
Kembali ke rumah, Amber lelah bukan main. Yang menjadi titik terlelahnya adalah ketika melewati jembatan rotan, dia takut mati dan melangkah perlahan.
"Nduk, kamu lama," Ucap Ibu Dyah kemudian melangkah melewati Amber. Dimana membuat perempuan itu memekik karena ke tidakseimbangan gara gara Ibu Dyah melangkah melewatinya. Jembatan menjadi goyang apalagi saat sosok tersebut melangkah menjauh yang mana membuat Amber berhenti melangkah. Kedua tangannya memegang dua tali jembatan kemudian menangis di sana. "Hiks… takut… . Hiks…"
Berbalik dan menatap sang menantu, Ibu Dyah menarik napasnya dalam. "Ya Tuhan, Nduk. Ayok cepetan. Mau ibu susulin lagi?"
"Enggak usah. Ibu diem di sana! Kalau ibu ke sini malah bikin jembatan makin oleg!"
Menunggu sang menantu cukup lama. Ibu Dyah hanya bisa menghela napas. Satu menit sama dengan satu langkah, Amber begitu berhati hati. "Kalau kamu lari juga gak bakalan bikin itu jembatan roboh kok. Ayok cepetan."
"Gak mau. Ibu berhenti nyuruh cepet cepet ya. Ibu gak tau gimana takutnya aku mati sebelum punya rumah gede sama Januar." Begitu ucap Amber yang akhirnya sampai di tepi jembatan. "Hah, lain kali bilang dulu mau kemana. Kalau ke tempat yang kayak gini lagi, gak mau ikut."
"Iya, Nduk. Ini nanti kita ke Januar dulu ya. Makan kue di sana bareng bareng. Mau?"
"Mau dong." Amber tidak sabaran melihat sang suami yang begitu gagah dan tampan di ladang. Dia masih tetap memakai maskernya karena kebodohan yang dilakukan semalam
Tanpa pulang dulu ke gubuk tua, Amber dan Ibu Dyah langsung pergi ke sebuah tempat berteduh yang terbuat dari rotan. Tempat itu biasanya dijadikan orang orang yang bekerja di ladang Januar untuk berteduh.
"Sini! Pada makan siang dulu sini!" Teriak Ibu Dyah yang berhasil membuat Amber kaget.
"Bu, kok panggil banyak orang sih? Kenapa gak Januar doang aja? Kan kita mau makan bertiga."
"Ini waktunya makan siang." Sampai Ibu Dyah sadar. "Aduh lupa, kenapa kita gak pulang dulu ya bawa makanan di rumah? Bentar ya, Ibu ke sana dulu."
Dan malah meninggalkan Amber di sana sendirian dengan bapak bapak dan ibu ibu yang hendak berteduh. Mereka berkeringat, kumal dan otomatis membuat Amber memundurkan tubuhnya ketakutan. Dia tidak mau muntah.
"Neng Amber ya? Jarang banget saya lihat."
Amber mundur dan duduk di pojokan. "Ibu bilang mau bawa makanannya dulu. Jadi tunggu aja di sini."
"Iya, Neng."
"Kalau Januar mana? Dia gak di sungai lagi kan?"
"Enggak, Neng. Tadi lagi di sana." Kemudian menunjuk ke arah barat daya. "Tuh, lagi ke sini pak juragan."
"Neng, kalau penyakit kuning bisa berobat alami ke Bibi saya. Kalau neng mau."
"Loh, neng Amber punya penyakit kuning?"
"Nggak ya, Pak. Ini gara gara masker." Amber tidak Terima dengan apa yang dikatakan orang orang itu. "Saya gak punya penyakit kuning."
Tidak lama setelah Amber mengatakan hal itu, Ibu Dyah datang dengan tangannya yang penuh dengan makanan. Sepertinya semua makanan di bawa ke sini.
Berakhir dengan mereka makan bersama. Dan Amber melihat bagaimana orang orang itu terlihat menikmati makanan yang hanya nasi dengan ikan asin dan sambal saja. Bagaimana mereka bercanda, sepertinya mereka menikmati kehidupan walaupun miskin.
"Makan," Ucap Juan yang duduk di samping Amber.
"Gak mau buka masker."
"Gak papa. Yang lainnya juga lagi sibuk makan. Nanti perut kamu sakit."
