
Di sinilah Amber sekarang, menatap nisan sang mertua yang meninggal. Sosok ini membantunya menjadi pribadi yang lebih baik. Air matanya tidak bisa ditahan. "Ibu… hiks…" Rasanya Amber memilih untuk miskin asal memiliki keluarga hangat daripada kaya dan merasa hampa. "Ibu… . Amber minta maaf gak bisa jadi anak yang baik.. Hiks… Amber minta maaf… . Sayang Ibu…"
Januar mengusap punggung istrinya. Seketika tumpah tangisan Amber saat berbalik dan memeluk sang suami. Tangisannys begitu kuat. Sampai luka Januar kembali terasa sakit.
"Ibu udah tenang… gak papa…"
Malam hari pergi ke tempat sang mertua dikuburkan, Amber melakukannya karena dia sudah tidak tahan melepaskan rasa sesak ini. Dia tidak ada di samping Ibu Dyah, belum ada pembicaraan lebih dalam oleh keduanya. Amber merasa menjadi anak yang durhaka.
"Ibu…"
"Gak papa. Ayo pulang. Udah malem."
"Mau pulang ke… rumah kamu."
"Iya, pulang ke sana." Januar tidak bisa memaksa sang istri untuk pergi. Dia tau kalau keluarga Amber masih menunggu di mobil.
Tapi sepertinya Amber tidak peduli, dia masuk ke dalam kamar dan memeluk sang suami dengan erat. Memaksa Januar berbaring di sampingnya.
"Jelasin" Amber menuntut Januar menjelaskan dari sisinya.
"Hmmm, emang aku yang maksa mau nikah sama kamu. Aku jatuh cinta saat pertama kali liat kamu pas mau ngampus waktu itu. Kamu gak liat aku, karena aku di mobil. Cinta pandangan pertama?" Januar terkekeh. "Itu kenyataannya. Aku cari tau tentang kamu. Tapi nyatanya kamu bukan perempuan biasa. Kamu kaya dan juga kejam. Makannya aku ancam orangtua kamu supaya kasih kamu ke aku. Dan aku bawa kamu ke sini, ke rumah ibu aku. Aku mau kamu jadi… . Wanita yang lebih baik, lebih menghargai."
Amber paham untuk hal itu, yang ingin dia tanyakan, "Kenapa sembunyiin fakta kalau kamu emang orang kaya?"
"Aku mau kamu juga cinta sama aku apa adanya."
Dan januar berhasil melakukannya.
"Maaf. Maaf aku maksa kamu buat ke sini. Maaf atas semua skenario gila aku. Aku gak bisa ninggalin Ibu. Ibu punya trauma sama pria yang perkossa dia."
"Ayah kamu?"
Mengangguk. "Dia emang… gitu." Januar menjelaskan kalau dulunya dia tidak mengenal sang Ibu. Sampai memaksa pada sang ayah untuk memberitahukan kebenarannya. Nyatanya, sang Ibu hanya dijadikan tempat untuk meneruskan keturunan saja. Setelah Januar dilahirkan, sang Ibu di buang. Dia menolak semua uang dan membenci ayahnya.
"Katanya. Tapi aku gak tau, aku gak hubungin dia pas Ibu sakit." Januar mengecup puncak kepala sangat istri. "Kamu gak seharusnya ada di sini."
"Kamu harus tanggung jawab jadi pria. Kamu yang libatin aku dalam hal ini, kenapa sekarang kamu buang aku?" Suaranya sampai tersendat. "Kenapa kamu tega?"
"Gak gitu, Amber. Aku khawatir kamu serba kekurangan sekarang."
"Dari dulu juga gitu. Aku gak masalah jadi istri petani." Mengadahkan kepalanya. Menatap pria yang memang mustahil sebagai petani sejak awal bertemu.
"Aku minta maaf."
"Aku maafin kamu. Tapi anak ini gak akan maafin kamu kalau kamu ninggalin aku." Tangannya memindahkan telapak tangan sang suami pada perutnya.
Januar kaget, mencoba menangkap makna ucapan sang istri. "Kamu…. Hamil?"
"Iya, aku hamil. Makannya jangan tinggalin aku. Gak masalah aku sama kamu meskipun kamu petani." Memeluk kembali sang suami. Kehangatan di rumah jelek ini sudah sangat terasa oleh Amber. Dia enggan pergi dan kehilangannya lagi.
Saat mereka sedang berpelukan. Pintu diketuk berulang kali. Amber awalnya tidak mengizinkan untuk dibuka, tapi Januar yang memaksa.
"Ayah?" Tanya Januar saat membukanya.
"Meskipun ayah pura pura bangkrut, kamu tetep gak mau pulang dan liat keadaan ayah?"
"Apa?"
"Ayah bakalan lakuin apa yang kamu mau, ayah akan minta maaf sama ibu kamu." Kemudian matanya menelisik ke belakang Januar, ada Amber yang baru saja mendekat. "Pulang, bawa istri kamu ke sana. Berhenti hidup sebagai petani, Ayah butuh kamu sebagai pewaris."
***
The End.