
Aeus dikejar jadwal padat. Persiapan yang dia butuhkan ternyata banyak. Menjadi seorang umpan itu pekerjaan yang tidak disangka akan sulit, sekarang dia tahu tidak ada kata mudah dalam setiap tugas.
Di pagi hari dia pergi bersama Mira ke sebuah kamar istirahat para pekerja, bukan untuk santai melainkan sebaliknya. Aeus harus duduk di bangku besi putih dengan tangan dan kaki terikat tali tambang kencang.
"Sebenarnya apa ini?" keheranan Aeus meningkat saat Mira mengeluarkan sebilah pisau, tang, dan gunting besar. Tiga benda itu diletakan di atas kasur putih disampingnya.
"Prosedur bilang kau tidak boleh tahu sebelum mencoba." Mira menggapai pisau memandanginya lalu meletakannya lagi. "Baiklah kurasa kita siap."
Mira menjulang di dekat Aeus yang tengah duduk. Mata mereka bertemu sesaat. Mira melakukan pergerakan di tangannya tak lama pukulan keras mendarat di pipi Aeus hingga lebam serta hidungnya mencuat setetes darah.
Dagu Aeus seperti digeser paksa oleh pukulan itu. Semua saraf disana menjerit serta terkejut. Rasa senyar dia rasakan jelas di area itu, menyebar sampai ke kepala. Aeus hanya bisa diam dengan mata membelak. Wajahya kini jatuh tertahan.
Sepuluh sampai lima belas menit Aeus baru bisa mengerak leher untuk melihat Mira masih di tempatnya dengan tangan terkepal erat. Mata Aeus berair, rasa sakit itu masih tinggal di pipinya, penasaranlah yang memberi dia kekuatan untuk bertanya, "apa ... Yang kau lakukan?" ucapan Aeus begitu lirih.
"Memukulmu, sekarang jawab pertayaanku." kedua lengan Mira memegang lengan kursi, menyangga tubuhnya yang condong kearah Aeus. Kini wajah mereka bertemu. "Siapa namamu?"
Aeus benar-benar bingung. Dia ingin lekas menjawab tapi dagunya perlu waktu untuk bergerak. "Aku...." Butuh tenaga besar untuk itu melakukan itu bagi Aeus yang embun di matanya tadi jatuh ke pipi.
"Jawabanmu salah. Sekarang kutanyakan sekali lagi, siapakah kau? Dimana temanmu yang lain? Dimana kau selama ini sembunyi?" tanya Mira lagi.
Ini membingungkan dan menyakitkan. Ini seharusnya sesi latihan bukannya penyiksaan. Derita yang dialimi begitu pedih. Anehnya saat pikiran Aeus teralih ke teka-teki Mira rasa sakit itu sedikit berkurang. Itu tidak lama, karena jawaban dia dapatkan.
"Jangan katakan ini interogasi."
"Aku katakan ini memang introgasi." Mira menjauhkan tubuhnya lalu berdiri tegak. "Sebaiknya kau lebih berhati-hati, karana aku akan serius sekarang."
Aeus yang hanya bisa berpikir berusaha menangkap makna kalimat Mira. Dalam hati dia ingin sekali teriak minta tolong karena pukulan Mira tadi sekuat seorang pria, mungkin lebih, dan saat dia bilang akan serius itu artinya tadi hanyalah main-main, yang akan datang nanti pasti badai. Memikirkan itu membuat adrenalinnya naik pesat, embun bening dingin mulai menjamur di kepala dan leher.
"Siapa namamu?" tanya Mira.
Otak Aeus bekerja lebih keras, dia memilih kata apa yang tepat untuk menjawab. Setelah lama berpikir, hasilnya bukan lain adalah pertanyaan lain. "Kau mau aku berkata apa?"
Secepat kereta, punggung tangan Mira menabrak pipi Aeus hingga merah padam. Sampai menggeser sedikit letak kursi dengan Aeus sekaligus.
"Aku tidak pernah ikut simulasi interogasi, setidaknya berilah petunjuk," keluh Aeus. Rasa sakit yang pertama masih menghantuinya ditambah yang tadi rasanya dia ingin sekali menangis kalau saja tidak dihadapan perempuan.
"Kita tidak punya waktu, kau harus mengerti satu hal tentang interogasi itu kejam. Kau menjawab kau akan mati, kau berbohong kau akan disiksa, kalau kau diam maka kau menang."