Lapar juga melihat bagaimana mereka makan dengan lahap. "Gak ada sendok kan?"
"Disuapin mau?"
"Jangan pake sambel."
Amber membuka maskernya, tapi dia mengubah posisi menjadi membelakangi orang orang di sana. Meskipun posisinya seperti itu, Amber masih bisa mendengar bagaimana candaan mereka yang membuatnya tertawa juga.
Ah, kebahagiaan mereka sangat sederhana. Mereka menghayal punya mobil, punya rumah besar tapi kenyataannya malah sedang dikejar kejar rentenir bank.
Melihat kondisi mereka yang seperti itu, membuat Amber lebih besyukur lagi dengan posisinya yang sekarang. Setidaknya dia masih hidup, dengan pria yang bertanggung jawab atas hidupnya meskipun penuh dengan keterbatasan.
"Jangan ketawa kalau lagi makan. Nanti keselek."
***
Amber pulang bersama dengan Januar. Pria itu menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hingga bisa ikut pulang sekarang.
Januar hendak mandi karena dirinya gerah. Yang langsung tercetus ide oleh Amber. Dia ingin ikut mandi bersama dengan sang suami. Apalagi mengingat pas di hotel juga melakukan hal yang sama.
"Bu, Amber mau mandi dulu ya."
"Lah, ada Januar di dalemnya."
"Gak papa, heheheh." Amber segera mengambil pakaiannya dan mengetuk pintu. Dengan brutal sambil mengatakan, "Gak kuat! Gak kuat mau mandi! Panas!"
Yang berakhir dengan Januar yang membukanya dengan helaan napas dalam. Sudah menduga kalau ini hanyalah modus. "Mau mandi bareng," Ucap Amber ujung ujungnya. "Yuk mandi bareng."
"Ini gak bisa sebebas kayak dihotel, Amber. Jangan kamu pikir kita bisa lakuin hal hal yang aneh di sini."
"Enggak kok. Cuma mau mandi doang."
Namun siapa yang tahan ketika Januar malah membelakangi nya sambil gosok gigi. Bahkan pria itu berkata, "kamu duluan yang mandi. Nanti gantian."
"Kenapa gak barengan aja?"
"Nggak. Kamu aja dulu."
"Lagian di sini gak ada siapa siapa cuma ada ibu doang. Kenapa jadi sembunyi sembunyi gitu?"
"Amber kamu gak sadar kalau kamu desah suka keras. Nanti ibu denger."
"Ibu juga bakalan sadar kok kita pasangan suami istri." Amber memeluk Januar dari belakang yang mana membuat pria itu merasakan bagaimana kenyalnya milik Amber. Sial sekali! Kenapa Amber selalu menggodanya untuk dia hentak dengan kuat? Tidak tahan, akhirnya Januar membalikan badannya dan mencium bibir Amber. Namun, dia tidak berbuat melakukan persetubuhan di kamar mandi. Januar memilih untuk memakai jarinya untuk memuaskan Amber. Dengan tangannya yang lain membekal mulut perempuan itu supaya tidak medessah dengan kuat dan terdengar sampai keluar.
Amber menyesal kalau seperti ini. Januar menutup mulutnya dan hampir menutup hidungnya juga. Dengan keadaan bagian bawahnya yang dimainkan dengan jari, Amber sangat perlu pasokan udara yang banyak tapi sesekali Januar malah menutup lubang hidungnya. "Hhhh… hahhhhh… capek…." Ketika dirinya mendapatkan pelepasan dan Januar melepaskan bekawan mulutnya. "Kamu kenapa sih?"
"Nanti kedengeran sampai luar. Sini dimandiin, abis itu keluar ya."
Karena Januar yakin dirinya memerlukan lebih dari satu ronde jika melakukan di sini. Jadi dia memandikan Amber dan menyuruh sang istri keluar lebih dulu.
Dengan begini Januar bisa mandi dengan tenang. Namun saat dia keluar dari kamar mandi, telinganya mendengar kalimat, "Menantu Ibu yang seenaknya bawa barang saya. Maling dia."
"Woy, saya nemu di tempat sampah ya. Makannya dibawa."
"Mana ada sih maling yang ngaku. Emang udah miskin, gak tau diri juga."
Januar segera keluar dari rumah dan melihat beberapa orang yang sedang menatap tajam pada Amber. Ada apa ini?
***