
"Ibu udah sadar?" Tanya Amber begitu dia masuk ke tempat sang Ibu berbaring dan melihatnya bergerak. Langsung saja Amber menekan bel supaya perawat bisa langsung memeriksanya.
Ketika perawat dan dokter itu masuk, Amber bertanya tentang keberadaan suaminya. Tapi mereka hanya menjawab kalau Januar sedang mengurus sesuatu.
Perihal kondisi Ibu Dyah kini sudah dikatakan membaik. Namun, masih perlu rawat inap dan juga pengobatan berjalan. Bahkan, operasi transplantasi jantung sedang didiskusikan oleh Januar dan dokter.
Untuk sekarang, di ruangan itu hanya ada Amber dan juga sang Ibu yang masih terbaring lemah. "Ibu, Mas Januar nya lagi ada urusan. Jadi ditemenin sama Amber dulu ya."
Ibu Dyah mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Ibu mau sesuatu gak? Butuh apa gitu?"
"Enggak, Nak." Ibu Dyah sudah merasa lega setelah tadi perawat membantunya minum. Kini dia hanya ingin memulihkan dirinya terlebih dahulu.
Amber tau apa yang ada di dalam pikiran Ibu Dyah. Jadi dia hanya diam dan menggenggam tangan sosok tersebut. "Ibu Baik baik aja kok." Seperti itu meyakinkan Amber.
"Baik apanya. Orang ibu hampir aja mati loh. Amber udah takut tau. Kalau ibu ninggal, nanti Amber masak sama siapa."
Berhasil membuat Ibu Dyah terkekeh dalam sakitnya. "Harusnya kamu bersyukur, karena kalau Ibu meninggal, pasti Januar bawa kamu pergi dari tempat yang dipenuhi sama kemiskinan."
"Iya, dia pasti jual semua kebun ibu terus uangnya dia sakuin sendiri. Makannya, Ibu harus hidup supaya dia gak bisa ambil tanah ibu seenaknya."
Padahal niat Ibu Dyah bukan mengatakan hal tersebut. Namun Amber malah menangkapnya demikian.
Ibu Dyah tidak terlihat senang sama sekali. Sosok itu malah menggelengkan kepalanya dan menatap Amber dengan maniknya yang terlihat sedih. "Ibu kenapa?" Amber jadi takut salah bicara.
"Gak papa kok. Nanti ibu mau ngomong sama Januar ya."
"Iya, sekarang Ibu ditemenin sama Amber aja dulu ya." Menggenggam tangan itu lebih erat. Amber peka, dia tau ibu Dyah tidak senang dengan rencana operasinya tersebut.
Sampai pintu tiba tiba terbuka, Januar datang dengan wajahnya yang terlihat lelah. "Ibu?" Mendekati Ibu Dyah hingga Amber mengambil langkah mundur. Membiarkan Januar mengecup kening sang Ibu. "Januar udah bicara sama dokter. Tentang transplantasi jantungnya."
"Jangan, udah berapa kali Ibu bilang. Kalau Ibu gak suka, kalau Ibu gak mau. Ibu mau nikmati hari hari terakhir ibu tanpa rasa sakit."
"Itu artinya sama aja dengan Ibu yang perlahan mati, bu. Januar gak akan biarin hal itu terjadi."
Tangan Ibu Dyah terulur mengelus pipi sang putra. "Jangan kayak gitu. Ibu bahagia. Kamu mau ibu bahagia kan?"
"Dengan ninggalin Januar?"
"Nak, saatnya kamu pulang ke Ayah kamu. Kamu harus kembali ke tempat asal kamu. Harusnya kamu emang gak tau tentang Ibu."
Mendengar percakapan itu, Amber semakin yakin kalau ada yang disembunyikan oleh sang suami dan juga mertuanya.
"Ibu mau pulang, mau duduk di rumah Ibu dan menunggu Tuhan mengambil nyawa. Ibu gak mau ada di tempat yang kayak gini, Januar." Ibu Dyah terseyum mencoba memberikan bukti kalau dirinya baik baik saja. "Ibu yang ambil jalan ini. Ini pilihan Ibu."