SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Kekalahan



Dua ratus meter diatas tanah, disanalah Aeus sedang melakukan aksi jatuh bebas yang ekstrem karena tanpa dilengkapi parasut. Dia punya sayap namun tanpa adanya kesadaran yang mumpuni untuk bertindak membuat semua menjadi tidak berguna. Satu-satunya suara terakhir yang akan di dengar adalah deru kencangnya udara.


Angin menabrak begitu kencang di sekujur tubuh bagian depan, membuat rambut, pipi, dan pakaian sehitam malam Aeus berkibar cepat. Sayangnya sebagian besar dari dirinya tidak ada disana untuk merasakan embusan udara kuat dan itu semua sebab lubang yang sekarang masih menganga di bahu kanan. Sisi baiknya tekanan angin itu menghambat pendarahannya keluar. Tapi dia sudah tidak ada disana, kesadarannya sudah diambang batas.


Yang ada dipikirannya hanya rasa sakit di sekujur tubuh. Dia begitu ingin lari dari penderitaan tetapi itu hanya sia-sia, setiap satu hal bagus yang dia coba ingat selalu saja ketakutan senantiasa memutar baliknya menjadi lebih mengerikan. Dimulai dari ingatan dia akan kota Jeldan yang dalam pandangannya tengah terbakar, masyarakatnya menangis dan menjerit kesakitan karena Supernova telah gagal, dia gagal. Aeus memohon, itulah yang membuatnya masih sadar saat ini. Berapa jauh lagi jaraknya dengan tanah? Aeus bertanya dalam hati karena dia sudah tidak tahan lagi menderita.


Dia melakukan perjuangan hanya untuk Jeldan, untuk masyarakat, dan terutama untuk Supernova. Dia ingin menangis, berteriak, juga marah untuk mengeraskan kembali jiwanya dengan merasakan emosi, namun dia tahu itu sia-sia, besi saja akan hancur kalau di hempaskan dengan kencang apalagi dirinya yang tidak terbuat dari metal sedikitpun.


Secuil rasa sentuhan di pergelangan tangan dapat Aeus rasakan saat ini, kali ini dia tidak mau berharap akan tetapi suara samar-samar yang memanggil-manggil namanya membuat Aeus terpaksa menghidupkan matanya kembali yang tadinya sempat menyerah.


Dengan penglihatan buram dia melihat saat ini Mira tengah menarik dirinya ke atas dengan kedua tangannya yang mencengkram erat pergelangan Aeus. Beberapa kali prajurit putih itu memandangi dan menggerakan bibirnya, terkadang Aeus bisa samar-samar mendengar ucapannya dan beberapa kesempatan tidak. Yang membuat Aeus terpukul sekaligus bingung adalah tubuh Mira kini sudah lima kali terhentak benda keras sehingga hampir jatuh.


Perlahan pandangan Aeus berhenti kabur, hal pertama yang dia pandangi adalah wajah Mira yang tengah memejamkan sebelah mata serta menangkupkan mulut dengan kuat berusaha menahan sakit. Perempuan satu ini tidak biasanya larut akan suasana, kalau iya berarti sesuatu itu telah melampaui batas. Perasaan Aeus seketika muram.


Mira telah membawa dia jauh dari Pemberontak keji dan tanah yang ingin mematahkannya. Tetap saja itu tidak cukup, setelah berhasil lalu apa? Aeus bahkan tidak mampu berdiri, mampukah dia? Dengan kesadaran dan keadaan seperti ini dia bahkan tidak bisa melakukan apapun selain menderita.


"Aeus!" Mira yang masih menariknya di udara berteriak padanya, "bangunlah! Kau harapan kami! Kumohon sadarlah!"


Kata itu tidak mampu membakar semangatnya lagi, tidak ada yang mampu sampai Mira terlihat meneteskan air mata. Ini bukan Mira sebelumnya, dia bersedih? Marah nampaknya cocok padanya tetapi berduka? Untuk apa? Entah kenapa Aeus perlahan memberanikan diri bergerak sedikit menanggung semua rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Mereka memutuskan turun di atap gedung Jeldan yang tidak terlihat kehidupan disana. Aeus sekuat tenaga mencoba berdiri tertatih sedangkan tangan kanannya menutup luka agar darah tidak lagi mengucur. Butuh beberapa saat namun Aeus kini sudah kembali.


