Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Rasa lama



Dipikir pikir, Amber merasakan keanehan pada Januar. Selalu saja ada kebetulan yang membuatnya terlihat seperti orang yang kaya. Apa yang terjadi? "Mas Janu," Panggilnya sambil memeluk Januar dari belakang. Mereka masih dalam motor menuju ke rumah dimana Ibu Dyah pasti sudah menunggu di sana. 


"Mas ih! Aku panggil!"


"Kenapa?" Menoleh sejenak sebelum kembali fokus ke depan. "Kalau kamu ngajak ngomong terus, nanti jatuhnya malah gak fokus, Amber."


"Telinga aja sama bibir yang fokus sama aku. Kalau mata ke jalanan."


"Kenapa? Mau ngomong apa?"


"Mas kadang aku kepikiran kalau kamu itu sebenarnya orang kaya deh. Tapi lagi sembunyiin identitas. Bener gak?"


Januar malah tertawa. "Jangan terlalu ketinggian. Kalau misalnya saya beneran miskin gimana?"


"Gak gimana gimana. Aku udah suka sama kamu. Ayo kita saling jaga." Memeluk Januar lebih erat dari sebelumnya. "Aku gak punya siapa siapa lagi. Orangtuaku sendiri buang aku karena prilaku ku buruk. Aku mau memperbaiki diri biar gak dibuang juga sama kamu."


Januar sampai tertawa mendengarnya. "Kamu takut dibuang?"


"Iyalah, takut gak dicintai."


"Kalau kamu takut gak dicintai, maka kamu harus mencintai orang lain. Hidup itu bukan tentang diri kita sendiri saja. Tapi tentang bagaimana poros berputar hingga hukum karma akan selalu ada."


"Jadi… kamu minta aku buat cinta sama semua orang? Aku ngebagi bagi cinta gitu? Selingkuh dong jatuhnya?"


"Ya nggak gitu juga." Januar menarik napasnya dalam. Heran dengan isi kepala sang istri. 


Untungnya, mereka sudah sampai di halaman depan rumah tua yang sudah reyot. Ibu Dyah terlihat sedang memotong sayuran di dalam rumah, sosok itu tersenyum melihat kedatangan Amber dan Januar. "Ibu pikir kalian gak akan kembali lagi."


"Emangnya kita mau kemana lagi, Bu? Orang ini rumah kami," Ucap Januar datang mendekat dan mencium tangan sang Ibu. 


Melihat tindakan suaminya, Amber mengikutinya. "Asin. Ibu abis pegang apasih ih." Langsung berkumur dengan air, pergi ke kamar mandi untuk memuntahkannya. 


Ibu Dyah tertawa melihat bagaimana tingkah sang menantu. "Apa itu?"


"Makanan buat Ibu."


"Makasih banyak. Padahal kamu gak usah pulang sekalian. Amber keliatan banget lagi seneng itu."


"Bu, gak mungkin Januar tinggalin Ibu."


Percakapan itu terhentikan saat Amber keluar dari kamar mandi. "Bu, ayok makan makanannya. Amber temenin ya."


"Jaga Ibu ya."


"Mas mau kemana emangnya?"


"Mas mau ke ladang dulu. Liat hasil pekerjaan mereka."


"Okey, hati hati Mas Januar. Sini peluk dulu sama aku." Kini Amber tanpa rasa malu malu melakukannya.


Yang mana membuat Ibu Dyah kaget sendiri. Begitu Januar pergi, sang Ibu bertanya pada Amber. "Udah gak malu malu kalau sekarang?" 


"Nahan malu sih, Bu. Soalnya kalau gak gitu, nanti Amber khawatir terus kalau Januar bakalan disamber sama Indah. Keliatan jelas itu anak suka sama Januar." Sambil membuka makanan yang dia bawa, Amber masih bergumam mengatakan bagaimana lancang nya Indah menyukai pria yang sudah menjadi suaminya. Benar benar menyebalkan. 


"Yaudah, kan Januar nya juga cintanya sama kamu. Dia gak akan berpaling."


"Emang iya dia cinta sama aku, Bu?"


"Iya, dari dulu masa."


"Januar itu deket sama kedua orangtua kamu. Makannya sekarang kamu ada di sini."


"Tapi Amber belum pernah liat Januar kerja di tempat orangtua. Dia itu pekerja baru ya? Atau di bagian mana kerjanya?"


Ibu Dyah hanya tersenyum. "Makan yang banyak. Sambil ceritain dong sama Ibu. Kalian kemana aja semalam?"


