Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Kehidupan era miskin



Ternyata Indah menyampaikan kalau kebun miliknya ingin dirawat oleh Januar. Perempuan itu meminta Januar untuk menemui ayahnya supaya dia bisa membicarakan tentang pembagian hasil.


"Aa nggak bisa janji, indah. Soalnya kan sekarang lagi masa panen. Mungkin harus nunggu dulu nanti sampai selesai panen. Kalau gitu kan bisa tanam sayur-sayuran bareng."


"Aa ngomong aja nanti sama ayahnya indah biar lebih jelas."


"Bilang aja sama beliau kalau nanti aku ke sana nya malam."


Indah mengangkut dengan senyuman yang begitu manis, tapi tidak terlihat manis di mata Amber. Perempuan itu berdecak, melihat indah yang sedang mencari perhatian.


"Ayah juga kangen katanya udah lama nggak main catur bareng sama Aa, Ibu juga udah kangen masakan yang dicobai sama Aa."


Ternyata mereka sedekat itu sehingga membuat Januar sering datang untuk main catur dan juga makan.


"Kapan-kapan lah datang ke sana lagi, sekarang kan udah punya istri jadi betah di rumah."


Amber tersenyum diam-diam ketika melihat raut wajah indah yang terlihat Tersakiti. "Ya iyalah betah sama gue di rumah, soalnya kan sama gue dikasih jatah."


Saat keduanya selesai berbicara, Amber buru-buru naik lagi ke atas ranjang. Tadi dia mengintip dari tembok yang retak hingga bisa melihat ke sana. Berpura-pura berbaring sambil memainkan ponsel saat Januar datang.


"Lagi ngapain?"


"Lagi main ponsel. Emangnya nggak lihat?"


"Mau mandi nggak?"


"Kenapa emangnya?" barulah mengalihkan perhatian. "Mau dimandiin?"


Kaget juga ketika Januar mengangguk, tanpa lama-lama pria itu membawa Amber ke dalam gendongan dan membawanya keluar.


"Nanti kalau ada Ibu gimana ih."


"Ibu lagi keluar buat memetik tomat. Pasti lama, soalnya kriteria kematangan ibu itu beda-beda."


"Maksudnya gimana?"


Daripada menjelaskan, lebih baik Januar mengecup buah dada Amber yang membuat perempuan itu terpakai. "Jangan mesum."


Padahal Amber suka, cuma dia tidak ingin terpancing nafsu dan meminta seperti tadi pada Januar. Itu memalukan.


"Tadi kamu sendiri yang naikin saya, terus putar-putaran. Lihat bikin celana saya basah karena milik kamu."


Seketika Amber memalingkan wajahnya, itu hiburan tersendiri untuk Januar hingga karya itu terkekeh.


"Nggak usah ketawa."


"Udah sini duduk."


Kamar mandi yang tidak semewah miliknya terdahulu, duduk di bangku kecil yang selalu disebut, "Jojodog." oleh ibu Dyah dan membiarkan Januar membersihkan tubuhnya.


Dulu Amber tidak merasa risih ketika dimandikan karena dirinya merasakan kesakitan. Tapi kini dirinya benar-benar tidak memakai pakaian sehelai benang pun, dengan sentuhan-sentuhan yang terasa sensual, Amber menggigit bibir bawahnya. Ingin menerkam Januar saat itu juga.


Tapi ketika tangannya terulur hendak menyentuh milik suaminya, pria itu malah langkah untuk mengambil sabun hingga Amber langsung pura-pura menggaruk kepala.


"Habis ini saya mau ke tempat teman saya lagi, dia udah dipindahin ke ruang perawatan."


"Emang mau ngapain sih ke sana lagi? Kan di sini lagi pada panen?"


"Ada hal yang harus saya bahas sama dia? Mau ikut?"


Amber menggelengkan kepalanya, dia ingin istirahat di rumah setelah semalam kelelahan. Inginnya sih dia itu dipeluk seharian oleh Januar, tapi sadar kalau suaminya itu super sibuk.


Masih sakit karena semalam gara-gara lu ya, gue mau istirahat aja di rumah, mau tidur seharian. "Punya gue pegel banget." menunduk untuk melihatnya. "Mana merah juga, kayak agak bengkak nggak sih?"


"Mana lihat?" Januar ikut menunduk yang membuat tembak seketika memukul kepalanya refleks.


"Jangan dilihat ih mesum!"


Januar terdiam seketika, mengusap kepalanya yang baru saja ditampar. "Ya udah lain kali nggak lagi deh."


Kalimat itu malah membuat Amber panik. "Ya jangan gitu, kalau udah sembuh mah ayo  gas lagi."


Sadar dengan apa yang dikatakannya, Amber menutup mulut seketika. Semakin kesal ketika Januar malah tertawa.


