
Mendengar kabar itu, Amber bergegas kembali ke rumahnya. Amber berlari yang mana membuat pria yang memberitahukan berita itu jadi khawatir. "Neng jangan lari lari!"
Bruk!
"Tuhkan jatuh. Neng jangan lari!"
Namun bagaimana bisa dirinya tidak lari disaat Amber mendengar kabar kalau sang mertua dibawa ke rumah sakit. Dari kejauhan, Amber sudah melihat ada beberapa orang di sekitar rumahnya. Juga ada sebuah mobil mewah di sana.
Melihat Ibu Dyah dibopong masuk ke dalam mobil itu, Amber mengikuti dari belakang. "Mas, aku ikut ya."
Januari melihat sebentar. "Masuk aja."
Amber duduk di bangku depan bersama dengan sang supir sementara Januari berada di belakang memeluk Ibu Dyah. Posisinya yang tidak nyaman, membuat Amber tersadar. Kenapa bukan mobil ambulance yang menjemputnya? Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut. Apalagi Januar sedang terlihat panik
Ditambah lagi, keherangan Amber bertambah saat melihat supir yang membawanya itu memakai jas yang cukup rapi. Oke, seseorang yang seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh seseorang yang kaya saja. Bagaimana bisa?
Begitu sampai di rumah sakit, sudah ada dokter dan beberapa pekerjaan rumah sakit yang menunggu seolah mereka sudah mengetahui akan kedatangannya. Mereka lansung menangani Ibu Dyah dan meninggalkan Januar di luar ruangan bersama dengan Amber yang sama sama khawatir.
"Ibu bakalan baik baik aja." Hanya itu yang bisa Amber katakan pada sang suami. Mencoba untuk membuat Januar tenang kalau sang Ibu akan baik baik saja.
Januar mengusap wajahnya kasar dan duduk di koridor. Amber segera duduk di sampingnya dan mengusap punggung sang suami. "Mas?"
"Tadi ibu tiba tiba gak sadarkan diri. Darah keluar dari hidungnya." Membayangkannya saja sudah membuat Amber ngeri.
"Maaf aku gak ada di sana tadi. Aku keluar bentar."
Begini ya rasanya khawatir sebagai orang miskin. Amber sendiri sudah memikirkan kalau ibu mertuanya harus dirawat di sini, pasti akan menghabiskan uang yang banyak. Kasihan pada sang Ibu, juga pada Januar.
Begitu sang dokter keluar, Januar langsung berdiri dan berjalan ke arahnya. "Bagaimana?"
"Kondisinya drop lagi. Saya sarankan untuk dirawat berkelanjutan di sini. Tuan Januar, kalau kita membiarkan Ibu Dyah hanya bergantung pada obat dan tidak melakukan kontrol rutin. Itu sama saja dengan menunggu kematiannya."
Januar memejamkan matanya sejenak. "Pindahkan saja dulu dia ke ruangan. Dan kita bicara."
"Baik, Tuan."
Januar berbalik menatap sang istri. Memegang kedua bahu Amber dan berkata, "kamu temenin Ibu dulu ya. Mas mau ngomong sama dokter."
"Ibu mau dipindahkan ke ruangan mana?"
"Silahkan ikut saya, Nyonya," Ucap seorang perawat yang akan mengantarkan Amber.
Perempuan itu menatap sang suami dengan penuh kekhawatiran. Namun Januar segera meyakinkan dengan mengatakan, "Semuanya akan baik baik aja. Sana duluan. Nanti Mas susul."
Dengan begitu akhirnya Amber pergi ke ruangan tempat Ibu Dyah akan dirawat. Amber cukup terkejut dirinya di bawa ke ruangan VVIP. Dia tidak bodoh untuk mengetahui fasilitas yang berbeda ini. Bahkan keluarganya saja hanya sampai tingkat VIP, tidak dengan kamar yang memiliki tiga ruangan sekaligus seperti ini.
Kecurigaan Amber semakin bertambah. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Januar dan juga latar belakang yang sebenarnya. Dia bukan petani. Amber yakin itu.
"Jangan jangan dia itu agen rahasia yang lagi jalanin misi. Makannya harus nikah sama cewek macam gue." Amber membekap mulutnya sendiri tidak percaya.