Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Menunggu saja



Keduanya sama-sama terdiam kaget, kemudian menatap satu sama lain. Wajah Amber benar-benar merah, dia malu karena melakukan langkah yang tidak tepat.


"Kamu barusan ngapain?" Apalagi pertanyaan Januar demikian.


"Nggak ada! Tadi gue kelepasan aja! Gue mau pulang sekarang!" teriaknya seperti itu kemudian melangkah pergi dari sana, jantungnya berdetak dengan kencang, sinkronisasi antara kekasaran dan juga rasa kagum.


Kesal karena Januar menanggapinya demikian, sementara Amber mengharapkan Respon yang lain.


8Ah gue udah gila! Arghh!" berteriak seperti itu membuat ibu Diah keluar.


"Kamu kenapa, Nduk?" dengan tatapan yang panik.


"Gue nggak papa dan jangan ganggu gue," ucapnya demikian dan melangkah masuk menuju kamar. Langsung menutup pintu hingga menimbulkan suara yang begitu keras.


Menggelengkan kepalanya, itu sebabnya Ibu Dyah tidak memasang pintu. Karena jika perasaan seseorang sedang tidak karuan, pasti pintu menjadi pelampiasannya.


"Nduk, Ibu mau berangkat dulu ya. Januar juga nggak akan jauh-jauh dari sekitaran sini. Nanti kamu panggil aja dia kalau ada apa-apa."


Tapi tidak mendapatkan tanggapan dari dalam. Di dalam kamar ember sedang tengkurap, dengan kaki yang menendang-nendang udara. "Kok bisa sih gue nyium itu petani yang bau asem! Mana mukanya nyebelin banget lagi! Gue nggak suka!" teriaknya seperti itu.


Apalagi saat itu hanya Amber yang menggerakkan bibir, Januar hanya diam.


"Gue udah gila gue udah gila! Tolongin anakmu ini, mama! Bawa Amber dari sini!"


Rasa kantuk datang, Amber tertidur dengan perlahan. Dia bermimpi kalau Januar datang dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, ditambah lagi pria itu mencium bibirnya berulang kali, rasanya begitu manis dan juga candu.


Dalam ketidaksadaran itu, Amber juga membalas ciuman Januar bahkan menggigit bibir pria itu hingga mengeluarkan sedikit darah. Mendesah tertahan ketika merasakan semuanya semakin panas.


Hingga tanpa sadar, Amber terus memajukan bibirnya. 


"Eh bangun Ini udah sore," ucap Januar mengguncang tubuh istrinya.


Loh kok lu nggak kerja?!"


Ini udah sore, lihat matahari udah mau tenggelam. Ibu aja bentar lagi mau pulang."


Sialan banget padahal yang sedang menikmati mimpinya. Tapi melihat bibir Januar yang terluka, Amber sedikit heran. "Itu kenapa bibir lu kena luka? Digigit sama siapa?"


"Sama monyet betina,"


"Emang disini ada monyet ya?" tanya Amber dengan mata yang membulat sempurna.


"Cepetan itu udah nungguin buat ngajarin kamu masak!"


Dapat bentakan seperti itu, Amber mengerucutkan bibir. Memang sudah terbiasa, tetapi tetap saja dia merasa tidak nyaman.


Mandi terlebih dahulu di kamar mandi yang lantainya menjijikan bagi Amber. Gigi berulang kali karena ini bukan barang impor, melainkan dari warung.


"Amber cepetan mandinya, itu Ibu udah nunggu."


"Jangan buru-buru ini istri kamu Januar. Kasihan dia masih mencoba beradaptasi."


"Mencoba apanya! cepetan keluar ibu mau masak?!


"Yang mau masak itu ibu atau elu sih?!" keluar dengan handuk yang melilit di tubuh.


Januari yang merasa kaget melihat penampilan Amber. Padahal sebelumnya pria itu sudah pernah memandikannya, tapi kenapa sekarang terasa panas?


"Kenapa cuma diam aja? Males gue sama lu," menabrakkan bahunya pada milik Januar, berharap pria itu Limbung.


Tapi ternyata.... "Aw!"


Tubuh Januar tidak bergerak sedikit saja, malah Amber yang merasakan sakit di bahu.


