SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Blasteran



Malam dihabiskan dengan pemulihan untuk semua prajurit Supernova yang sudah babak belur, bertempur tiada hentinya. Untuk saat ini mereka aman, sedangkan kedepannya tidak ada yang tahu. Mereka hanya bisa menggantungnya pada keberuntungan sejauh ini.


Kotak-kotak kayu yang memuat makanan sudah dibongkar untuk disantap para tentara Supernova yang berkata sangat kelaparan akibat porsi makanan dipenjara begitu sedikit, bahkan hampir tidak ada. Lain lagi untuk prajurit muda yang beberapa butuh istirahat: untuk fisik dan mental. Seketika prototipe Ophiucus dibutuhkan lebih banyak dari udara.


"Dandellion," ucap Owen pada Mira yang sedang sibuk membongkar kotak kayu, mengeluarkan makanan didalamnya. "Apakah dari lubang dua dan tiga sudah mulai menghitung jumlah korbannya?"


Mira hanya sedikit lebih baik dari yang lain karena memiliki kemampuan regenarasi. Semua bekas luka dari ringan sampai berat sudah ada banyak perkembangan, seperti lukanya sudah menutup. "Masih dalam tahap perhitungan." Mira mengangkat kotak itu lalu menghadap langsung pada Owen. "Bisakah anda minggir?"


Owen mundur kekanan, membukakan jalan untuk Mira lewat.


Mira pergi ke kumpulan prajurit Supernova yang tengah berkumpul untuk makan bersama. Dia meletakan kotak itu didekat mereka, menerima terima kasih, kemudian mengambil kotak kayu yang sudah kosong untuk dibawa ke sudut ruangan. Ditumpuk.


Niat itu terhalang, saat Mira mendengar percakapan para tentara Supernova ini.


"Aku sudah bertanya pada Owen. Ternyata anak muda yang satu sel dengan kitalah yang menolong kita semua. Pantas saja Pemberontak tertipu, kita juga terkelabui." Pria berumur tiga puluh delapan tahun, berambut hitam lurus dengan hidung agak mancung.


Mira tersadar dia belum menerima satupun kabar bahwa Aeus selamat. Seharunya dia memang selamat mengingat pemberontak sudah dikalahkan di penjara dan mereka sempat untuk kabur. Banyak yang tewas, seharusnya Mira tidak perlu khawatir akan nasib Aeus, tapi itu perasaan yang muncul begitu saja.


"Kau mengenal Aeus?" tanya Mira pada sekelompok pria Supernova itu.


Pria berambut hitam lurus berhidung agak mancung tadi memandang Mira. "Cuma sebentar. Apakah kau temannya? Aku ingin berterim kasih padanya."


Mira menunduk lalu menggeleng pelan. Dia harap bisa menjawab, tapi setiap kata tidak ada yang cocok untuk dikatakan.


"Anak muda yang malang." Pria itu kini yang tertunduk lesu.


Jaket hitam dengan tudung teragkat melindungi wajah poni pendek coklat kehitaman lancip milik Farhaz dari cahaya siang matahari yang begitu terik. Dia berjalan seorang diri, dengan membawa ransel menggelembung tidak ada tahu kemana dia. Dia sendiri masih belum menentukannya.


Awalnya dia ingin mencari keberadaan Sakura dan Aeus tapi dia tahu resikonya buruk. Dia harus tahu dimana letak mereka dengan tepat, jadi Farhaz tidak perlu kesana kemari membuat pergerakannya mencurigakan. Sebab patroli pemberontak sudah lima kali dia lihat berkeliaran di jalanan.


Seharusya arus sungai membawa mereka ke lubang tiga, letak markas baru hasil galian berada. Namun setelah dicari disana tidak ada mereka. Jadi apa penyebabnya? Kalau mereka berhasil meletakan Auriga kemungkinan mereka juga berhasil keluar jika melihat waktu kedatangan pemberontak.


Rutenya melalui sungai, jadi apa yang membuat mereka tidak sampai? Buaya tidak ada disungai itu, arusnya juga tidak terlalu kencang. Jadi... setelah sadar Farhaz ingin sekali memukul wajahnya sendiri. Ini tentang Aeus, orang payah dan tidak berguna, jadi kemungkinan besar dia sebab mereka tidak sampai sejauh ini.


Dia mulai memperkirakan titik di sungai mana yang aman lalu tersadar. Pipa irigasi. Dia mulai melangkah tanpa beban pikiran.


Di salah satu pipa pembuangan dia menemukan mereka masing-masing diam. Alasannya bukan penat, dari raut wajah Sakura jelas dia kesal. Farhaz melepaskan ransel miliknya lalu melempar itu ke arah mereka sehingga membuat mereka terkejut.


