
Dingin tidak lagi berpengaruh. Jantung mereka terpompa cepat, menyebarkan darah panas ke setiap inci pembuluh darah. Akan sayang sekali jika darah muda itu tumpah, namun kenyataannya pertempuran akan selalu memakan korban tidak peduli pihak benar atau salah sekalipun.
Dalam mobil box nampak pelajar Supernova bersenjata dan berompi warna emas berdiri bersesakan dengan sesekali limbung hilang keseimbangan karena lantai yang bergetar dari gesekan ban dan jalan.
Mira yang ada disana menjadi sosok berbeda dari yang lain. Bagaimana tidak, saat semua wajah gugup, takut, bahkan pasrah, Mira tanpa emosi tetap tenang bagaikan mercusuar ditengah badai kalut.
"Lima menit lagi kalian akan sampai, bersiaplah." Suara itu muncul di benak Mira, tidak lain adalah prototipe Lupus.
Mira bisa dibilang sebagai ketua tim di dalam mobil itu, dia akan memberi tahu yang lain dari sistem komunikasi pusat. Tanggung jawab itu diterima Mira dengan senang hati. "Bersiaplah! Lima menit lagi kita akan sampai. Pemeriksaan senjata terakhir!"
Suara Mira begitu lantang ditambah tidak pernah tercampur rasa takut. Dua puluh orang disana menghela napas panjang setelah itu mulai mencek senjata mereka dari isi peluru, pembidik, dan kelurusan larasnya. Senjata mereka sudah siap, entah pada pemiliknya.
Kecepatan mobil mulai melambat lalu membelok ke kanan. Saking pelannya sampai jantung mereka sendiri bisa diraakan sedang berteriak.
Mira memandangi tiap wajah yang terbungkam ketakutan mereka sendiri. "Aku tahu kalian semua takut, tidak terkecuali aku yang sudah pernah ikut bertempur. Kita dulu diberi pilihan, inilah pilihan yang kita ambil. Demi Jeldan dan Supernova." Mira mengangkat tangannya yang terkepal.
Perlahan semua mengangkat tangan mengikuti Mira. Jika tadinya mata mereka tertunduk maka itu mulai bangkit dan terbakar. Kematian itu nyata, di depan mata mereka menghadap, tapi itu tidak jadi masalah lagi. Apa yang mereka perjuangkan bukanlah hal kecil, mereka berjuang untuk tanah dari Aproud, tanah mereka dilahirkan.
Mobil berhenti, Mira mengangkat senjata lalu membuka pintu. "Maju!"
Mira meloncat keluar dari kotak di belakang mobil lalu langsung pergi kesamping kiri mobil tepatnya di dekat kap, mencoba bersembunyi dibaliknya karena dihadapannya gerbang penjara berdiri tegak. Dia melirik jalan di jalur satu dan dua juga untuk memastikan mobil box sudah menyerong memblokir jalan sedangkan para pemberontak yang berjaga di pintu masih kebingungan.
Mira mengambil sebuah granat bewarna kuning keemasan dari sabuknya lalu melemparnya ke dua penjaga pemberontak kemudian langsung meringsut. Bunyi ledakan diikuti getaran diikuti menggelegar.
Lantas semua personil masih didalam mobil berbondong keluar, langsung berlindung dibalik mobil. Pemberontak penjaga akan datang tak lama lagi, mereka melakukan persiapan dari mengacungkan laras senapan ke depan gerbang yang sudah cukup hancur berkat granat dilempar Mira tadi.
Lima pemberontak berbaris keluar langsung disambut tembakan bertubi-tubi dari jalur satu yang disana adalah pos milik Tiffany atau bisa disebut sekarang dengan kode nama: Chrysant. Mereka yakin pemberontak akan terpaksa menaiki tembok bata yang tinggi itu maka dari itu empat sniper sudah dipasang di atas gedung dekat medan tempur sehingga pilihan yang hanya dimiliki pemberontak adalah keluar dari gerbang yang sudah di kepung itu.
Barisan rapi Pemberontak sebanyak sepuluh orang keluar dengan tameng besi segi empat. Dibelakang mereka ada pemberontak lagi dengan jumlah dua kali lipat berusaha menghujani setiap personil Supernova. Serangan mereka begitu cepat hingga ada yang terkena tapi masih banyak yang berhasil berlindung dan mulai melawan balik.
Desingan peluru mengisi tengah malam kosong hari ini. Pertahanan pemberontak cukup kuat bahkan untuk peluru dari prototipe Hercules. Mira berusaha membidik setiap pemberontak yang tubuhnya mencuat keluar tidak terlindungi. Bisa diakui mereka tangguh, tangan, bahu, atau kaki yang Mira tembak tidak dapat menumbangkan siapapun.