🌹🌹🌹


Ibu Diah menghela nafasnya dalam, anak dan menantunya seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Makan saja dengan diam-diam.


"Dihabisin lauknya, nanti kamu kelaparan lagi malam-malam."


Terpaksa mengunyah sambil sesekali menatap pada Januar. "Nggak ada lagi yang harus gue lakuin kan?"


"Gue mau tidur soalnya."


"Iya tidur aja, besok pagi masak lagi sama ibu ya."


Amber mengangguk. Toh apa yang dilakukannya hanya menonton bagaimana Ibu Dyah memasak. Meskipun dia tidak mendengarkan sama sekali, dan mengangguk-angguk saja.


Kembali ke kamar, ember mengambil ponsel yang tidak sempat dia mainkan. Ponsel jelek yang diberikan Januar padanya.


"Gila, ini bukan iPhone. Gimana bisa gue hidup sama ponsel kayak gini?" mengedarkan pandangannya. "Gimana juga gue bisa hidup di tempat yang kayak gini, ini lebih mirip sama kandang ayam."


Mendengar seseorang masuk, Amber tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Saya mau ronda dulu. Pulangnya paling nanti kalau tengah malam soalnya gantian sama yang lain."


"Pergi aja emang gue peduli?"


Januar menghela nafasnya dalam. Ingin sekali memarahi Amber, tapi ingat perkataan ibunya barusan. "Jangan bentak-bentak dia ya, ember juga lagi dalam proses penyesuaian. Mana Mungkin dia bisa langsung betah di dalam keadaan kita yang kayak gini."


Januar akhirnya pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


"Ini nggak ada wi-fi ya?"


Amber sibuk dengan ponselnya sendiri. Mendownload beberapa aplikasi sebelum membukanya. Aplikasi komik yang ingin dia baca, semakin menggeser semakin banyak adegan panas yang membuat Amber gerah sendiri.


"Sialan, Kenapa gue malah sangeeeee?"


Tanpa disadari oleh Amber, waktunya terus bergulir. Apalagi ketika dia membuka situs dewasa untuk bisa menuntaskan hasratnya.


"Anjir gede banget, punya si Januar gede juga nggak ya kayak gini? Iya,.Anjir gue juga pengen."


Belum pernah melakukan hubungan badan, tapi Amber beberapa kali melihat situs ini. Semuanya berasal dari ponsel sang mama yang ini membuatnya ketagihan.


"Pengen diginiin mama," gumam Amber saat dirinya ada di bawah selimut.


Volume dinaikkan sedikit, tubuhnya terasa panas dan mulai berkeringat. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Dulu dirinya selalu menuntaskan hasrat ini dengan mandi dan berendam. Kini apa yang harus dilakukannya? Yang terbayang dalam otak Amber adalah dirinya digagahi oleh Januar.


"Pengen digituin?"


"Pengen digimanain?"


Kaget dan sakit ketika membuka selimut yang menutupi tubuh. Ponsel juga tertindih, dan sikut Amber tidak sengaja menekan tombol volume hingga suaranya menjadi Pool.


"Ah ah ah! Aw aw! Huhuhu! Hiks hiks hiks!"


Menggema di seluruh ruangan, membuat Amber membulatkan mata, begitupun dengan Januar.


"Gue nggak ngapa-ngapain," ucapnya langsung mematikan ponsel tersebut dengan tangan yang bergetar.


Tanpa diduga, Januar menyeringai. "Yang murah itu, suaranya kayak kodok yang kejepit."


Kemudian tiba-tiba pria itu menindih tubuh Amber, dengan menahan tubuhnya menggunakan tumpuan tangan di kedua Sisi kepala Amber.


"Lu mau ngapain?" ucap Amber dengan gugup.


"Katanya mau digituin?"


Sialan! Pesona Januar terasa berbeda di sini, dia tidak terlihat seperti seorang petani. Apalagi dengan bajunya yang terbuka, memperlihatkan tato dan wajah yang begitu tampan. 


Ketika Januar mendekatkan wajahnya, Amber otomatis memejamkan mata. Tapi kenapa bibir itu tidak kunjung menciumnya?


"Nungguin ya?"


Bangsad!


🌹🌹🌹