
Karena perkataan dari tetangganya itu, Amber jadi malas keluar. Padahal dia mendengar kalau Ibu Dyah akan membuat kue di rumah orang lain. "Yakin Nduk gak mau ikut? Nanti Ibu di sana bener bener bikin kue yang enak enak loh. Nanti kamu gak nyicip nyicip."
Sebenarnya, bukan itu yang Amber khawatirkan. Tapi sosok yang lemah ini selalu manjadi bahan tindakan orang orang di sekitarnya. Amber kasihan dan tidak mau Ibu Dyah merasakan hal tersebut seperi yang dialaminya di rumah Ibu kadus. Mereka keterlaluan sekali. Menatap sang suami yang hendak berangkat bekerja di ladang. Lihatlah bagaimana kulit eksotis nya membuat Januar tampak lebih seksi di mata Amber. Sampai dia menelan salivanya sendiri tidak tahan untuk di peluknya. Sosok seperti ini lebih cocok menjadi ketua geng mafia. Namun sayangnya, dia hanya menjadi petani biasa saja.
"Kalau kamu mau ikut. Pake masker aja. Mau?" Januar menawarkan.
Pada akhirnya Amber mengangguk. Kasihan wanita tua ini jika sendirian ke sana. Bisa bisa dia menjadi bahan bullyan lagi.
"Nanti makan siang dianterin lagi?"
"Gak tau liat nanti aja. Berangkat dulu ya." Kemudian beralih pada sang Ibu. "Ibu hati hati. Jangan kecapen ya."
"Tenang, aku yang jagain Ibu," Ucap Amber yang berhasil membuat Januar terkekeh mendengarnya. Bagaimana perempuan itu dengan percaya diri mengatakannya, membuat Januar gemas juga. Dia mengulurkan tangan mencubit pipi sang istri sebelum benar benar pergi dari sana.
Amber malu malu, dia tidak berhenti menggerakan tubuhnya ke sana kemari karena hal tersebut. "Ciee yang lagi kasmaran. Seneng banget Ibu liat kalian berdua jadi lebih deket satu sama lain sekarang. Andai kamu tau gimana dulu Januar suka banget sama kamu."
"Gimana maksudnya, Bu?" Amber tidak terlalu mendengarkan karena dirinya fokus pada perasaan yang melanda nya.
"Nggak, ayok kita berangkat."
Amber memakai masker, juga topi hitam milik Januar. Untung saja topi ini bagus dan tidak kumal, jadi Amber tidak malu untuk memakainya.
Ibu Dyah itu pendek, sekitar sebatas dada Amber apalagi dengan punggungnya yang bungkuk. Amber sendiri cocok menjadi model, dan itu membuatnya berfikir ulang apakah dirinya harus ikut bekerja supaya kebutuhan mereka terpenuhi? Amber akan memikirkannya nanti.
"Rumahnya jauh gak, Bu?"
"Nggak jauh, cuma agak lewatin jembatan."
"Kampung sebrang?"
"Iya, beda kelurahan."
Menakutkan untuk Amber ketika dia melewati kebun yang sepi, banyak nyamuk dan pohon tinggi menjulang. Mengingatkan Amber pada hal hal yang berbau horor. Bagaimana kalau ada begal di sini?
"Bu, gak takut jalan ke sini? Kalau ada begal atau semacamnya bagaimana?" Jalanannya benar benar jauh dari pemukiman. Ditambah lagi suara suara hewan mendominasi ketakutan Amber.
"Nggak, udah biasa ibumah."
"Emang gak pernah ada yang niat jahat di sini?"
"Dulu pernah ada yang disini dibegal sampai meninggal. Tapi udah lama kok kejadiannya. 10 tahun yang lalu."
Amber menelan salivanya kasar. Bukan hanya ada begal di sini, tapi setan juga. Bagaimana jika sosok itu gentayangan sekarang ini? Namun ternyata yang lebih menakutkan adalah saat melihat jembatan rotan yang membentang menjadi jalan melewati sungai besar di bawah sana. Cukup curam dan tinggi juga, yang mana membuat Amber tidak berani menatap ke bawah. Di sana ada aliran yang deras, batu batuan dan juga semak semak menakutkan. "Bu, harus banget ya kita ke sini? Jalan ke sini?"
"Ya emangnya kenapa? Gak bakalan kenapa napa kok, Nduk. Lagian ini satu satunya jalan kita ke sana. Mau gimana lagi."
