SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Penyamaran



Dilarang berbicara, membuat semua personil di lubang satu tempat komandan Owen seperti kuburan. Itu dilakukan karena terowongan ini tidak bisa dibangun pintu yang bisa menghalangau suara masuk ke ruangan kecil tempat kantor sementara Owen.


Ruangan itu sudah kecil dengan perut Owen dan meja batu persegi sederhana hasil karya dari para pelajar Supernova. Sekarang bayangkan itu ditambah lima orang lagi. Tidak hanya julukan sempit yang akan muncul, juga ada panas dan sesak.


Owen berdiri menghadap lima wajah orang-orang yang dia tunjuk sebagai orang penting saat ini. Semua prajurit resmi Supernova yang sudah berumur dewasa kecuali Mira, walau telah menjadi prajurit Xordas tetap saja dia masih terlihat sebagai gadis pelajar di akademi Supernova.


"Bagaimana kabar lubang tiga?" Owen menatap Mira.


"Baik-baik saja, makanan tambahan telah berhasil saya kirimkan ke lubang tiga."


"Baiklah." Owen beralih fokus menghadap semua orang didepannya, bersiap berpidato. "Selain berhasil mendapatkan prajurit tambahan yang lebih berpengalaman kita saat ini juga punya informasi tambahan berkat Aeus," lapor Owen.


Saat mendengar itu Mira hanya bisa melirik sepatunya ragu, sebab dia tahu sesuatu tentang informasi itu, yaitu Farhazlah yang punya ide itu. Aeus hanyalah boneka.


"Jumlah pemberontak di kota ini terhitung ada dua ratus orang, itu sebelum operasi penyelamatan, aku tidak terkejut jika ada tambahan personil di pihak mereka. Tapi kurasa tidak akan banyak, paling banyak seratus orang. Itu karena di kota lain Supernova juga melakukan penyerangan sehingga bisa dikatakan pemberontak juga ketakutan sekarang." Owen tanpa berkedip dan bernapas menjelaskan.


"Kalau begitu apa rencana kita selanjutnya?" tanya seorang Unvon berumur tiga puluh empat tahun berambut coklat lurus dengan mata biru terang.


"Aku sudah beritahu kabar tentang kota ini pada Supernova di kota lain. Kami berdiskusi dengan hasil kita harus menyerang pemberontak diwaktu sama, kita menghadapi musuh kita disini, mereka melawan musuh mereka disana. Pemberontak tidak bisa lagi saling mengirim pasukan sehingga kita tidak perlu mundur kalau kalah jumlah. Kabar buruknya kita juga tidak bisa mundur," tutur Owen.


Semua orang disana mengangguk kecil tanda paham dan setuju.


"Informasi tambahan yang kita dapatkan berkat Aeus mengenai kota ini begitu mengejutkan, ternyata Jeldan telah ditanam bom di beberapa sudut kota."


Pernyataan itu membuat semua orang diruangan berhenti bernapas. Halangan di depan mereka ternyata masih menyimpan rahasia besar. Pemberontak memang gila.


"Jadi rencana yang kumiliki adalah kita menentukan tempat pertempuran akhir kita dengan pemberontak dengan masing-masing membawa seluruh kekuatan dimiliki. Aku sudah menemukannya yaitu di hutan kota dekat Jembatan Beruang, disana tidak ada siapapun yang tinggal kecuali hewan tapi untuk saat ini kita perlu menyelamatkan nyawa manusia, kurasa para hewan bisa menunggu," jelas Owen.


"Disana juga adalah jalan masuk dan keluar kota Jeldan bukan? Akan ada banyak orang yang lewat," sahut seorang Xordas dengan rambut hitam dan mata kiri yang kini tertutupi perban berkat luka dia terima saat perebutan kota Jeldan.


"Kita bisa blokir itu. Kita akan berada di hutan, ujung kota dari Jeldan, kita menutup jalan untuk orang yang ingin masuk, dan pemberontak akan berada diwilayah sebrang kita juga akan menutup jalan keluar dari kota Jeldan."


"Untuk bomnya?" Xordas dua puluh delapan tahun berambut hijau dari cat dengan warna mata sama seperti rambutnya bertanya.