Sesaat pikiran Aeus menjelejah ingatannya saat menonton sebuah film mata-mata yang saat itu ketahuan lalu ditangkap hidup-hidup. Agen itu tidak pernah buka mulut kecuali ketika menjerit. Ringkasnya dia mati gagal jantung saat kawat tajam di paksa masuk ke mata. Itu terlalu mengerikan untuk diingat. "Kau bertanya namaku bukan? Namaku adalah Aeus, seorang pelajar di akademi Supernova."
"Dimana asalmu?" ucapan itu secara tak langsung seperti penghargaan bagi Aeus.
"Di desa Girma," ucap Aeus tajam.
"Bagaimana bisa kau sembunyi dari pemberontak? Dimana teman-temanmu?"
Sekarang saatnya untuk mengarang. "Aku bersembunyi di tempat pembuangan sebuah hotel ... Aku seorang diri." Aeus berusaha terlihat yakin dengan ucapannya.
"Argumenmu kurang kuat, kurasa lebih baik memilih rumah warga nanti, katakan kau minta bantuan mereka tapi akhirnya mereka menyerahkanmu, karena itulah yang akan terjadi. Kurasa untuk hari ini cukup, saranku berlatihlah berbohong." Mira melepas ikatakan, menyimpan tiga benda tadi lalu pergi.
Babak berikutnya dari persiapan adalah melatih kemampuan penglihatan Fraust. Itu sebabnya mereka ke kota Jeldan. Tengah hari panas tidak membuat Aeus hilang semangat, sebaliknya dia senang karena dia akan melakukan hal yang dia kuasai. Menjadi seorang Unvon.
Aeus memakai jaket hijau gelap tipis dengan tudung yang telah diangkat, celana jins biru yang kepanjangan sehingga dilipat ujungnya. Dia berjalan seorang diri di kota ini, bertemu pandang dengan banyak mata, kemudian singgah ke sebuah kotak telepon umum berdinding kaca di depan gedung walikota Jeldan yang ramai oleh orang bersenjata bertopeng tengkorak.
"Baiklah aku sudah masuk Woodpecker," ucap Aeus dalam benaknya.
Percakapan tadi tidak dilakukan dengan mulut dan diterima telinga, sebuah teknologi canggih lagi dari Supernova.Telepati. Nama alatnya telinga Lupus yang berarti telinga kelinci. Bentuk alatnya seperti cekung warna hitam tergantung di belakang telinga. Menurut mitos yunani rasi bintang lupus dikaitkan pada dewa Hermes, dewa pengantar pesan. Karena benda ini prototipe, pengirim dan penerima harus memakai alatnya yang harus diatur frekuensinya, sedangkan versi asli bisa menyambung siapa saja dan dimana saja.
Aeus merapat wajah ke panel tombol angka yang sejajar dengan kepalanya, mulai memfokuskan diri mengaktifkan mode Stella. Iris mata yang berubah menjadi kuning keemasan tanda dia telah berhasil. "Aku sudah menyalakan tanda, Woodpecker ganti," ucap Aeus dalam bebaknya.
"Diterima, Fraust masih mencoba mencarimu. Tunggu, dia sudah melihatmu. Sekarang jalankan tahap kedua."
Tahap kedua. Aeus harus menyalakan dan mematikan mode Stella sebanyak lima kali. Tidak terlalu sulit hanya saja saat pandangannya dari mata normal yang cahaya menyambar tajam lalu berganti gelap total membuatnya agak pening. "Apakah berhasil Woodpecker?" ucapnya masih dalam telepati.
Suara di kepalanya berkata, "diterima Raven, sekarang tahap tiga."
Aeus menyalakan mode Stella selama lima detik, mematikannya lalu kembali mengaktifkannya, menahannya selama lima detik lalu mematikan lagi kemudian menyalakan lagi selama lima detik. "Tahap tiga selesai ganti."
"Baiklah sekarang kita jalankan tahap empat. Ada motor yang menunggumu diluar."
"Diterima." Aeus beranjak keluar, dia berhenti untuk memperhatikan orang yang menunggunya diluar sekarang. Motor sport biru sedang terparkir di diatasnya ada seorang perempuan tujuh belas tahun dengan jaket kulit coklat tidak tertutup menampilkan kaos merah di dalamnya, celana hitamnya yang agak ketat.
