
"Tidur aja lagi, Bu. Ini masih malam. Nanti ibu kecapean." Januar berucap demikian, dia bahkan merangkul bahu Ibu Dyah untuk kembali ke kamarnya. "Gak usah mikirin Amber. Biar Januar aja yang urus dia."
Sementara di sisi lain, Amber mengerucutkan bibirnya. Betapa bodohnya dia tidak melihat jam terlebih dahulu. Ketika Januar mendekat, Amber memalingkan wajahnya enggan ditatap. Antara malu dan juga gengsi. "Ayo ke kamar, tidur lagi. Ini masih malem." Januar datang dan menggendong Amber secara tiba tiba.
Membuat mood perempuan itu jadi naik, dia tersenyum dengan manis dalam dekapan sang suami. Apalagi ketika selimut di naikan. Hangat dan juga nyaman. "Gue bikin kopi. Sayang banget gak diminum itu."
Namun Januar tidak menanggapi karena dirinya benar benar mengantuk. "Ih Januar! Kenapa tidur?"
"Ya terus kamu mau saya kayak gimana? Ini jam tidur, Amber. Cepetan tidur lagi. Nanti kepala kamu sakit." Dipaksa tidur lagi dengan ditarik ke dalam dekapannya.
Aroma tubuh Januar itu tidak seperti mantannya, berkhas aroma orang kaya. Hanya ada bau sinar matahari, tapi Amber sangat menyukainya. Akhirnya dia ikut tidur tanpa memikirkan apapun lagi.
Semoga saja dirinya bangun lebih awal supaya menyiapkan kebutuhan Januar. Ya, mau bagaimanapun Amber senang jika Januar memujinya, memberikan apresiasi padanya.
Dalam mimpi, Amber berada di sebuah rumah yang besar. Orangtuanya kembali dan membuatnya bahagia, memberikan semua fasilitas yang dulu dimiliki Amber. Namun, nyatanya itu adalah mimpi karena saat Amber bangun, dia mendapati diri dalam pelukan sang suami. "Hhhh… yaudahlah mau gimana lagi," Gumamnya demikian.
Sebelum keluar kamar, Amber melihat jam terlebih dahulu. Jam setengah enam, ini lumayan bagus bukan? Amber keluar dari pelukan sang suami.
Sebelumnya dia memandang Januar dulu dan memberikan kecupan di pipinya sebelum tertawa sendiri. "Awas lu kalau sadar terus tau kalau gue nyium lu," Ucapnya keluar dari sana.
Ibu Dyah belum bangun, Amber membiarkannya saja dan fokus pada kopi yang sebelumnya sudah dia seduh. Ini sudah dingin, jadi Amber memaskannya dalam panci kecil dengan susah payah menyalakan api. "Aduh susah!"
"Nduk, udah bangun? Lagi ngapain?"
"Ini mau nyalain ini kagak bisa gue."
"Sini sama Ibu." Dengan susah payah Ibu Dyah yang masih mengantuk menyalakan api sebelum ditinggalkan ke kamar mandi. Amber memaksakan kopi, kemudian menuangkannya dalam gelas. "Udah ah, gue mau tidur lagi. Udah jadi istri yang baik."
"Nduk mau kemana?"
"Mau tidur lagi. Ini udah kopi dibikinin."
"Gak mau ikutan masak?"
"Nggak ah nanti aja lagi. Males gue," Gumamnya seperti itu dan masuk ke dalam kamar. "Januar bangun. Tuh kopi udah disediain. Gue mau tidur lagi."
Januar mengerutkan keningnya. "Kenapa tidur lagi?"
"Ngantuk, sambil nunggu Ibu masak sarapan gue mau tidur aja."
"Kenapa gak bantuin Ibu?"
"Dibilangin ngantuk ih." Menyusupkan wajahnya ke dalam bantal kemudian memejamkan matanya. Membuat Januar terdiam. Dirinya dibangunkan hanya untuk minum kopi?
Karena terlanjur bangun, Januar keluar kamar. "Bu? Mau dibantu?"
"Nggak usah. Ibu minta kamu ambil tomat aja di belakang ya."
"Iya, Bu."
"Sama itu… cabe ya? Ibu mau minta kamu bawain cabe."
Januar mengangguk dan melangkah pergi. Sekembalinya, dia membicarakan apa yang akan mereka tanam setelah tanah siap ditanami lagi. "Udah kayak dulu lagi."
"Tapi harga jagung turun, Bu. Kita tanam padi aja. Kan sekarang udah punya saluran air."