🌹🌹🌹


Amber sendiri bermain ponsel untuk membuka Instagramnya setelah sekian lama, karena dirinya memiliki lebih dari empat puluh ribu followers, ada banyak orang yang bertanya kemana dirinya pergi.


Belum lagi ada beberapa orang yang berspekulasi kalau dirinya meninggal, Puncak amarahnya adalah ketika melihat beberapa temannya ikut berkomentar dan mengatakan kalau keluarganya bangkrut.


Mengingat keluarganya membuat Amber merasakan Rindu. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang ya? Tapi Amber yakin, suatu saat kalau dirinya sudah berubah dan menerima kehidupan ini, pasti orang tuanya akan datang untuk menjemput dan memberikannya fasilitas yang dulu lagi.


Jika itu terjadi, Amber akan merenovasi rumah ini hingga menjadi bangunan yang besar, kemudian membuka bisnis klinik kecantikan di kampung ini.


Tunggu, Kenapa dirinya malah berpikir akan tinggal di sini selamanya?


"Nggak ada yang tahu apa yang bakalan terjadi, gue pusing ah." 


melempar ponselnya ke bagian ranjang yang kosong.


"Nduk, bolu kukus buatan ibu udah mateng nih. Mau coba nggak?"


Tentu saja mengangguk, dari tadi Amber mencium aroma yang begitu wangi. Saat memakannya pun, Amber merasakan nikmat ketika bolu yang hangat ada di dalam mulutnya.


"Gimana rasanya?"


"Enak banget ini. Kayaknya harus buka toko kue deh, yakin ini mah selera gue banget."


"Syukur deh kalau kamu suka. Ibu sisain banyak buat kamu sebelum nanti dianterin."


"Sekarang anterin nya?" bertanya dengan pipi yang penuh dengan makanan.


"Enggak, Nanti sore yang kalau Januar udah pulang. Sekarang lagi nungguin matang dulu, masih banyak kok yang harus dibuat."


Sambil berada di kamarnya anaknya, Ibu Dyah membereskan beberapa barang yang tidak tertata dengan rapi. Sementara Amber sibuk dengan makanan itu.


"Boleh tanya sesuatu nggak?"


"Mau tanya apa?"


"Yang namanya indah indah itu, dia suka ya sama Januar?"


Ibu Dyah tersenyum dan mengangguk tanpa ragu. "Dulu dia pernah ke sini buat nyatain cintanya sama Januar, tapi belum juga nyampein itu ke Januar, ibunya lebih dulu datang terus sekarang dia buat jalin hubungan sama orang miskin."


Keterlaluan, Amber menjadi dongkol secara tiba-tiba. "Tapi katanya Januar sering main catur sama bapaknya, sering makan di rumahnya juga."


"Itu sih setahun sekarang, kalau dulu-dulu mah nggak."


"Kenapa tuh bisa tiba-tiba berubah sama Januar?"


"Ibu Dyah! Saya disuruh Januar buat bawa hasil panen!"


Tapi teriakan itu menghalangi Amber untuk mendapatkan jawaban, Ibu Dyah langsung pergi untuk menemui orang yang memanggilnya. Amber pun tidak ingin bertanya lagi karena fokus pada makanannya yang membuat tersedak. "Kenapa sih Ibu nggak sekalian ambilin gue minum sih?"


Jadinya kan Amber harus bersusah payah melangkah sendiri keluar kamar untuk mencari minum. Tergesek sedikit saja miliknya sudah sakit dan terasa perih.


Ketika melihat poci yang berisikan air sirup berwarna merah, Amber langsung menuangkannya ke dalam gelas.


"Aduh enak banget ini pasti." meminumnya dengan begitu cepat, bahkan suara air yang mengalir di tenggorokan menimbulkan suara.


"Ini nggak manis. Rasanya aneh." Amber menambahkan gula dari dalam lemari.


Dia duduk di sana sejenak sambil meminum sirup dan memakan bolu kukus yang masih hangat. Sampai Amber tidak sadar, kalau bolu di atas meja sudah habis begitupun dengan sirup merah tersebut.


Kembali ke kamar untuk berbaring, Januar tidak menyuruhnya membantu Ibu Dyah, jadi dia bisa bersantai.


Baru juga Amber akan tertidur, pintu kamar kembali terbuka.


"Ibu udah kenyang, nggak usah bawain makanan lagi."


"Tadi ada orang yang masuk ya?"


"Hah?" kepalanya langsung terangkat. "Nggak ada? Emang kenapa?"


Pewarna makanan ibu yang ada di dalam poci di atas meja kok tiba-tiba abis ya?"


"Pewarna makanan?" Amber bertanya dengan tatapan mata yang Shock.


🌹🌹🌹