SUPERNOVA: Raven

SUPERNOVA: Raven
Tetap Supernova



Owen datang lagsung ke ruang bawah tanah. Mengejutkan setiap yang masih berselimut, menyita perhatian semua pasang mata. Dia melangkah dengan jantan ke tengah kerumunan, menatap balas semua pandangan kearahnya lalu berdiri kokoh ditengah-tengah.



"Disini aku berdiri, sebagai penanggung jawab juga sebagai pemimpin kalian. Apa yang akan kukatakan ini benar-benar akan mengubah hidup kita semua. Aku tidak meminta kalian, tapi kalian harus memilih sebuah pilihan yang sulit." Owen benar-benar gagah atau berusaha gagah dalam balutan lemak dikulitnya.



Owen melanjutkan. "Kita semua adalah Supernova, penjaga perdamaian dunia, taring yang ditakuti semua musuh kejam kita. Kita berdiri disini bukan karena kebetulan, melainkan untuk membantu Supernova yang harga dirinya di injak dan di ludahi saat ini. Aku melihat jelas kualitas kalian, pemuda pemudi yang masih mentah! Tapi kalian tetap Supernova, calon ataupun tidak kalian mengerti perbandingan antara jahat dan baik. Inilah pilihan yang kutawarkan pada kalian, kita akan berjuang, hidup atau mati membebaskan prajurit Supernova untuk berbagi rasa sakit ini atau tetap mengintai mangsa kita, bersembunyi dalam cangkang kita sendiri."



Hening menerpa. Semua mulut terkunci sedangkan semua mata saling bertukar pandang. Mereka semua terlihat masih setia bungkam, bingung untuk menyampaikan aspirasi mereka.



"Ini adalah pilihan kalian. Jika kalian mati, tanah yang mengubur kalian bukanlah tanah suci, kalian mati seperti anjing jalanan yang tak berharga bahkan tanpa nisan untuk bisa diingat. Tapi kalau boleh bicara, kalian sudah menjadi prajurit terhebat yang pernah kujumpai. Sekarang kutawarkan untuk ikut menjadi pejuang atau hanya diam, tentukanlah pilihan kalian, tidak akan ada yang bisa menghina suara kalian."



Kalimat Owen benar-benar merasuk ke setiap sanubari semua orang disini. Aeus yang sedari tadi berada dalam gerombolan melirik tiap wajah di dekatnya. Mereka benar-benar sedang bergulat dengan diri mereka sendiri untuk menentukan pilihan. Aeus juga begitu tadinya, terkurung dalam kegelisahan, satu hal yang membuat dia bebas adalah keinginannya untuk menolong kota ini.



Seorang Xordas yang umurnya tujuh belas tahun berambut pirang lurus mengangkat tangan terkepal tinggi-tinggi yang artinya dalam pasukan Supernova adalah harapan. "Kalau kau bersama kami." Mata dia bertemu dengan Owen.



"Aku selalu bersama kalian," ucap Owen singkat.



Seseorang di area pojok mulai mengangkat tangan diikuti dua orang lagi. Keadaan mulai menjadi penentuan saat banyak yang telah yakin namun masih ada yang perlu waktu untuk berpikir matang-matang. Owen sadar ini akan terjadi, tapi dia tidak akan ikut campur, seorang Supernova harus menentukan pilihannya sendiri tanpa kata bujukan dan motivasi dibalik itu.



Sepuluh menit berlalu dan acungan tangan mulai jarang terjadi. Jika ini voting maka hasilnya akan menang untuk para pejuang. Yang disesalkan masih ada beberapa yang tidak peduli rencana Owen ini dan memilih bungkam saja.



"Aku sangat menghargai pilihan kalian, apapun itu. Yang memilih berjuang bersama bisa menuliskan namanya lalu menyerahkan padaku. Kertas itu akan selalu kupegang sampai aku mati, agar aku ingat bahwa prajurit hebat kalian itu benar-benar ada." Owen undur diri kembali ke kantornya.



Aktivitas kembali seperti semula, yang terganggu tidurnya bisa melanjutkan bermimpi begitu juga dengan kegiatan lain. Mata Aeus menyisir seluruh ruangan, memperhatikan semua orang disini, yang telah menjadi teman seperjuangannya, yang bisa saja mati saat melaksanan misi. Pikiran buruk bertamu dibenaknya, gambaran tentang seseorang yang tertembak atau terpotong dan itu karena ide miliknya.



Aeus selalu dihantui pikiran itu setiap saat bahkan untuk istirahat saja terasa berat. Sekarang dia tahu beban seorang pemimpin. Yang di bawa Owen lebih berat daripada dia bayangkan. Kalau Aeus menangis sebanyak sungai, Owen akan menangis darah seluas lautan.