Perempuan itu membuka kaca helm yang menutupi hampir semua kepalanya. Mata gadis ini biru, berambut hitam sepanjang dada dan berkulit putih. Dia melepaskan ikatan helm lain yang tergantung di kemudi kendaraan lalu menyerahkan pelindung kepala itu pada Aeus sambil berucap, "aku Jasmine, ingin bepergian?" Suara gadis ini nampak ramah.
Aeus sepertinya tidak punya waktu untuk bertanya lagi pada si Woodpecker, dia ambil helm tersebut lalu duduk di belakang gadis dengan kode nama Jasmine.
"Kalau aku jadi kau aku akan berpegangan," ucap gadis itu sembari menyalakan mesin. Knalpot besar motor sport ini mengoar dibawah kaki Aeus yang mengundang perhatian beberapa orang.
Aeus langsung menyakan mode Stella. Motor berdesing keras lalu berjalan. Perlahan tapi pasti motor ini mulai menambah kecepatan yang membuat jantung Aeus tidak karuan. Mungkin kecepatan sekarang adalah enam puluh kilo meter perjam dan makin naik terus. Aeus ingin menyuruh Jasmine menurunkan kecepatan tapi itu mustahil jika ada knalpot yang mengacaukan suara dan angin yang menerbangkan kata.
Tidak punya waktu berdebat perlahan dia mendekap perut Jasmine yang hangat. Gugup dan malu tentu dia rasakan karena dia jarang bergaul dengan gadis cantik apalagi melakukan kontak fisik, tapi keselamatan yang utama. Dia harap Farhaz tidak tahu akan ini, kalau benar habislah dia akan dihinanya seumur hidup.
Aeus yang sudah bisa mengontrol ketakutannya mulai fokus menghubungi Woodpecker melalui pikirannya. "Apakah Fraust melihat kami? Woodpecker jawab?"
"Kau sepertinya tegang suara detak jantungmu sampai bisa kudengar," balas Woodpecker ke pikiran Aeus. "Yah Fraust masih melihat kalian. Jangan matikan mode Stella kau Raven, kita harus tunggu sebera jauh Fraust bisa melihat kau."
"Diterima," balas Aeus.
Suara bising motor besar ditumpangi Aeus mulai menurun, kemudian motor ini berhenti. Kenapa Jasmine berhenti? Aeus yang sekarang buta itu gugup kalau terjadi sesuatu. Bunyi mesin lain dan sesekali klakson mobil dia dapat dengar disekitarnya. Ternya ini hanya lampu merah.
"Bagaimana rasanya?" suara perempuan di depannya. Jasmine.
"Apanya?" ucap Aeus.
"Menyentuh dada perempuan?"
Kata itu aneh dia dengar sampai dia sadar pelukan dia pada Jasmine tadi naik hingga menyentuh payudara gadis ini. Secepatnya Aeus lepas tangannya dari pengemudi di depannya. "Ma-maaf." Aeus malu sekaligus menyesel.
"Aku tidak marah sama sekali, aku hanya minta kau tetap berpengan karena aku akan benar-benar cepat kali ini." Aeus langsung memeluk perut perempuan di depannya, samar-samar suara kekeh Jasmine terdengar.
"Ibu-ibu," suara anak-anak Aeus dengar dari sebelah kiri. "Mengapa kakak laki-laki itu memeluk kaka perempuan itu?"
Suara agak besar menyahut anak itu. "Tidak perlu dilihat, dia orang yang menyedihkan, mengambil kesempatan dalam kesempitan."
Wajah Aeus mungkin sekarang merah padam mendengar obrolan itu. Dia langsung menurunkan kaca helm, melindungi kehormatan yang tersisa sedikit di dirinya.
Desing motor motor itu berkuasa lagi. Saat itu Aeus tahu dia terpaksa memeluk erat lagi Jasmine. Kehormatan ditukar jiwa? Cukup adil.
Perjalanan panjang dan mendebarkan dengan Jasmine itu menguras kenyamanannya untuk mencoba duduk. Yang nyaman dari itu hanyalah bisa menyentuh seorang perempuan, seketika pikiran itu terpaksa dia harus usir itu untuk fokus, karena latihan dia masih belum usai, sekarang dia harus menemui Farhaz yang akan mengajarnya tentang pesan rahasia. Sebuah sandi berlapis.