikut larut dalam emosi, bahkan saat ini di pinggiran matanya sudah mulai gelap hendak menutup paksa penglihatan ini. Kini jelas takdir Aeus sekarang adalah kematian. Dia hanya berharap dia tidak terlahirkan kembali seperti tokoh di novel isekai yang pernah dia baca, setahunya kehidupan akan sulit di jalani, setampan dan sekuat apapun orang itu selalu saja mempunyai rintangan menyakitkan. Jika ini ajalnya, maka Aeus mohon tidak ada apa-apa disana.
Kegelapan mulai menyelimuti pandangannya secara perlahan, saat itu juga semua kenangan melintas di benaknya begitu cepat. Yang pertama saat dia tiba di ibukota Aproud, Adaroth, dia berasal dari kampung jadi banyak sekali hal baru yang dia lihat sesampainya di kota, dia pernah mencoba menaiki lift sendirian dan panik saat pintu tertutup kemudian terbuka di tempat sama karena dia tidak menekan tombol lantai yang ingin dituju olehnya. Sungguh bodoh.
Kemudian sekolah akademi militer Supernova, dia bertemu banyak wajah-wajah baru disana, dari tampan nan gagah, cantik lagi jelita semuanya ada disana. Kalau saja Aeus diberkati sedikit keberanian dia ingin sekali menghadap seorang wanita disana dan menyatakan perasaannya, namun dia sadar diri dia itu kikuk dan aneh, dia khawatir nasib dari gadis itu akan menjadi bahan perbincangan, maka dari itu dia selalu menghindari setiap pelajar berlainan jenis agar tidak pernah jatuh cinta.
Teman, Aeus baru mengenal itu saat bertugas melindungi kota ini. Di akademi dia memang punya beberapa namun mereka tidak bisa disebut teman sesungguhnya karena mereka selalu mempermalukannya dan menguras uangnya. Kehidupan memang sulit, dia tahu itu, tetapi Aeus berusaha tegar bertahan karena sama seperti sebelumnya, pecundang tidak punya banyak pilihan, bertahan atau hancur.
Entah mengapa saat Aeus berada di kota Jeldan untuk bertugas pertama kalinya dia setidaknya bisa bersuara mengeluarkan ide dan pendapatnya, alasannya rumit, tapi Itu salah satu kenangan yang membuat Aeus bahagia. Tidak lupa dia bertemu orang baru yang dia kenal seperti Mira, Tiffany, Ralon, dan... dia tidak ingin mengucapkannya karena akan membuat Aeus merasa lebih lega di ambang kematian ini.
Baik dan buruk kenangan dia tidak peduli, disaat seperti ini mengenang membuatnya bahagia. Dengan itu Aeus belajar penderitaan tidak harus diresapi tapi dibiarkan mengalir untuk dilihat lewat, sebab dengan itu Aeus tahu hidup menjadi lebih bermakna.
Pandangan Aeus kini sudah gelap total dia mulai tuli dan tidak bisa merasakan apa-apa. Mungkin inilah arti dari hampa.
Kesadaran Aeus terkumpul saat perasaan aneh dan menggelitik menjalar di seluruh tubuhnya seperti tersetrum tegangan listrik kecil. Tanpa alasan jelas dia membuka matanya. Tidak berusaha mencari sesuatu, hanya membukanya.
Tempat ini gelap, tak berbau dan tak berangin, bahkan tak ada apa-apa selain kekosongan tak berakhir. Dia tergelatak lemah disana dengan mata terbuka menatap hambar ruang aneh ini. Apakah masih bisa dianggap ruang walau tanpa dinding? Entahlah.
"Kau beruntung," suara seorang perempuan.
Nampaknya Aeus tidak peduli siapapun orang ini dan apa urusannya dengan dia. Aeus sudah tidak peduli karena dia sudah mati, walau dihati kecilnya dia meragukan.
"Pertempuranmu belum usai, Raven, seperti kukatakan Hypernova sudah dekat." Gadis itu melangkah mendekatinya dan berdiri menjulang disampingnya.