"Kalian tidak bisa keluar dengan penampilan seperti itu," ucap Farhaz. "Dalam ransel itu ada baju dan beberapa makanan. Tunggu sampai malam lalu pergilah ke lubang tiga." Hanya berkata itu dia langsung undur diri.


Tidak ada lagi yang mereka lakukan setelah berganti baju dan memakan beberapa cemilan. Hati Aeus begitu sakit mendengar ucapan sakura tadi sehingga tiap kata maaf yang dia ingin ucapkan selalu tercekat di tenggorokan. Dia bukan kesatria, dia butuh waktu mengumpulkan keberanian yang entah kapan baru ada.


Dia berusaha tidak terfokus pada itu. Dia mengalihkan pikirannya kepada hal yang dia jumpai pada mimpi anehnya. Kegelapan, gadis misterius, sesuatu tentang Hypernova. Itu benar-benar aneh. Apalagi saat gadis itu berucap di dunia dan di waktu berbeda. Setahu Aeus kelaparan tidak membuat gila ... apakah benar?


"Bagaimana lenganmu?" dua kalimat dan satu tanda tanya keluar dari mulut Sakura mampu membuat Aeus terperangah.


Dia buru-buru menyingsingkan lengan, melihat perban tadi sudah basah dia putuskan mencabutnya sehingga luka sayatan itu jelas dapat dia lihat. Basah, berdarah, lebih buruknya lagi mengeluarkan nanah dan bau kurang sedap.


Sakura mendekat untuk melihat luka itu lebih seksama. "Kau terinfeksi." Sakura menarik diri kembali.


Rasa senyar di luka itu sudah buruk, apalagi saat Sakura bilang terinfeksi. Anehnya Aeus tidak peduli, dia senang saat Sakura mau buka mulut pada orang payah seperti dirinya.


"Eng... apakah aku boleh bertanya." Setelah menurunkan lengan baju dia menatap Sakura yang sisa-sisa emosi kekesalan masih sangkut di bibirnya yang bengkok. "Sakura itu nama aslimu?"


Dengan cepat Sakura nenggeleng. "Tentu saja itu kode nama apakah kau juga tidak hanya tidak berguna tapi juga bodoh?"


Kata-kata itu pahit tapi dia sudah merasakan lebih pahit daripada itu dari orang yang sama juga. "Kalau saja. Siapa nama aslimu?"


Sakura terdiam sesaat memandangi Aeus kira-kira untuk mengetahui maksudnya. "Mitohara Karen. Panggil saja aku Mito"


"Iya." Dengan santainya Sakura atau sekarang harus dipanggil Mito berucap.


Sungguh aneh menurut Aeus. Tentara Supernova memang tidak pernah melarang siapa saja untuk mendaftar, tetapi untuk orang jepang seperti Mito membuat dia sangat heran.


"Kau pasti sekolah di akademi Supernova ibukota bukan?" tanya Mito ke Aeus yang langsung mengangguk yakin. "Kau pasti belum tahu tentang Supernova blasteran." Kali ini Aeus menggeleng.


Sakura menghela napas pelan. "Sudah lima tahun lalu ada kebijakan baru dari Aproud untuk negara lain bergabung dengan angkatan militernya. Sejauh ini hanya amerika dan jepang yang bekerjasama dengan Aproud . Hasil kebijakan itu memperbolehkan anak dari warga negara Aproud dengan negara yang sudah menjalin kerjasama untuk dilatih menjadi Supernova. Wajar kau tidak tahu karena kau berada di akademi ibukota, disana tidak ada sama sekali blasteran."


Hampir tiga tahun belajar di akademi dan dia masih tidak mengetahui hal yang penting seperti ini. Memang susah untuk orang yang hanya mengejar kelulusan.


"Jadi orang tuamu ada keturunan Aproud, dan jepang?"


Mito mengangguk kecil.


"Lalu bagaimana kau bisa bertemu Farhaz?"


Mito langsung mendongak kearah Aeus. Dari dalam matanya, terlihat sebuah amarah. "Jangan bicara tentang orang brengsek itu lagi." Mito berpaling lalu terdiam.


Saat malam tiba mereka dengan hati-hati menelusuri kota yang pemberontak makin banyak membangun pos dan lebih sering patroli. Bisa Aeus bayangkan apa yang terjadi bila tertangkap, namun mereka berhasil selamat ke sebuah celah antar gedung yang sangat sepi dan begitu gelap.


Mito seperti berpikir keras selama beberapa saat, sedang mencari jalan masuk. Akhirnya dia yakin ini memang tepatnya lalu langsung masuk melalui pintu tidak terkunci begitu saja. Perbuatan menerobos masuk tanpa izin itu gila, tapi tidak lebih gila saat mereka telah masuk di sebuah ruangan dan Sakura menembus dinding begitu saja.


