
Amber menatap suaminya yang sedang memakai baju. Pria itu baru saja selesai mandi dan hendak tidur. Senyuman Amber mengembang, dia tidak sabar mendapatkan pelukan dari pria itu. "Kenapa?" Tanya Januar menyadari kalau Amber menatapnya begitu lama.
"Sini tiduran. Aku mau dipeluk sama kamu," Ucapnya seperti itu.
"Makin manja kamu sekarang. Udah gak malu malu lagi?"
"Ngapain malu malu lah. Lagian kamu udah liat seluruh tubuh aku kan?" Amber bahkan berdecak karenanya.
Ketika Januar naik ke atas ranjang, Amber langsung memeluk pria itu dan menghirup aromanya dalam dalam. Nyaman sekali hingga dia enggan untuk melepaskannya. "Aku gak mau nahan diri aku lagi, aku suka sama kamu tau. Dulu waktu sama mantan pacar aku aja, aku gak sebucin ini. Makannya kamu harus bersyukur."
Januar terkekeh mendengarnya. "Udah nerima keadaan?"
"Siapa sih yang mau miskin? Tapi coba kamu berusaha lebih kuat lagi biar kita agak kaya dikitan. Soalnya aku gak mau kalau ke depannya kita bakalan tinggal di sini mulu. Jual kebun juga gak akan bikin kamu jadi miskin kan? Kan udah miskin."
"Ini kebun punya Ibu."
"Tapi bisa kali dibujuk."
Januar menghela napasnya dalam. Dia menatap Amber dalam diamnya yang mana membuat sang perempuan sadar. Dia berdehem. "Yaudah gak usah maksain. Lagian aku mulai terbiasa hidup di tempat kayak gini."
Meskipun menjijikan dan aneh, Amber berusaha untuk menerimanya. Mau bagaimana lagi?
Malam itu, dirinya tidur dalam pelukan Januar. Untungnya, otak Amber lebih peka sekarang. Ketika jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, dirinya terbangun untuk melakukan perawatan diri. Amber sebelumnya menumbuk bahan bahan yang dia yakini akan membuat kulitnya kencang. Seperti timun, dan kunyit. Di sana dia melakukannya dengan pelan karena enggan membuat suaminya terbangun. Amber juga berharap dengan semua ini, wajahnya tetap menjadi cantik. Hingga Januar tidak akan berpaling darinya.
"Jijik banget gue liat ini rumah gak pake keramik. Tapi mau gimana lagi, tar gue jadi gembel kalau pergi lagi." Lagipula Amber sudah terpesona dengan sosok Januar. Jadi akan kemana lagi dia jika tidak berada di sini? "Gue suka sama itu cowok miskin, sama itu cowok petani. Kira kira dia mau gak ya kalau gue suruh jadi model? Pergi ke kota? Kayaknya bakalan bisa deh. Soalnya tubuhnya seksi, mana ganteng lagi." Membayangkan bagaimana Januar yang penuh tatoo itu tanpa busana membuat Amber tersenyum sendiri. Merasa bangga karena dirinya bisa melihat tubuh seindah itu.
Dia segera menempelkan masker ke wajahnya. Sambil bernyanyi nyanyi kecil, Amber melakukannya dengan hati hati. Selesai, dia menunggu sekitar 30 menit sebelum dibasuh. Dan Amber tidak mau bau kunyit ini menempel pada tubuhnya. Alhasil, dirinya memilih untuk mandi di dini hari.
Sayangnya ketika menyentuh air, Amber langsung menarik tangannya lagi dengan mata yang membulat terlihat kaget. "Anjirrr inimah kayak air es." Tidak mau mandi karena dingin, tapi Amber lebih tidak mau badannya terasa lengket dan bau kunyit. Jadi dia memaksakan diri untuk mandi sambil menutup mulutnya supaya tidak menjerit dan membuat orang lain bangun. Selesai mandi, Amber langsung menggulung dirinya dengan handuk dan segera pergi dari kamar mandi untuk memakai pakaian.
Melihat Januar yang terlelap dengan wajahnya yang tampan, Amber bahkan sampai membuatnya tertegun sejenak. "Gimana bisa seganteng ini meskipun lagi tidur? Heran banget gue sama ini cowok." Menggelengkan kepalanya heran. "Pake baju dulu aja ah. Nanti langsung meluk si Mas." Karena hawanya dingin, bahkan membuat Amber menggigil.
Ketika Amber sudah berpakaian dan siap untuk masuk kembali ke bawah selimut, Amber bercermin terlebih dahulu.