"Yaudah Ibu nurut aja gimana baiknya. Oh iya, nanti siang Ibu mau ke bank buat tabungin uang hasil panen."
****
"Loh, kenapa ini kopinya masih di sini?" Tanya Amber dengan wajah yang sedikit kesal. Dia malah melihat gelas bekas kopi yang lain sudah habis diminum.
"Tadi kamu angetin kopinya ya? Itu gak enak, Nduk. Tapi Januar buat yang baru lagi." Ibu Dyah malah merasa bersalah. Harusnya dia buang saja gelas berisi kopi yang masih utuh itu.
"Terus sekarang Januar kemana?"
Sungguh Amber merasa sangat marah. Jadi dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Saat di kamar mandi, Amber menatap dirinya sendiri dalam pantulan kaca. "Gue masih cantik. Tapi kalau lama lama gak dirawat, nanti gue jadi burik." Jadi khawatir jika nantinya dirinya akan jadi jelek.
"Si Januar harus tanggung jawab inimah, tapi dia mana ada punya duit kan?? Miskin gitu."
Entah mengapa semuanya terasa sangat menyebalkan untuk Amber hari ini. Bahkan ketika Januar kembali, Amber mengabaikannya dan masuk ke dalam kamar untuk berpakaian.
"Istri kamu marah karena kopi buatan dia gak diminum."
"Orang gak enak bu, masa harus maksa diminum." Januar sedang tidak ingin ambil pusing tentang apapun itu. Dia memikirkan jalan keluar tentang permasalahannya yang tidak bisa dia ceritakan pada siapapun.
"Mungkin kamu harus pertimbangan tawarannya, Nak. Biar Amber gak sengsara juga."
"Bu, stop ngomong yang kayak gitu ya. Januar bakalan tetep dengan pilihan awal."
Saat Amber keluar kamar, Januar memberikan tanpa pada sang Ibu untuk berhenti membahas hal tersebut.
"Ih, gak ada daging?"
"Makan aja apa yang ada. Ini enak." Januar membawakan nasi untuk sang istri. Jelas dia tau kalau Amber sedang marah padanya. "Abis ini saya mau ke ladang lagi, mau ke pasar juga buat bandingin harga harga pupuk. Di rumah baik baik ya." Tangannya terulur mengelus rambut Amber. Dan itu membuat Amber tersenyum diam diam.
"Ibu gak akan kemana mana?"
"Ibu mau ke rumah Ibu Kadus. Mau ikut?"
"Mau apa?"
"Disuruh ke sana. Paling minta bantuin masak doang."
Karena Amber merasa bosan di rumah. Jadi dia mengangguk, memangnya apalagi yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan kalau dirinya akan berada di sini selamanya?
"Udah mandi?" Tanya Amber pada Januar.
"Belum. Kenapa? Bau ya?"
"Enggak kok." Menggelengkan kepalanya kuat. Kemudian sebuah ide muncul di kepalanya. Sambil mengunyah, Amber tersenyum dan matanya melihat ke atas untuk berfikir.
"Nduk, kamu gak punya penyakit bawaan kan?" Tanya Ibu Dyah agak ngeri melihat Amber yang seperti itu.
Karena Januar selesai duluan, Amber masih di sana menikmati sarapannya. Memang tidak ada daging, tapi sejauh ini makanannya enak dan bisa dia nikmati.
Saat Januar melangkah menuju kamar mandi, Amber tersenyum begitu lebar.
Januar takut juga. "Kenapa? Mules mau ke kamar mandi?"
"Nggak, sana masuk cepetan"
Begitu Januar masuk, Amber langsung menghabiskan makanannya dan bergegas berdiri. "Mau kemana, Nduk?"
"Mau siapin baju buat suami."
Ibu Dyah senang, meskipun Amber masih naik turun dengan perannya sebagai istri. Dan tidak ingin membuat sang menantu kecewa lagi, Ibu Dyah berkata pada sang anak yang selesai mandi. "Istri kamu siapin baju buat kamu. Pake ya, jangan buat dia kecewa."
Januar menaikan alisnya bingung dan akhirnya mengangguk. Dia masuk ke dalam kamar dengan Amber yang berdeham dan memasang wajah datar. "Nih, udah gue siapin bajunya buat lu."
Menunduk menatap apa yang dimaksud oleh Amber. "Ini….. Kemeja?"
"Kan biar lebih rapi. Mau ke pasar kan? Biasanya orang orang berkemeja suka lebih dihormati. Lu juga keliatan oke kayaknya kalau pake ini.."
"Amber, saya ke pasar mau ambil taik ayam."
***