Jalur satu mulai dihujani peluru oleh pemberontak. Mereka memfokuskan serangan. Mira mengambil kesempatan untuk melempar sebuah granat lagi tapi tempat dia sekarang jadi serbuan peluru. Mira terpaksa tidak jadi beraksi, memilih untuk berlindung di balik mobil juga yang lain, disini sudah ada tiga orang yang tidak sadarkan diri akibat tembakan.
Bunyi ledakan terdengar disamping kiri Mira dimana tembok bata kokoh berdiri meledak saat ini. Setelah menoleh hujan debu dan serpihan pecahan bata beterbangan padanya. Mata dia perih ditambah serpihan bata itu ada yang tenggelam dikulit Mira sehingga menggores kulitnya, membuat dia menyumpah. Sesakit apapun keadaan dia tetap berdiri, dengan hanya memakai sebelah mata dia melihat lubang besar mengangkang di tembok diikuti siluet hitam bersenjata merengsek keluar. Pemberontak.
Mira dan lainnya tersudut, jika mereka lari kebelakang pemberontak di gerbang akan menembaki mereka. Ini hal yang tidak diharapkan, tidak disangka pemberontak rela menghancurkan tembok itu untuk membuka jalan lain.
Seseorang datang kesamping Mira dengan berlutut satu kaki dia menghadap ke tembok dengan senjata miliknya. Mira langsung mengangkat senapan kuning keemasan miliknya lalu berdua dengan Xordas tadi dia menghujani lubang ditembok itu, beberapa siluet jatuh sedangkan yang lain menghilang bersembunyi.
"Aku butuh dua orang yang memakai prototipe perisai Perseus!" raung Mira. "Kita akan masuk ke lubang itu dan menghabisi mereka dari dalam!"
Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan maju memarken lempengan kecil bundar di pergelangan tangan mereka.
"Aku ingin kalian melindungi kami dari pemberontak yang akan muncul di tembok." Dua orang itu pergi, langsung berlutut satu kaki menghadap lubang dengan mengangkat tangan mengeluarkan sebuah barrier hampir tak kasat mata.
"Chryant!" ucap Mira dari saluran komunikasi pikiran. "Aku ingin pos kau memancing pemberontak di gerbang depan, kami diserang dari dua sisi kami perlu ganti pos!"
"Kami juga!" balas Tiffany keras.
Benar-benar gawat, sekarang pos jalur 1 dan 3 akan dibantai. Mira memeras otaknya sekeras mungkin mencari cara saat barier tak kasatmata di sampingnya sudah mulai pecah—mencapai pada batasnya.
Mira mendapat ide, dia langsung masuk ke ruang kemudi truk lalu menuduk mendekati kusi supir yabg kosong yang sama halnya disebalahnya yang tidak berpenghuni. Tidak aneh karena sebenarnya kendaraan ini dikendalikan prototipe Auriga. Dia memegang kemudi lalu memutar kunci menyalakan kembali mobil, dengan ilmu mengendarai seadanya dia menancap gas menuju lubang yang kecil itu tadi hingga bagian depan dari mobil masuk, saat itu juga Mira langsung keluar. Rencannya berhasil, lubang telah ditambal. Hanya masalah waktu pemberontak akan membuat ceruk lain lagi, yang penting sekarang yang harus diurus adalah pemberontak di gerbang depan.
"Chrysant! Kau bisa kerahkan mobil itu masuk ke lubang tembok untuk menambalnya. Aku dan yang lain disini akan mengalihkan perhatian!" Mira dari alat komunikasi Lupus.
"Kami akan bantu!" ucap seseorang yang Mira tahu dia adalah Sniper saat ini.
"Dandellion! Chrysant!" suara Owen di kepala Mira. "Kalian bergabunglah dengan pos di jalur dua, pindahkan semua kesana kita akan menjalani tahap berikutnya."
Mira memadangi dari lima belas orang keluar tadi kini tinggal dua belas orang saja dan diantaranya ada yang terluka kecil sampai berat. Menghadapi ketakutan diri sendiri sudah berat, sekarang kematian teman. Seharusnya mereka sedih tapi jelas itu tidak akan membantu, sedangkan amarah memberi mereka kekuatan untuk hidup membalaskan dendam.
Mira masih terengah-engah karena luka dan staminanya yang terus terkuras sedari tadi. Dia yakin semua begitu, sekarang saatnya melampui batas usaha. "Kita akan berpindah pos ke jalur dua!" Mira berusaha memenangkan suaranya dari hujan peluru yang menghantam keras mobil box tempat mereka bersembunyi.
Semua terdiam fokus mendengarkan.
"Baiklah ikuti aku." Mira mengintip dari balik mobil dimana pemberontak di gerbang depan tadi sudah gugur dan tidak ada tanda-tanda pasukan musuh mendekat kesana. "Sekarang!" Mira berlari ke mobil truk di kiri dia yang hanya sejauh tiga meter.