Menembus dinding beton merupakan pengalaman terbaik dia kali ini. Setelah dinding itu mereka langsung berada dalam ruangan kosong yang pijakannya melandai kebawah padahal lantainya rata. Ilusi proyektor, tidak salah lagi.


Tenggelam dalam lantai mereka langsung disambut gua buatan yang penghuninya sedang memperhatikan mereka masuk. Semua terdiam, karena kedua orang ini sudah terlanjur tertulis mati pastinya.


"Raven?" seorang perempuan berambut kuning pirang, Tiffany. Dia langsung mendekati dia dengan sorot mata tidak percaya. "Kau selamat?"


Aeus menatap balas Tiffany. "Ceritanya panjang. Sekarang aku membutuhkan prototipe Ophiucus."


"Kau tidak akan menggunakan itu, kau akan menggunakan alat konstelasi pemanggilan langsung." Seorang Unvon berusia tiga puluh tahun berambut dan berjangut coklat berdiri diikuti Unvon lain.


Aeus hampir berniat menolak tapi melihat keadaan dia dengan luka yang sudah membusuk dan tenaga hampir habis akibat kelaparan dua hari lalu masih belum cukup terpenuhi oleh cemilan yang dibawa Farhaz. Dia butuh perawatan terbaik.


"Baiklah," singkat Aeus.


Para prajurit Supernova yang duduk berkurumun untuk beristirahat terpaksa beranjak untuk memberi ruang untuk konstelasi pemanggilan Ophiucus yang membutuhkan lima belas Unvon. Drone atau kamera diatas untuk melihat apakah susunan rasi bintang tidak dibutuhkan karena lantai kasar batu telah bertanda jadi seorang Unvon hanya harus berdiri di pola itu lalu mengaktifkan mode Stella miliknya.


Lima belas Unvon yang sudah setuju untuk melakukan konstelasi pemanggilan sudah berada ditempatnya. Mereka serempak mengaktifkan mode Stella, seketika mata mereka berubah yang tadinya ada coklat, biru, dan hitam menjadi warna emas meleleh yang terang. Seberkas cahaya keluar dari punggung mereka kemudian terbang ke samping Aeus membentuk sebuah silinder besar. Muncul lah sebuah tabung kaca silinder dengan penutup dan alas terdiri dari besi bewarna hitam. Sebuah inkubator Ophiucus.


Tabung kaca tadi membukakan celah persegi untuk masuk. Aeus melangkah masuk dan berdiri disana hingga pintu kaca tadi tertutup. Aeus gugup karena dipandangi banyak orang, jika saja kaca benda ini bewarna hitam bukannya bening itu pasti sedikit membantu. Perasaan resah tiba-tiba menghilang berganti menenangkan saat suhu mulai sejuk didalam sana. Aroma juga berganti menjadi wangi yang disukai Aeus yaitu bunga lavender.


Apa yang Aeus rasakan disana begitu aneh, sekujur tubuh dia serasa digelitik tapi tidak membuat dia tertawa melainkan senang dan bahagia. Pikiran yang tadinya selalu membebani tentang nyawa melayang akibat dirinya entah kenapa jadi... ringan, seperti itu hanya masalah sepele saja. Dia berada dibawah tanah namun jiwanya seperti sedang berada diatas awan bersama burung-burung kecil di hari yang cerah.


Berada disana benar-benar nyaman berkat udara sejuk, aroma wangi, ditambah sensasi sedikit menggelitik. Apakah ini rasanya mabuk? Aeus baru berpikir dengan akal sehat kalau dia memakai alat konstelasi pemanggilan yang semakin lama membutuhkan tenaga besar.


Pintu tembus pandang tergeser di depannya. Dia melangkah keluar dari sana. Aeus tidak bisa berbohong jika keluar dia akan kembali merasakan sakit namun itu salah. Tulang dia sekuat tiang beton, pikiran dia sejernih laut, dan semua luka dia hilang tanpa bekas. Aeus seperti terlahir kembali.


******


terima kasih telah membaca cerita ini, saya harap kalian yang menunggu selalu senang akan cerita ini. bagi yang suka bisa like dan share ya agar pembacanya lebih banyak. Kalau ada kritik dan saran juga bisa disampaikan kok, saya juga masih.belajar dalam hal tulis menulis.


Saya juga mau promosi karya saya berjudul NERVTEX: Perang Takdir, cerita itu berseting dimasa depan, genrenya action, mystery, dan sci-fi.Dan juga ada ilustrasinya lagi, kalau berkenan bolehlah berkunjung kesana dan nilai sendiri.


Saya Luciver undur diri.