
“Dari tadi gue gosok gak ilang ilang!” teriaknya setengah marah yang membuat Januar sendiri hanya diam melihat bagaimana istrinya tidak bisa menahan emosi. “Gue pikir sirup, tapi pewarna makanan. ini gimana gigi gue jadi kayak gini?” bertanya demikian dengan suara yang mulai pelan.
Januar menarik napasnya dalam. “Sini.” panggilnya pada sang istri.
Amber mendekat dengan bibir mengerucut, membiarkan Januar memangkunya dan memberikan pelukan padanya. Duh, kenapa suaminya jadi manis begini padahal kemarin masih Amber caci caci.
“Lama lama juga ilang kok. Jangan sering digosok nanti malah sakit.”
“Malu kalau diliat orang.”
“Ya kamu kan emang mau istirahat di rumah. emangnya mau kemana? Ikut sama saya ke ladang?”
Menggelengkan kepala, bisa bisa kulitnya jadi hitam kalau ikut ke sana. tetap saja dirinya jadi tidak percaya diri karena ini, wajahnya cantik tapi giginya merah.
“Janu, ajak Amber makan siang sini.”
“Yuk, makan siang dulu. nanti abis itu boleh kamu tidur.”
“Kamu mau kemana?” amber baru sadar kalau pelukan Januar begitu hangat, nyaman dan aroma tubuhnya yang seperti sinar matahari.
“Mau makan juga, tapi abis itu bantuin petik padi sama kacang.” Januar menepuk nepuk pelan punggung sang istri. “Ayo keluar.”
“Pengen digendong,” rengeknya dengan manja.
“Gak malu sama Ibu?”
Berdecak melepaskan pelukan Januar dan melangkah lebih dulu. amber itu menjunjung tinggi harga diri, begitu dia merasakan penolakan, dia tidak akan meminta lagi. Meskipun bagian bawahnya masih perih dan sakit jika bergesekan, awas saja Januar tidak akan diberi jatah olehnya.
“Kok makan tempe lagi sih, Bu?” merengek layaknya anak kecil.
“Nduk mau apa? Nanti Ibu masakin.”
“Daging sapi emang gak bisa ya tiap hari? Mau itu.”
“Daging sapi mahal. Makan aja apa yang ada,” ucap Januar dengan suaranya yang datar.
Hei! Ada apa dengannya, di saat sebelumnya pria itu begitu manis, kini dia terdengar menyebalkan.
Untungnya makanan Ibu Dyah itu enak, jadi Amber menikmatinya saja. sesekali Amber menatap kakinya yang tidak semulus dan selembab sebelumnya. Dia ingin perawatan, ingin ini itu juga. Apa Januar semiskin itu?
“Abis panen biasanya dapet uang gak?”
“Amber mau apa?” tanya Ibu mertuanya yang peka.
“Mau body lotion, mau skin care juga. Nanti kalau kulit gosong, Januar nanti selingkuh sama cewek lain.”
“Mana ada,” ucap Januar menatap tidak suka pada Amber. “Kamu kayak reog aja, saya masih bertahan.”
“Maksud?”
“Udah, kenapa kalian ribut mulu sih? baru juga semalem akur.” Ibu Dyah menyudahi makannya, dia menyiapkan makanan yang lain untuk para pekerja di sana.
“Biar Januar aja yang anterin, Bu. Udah beres kok.” Januar bergegas pergi ke sana. namun sebelumnya, pria itu mengusap rambut Amber hingga seketika merubah Amber menjadi perempuan manis.
“Ibu nanti mau ke rumah orang yang pesen kue ini. Amber mau dirumah aja?”
“Iya di rumah aja. mau berduaan sama Janu.”
“Janu kerja kayaknya. Gak bisa berduaan, dia lagi panen.”
Hhh…. Amber benar benar bosan. Dia tidak punya uang untuk shoping. Hanya keluar masuk kamar dan makan saja. “Nanti langsung pulang lagi ke sini?”
“Ibu bantuin bungkusin dulu di sana.”
Akhirnya Amber mengangguk, harus bagaimana lagi? Ketika mereka berdua meninggalkannya dan Amber masih ingin mengemil sesuatu, dia mencari ke sekitar hingga mendapati kaleng kue.