Pikirannya sudah bisa memproses sekarang, dan yang sekarang dia lihat adalah Mira dimana sekujur tubuhnya terdapat lubang yang masih dalam tahap pendarahan. Aeus terguncang amat sangat. Satu peluru sudah membuat dia ingin mati, sebaliknya Mira yang jika dihitung telah tertembak lima kali tetap tegar untuk terbang, dia lakukan itu hanya demi menyelamatkan teman.


"Syukurlah kau tidak apa," ucap Mira yang Aeus rasa gadis ini benar-benar gila karena di mulutnya terukir senyum tulus saat penuh luka seperti ini.


Aeus memalingkan wajah tidak tahan kemudian langsung menangis. Dia lelaki lemah, bodoh, dan pecundang, bahkan semua sebutan itu masih belum menggambarkan berapa dia membenci dirinya sendiri.


Kemudian sebuah kejutan lagi dari Mira pada Aeus yang kini merentangkan tangan sedang kemudian memeluk pemuda berkode nama Raven itu. "Kau harus cepat pergi ke tengah kota, kita tidak lagi punya waktu." Mira menyudahi pelukannya lalu mengambil belati biasa di ikat pinggangnya.


Darah yang terus keluar dari luka tembakan di bahu Aeus mengartikan dia harus pergi namun dia terpaku saat melihat Mira menusukkan belati itu ke dirinya sendiri, tepatnya ke lubang bekas hantaman peluru. Dia menenggelamkan pisau itu ke dagingnya sendiri, bukan pertama kali Aeus lihat tapi tetap saja, kemudian dia mencongkel sesuatu dari sana setelah beberapa saat sebutir timah panas bewarna merah telah pergi dari tubuhnya.


"Cepatlah!" Mira perlu menahan rasa sakit empat kali lagi karena masih ada empat peluru yang bersemayam dalam diri. Aeus ingat perempuan berambut putih ini mempunyai kemampuan regenerasi, yang artinya Mira akan baik-baik saja. Semoga.


Aeus menuju pinggir gedung kemudian tanpa pikir panjang melompat. Dia berusaha mengepakkan sayap Corvus untuk kedua kedua kalinya malam ini, dan nampaknya ketiga kalinya dalam seumur hidupnya, selanjutnya dia pasti akan trauma. Dia berhasil terbang dan kini melanjutkan perjalan yang tertunda.


Aeus menyusuri langit Jeldan dengan masih memegang bahunya berusaha menahan pendarahan. Entah kenapa sakit yang dia rasa sebelumnya berkurang, mungkin obatnya adalah keberanian dia menduga, kalau iya itu berarti dia butuh lebih percaya lagi bahwa dia berjuang untuk banyak jiwa.


Gedung-gedung tinggi yang dia lintasi di beberapa ruangan mulai menyalakan lampu, mungkin malam ini mereka tidak bisa tidur karena menanti nasib kota ini, melihat sesosok hitam terbang pasti membangkitkan rasa penasaraan.


Sedikit lagi pikir Aeus disaat melihat atap gedung kecil persegi tengah di hadiri oleh Supernova dan masyarakat Jeldan. Saatnya dia ikut pesta.


Dia berhasil mendarat sempurna dan langsung melepaskan prototipe sayap Corvus, kemudian langsung menyusup diantara para Unvon yang kini tengah berdiri. Dia melihat diatas lantai lingkaran yang digambar dengan tembakan peluru. Aeus percaya itu tempatnya hanya saja dia perlu kepastian sehingga dia menatap wajah-wajah disana.


"Itu tempatmu, cepatlah!" seru Andreas di tempatnya.


Aeus mengangguk dan kemudian secepatnya menuju tempatnya.


"Kau terluka, Kau harus segera di obati," kata salah satu warga kota Jeldan yang menenteng tas hitam.


"Tidak ada lagi waktu, kau masih bisa menahannya dua menit bukan?" tanya Andreas yang di balas anggukan kecil Aeus.


