
Amber termenung, suaminya pengedar? Orang kaya? Kenapa dia ingin tertawa? Meskipun Amber tau kalau Januar itu dihormati, dan semua kecurigaan terhadapnya memang benar benar sinkron dengan apa yang dijelaskan kedua orangtua nya. Tetap saja, Amber tidak bisa percaya begitu saja.
Ketika Amber hendak keluar kamar, ternyata pintu itu dikunci dari luar. Jelas Amber marah. "Mama! Buka pintunya! Amber mau keluar!"
"Mau apa? Makan? Nanti Mama anterin ke sana. Kamu jangan kemana mana dulu ya."
Amber tidak berhenti memukul mukul pintu sampai akhirnya sang Mama membukanya. Tapi belum juga selangkah keluar, Amber sudah didorong lagi untuk masuk ke dalam. "Gak boleh, kamu gak boleh keluar. Mama tau kamu pasti mau kabur."
"Tapi Amber mau ketemu Januar. Seenggaknya ngomong sama Ibu Dyah."
"Gak boleh, Sayang. Percaya sama Mama kalau mereka baik baik aja kok." Mengelus rambut sang anak dan membawanya untuk duduk.
Saat Amber melihat pintu tidak terkunci, dia langsung berlari keluar. Sayangnya, ternyata diluar sana ada bodyguard yang menahannya dan membawa Amber masuk lagi. "Lepassss!"
"Amber udah, Nak. Duduk sini." Sang Mama memeluknya sambil menghela napas. "Mama sayang sama kamu. Tolong kamu ngerti kalau Mama gak berani buat nolak permintaan dia karena Mama takut. Sekarang kita gak perlu lagi sama perusahaan dia, dan Mama bawa kamu kembali ke pelukan Mama."
Jujur, Amber juga merindukan pelukan ini. Sayangnya, dia lebih mengkhawatirkan ibu mertuanya di sana.
"Diem di sini ya. Dua minggu lagi kita bakalan pindah ke luar Negara. Okey?"
"Pindah? Maa, seenggaknya izinin aku buat ketemu dulu sama Ibu Dyah, Ma. Aku mohon."
"Nggak, sayang. Jangan kembali ke sana. Diam di sini aja. Mama akan siapin masa depan yang cerah buat kamu. Kamu bisa jadi model sesuai yang kamu mau. Oke?"
Amber hanya menatap kosong keluar jendela. Selama seminggu ini dia mencari cara supaya bisa keluar dari sini. Sayangnya semua modusnya tidak berhasil. Sang mama selalu datang setiap jam makan.
Sampai ketika jam makan siang sang Mama datang, Amber diam diam mengambil ponsel miliknya. Setelah sang Mama keluar, Amber langsung menghubungi nomor lamanya. Berharap Januar mengangkatnya.
"Hallo?"
"Hallo? Ini Amber. Ini siapa ya?" Kenapa suara wanita.
"Neng Amber, ini si Mbak yang ada di warung."
"Loh? Kenapa hapenya di Mbak?"
"Itu… ibu Dyah meninggal kemarin. Ini Mbak lagi beres beres di rumah Ibu Dyah."
"Hallo, Neng Amber? Neng? Kok ngilang ya?"
***
Saat Amber membuka matanya, bau antiseptik langsung masuk ke dalam hidungnya. Kepalanya pening bukan main.
"Nak?" Sang Mama mengelus rambut Amber. "Kamu hamil."
Entah ini kesedihan atau rasa bahagia, nyatanya Amber hanya meneteskan air mata. Dia tidak akan bisa bertemu dengan Ibu Dyah lagi, dia tidak akan bisa bertemu dengan Januar lagi. Bagaimana nasib anaknya untuk ke depannya?
"Kamu mau ketemu Januar? Mama antar ayok. Mama gak setega itu buat bikin anak kamu pisah sama papanya."
Amber menatap sang Mama tidak percaya. Sosok lebih tua itu mengangguk. "Tapi pikirkan lagi, kamu mau gimana ke depannya. Mau tetep sama dia atau pulang sama kami. Ya?"
"Papa izinin?"
"Iya. Papa bakalan izinin."
"Mau pergi sekarang." Amber mendudukan dirinya. "Amber mau ketemu sama Januar sekarang, Ma. Please."
Kasihan dengan sang anak, akhirnya sosok itu mengantarkan Amber menuju kampung halaman Januar. Sore hari yang gerimis, Amber hanya menatap datar keluar jendela mobil. Rasanya masih tidak percaya kalau Ibu Dyah meninggal. Bagaimana suaminya sekarang? Siapa yang memeluknya?
"Amber, udah sampai, Nak." Amber langsung menegakan tubuh. Matanya melihat ke arah rumah gubuk tempat dirinya tertawa, menangis dan menjerit bersama dengan orang orang yang dia sayangi.
Melangkah pelan dengan air mata berderai, apa yang sedang dilakukan suaminya sekarang? Ketika sudah sampai di depan pintu, Amber mendorongnya.
Sosok di dalam sana langsung menoleh. "Amber? Kenapa di sini?" Tanya Januar mendekat. "Kamu gak kabur kan?"
Amber hanya diam dan menatap sang suami dengan air mata yang menetes.
"Kamu udah denger apa yang orangtua kamu bilang? Heem, aku emang anak dari Ibu sama orang kaya di kota. Tapi aku bukan penjahat. Aku bukan pengedar. Sekarang pulang, nanti orangtua kamu nyariin. Jangan di sini."
"Hiks… ibuuu!" Teriaknya kemudian memeluk Januar dengan erat. "Kenapa kamu biarin aku pergi? Kenapa gak nyusul aku? Kenapa aku gak ada di sisi Ibu waktu Ibu meninggal? Kenapaaa? Hiks…"
***