Aeus tidak menjawab, melirik sedikit saja tidak, perasaannya sudah jauh terbuang akibat insiden ini. Penderitaan yang dia lihat dan rasa begitu banyak, hati kecil dia tidak bisa menanggung semua beban itu, dia bukan pejuang, kesatria, apalagi pahlawan, hanya pecundang.
"Kau bukan itu, Raven, kau Supernova. Kau yang terpilih." Gadis itu nampaknya tidak menyerah.
Gadis itu membaca pikirannya ... tidak, itu tidak masalah penting lagi, dia sudah terbujur kaku dan itulah realita yang harus Aeus pahat dalam hati bahwa dia sudah mati.
"Belum, kau belum mati. Saat ini kau masih dalam tabung Ophiucus sedang di obati." Kaki mulus gadis itu dia tekuk untuk bisa duduk disamping Aeus agar dapat memperhatikannya. "Aku adalah kecerdasan buatan dalam mesin ditubuhmu, aku meninjau semuanya dari detak jantung, kadar kolesterol, dan kegiatan otakmu. Saat ini tubuhmu sedang mengalami regenarasi dan diberi tambahan darah."
Bagus, kini seorang perawat pribadi yang ada dalam tubuh. Kegilaan apalagi yang akan dia hadapi di alam baka ini?
"Kau sekarat," ucap kecerdasan buatan itu lagi.
"Aku tahu." Aeus berusaha duduk. "Aku pernah mendengar itu. Setelah aku tenggelam di sungai lalu diselamatkan Mitohara. Jika aku belum mati kurasa takdir begitu kejam, tapi aku sudah terbiasa, sekarang jelaskan bagaimana bisa kau muncul dalam kepalaku? Aku tidak mengaktifkan mode Stella bukan?" Mata hitam Aeus bertemu dengan mata biru gadis misterius untuk kesekian kalinga.
"Benar, tapi saat aku sudah masuk kesini aku selalu punya akses melihatmu, memanggilmu."
"Lalu apa urusannya dengan dunia disini?" Aeus bisa dikatakan sudah lebih hidup.
"Itu ada hubungannya dengan Hypernova."
Aeus menutup kemudian menggelengkan kepala bingung. "Boleh kau katakan apa itu Hypernova?"
"Belum saatnya," kata gadis itu.
Aeus sudah tahu jawaban gadis ini pasti akan seperti ini. Dasar kecerdasan buatan keras kepala.
"Yang penting kau hidup untuk saat ini, hanya itu yang harus kau tahu."
"Sebenarnya... namaku bukanlah Raven." Aeus jujur.
Aeus terdiam sesaat, menentukan pilihan apa yang ingin disampaikan. "Kalau begitu... nama-"
"Itu tidak perlu Raven, namamu cocok sebagai pengantar pesan."
"Pengantar pesan?" Aeus bertanya.
"Itu tugasmu, pekerjaanmu. Sebagai pengantar pesanku, dan pesan yang lain. Saat ini kau masih belum dibutuhkan tapi nanti, pada saatnya kau adalah orang yang paling penting di semesta ini. Peranmu sangatlah penting."
"Me-mengapa aku? Aku kebetulan mengaktifkan mode Stella saat itu," sanggah Aeus.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke kiri untuk memandang kekosongan disekitar. "Kau percaya tidak ada yang kebetulan, Raven?"
Unvon itu hanya diam saja sambil menunduk. Dia bukan orangnya, dia hanya seorang pecundang, dan seperti orang payah lainnya dia tidak spesial. "Tapi... mengapa aku?"
"Kau sendiri akan tahu itu nanti." Gadis itu tersenyum lalu berbalik, menghilangkan wajahnya dari Aeus. "Tapi kau harus hidup, tetaplah hidup," suara gadis itu mulai terdengar lirih.
Aeus berdiri dan menatap gadis misterius ini dari belakang dengan tangan terkepal erat. "Kau yakin tidak ingin memberi tahu apa itu Hypernova?"
Pipi Starla terlihat naik. "Aktifkan mode stella mu dan tidurlah, kita akan bicara lagi suatu saat nanti." Gadis itu menghilang bersamaan dengan rasa kantuknya.
Kaca transparan yang menyambutnya duluan. Badannya sakit-sakit tetapi dia usahakan berdiri dengan lemah dan keluar dari tabung Ophiucus itu.