Deg. Perempuan itu diam. Dia langsung menggosok gosok cermin merasa di sana ada debu. Namun sayangnya, noda itu tidak hilang. Bukan cerminnya yang kotor, wajahnya yang memang berwarna… . Kuning? "Huaaaaaaaa! Mamaaaa!" Teriaknya yang langsung membuat Januar bangun. Begitu pula dengan Ibu Dyah yang tergopoh gopoh melangkah menuju kamar dimana sang anak berada. "Kenapa? Ada apa?"
"Wajah aku jadi kuning!" Teriaknya sambil menutup wajah.
***
"Hiks… jadi kuning wajah aku," Rengernya untuk yang kesekian kalinya ketika Januar sedang membersihkannya dengan kapas. Berharap itu hilang tapi ternyata tidak karena sang istri memakainya lebih dari 30 menit. "Gimana dong?"
"Ya mau gimana lagi. Lagian kamu sendiri kenapa percaya sama semua yang internet bilang?"
"Kan aku mau glowing gitu. Masa iya aku gak cantik disaat si Indah itu makin cantik. Nanti kamu kepincut sama dia gimana?! Terus gue ditinggalin gitu? Situ udah dapet enaknya! Gue gak mau ya dibuang gitu aja cuma gara gara jelek."
"Orang yang udah punya istri gak menutup kemungkinan gak bakalan selingkuh tau."
"Ya terus? Kamu gak percaya sama aku? Kenapa aku harus selingkuh? Karena Indah lebih cantik? Nggak, kamu lebih cantik di mata aku." Begitu ucap Januar mencoba menenangkan pikiran liat Amber. Yang berhasil membuat perempuan itu tersenyum sendirian dalam pelukan sang suami.
Ketika pelukan terlepas, Januar merangkup pipi sang istri. "Sekarang tidur lagi ya. Ini masih malem."
"Ini wajah aku gimana?"
"Lama lama juga nanti hilang. Kalau sekarang dipaksa digosok nanti malah sakit. Nanti lecet terus merah. Udah biarin aja dulu. Lagian gak kentara kok warnanya, masih bisa ditutupin pake bedak nantinya."
"Gak mau. Mau hilangin ini dulu."
Ibu Dyah masuk ke kamar tidak lama kemudian dengan membawa baskom berisi kain bersih yang hangat. "Coba pakein ini mungkin nanti mendingan. Dikompres pake kain anget."
"Ibu tidur lagi, Bu," Ucap Januar pada sang Ibu. "Amber biar sama Januar aja."
"Lagian nduk, kalau mau apa apa itu bilang. Kan kamu punya suami."
Amber hanya diam dan menerima handuk itu untuk mengompres wajahya sendiri. Lagipula mana berani Amber meminta pada Januar untuk sekedar skincare yang mahal. Namun, saat pria itu bertanya, "kosmetik yang kayak gimana yang kamu mau? Coba liatin."
Amber mengambil ponsel dan melakukan pencarian sebelum akhirnya diperlihatkan pada sang suami. "Yang kayak gini. Tapi mahal banget. Satu item nya aja harganya 2 juta. Jadinya udah deh gak apa apa. Lagian kita kan miskin."
Sebelum Januar menjawab, Amber lebih dulu membaringkan tubuhnya. "Ayok tidur. Besok ini juga hilang kan?"
Januar menyusul sang istri dan memeluknya. Mengatakan, "kamu udah cantik kok."
Yang mana membuat Amber tersenyum miris. Lihat, ini tandanya pria itu emang tidak mau membelikannya barang barang mahal seperti itu. Mau bagaimana lagi selain menerima nasib bukan?
Begitu pagi hari datang, Januar masih tidur. Amber heran pada dirinya sendiri yang sekarang seolah memiliki alarm untuk bangun di pagi hari. Bahkan Amber tidak mau menatap pantulan dirinya sendiri di cermin karena terlalu kesal dengan keadaan.
Mendapati Ibu Dyah yang sudah bangun, Amber mencuci wajah dulu. "Kita mau bikin apa hari ini, Bu?"
"Ibu mau bikin sayur terong. Tapi terongnya kurang. Kamu ambilin ya di halaman belakang itu."
Mengangguk dan melangkah pergi ke sana. Begitu Amber memetik terong ungu, seseorang datang ke arahnya. Amber malah menoleh.
"Neng Ember, Mas Januar nya ada?"
"Ada, tapi masih tidur," Jawab Amber sambil menegakan tubuhnya dan menatap lawan bicaranya.
"Ya Allah! Neng? Neng kena penyakit kuning?!"
***