Aeus berdiri di lingkaran gosong bekas tembakan kemudian bergegas fokus mengaktifkan mode Stella. Matanya berpendar kuning menyala. Dia sudah masuk.


Laki-laki tua berumur enam puluh tahunan yang tengah berdiri mengangkat laptop dengan tangan kiri sambil fokus pada layar, untuk tangan satunya dia menekan keyboard begitu cepat menandakan dia begitu ahli dalam bidang ini. "Baiklah, konstelasi Lyra di aktifkan." Kelingking orang tua itu menekan enter.



Seberkas cahaya keluar dari masing-masing Unvon, semua nampak biasa saja sedangkan untuk Aeus perlu usaha keras untuk tidak roboh karena menahan sensasi yang ditimbulkan seperti ditarik paksa jiwa disaat dia berusaha mempertahankannya.


Cahaya tadi berkumpul di suatu tempat membentuk kotak persegi, setelah pendaran pudar munculah kotak seukuran koper kerja bewarna putih dengan ukiran dedaunan emas di atas dan samping. Lelaki tua itu mendekat ke alat dari konstelasi pemanggilan Lyra itu.


Dia membuka kotak tersebut dimana langsung terpapar layar dipenuhi huruf dan angka, ditambah juga muncul tombol virtual bewarna emas di dalam kotak. Jemari orang tua itu dengan cekatan meloncat kesana kemari menyentuh tombol kemudian setelah menekan tombol terakhir layar virtual itu menampilkan beragam senjata yang terdeteksi dari jenis, bentuk, asal, peluru kaliber mana yang digunakan semua informasi lengkap. Seperti biasa, alat ini tidak pernah gagal.


Lelaki tua tadi itu terus bekerja mengetik dan memperhatikan layar. Beberapa saat kemudian sehabis menekan tombol enter dia terduduk lemas. "Sudah berakhir."


Mira mendarat tepat di tengah wilayah Pemberontak yang pastinya ramai oleh musuhnya yang sangat bernafsu membunuhnya. Ada yang membidik dan mengeluarkan pedang, tetapi tidak ada satupun yang berani memulai. Prajurit putih itu meraih dua pedang Cancer di sabuknya sebagai permulaan.


Suara tembakan terus bergema yang kini setiap saat makin dekat. Dua Pemberontak terlihat berlari kocar-kacir lalu mengabarkan, "mundur! Senjata kita rusak!"


Musuh yang sedang mengepungnya mendengar berita tidak mengenakkan itu mulai melirik kesana kemari tidak karuan. Ekspresi Mira begitu dingin terhadap Pemberontak, dia masih diam menunggu. Bersiap.


Suara ctak terdengar dari salah satu senapan di depan Mira. Mereka sudah menjalankan gilirannya dan tidak berhasil karena senjata mereka sudah dilumpuhkan, sekarang saatnya Mira beraksi. Dia memulai dari depan dengan menusuk dada dan membelah secara horizontal kepala Pemberontak itu. Seseorang datang dengan pedang dan kemudian menusuk Mira namun senjata itu patah begitu saja, bukan karena tubuh prajurit putih itu sekuat baja, itu semua berkat alat konstelasi dari Lyra yang berhasil melemahkan senjata lawan, Mira juga sengaja kena untuk memperlihatkan bahwa tidak ada lagi harapan bagi Pemberontak sekarang, Supernova menang. Lawannya yang menusuk Mira tadi diserang balik, denga menyilangkan tangan di depan wajah membuat pedangnya terangkat naik, sejurus kemudian gerakan cepat kedua pedang itu memotong bagikan gunting kepala musuh.


Penonton Mira yang tidak lain adalah musuhnya sendiri menyaksikan adegan mematikan tadi dengan mata tercengang dan mulut menganga ngeri. Prajurit itu tidak memperdulikan pandangan itu, tugasnya jelas yaitu membunuh para Pemberontak. Prajurit putih berbalik dan matanya langsung berkeliaran dengan dingin, puas mengintimidasi, dia mengibaskan kedua pedangnya untuk mengenyahkan darah lama untuk dilumuri darah segar.