***
Yang katanya dekat, ternyata cukup jauh juga. Berhasil membuat Amber kelelahan karena nya. Begitu sampai di rumah yang dimaksud, Amber sedikit tenang karena dirinya disambut dengan baik. Ibunya juga diarahkan untuk pergi ke dapur dimana ada para pekerja lainnya di sana. Setidaknya, mereka memperlakukan ibunya dengan baik.
"Maaf ya, menantu saya mau ikut. Dia cuma nemenin saya, Bu. Gak akan ikut kerja."
"Eh gak papa. Istrinya Januar ya? Udah kayak model aja cantik banget."
"Makasih," Ucap Amber yang merasa kelelahan dan memilih duduk di belakang sang mertua kemudian bersandar dan memejamkan matanya ingin tidur.
"Ini minum dulu, Neng. Keliatan capek banget gitu."
"Capek banget, Bu. Rumahnya di pelosok gini ya. Untung bagus rumahnya, adem ada AC nya." Amber menerima minum itu. Tapi dia tidak bodoh dengan kondisi wajahnya, jadi dia meminunnya dengan cara membelakangi. "Lain kali ibu bangun rumah agak deket sama orang lain coba, Bu. Biar gak kayak gini. Kasian tamunya. Mana jalan setapak."
"Aduh maaf ya, Neng. Soalnya saya mau jauh dari orang orang yang kayak Neng, makannya bangun rumah di sini."
Ibu Dyah terkekeh dan mengelus punggung sang menantu untuk tidak menanggapi. Tidak mau bermasalah juga, Amber memilih untuk tidur dan mengabaikan orang lain yang juga membuat kue di sana. Yang terpenting untuknya adalah memastikan wanita tua ini tidak tertindas oleh orang orang yang bekerja dengannya.
"Ibu Dyah, ini menantu kayak gini nemu di mana?" Tanya sesama orang yang kerja di sana ketika Amber sudah terlelap. "Agak kurang sopan gitu ya. Maaf ya bu bukannya apa apa. Cuma saya kasian aja nanti takutnya malah jadi boomerang buat dia."
"Terima kasih atas perhatiannya, Bu. Akan saya ajarkan nanti. Dia emang dari kota, makannya gitu. Dulunya suka dimanja sama kedua orang tuanya. Tapi sekarang udah berubah kok."
"Ngomong ngomong, bu Dyah. Saya mau tanya. Bener ya kalau bapaknya Januar itu yang punya bendungan di kampung kita? Bukannya apa apa, saya cuma mau mengklarifikasi hal ini saja. Sudah lama desas desus ini terdengar. Apalagi beberapa tahun yang lalu Januar juga gak ada di sini. Dia pulang pulang udah bertato aja. Bener ya gosip itu?"
Ibu Dyah menatap pada Amber, lega karena anak itu tidak mendengarkan. "Tolong, Bu. Januar itu anak saya. Hanya itu yang perlu kalian ketahui. Tidak lebih."
Membuat mereka bungkam seketika. Sementara Amber sendiri merasa begitu segar ketika terbangun 30 menit kemudian. Dia membuka mata dan mencari keberadaan sang Ibu. "Ibu Dyah lagi buang sampah di belakang, Neng. Udah selesai kerjaanya jadi dia siap siap mau pulang." Salah satu pekerja di sana memberitahukan.
"Ini kuenya dibawa ya. Makasih banget udah mau bantuin. Ini kasih juga sama ibu kamu ya. Uangnya ada di dalam amplop itu."
Amber menunduk menatapnya. "Terima kasih," Ucapnya demikian sebelum melangkah keluar tempat dimana sang ibu mertua sedang membuang sampah. "Bu, biar Amber aja yang bawain. Nih dari mereka, sama upahnya juga."
"Loh ibu belum pamitan." Menerima bungkusan itu dari tangan Amber. "Bentar ya."
Sambil menunggu, Amber yang ada di luar itu memutuskan untuk mengangkat karung berisi sampah menuju ke lubang yang ada di pinggir rumah. "Kayaknya Tuhan bangga liat keadaan gue sekarang yang mau pegang pegang sampah kayak gini."
Meskipun jijik, Amber berusaha menahan diri. Kasihan juga kalau nantinya Ibu Dyah malah sakit dan membuat sang suami menjadi sedih. Kan Amber tidak mau.
Ketika Amber membuang sampah itu, matanya membulat melihat skincare yang dia incar sejak lama. "Anjir yang punya rumah ini Sultan kayaknya. Pake skincare yang mahal. Tapi gak keliatan deng, wajahnya tadi tetep burik," Ucap Amber memilih untuk meraihnya. "Wah, ini masih segel? Aslian?" Tidak percaya dengan apa yang dirinya temukan ini.
***