Siklus putaran bumi terus berjalan sampai malam akhirnya tiba. Hari ini Aeus memilih untuk melakukan pengintaian walau ruang bawah tanah cukup nyaman, untuk pemandanganya tidak. Setiap lirikan disana selalu memperlihatkan masa depan buruk. Aeus butuh bulan dan bintang untuk menyegarkan pikiran.



Aeus memutuskan pergi seorang diri namun anehnya Farhaz datang menemuinya lalu bersikeras ikut pengintaian dengannya yang kemungkinan akan terbalik. Itu tidak masalah bagi Aeus, Farhaz pendiam dan Aeus juga sedang murung, paduan sempurna untuk kedamaian.



Penyamaran mereka berbeda lagi kali ini. Farhaz memakai jaket putih tanpa lengan dengan celana putih pendek, kalau Aeus memakai sweeter belang hitam putih dan celana kain agak ketat bewarna hitam. Bersama-sama mereka menelusuri kota Jeldan.



"Aku sudah mengobrol dengan Mira, dia bilang dia bisa membantumu menjadi umpan sempurna. Dia akan melatihmu." Farhaz nampaknya tidak diperdulikan Aeus yang masih saja tertunduk murung.



Farhaz bingung menarik minat Aeus. Dia bukannya tidak pintar bicara, dia hanya saja enggan terlalu terlihat akrab dengan Aeus karena mereka bukanlah teman menurut Farhaz.



"Aku benci omong kosong," ucap Farhaz. "Aku langsung saja, karena kau akan pergi ke salah satu markas musuh, kurasa lebih baik kumanfaatkan kau." kali ini Aeus tertarik karena marah bukan penasaran. "Aku ingin kau meretas sistem jaringan pemberontak."



"Aku? Meretas? Kau bicara apa?" Aeus berusaha menyembunyikan amarah.



"Besok akan kuberi tahu lebih lanjut, asalkan satu hal, apakah kau bersedia merahasiakannya?"



Aeus curiga sampai melupakan pikiran kelam miliknya. Ada yang tidak beres disini lalu dia ingat bahwa Mira pernah ingin membunuh orang ini. "Baiklah, aku setuju asalkan kau mau menjawab pertanyaanku nanti."



Farhaz tersenyum simpul. "Apapun itu."




Pertemuan diadakan di salah satu tempat tidak terpakai di belakang pabrik disebelah gudang tempat persembunyian. Disana benar-benar berdebu dan digantungi sarang laba-laba dimana-mana. Setidaknya tempat itu aman karena masih termasuk dalam area gudang besar ini.



Seperti Aeus duga, disini panas karena atapnya rendah ditambah terbuat dari seng yang membara terkena cahaya matahari. Dalam hati kecil Aeus harap bisa bertemu kipas angin kecil berisik di kantor Owen.



"Baiklah kurasa semua orang sudah berkumpul, baiklah, mulai dari kau Aeus. Aku ingin kau menjelaskan rencanamu dulu dihadapan kami semua." Yang Owen maksud semua adalah Mira, Farhaz, Fraust dan dua Xordas muda.



Dua Xordas itu terdiri dari satu laki-laki bernama Ralon dan satunya lagi perempuan bernama Tiffany. Ralon berambut lurus sedikit ikal di uujungnya berkulit tan dan mata jingga. Aeus tahu dia dari nama marganya sama dengan salah satu jendeal Supernova yang berarti dia adalah anak dari prajurit hebat itu, tidak salah orang penting seperti dia ada disini. Sedangkan Tiffany sudah cukup terkenal karena menjadi juara satu lomba airsoft gun yang melibatkan empat negara yang salah satunya Aproud.



Owen yang bertubuh agak gempal memilih posisi duduk. Sedangkan yang lain mengitarinya dengan gaya masing-masing. Samping kiri Komandan ada Farhaz bersandar di dinding, Aeus dan Fraust bersebalahan di dekat pintu masuk, lalu disisi kiri Farhaz ada Mira, Ralon, dan Tiffanya yang tengah berjejer tegak.




Semua menunjukan ekspresi setengah bingung setengah menebak. Fraust yang paling kecil disini memang terheran saat Aeus membawanya kesini.



Aeus angkat bicara, "karena kalian bukanlah Unvon aku akan jelaskan sedikit. Unvon memiliki mode Stella untuk mengaktifkan alat penyimpanan senjata konstelasi pemanggilan. Saat seorang Unvon mengaktifkan mode itu, pandangan mereka juga berubah menjadi gelap, satu-satunya yang ada hanya tanah pijakan berupa petak segi empat, dan Unvon lain yang sama-sama mengaktifkan mode Stella. Bukan wujud aslinya, hanya cahaya yang melayang. Uniknya penglihatan itu dapat digunakan saat terhalang tembok."