Tembakan tadi kini sudah sangat dekat dan akhirnya tibalah mereka, para Supernova dengan brutal memukul mundur Pemberontak ke tempat mereka sendiri. Kemenangan di tangan prajurit Aproud sekarang, dan itu semua berkat alat dari konstelasi Lyra yang dapat dengan mudah memancarkan gelombang yang dapat menonaktifkan mekanisme senjata yang dipilih menjadi rusak, seperti saat ini senapan Pemberontak tidak dapat lagi menembak dan ketajaman pedang menurun, itu juga berlaku pada bom di kota Jeldan. Kini mereka tidak perlu khawatir. Yang harus dilakukan pasukan pelindung dunia ini hanyalah membantai habis mereka sampai ke akar.


Mira terus menebas dan menebas sedangkan prajurit lain menembak tanpa henti musuh. Serangan dari atas di lancarkan Supernova yang tengah memakai prototipe sayap, nampak tidak adil memang membunuh serigala tanpa cakar dan taring, namun Pemberontak telah memilih ini, melawan Supernova pada dasarnya memang buruk, sekarang, hadapilah badai yang kalian panggil.


Pedang Cancer di tangan Mira menjadi mesin Pembunuh mengerikan, dia dapat dengan mudah membelah perisai besi kemudian memisahkan tubuh lawan dengan cepat dan tanpa ampun , kini tubuhnya yang sudah basah dari darahnya sendiri mulai tercampur milik musuhnya. Beberapa saat kemudian serangan tidak terduga dia terima dari Pemberontak yang memegang prototipe senapan Hercules, membuat wajahnya yang ditumbuhi embun darah terguncang. Dia ingin membalas namun Tiffany sudah berhasil membunuhnya terlebih dahulu dengan riffle bewarna ungu gelap–senapan Scorpion.


"Sama-sama," ucap Tiffany langsung menargetkan Pemberontak lain dengan senjatanya tanpa sedikitpun keraguan terlihat.


Tidak ada alasan khusus mengapa masih ada senjata di pihak musuh yang bisa digunakan. Itu karena prototipe dan alat asli konstelasi pemanggilan memiliki kejanggan saat digunakan bersamaan. Seperti sekarang gelombang dari alat Lyra tidak mampu merusak senjata itu. Beberapa kasus juga begitu, itulah mengapa prototipe tidak bisa digunakan sekaligus dengan alat dari konstelasi pemanggilan. Akan terjadi ketidaksinambungan.


Pemberontak yang kalah jumlah berusaha mundur namun kemana? Mereka yang percaya pasti kalah memilih bersembunyi atau menyerah. Seperti cutjack dan Greta lakukan, mereka tahu diri, mereka begitu berharga sehingga pasti tidak akan dibunuh, hanya perlu mengangkat kedua tangan maka mereka sudah berada dalam kapal kuat di tengah badai yang berkecamuk.


Owen datang dengan napas tidak teraturnya akibat kelelahan, mata birunya langsung menatap kedua buronan yang kepalanya dihargai tinggi. "Kalian menikmati pestanya?"


Cutjack dan Greta saling melirik kemudian menyeringai halus, sebuah pesan rahasia yang mereka kira bisa sembunyikan. Tentu saja itu cuma sementara, berusahalah untuk menguburnya karena sedalam apapun Supernova akan menggali penuh semangat sebab kriminal seperti mereka sangat disukai di ruang intergosi.


Owen melemparkan dua borgol bewarna perak yanh langsung berdentingan terhantam tanah. "Pasang sendiri. Dan usahakan jangan tertembak oleh kawanku."


Pemberontak yang masih memiliki keberanian mencoba melawan dengan seni bela diri, namun tetap saja itu percuma, jika semua Pemberontak ikut bertarung itu masih saja tidak cukup melawan Supernova dengan senapan dan pedang mereka. Pertempuran demi pertempuran terjadi di segala penjuru gelap hutan, mereka ditembak, di cincang, dan di pukul sampai hancur.


Malam berlanjut dengan banyak jeritan dan darah yang tumpah ruah mengisi kesunyian hutan. Tidak perlu waktu lama, setelah dua puluh menit bertempur, Supernova berhenti, menyisakan beberapa musuh yang menyerah.


Semua puas, Pemberontak dengan kekalahannya dan Supernova dengan kemenangannnya.