Dua Supernova laki-laki berumur sebaya dengannya langsung meletakan tangan Aeus ke leher mereka, berusaha menyangga tubuh Unvon berkode nama Raven ini.
Jujur setelah keluar dari tabung beragam sakit dia terima dari sakit kepala, nyeri, dan mual. Setidaknya dia hidup, itulah yang paling penting. Dia mulai mengedarkan pandangan ke seluruh tempat.
Seluruh Supernova dan masyarakat kota Jeldan tidak pernah terlihat bersama sejak adanya Pemberontak, namun di pagi hari ini semuanya campur aduk. Ada yang terlihat berbincang, mengobati yang terluka, dan sekedar diam menonton saja.
Merasa sudah nyaman Aeus melepaskan pegangan pada kedua Supernova tadi dan berjalan tertatih melewati orang-orang yang tengah sibuk mengobati pasien yang terbaring lemah di atas aspal.
Mereka semua berada tepat diatas Jembatan beruang yang sengaja di tutup untuk pertempuran akhir tadi malam. kini dan nanti, nampaknya akan terus ditutup karena jumlah yang terluka mata Aeus lihat tidak sedikit, bahkan saat sudah dibantu dua puluh tabung Ophiucus. Jika saja tubuhnya tidak lemah dia ingin sekali menyumbang diri pada konstelasi pemanggilan.
Aeus memutuskan duduk di trotoar jembatan yang agak sepi tepat menghadap matahari naik sambil menyaksikan kehidupan yang sedang di perjuangkan di sana sini.
"Kau masih hidup rupanya." Mitohara duduk di sebelah Aeus dengan tangan kiri di bebat perban.
"Kenapa tanganmu?"
"Tidak usah sok peduli, kau saja bagaimana? Kudengar jantungmu berhenti berdetak namun kau masih disini."
"Kau benar, seharusnya aku mati saja."
"Aku tidak bilang begitu," ucap Mitohara santai. "Berkat kau kota ini selamat."
"Aku bukan pahlawan."
"Aku juga tidak ingin mengatakan itu. Tetapi aku dengar kau tertembak dan rela tidak mengobatinya dulu demi melakukan konstelasi pemanggilan."
Aeus melirik bahu kirinya yang kini tertutup darah kering. Luka itu sudah sembuh namun ingatan tentang sakitnya masih akan ada. "Kita tidak punya banyak waktu bukan?"
"Kau benar." Blasteran itu mengangguk pelan. "Tapi kau punya pilihan menolak dan menyembuhkan lukamu terlebih dulu, tetapi kau tidak melakukannya. Kurasa kau bukan prajurit yang terlalu payah."
Aeus tertawa pelan. Itu sebuah pujian, tetapi saat keluar dari mulut Mitohara seakan menjadikannya sebuah lawakan. Dan dia senang akan hal itu.
"Huh." Mitohara berdiri dan menaikan bibir ke kiri mencoba bersikap kesal. "Tertawalah, kau masih menjadi prajurit payah, ingat ini Aeus, kalau aku melihatmu di pinggir air aku akan menenggelamkan mu. Ingat itu." Mitohara pergi.
Aeus tiba-tiba tersenyum kemudian tak lama murung kembali. Begitu banyak yang dia lalui sampai dia berada disini, semua kejadian demi kejadian tergambar jelas di ingatan seakan semua yang telah berlangsung baru saja terjadi semenit lalu.
Jiwa Aeus sudah benar-benar berubah. Dia merasa semua cobaan hidup terjadi dulu hanyalah sebesar biji jagung daripada saat dia bertempur melawan Pemberontak, disana dia mendapat banyak pelajaran besar. Dan disinilah dia, termenung sambil merasakan sengatan mentari pagi. Menanti tugas besar suatu saat nanti.
Tidak terasa cerita bagian pertama ini akan tamat, tapi masih ada satu chapter lagi jadi tunggu aja. Disinisaya mau ngucapin terima kasih banyak bagi pembaca yang dari awal masih setia baca, like, dan komen cerita ini. Saya sadari masih banyak salah disitu dan disini tetapi saya akan berjuang kedepannya lagi agar lebih baik. Jadi tetap terus baca cerita ini ya! Saya Luciver salam...