"Jadi maksudmu," ucap Ralon. "Kau akan pura-pura tertangkap lalu mengaktifkan mode Stella, lalu siapa yang bisa melihatmu?"



"Kita memiliki Fraust." Aeus menyilangkan tangan di depan dada.



"Itu memang rencana bagus, tapi mengapa kau? Maksudku kita bisa saja memakai orang lain yang bukan Unvon, lalu mengikuti mereka membawa dia bukan?" Mira berpendapat.



"Kau benar." Sekarang Farhaz berpendapat. "Kita bisa memakai orang lain, Xordas atau Lucos misalnya, namun menurutku kalau mereka menangkap Unvon mereka akan memenjarakan dia bersama para Unvon, peluang kita yakin bahwa disana ada prajurit Unvon akan lebih besar. Ditambah kita bisa berkomunikasi dengan umpan kita." Pernyataan itu membuat semua orang terkejut kecuali Fraust yang masih bingung.



"Jelaskan lebih banyak lagi," tuntut sang komandan.



Aeus menatap Farhaz yang terdiam lalu kembali menatap Owen. "Saat kami mengaktifkan mode Stella Unvon terlihat seperti sebuah bola cahaya yang berpendar terang, menurut Farhaz kita bisa menggunakan semacam kode rahasia dari itu."



"Morse?" tanya Owen.



"Tepat sekali." Farhaz puas.



Tiffany yang masih mencerna akhirnya mennganguk paham. "Lumayan."



"Kekurangannya satu hal, mode Stella itu bisa dilihat semua Unvon, yang dikhawatirkan apakah pihak musuh memiliki Unvon juga? Jika iya rencana ini sia-sia, pesan rahasia kita akan diketahui musuh tempat ini akan diketahui musuh." Kalimat Farhaz menenggelamkan harapan semua disana.



Owen menghela napas, seakan tahu ini tidaklah mudah. "Baiklah, Ralon, Tiffany, dan Mira, kalian sudah kutunjuk sebagai perwakilan dari pasukan muda ini. Apa keputusan kalian?"



Aeus mencerna kalimat Owen sesaat lalu terperangah saat mendengar Mira adalah perwakilan? Gadis ini baru dalam kawanan seperti diri dia dan Farhaz namun dia sudah menjadi tangan kanan sang komandan, kehebatan apakah yang dimiliki Mira ini sebenarnya.



"Aku ingin menambahkan, aku punya saran untuk menaikan rasio peluang ini." Farhaz melirik Aeus sesaat. "Asalkan Aeus mau saja."



"Mau apa?" Aeus heran.



"Kita bisa menyusun kode rahasia itu berlapis, seperti morse sekaligus sandi A-Z, tentunya itu akan sedikit sulit untuk dipelajari, bagaimana?"



Aeus tidak punya lagi pilihan. "Baiklah."



"Kalau begitu aku setuju," kata Ralon tanpa pikir panjang.



"Kita memakai rencana buruk, dengan prajurit payah, melawan musuh yang mengerikan, apakah ada yang sadar?" Tiffany memperhatikan dirinya sedang menjadi sasaran mata semuanya. Dengan agak kesal dia berucap, "baiklah aku setuju."



Tinggal Mira sekarang yang masih berpikir. Pilihan apa yang diambilnya juga tidak bisa ditebak seperti raut wajahnya. Semenit penantian dia angkat akhirnya bicara, "aku juga setuju."



Owen berdiri. "Kurasa sudah jelas." Dia mengadahkan pandagan ke gadis berambut kuning pirang. "Tiffany, periksa kesiapaan senjata kita." Pindah ke pemuda berambut hitam lurus bergelombang di ujungnya. "Ralon, catat semua bakat dan kekurangaan seluruh pasukan kita. Dan untuk kalian." Yang Owen maksud adalah sisanya. "Lakukanlah persiapan."



Semua personil disana mengangguk paham, menghormati, untuk Fraust yang tidak pernah tahu etika itu berusaha meniru dengan lambat.



"Kurasa sudah jelas, pertemuan ini bubar!"




*****



Kali ini update cukup banyak bukan? saya selaku Author ingin bilang kalau ada pertanyaan tentang cerita ini tanyakan saja, saya akan berusaha jawab jika tidak akan menggandung spoiler untuk nanti. Sedangkan untuk saran dan kritik saya juga masih terima, terima kasih sudah membaca.