"Terima kasih untuk mengingatkanku Jaron. Aku ingin membuat tim terpisah untuk itu yang artinya kekuatan kita akan berkurang lagi. Aku akan menugaskan kau Andreas." Telunjuk Owen terangkat menghadap Unvon berambut coklat dan bermata biru tadi. "Kau bisa mengambil lima Unvon dan lima Xordas untuk pergi ke tengah kota. Kau akan membentuk konstelasi pemanggilan Lyra disana, kau bisa keluarkan alat pemancar Lyra ke seluruh penjuru kota lalu deteksi keberadaan bom itu kemudian jinakkan bahkan juga kau bisa mendeteksi senjata para pemberontak yang dipakai di pertempuran lalu mematikannya sehingga kami bisa menyerang balas mereka, kau yang akan memimpin disana."


"Kami hanya bisa membawa lima Xordas? Baiklah." Unvon bernama Andreas menghirup napas sedalam mungkin kemudian mengangguk dengan mata tertutup. Agak meragukan dan menyedihkan karena dia seorang Supernova bahkan seorang prajurit senior menurut Mira.


"Para pemberontak akan menghadapi kami, kau tidak perlu terlalu khawatir kawan." Owen menatap percaya pada Andreas. "Baiklah untuk strategi di pertempuran nanti kurasa aku masih belum bisa membahasnya saat ini, bagi yang memiliki saran untuk itu bisa katakan nanti kepadaku. Lalu kita perlu sampai lebih dulu di Jembatan Beruang itu, kita tidak bisa mengambil resiko bermain aman kalau lawan kita pemberontak. Setelah semua personil semua sampai disana aku akan langsung memberi tawaran ke pemberontak untuk melakukan pertempuran akhir disana. Kuusahan mereka tidak bisa menolak penawaran itu."


Semua mengangguk paham.


"Baiklah aku ingin kalian mendengarkan ini, terutama kau Mira. Kau akan sebarkan pesan ini ke penanggung jawab lubang dua dan tiga dengan prototipe Telinga Lupus. Kita akan pergi ke Jembatan Beruang untuk pertempuran akhir dengan berkelompok lima orang tiap giliran, kelompok pergi dengan jangka waktu empat jam dimulai delapan pagi sampai jam sembilan malam. Setiap personil harus memakai penyamaran dengan baik, ingat itu."


Mira yang sangat fokus mendengarkan mengangguk lalu berucap, "akan kusampaikan pak."


"Tambahan lagi, kelompok pertama usahakan adalah prajurit Supernova senior sebab mereka akan membangun tempat persembunyian lagi dibawah hutan."


"Siap pak," sahut Mira tegas yang membuat empat orang dewasa disampingnya melirik sesaat dirinya.


"Baiklah, untuk malam ini beristirahatlah. Tiga hari lagi adalah pertempuran akhir kita, siapkan diri kalian untuk menang." Owen penuh percaya diri. Bahkan kalau dikatakan, sangat percaya diri.


Kelompok pertama telah pergi sejam lalu saat itu Aeus rasa jumlah mereka yang tadinya sedikit ternyata lebih menyedihkan lagi saat ini. Aeus mulai takut kalau saja tempat ini ketahuan apakah mereka bisa melawan, tidak jika menurut Aeus. Tapi syukurlah pendapat dia tidak penting saat ini sehingga yang paranoid hanya dirinya sendiri.


Kalau untuk dirinya sendiri Aeus ternyata berada di daftar siang hari esok. Kalau begitu dia bisa santai-santai menunggu bukan? sayangnya hal itu tidak akan terjadi. Semua orang mulai melatih diri, dari melakukan gerakan pemanasan secara mandiri atau berkelompok.


Dia mulai mendorong tangan sehingga bahu dia naik paling tinggi dari semua anggota tubuhnya, mengangkat semua beban di tubuhnya. Kegiatan push-up itu dia lakukan terus menerus dengan tempo lambat dan tidak rapi terlihat dari betisnya yang naik telat sehingga terlihat Aeus malah terlihat menirukan gerakan ular air yang naik turun.


Di hitungannya yang baru mencapai dua puluh keringat panas sudah menetes dari keningnya. Tidak ada yang menyuruhnya berhenti jadi dia teruskan sampai ke gerakan yang ketiga puluh. Saat itu dia merasa sangat lelah sehingga memutuskan untuk tengkurap dengan wajah mencium lantai batu itu.


"Ternyata kau memang prajurit payah. Sudah tidak bisa berenang kau juga tidak kuat push-up ya." Dari suara itu Aeus putuskan seorang wanita, dan sepertinya dia tahu siapa pemiliknya.