“Asyik, makan nih.” Saat membukanya, manik Amber membulat. Ini uang yang banyak! Bukankah dirinya bisa membeli satu botol toner Sk 13 dengan uang ini? “Wuihhh, duitnya banyak banget.”
Tertidur sampai matahari mulai tenggelam, Amber bangun dan baru ingat katanya Januar akan bertemu dengan Indah hari ini. dia cepat cepat bangkit dan berlari keluar kamar hingga menimbulkan suara pintu yang keras.
BRUK!
“Nduk, kamu kenapa toh?” Ibu Dyah ikut kaget dan memegang jantungnya yang berdetak kencang.
“Januar mana?”
“Januar baru aja pergi mau ke rumah Indah. Tadi dia pamit sama kamu, tapi kamunya tidur.”
Tidak rela kalau Januar pergi menemui perempuan itu, Amber berlari keluar rumah seketika. “Aw aw aw,” ucapnya ketika merasakan gesekan menyakitkan di bawah sana, tapi akan lebih sakit jika melihat Januar tergoda oleh pria itu.
“Januarrr!” teriaknya membuat pria yang sedang mengayuh sepedanya itu berhenti mendadak.
Amber terlihat kelelahan, dia memegangi perutnya dan memukul bagian belakang sepeda. “Kenapa gak ngajak gue?”
“Kamu tidur, saya gak tega banguninnya.”
Tanpa berkata apa apa lagi, Amber duduk di bangku belakang sepeda. “Mau ikut ke sana.”
“Nanti bosen di sana.”
“Nggak, kan katanya si Indah suka bikini makanan yang enak. Cepetan maju,” ucap Amber tidak sabaran, dia ingin memperlihatkan pada perempuan itu kalau dirinya tidak berhak terus suka pada suaminya
Rumah Indah terlihat sederhana, dengan halaman yang luas. Tipe perumahan, dan kenapa orang orang itu sudah menunggu di luar?
“Kandang musuh," gumam Amber siap berperang.
Senyuman Indah luntur ketika melihat Amber yang melingkar pada tangan Januar, bergelayut manja pada bisep sang suami.
“Kirain gak jadi dateng ke sini. udah ditungguin juga,” ucap pria paling tua di sana.
“Maaf, tadi masih ada kerjaan.”
Kemudian semua orang menoleh pada Amber. “Ini istrinya Januar ya? wahh cantik banget ya?”
“Iyalah, masa ganteng,” ucap Amber menjabat tangan mereka.
Januar terkekeh, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. “Lagi agak sensitive, mohon pengertiannya ya.”
“Ayok, masuk, Nak. Ibu udah siapin makan buat kamu.”
Semua mata dan perhatian tertuju pada Januar, terlihat jelas sekali kalau mereka tidak menginginkan keberadaan Amber di sana, untungnya Januar peka dan menggenggam tangan sang istri untuk masuk.
“Teteh, Aa nya mau ngobrol sama Bapak saya. Teteh di sini aja nunggunya sama Indah ya?” tanya perawat itu.
Cih, pura pura manis dan jadi anak yang baik.
“Iya di sini aja, Neng. Siapin makan sama Ibu yuk. Abis mereka ngobrol, kita makan malem bareng bareng.”
Amber menatap sang suami dengan matanya yang bulat, enggan ditinggal. “Bentar aja kok, tunggu ya.” tangannya mengelus pipi Amber membuat perempuan itu tersenyum. Tapi ketika mata Amber beradu dengan Indah, dia langsung melotot seolah mengatakan, “APA?”
“Yuk, Teh, kita ke dapur,” ucap Indah mengajak.
Di sana memang banyak sekali makanan, daging dagingan dan kue. Haduh, andai saja rumah Januar seperti ini. dia akan sangat betah untuk tinggal di sana.
“Aa Januar kalau nanti rawat kebun kita, bakalan sering ke sini ya, Mah?”
Sudah Amber duga, saat dirinya sampai di dapur, malah tidak dianggap.
“Iya, sering sama bapak kamu nantinya.”
“Kenapa gerah ya?!” tanya Amber hampir serupa dengan teriakan dengan rambut yang mengibas kibas memperlihatkan kissmark di lehernya. “Aduh, mana ini gatel lagi.” Sengaja menggaruk bagian itu sambil memperlihatkan cincinnya yang dibelikan Januar.
***