Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Pasar



“Jangan manja,” ucap Januar ketika dia selesai memakaikan perban pada kaki Amber. “Mau gimana? Mau makan dulu atau langsung berangkat?”


“Gue gak mau ke pasar,” ucapnya dengan pipi mengembung.


“Yaudah nanti siang gak usah makan karena gak ada bahan makanan.”


“Kan nanti ada Ibu lu yang bikini,” ucap Amber dengan manik yang berkaca kaca, sungguh dirinya mau diperlakukan layaknya Tuan Putri. “Kan gue gak bisa masak.”


“Kan belajar, Ibu ada kerjaan jadi gak bisa pulang.”


“Lu mau gue bikini nasi goreng gosong hah?!”


“Kalau gak mau gak papa, saya gampang tinggal beli makan.”


“Terus gue gak dibeliin gitu?” Tanya Amber dengan kesal. Dia teriak teriak memanggil Januar yang melangkah keluar.


“Ai itu konaon pamajikan maneh teh?” (Itu kenapa istri kamu?) Tanya orang yang sedang membuat pintu.


“Biasa, lagi masa transisi,” ucap Januar dengan santai.


Tidak diduga Amber menyusulnya keluar, menahan tangannya. “Gue mau makan dulu, tungguin. Abis itu kita ke pasar.”


“Saya tungguin di luar. Cepetan makannya.”


“Temenin.”


“Ngapain di temenin segala?”


“Ekhem!” si Mang yang harusnya kerja malah melihat suami istri yang sedang beradu argument. “Baturan heula atuh euy, ngarana ge panganten anyar pasti hayangna teh duduaan bae.” (temenin dulu dong, namanya juga pengantin baru pasti maunya duduan bae.)


“Jangan gitu, Mang,” ucap Januar. “Anaknya emang manja.”


“Heh, gue paham ya apa yang lu omongin.”


Dimana Januar langsung menarik Amber supaya masuk ke dalam supaya tidak berkata kasar lagi. Ternyata perempuan itu hanya ingin ditemani makan. “Udah? Nemenin kamu makan doang?”


“Ya, gimana kalau gue butuh minum? Lu harus tanggung jawab bawain lah,” ucapnya dengan santai. Padahal tidak ingin ditinggal sendiri saja. masakan mertuanya tidak terlalu aneh, malahan sangat enak. Nasinya juga tidak seburuk itu, tidak pahit sama sekali.


Selesai makan, Amber memaksakan untuk melangkah. Tidak sesakit itu, tapi tetap ada rasa tidak nyaman di kakinya. “Ke pasar jauh gak?”


“Tiga puluh menitan jalan kaki.”


“Woy, nanti kaki gue lepas. Gila aja lu.”


“Kita ke sana gak jalan kaki.”


Amber sedikit tenang, setidaknya mereka akan naik kendaraan kan? Tapi dia tidak menyangka saat keluar mendapati Januar yang sudah duduk di sepeda ontelnya. “Cepetan naik.”


“Cepetan, Amber.”


“Neng Ember, jangan membantah kalau suami bilang. Harus nurut ya, cepetan,” ucap si tukang pembuat pintu membuat Amber mendelik.


“Ember matamu,” gumamnya yang hanya didengar oleh Januar. Pria itu segera memperingati, “Bahasanya dijaga, gak semua orang sesabar saya.”


“Cih, yang paling sabar.” Akhirnya naik di belakang. “Ini gak bisa ditambahin jok gitu? Keras banget anjirr, besi inimah. Sakit pantat gu─aaaa!” spontan memeluk Januar karena pria itu mengayuh sepedanya. “Sial! Lu mau gue mati?”


“Simpen tenaga kamu,” ucap Januar dengan santai.


Setiap orang di jalan menyapa Januar dan juga Amber. Sialnya mereka menyapa dengan kalimat, “Aduh, Januar sama Neng Ember berduaan kayak gitu.”


“Januar, kenalin Neng Embernya sama kita dong.”


“Kiww, ada pengantin baru nih yee.”


Ember ember, dasar kampungan! Amber berteriak demikian dalam hatinya. Kesal luar biasa sekali. Mana jalannya tidak mulus.


“Aw!” beberapa kali Amber mengeluh ketika Januar mengambil jalan berlubang. “Pantat gue sakit!” teriaknya seperti itu.


“Pegangan.”


“Pegel ih!’ masih mengeluh dan melingkarkan tangan di perut sang suami. Untung saja Amber memakai celana panjang dan kaos. Oh, bahkan dia tidak mau melihat penampilannya sendiri di cermin. Pasti sangat mengerikan.


Di pasar, Amber terus mengikuti kemanapun Januar pergi. Membeli bahan makanan yang tidak dia ketahui. Satu yang pasti, Amber merasakan jijik dengan semua ini. bau tidak sedap akibat becek hujan, ditambah lagi banyak lalat, juga suara bising yang memekik telinga.


“Pegangin tangan saya, nanti kamu ilang.”


“Gue bukan anak kecil,” ucapnya menatap tajam. Malas memegang tangan Januar, apalagi tangannya penuh dengan sayuran. Mana pria itu habis memegang benda benda aneh menjijikan.


“Yaudah terserah.”


“Gue mau nunggu aja deh di tempat sepeda.”


“Hujan, sana kalau mau basah.”


“Gak mau, ikut aja deh,” ucapnya terpaksa.


Dan karena hujan, banyak orang berteduh. Dalam pasar tradisional jadi berdesakan, Amber terhimpit sana sini. “Aduh, minggir jangan deket deket sama gue!” terus berteriak seperti itu meskipun orang lain tidak mempedulikannya.


Sampai Amber tiba tiba sadar…. “Januar?” panggilnya. “Lu jangan ngilang lagi deh? Apa lagi berak?” Tanya Amber melihat sekeliling. Tidak ada suaminya di mana pun.


***