Aeus menggeser wajahnya ke kiri kemudian barulah dia melihat gadis berambut pendek biru laut dengan bandu merah muda diatasnya, serta wajah khas asia yang dia miliki. Siapa lagi kalau bukan Mitohara si blasteran.


"Hina saja aku sesukanya," balas Aeus agak kesal.


"Memang itu keinginanku." Gadis ini mulai terlihat sama menyebalkannya dengan Farhaz. "Tapi itu sia-sia, menghina orang lain, ibuka sering mengatakan itu."


"Ibumu sepertinya orang baik."


"Dia adalah orang paling hina yang kuketahui," sahut Mitohara dengan nada kesal tidak bisa ditambal lagi. "Kau tidak tahu dia, jangan pernah katakan itu lagi, pecundang!" Gadis itu melangkah pergi.


Orang aneh pikir Aeus. Setelah menghina malah pergi, sungguh gadis aneh.


Latihan yang Aeus lakukan bukanlah tindakan yang diniatkan sehingga dia lakukan dengan setengah-setengah seperti lebih banyak beristirahat dan kalaupun bergerak malah dia melakukannya dengan asal-asalan saja. Cuma harus terlihat sibuk agar tidak memancing Tiffany yang kalau melihat itu pasti akan memarahinya.


Sehari telah berlalu latihan lain menunggu. Seperti sebelumnya Aeus melakukan itu sekadarnya dengan niat surutnya. Lima kelompok sudah berangkat, sekarang hanya ada sepuluh orang disini. Itu tidak masalah menurut Aeus, karena dia akan pergi jam dua siang nanti ke tempat pertempuran akhir dilakukan. Di Jembatan Beruang.


Kata "pertempuran" memang keren bagi Aeus, tapi tidak untuk "akhir" yang mengundang resah dalam dirinya. Rasanya aneh setelah melewati latihan keras, bertatapan dengan musuh sebenarnya, juga yang tidak akan dia lupakan adalah menyaksikan jiwa melayang dari teman seumuran dengannya bukanlah hal mudah. Sayangnya itu tidak cukup mengubah sifat penakut Aeus.


"Hei Aeus!" seru Tiffany langsung mendekati Aeus yang asik berpura-pura sit up.


Aeus berpura-pura tidak mendengar, dia terus memecut tubuhnya untuk bergerak lebih cepat, naik dan turun kemudian naik lagi dan kembali turun. Dalam hati dia menyumpah. Sepertinya bersandiwara bukan bakatnya tapi tidak untuk berbohong. Apa yang akan dia katakan untuk Tiffany?


"Hei Aeus!" teriak Tiffany dari jarak satu centi ditelinganya sehingga gendang telinga Aeus tidak lagi diketuk melainkan di dobrak.


Aeus terperanjat kemudian berusaha duduk dengan benar sambil tangan kiri mengorek telinga kiri yang di teriaki tadi. Dia langsung menatap Tiffany dengan mata disipitkan berusaha meminta jawaban secepatnya.


"Kau kupanggil kenapa kau tidak menjawab? Pemberontak mengambil indra pendengaranmu ya?" Tiffany sudah berdiri menjulang di sebelah kiri Aeus dengan berkacak pinggang.


"Aku... terlalu asyik berlatih apakah matamu ditembak pemberontak sehingga tidak melihat?" balas Aeus kesal.


"Jangan banyak omong kosong, kulihat dari kemarin kau hanya gerak-gerak tidak jelas. Sekarang sudah jam dua belas, bersiaplah ini giliran kelompokmu."


"Iya aku mendengar." Aeus bangkit lalu menepuk-nepuk tangan berusaha menghilangkan pasir atau batu kecil yang melengkat di telapak tangan lalu beranjak pergi.


Setelah berganti penampilan Aeus tidak lagi bisa dikenali dengan wajah baru dan baju kemaja kuning kotak-kotak ditambah juga celana jins biru.


"Kau sudah siap?" Seseorang berumur dua puluh tahun dengan baju kaus oblong putih dengan logo dadu tepat di dada menatap Aeus.


"Iya," sahut Aeus terlihat ragu lagi menyedihkan. Alasan apa lagi kalau bukan pemberontak.


"Baiklah kalau begitu ayo berangkat!" seru Supernova pemandu berkaus putih tadi.


Lalu dimulailah perjalan menantang maut lainnya.


*****


terima kasih telah membaca, maaf baru bisa update. seperti biasakalau suka jangan lupa like dam share ya. saya luciver salam...