Pasukan pos satu yang dikepalai Chrysant juga bergerak cepat kearah jalur dua. Mereka berhasil sampai disana kemudian mengambil posisi bertahan dari balik mobil. Ditotal saat ini jumlah mereka menjadi sekitar dua puluh tiga orang.
Seharunya ini menjadikan target pemberontak mudah karena mereka semua berada di satu tempat sama. Itulah yang mereka inginkan. Setelah musuh berpikir akan mengakhiri ini mereka akan melakukan serangan besar. Saat itulah bisa diketahui apakah rencana mereka berhasil.
Lima belas yang bertahan di gerbang depan dapat bantuan sepuluh orang pemberontak yang keluar bersamaan dengan tameng besi baru membentuk barikade lagi. Mereka menyerang pos di depan jalur kedua bertubi-tubi sampai bisa dirasakan mobil truk itu terdorong perlahan.
"Kapan kita akan menyerang mereka!?" Tiffany sekeras mungkin teriak, berusaha terdengar di antara ratusan desingan peluru.
"Sampai mereka berhenti!" balas Mira tidak kalah kencang.
Ribuan peluru masih setia keluar dari moncong senapan pemberontak tanpa ada tanda-tanda berhenti. Artinya mereka harus membalas serangan itu sama kuatnya agar pemberontak tidak punya pilihan selain sembunyi.
"Kita harus serang mereka! Mobil ini akan hacur!" seru Tiffanya lagi.
Mira tahu itu benar tapi ragu apakah semua personil mau menyerang bersamaan dengan resiko kematian sebesar bulan diatas mereka. "Baiklah! kita harus serang mereka bersamaan! Jangan ada yang mundur!" Mira memperingatkan.
Wajah kalut personil lain susah dibaca apa setuju atau tidak. Tidak ada waktu lagi tapinya untuk memberi motivasi bahkan rencana lain juga tidak. Suasana penuh tekanan ini menyiksa Mira, rasa marah yang seharusnya untuk musuh kini terlimpah juga pada prajurit seperjuangan.
"Tidak ada waktu!" Tiffany memperingati untuk kedua kalinya. Jika mereka tidak bertindak mungkin saja tidak ada kesempatan kedua nanti.
"Baiklah! Satu! Dua!" Mira selantang mungkin, pegangannya pada senjata makin erat di hitungan akhir. "Tiga!"
Mira dan Tiffany keluar bersamaan dengan secepat kilat menjauh dari area tembak pemberontak lalu membalas tembakan musuh. Lima orang mengikuti mereka pergi lalu menyerang pemberontak secara beruntun. Beberapa personil lain ikut keluar walau terlambat berbaris disamping Dandellion dan Crisant membantu mereka.
Dua pemberontak tidak ikut mundur bersembunyi ke perisai mereka, malah ikut melawan dan kena peluru tepat ke tubuh mereka. Sedangkan harga yang harus dibayar Supernova adalah tiga nyawa tewas ditempat.
Semua prajurit Supernova yang merasa peluru tidak lagi menabrak mobil langsung keluar membantu. Dua puluh lima Supernova dengan memegang masing-masing senapan serbu menembaki pemberontak yang aman dalam perisai besi.
Hujan peluru tidak berhenti selama lima menit sampai Mira mengangkat tangannya yang terkepal sejajar dengan kepala, serangan mereka berhenti. Pemberontak sadar langsung muncul dari balik perisai mengacungkan senapan kearah mereka lalu terdorong jatuh dengan punggung tertebas.
Barikade pemberontak muncul keanehan. Mereka menembaki teman sendiri lalu ada yang tewas tertusuk tanpa terlihat senjata apa yang melukai mereka. Inilah tahap yang dimaksud, ada kelompok Supernova kecil yang memakai prototipe pakaian taktikal Perseus yang membuat tak kasatmata sehingga mereka bisa bebas menyerang pemberontak yang terlalu yakin akan menang melawan Supernova dihadapan mereka.
Pemberontak yang tadinya berdiri tegak di balik perisai kini mulai jatuh tidak berdaya. Sampai semua musuh habis barulah pelaku pembunuhan misterius itu menampakan diri yaitu lima orang laki-laki yang masing-masing memegang pedang Cancer.
"Sniper kita menghitung sudah ada empat puluh lima pemberontak tewas disini, " ucap Tiffanny yang dadanya kembang kempis. "Baiklah, parameter sudah diamankan keluarlah."
Dari mobil box pos tiga keluar lima orang Xordas bersenjata senapan serbu, pedang Cancer dan memakai rompi kuning keemasan.
"Saatnya berburu," ucap Ralon dengan tenang.
*****
maaf kalau updatenya kelamaan. seperti biasa kalau suka cerita ini tolong like dan share ya, terus dukung cerita ini. saya Luciver terima kasih telah membaca.