Camilan yang dibawa Amber itu malah dimakan oleh si pembawa nya sendiri. Dia fokus menceritakan apa yang mereka lakukan. Sorot mata bahagia sang menantu membuat Ibu Dyah bertanya. "Kamu mau kalau diajak sama Januar pindah dari sini?"


"Pindah kemana misalnya, Bu? Kalau ke tempat yang lebih sengsara dari inimah gak mau ah."


"Ke tempat yang lebih indah. Kayak istana tempat kamu tinggal dulu."


"Ya mau lah, siapa juga yang mau tinggal di tempat kayak gini selamanya. Tapi harus gimana lagi kan? Sekarang kenyataannya aku di sini, Bu. Jadi ya Terima aja."


"Coba bujuk sama Januar."


Amber menatap sang mertua dengan datar. "Bu, bujuk gimana? Minta dibikinin rumah? Ogah, nanti Januar malah jual ginjal. Lagian Amber mulai nerima keadaan. Gak papa kayak gini, asalkan sama Januar. Toh Januar ganteng. Hihihihi. Bikin enak juga."


***


Karena seharian ini berada di rumah, Amber memilih diam di kamar dengan alasan lelah semalaman meladeni Januar. Namun terlalu lama di sana juga membuat Amber merasa bosan. Jadi dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari keberadaan sang Ibu mertua. 


Sayangnya, di sana Amber malah melihat Ibu Dyah bersama dengan Indah. Padahal baru saja Amber menerangkan betapa dia tidak menyukai Indah. Kenapa dia ada di sini? 


"Lagi apa?"


"Eh Nduk udah bangun?" Ibu Dyah tersenyum dan menarik tangan sang anak untuk duduk di sampingnya. "Ibu lagi misahin cengkeh yang jelek. Buat nanti dijual."


"Hallo, tadi saya mampir ke sini sekalian kasih makanan buat Ibu. Sekalian sekarang bantu juga."


"Gak usah dibantuin. Biarin aku aja yang bantuin Ibu. Iya kan, Bu?" Amber enggan Indah ada di sini. 


"Gak papa kok, saya juga mau bantu. Sekalian cerita, udah lama gak cerita sama Ibu Dyah." Masih dengan senyuman manisnya, Indah mengatakannya. 


"Udah mau malem. Mending pulang aja sana." Amber ikut mengambil cengkeh dan memisahkan yang jeleknya sesuai apa yang dilakukan oleh Ibu Dyah. "Gak baik cewek masih keliaran di jam segini. Apalagi masih pake seragam kayak gitu."


Namun Indah tetap mengabaikan. Yang akhirnya membuat Amber kesal juga. Dia berdehem kemudian memperlihatkan lehernya. "Eh Mbak Indah. Kalau nutupin merah merah gini pake apa ya?"


Indah terlihat terkejut. Namun, dia merubah ekspresinya dalam hitungan menit dan mengeluarkan bedak dari tasnya. "Ini bedak yang selalu saya pakai. Sama foundation nya sekalian mau minta gak papa. Eh, cocok gak sama kulitnya?"


Amber menatap skincayte yang digunakan oleh Indah. Bukan skincare paling mahal, tapi itu sudah masuk ke dalam jajaran merk terkenal. Yang mana membuat Amber menelan salivanya kasar. Dan baru dia sadari, kalau wajah Indah itu mulus, bersih, dengan senyuman yang manis pasti membuat semua pria menyukainya dengan sifatnya yang seperti ini. 


Tidak, Amber tidak bisa membiarkannya. Wajahnya tidak tersentuh skincare mahal selama beberapa minggu ini. Bagaimana kalau Januar berpaling? 


"Ini jadi gak? Buat nutupin kiss mark nya?"


"Gak usah. Biarin ini jadi bukti kalau Januar sukanya sama istrinya doang. Situ tolong buka mata buka pikiran dong. Jangan gebet cowok yang udah punya istri."


"Nduk, mending kamu mandi. Abis itu bantuin Ibu masak ya. Sana mandi dulu. Nanti Januar keburu ke sini loh." Ibu Dyah berusaha menghentikan pertengkaran yang mungkin akan terjadi diantara mereka. "Ayo mandi, biar nanti Januar makin nempel sama kamu. Masa kamu gak mau?"


Amber menarik napasnya dalam sebelum berdiri dan melangkah pergi dari sana. Ibu Dyah segera mengatakan rasa tidak enaknya pada Indah. "Maaf ya, Amber emang kayak gitu."


"Gak papa, Bu. Dimaklum kok."


"Januar emang type typenya yang kayak gitu. Gak tau kenapa. Udah 10 tahun dia suka sama Amber," Ucap Ibu Dyah menarik napasnya dalam. "Sekarang udah dapet malah dibawa susah."