Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
mengintip



"Januar kayaknya gak akan ke sini. Jadi kita yang anterin ke ladang. Kayaknya dia lagi sibuk."


Sebenarnya, Amber enggan melakukanya. Dengan cuaca yang panas seperti ini, ditambah lagi dirinya tidak mau mengeluarkan keringat dengan berjalan. Namun, dia ingin menjadi istri yang baik. Dirinya berharap Januar tidak melihat wanita yang lain. "Nggak kok, gue gak cinta sama dia. Tapi ya haruslah jadi istri yang baik mah," Ucapnya pada diri sendiri. 


Yang mana membuat Ibu Dyah yang tengah disibukan menyiapkan makan siang untuk sang anak itu bertanya, "kamu bilang apa, Nak?"


"Nanti Amber yang anterin ke sana. Sekarang mau dandan dulu." Meninggalkan dapur dan memilih untuk bersiap siap dengan parfume, pakaian yang lumayan cantik dan juga dandan. Tentu saja Januar harus melihat berapa cantik dirinya hingga pria itu bersyukur mendapatkannya. "Pokoknya tuh orang harus nyampe gak bisa kiceup pas liat gue." Begitu ungkapnya karena tidak mau menyerah. 


Sementara Ibu Dyah sudah merasa tidak enak hati karena Amber berlama lama di kamar. "Nduk, jangan dandan kayak yang ke kondangan ya. Kamu cuma mau ke ladang buat anterin makanan Januar."


Begitu Ibu Dyah selesai mengatakannya, baru Amber keluar. Oke, kali ini Ibu Dyah tidak berkomentar apapun karena Amber memakai pakaian yang masih terbilang normal. Hanya saja make up nya tampak seperti yang akan pergi kondangan. "Kamu pake make up yang bekas Ibu dulu?"


"Iyalah, Bu. Mana ada duit buat beli yang baru. Yang punya Ibu juga bagus sih. Cuma kok agak gatel ya?" Menggaruk wajahnya sendiri. Namun tidak terlalu mempedulikannya karena ingin bergegas menuju sang suami. "Ini ya makanannya? Amber berangkat dulu. Dah, Ibu."


Dengan wajahnya yang riang, Amber keluar rumah. Meskipun sesekali dia bersembunyi dari sinar matahari dengan berteduh di bawah pohon, tapi Amber tidak menyerah begitu saja. Pokoknya dia akan membuat sang suami jatuh cinta padanya, bersyukur memilikinya sampai benar benar takluk olehnya. "Aduh ini bedak merk Nenek Nemot kok bikin wajah gue gatel ya?" Melangkah sambil sesekali menggaruk wajah. 


"Cari siapa, Neng?"


"Januar dimana ya?"


"Itu di hutan itu? Ogah ke sana ah."


"Dalemnya gak gelap kok, Neng. Apalagi sungainya ada di sebelah sini. Coba aja dulu masuk. Atau kalau enggak, dititipin di sini makanannya. Saya gak akan makan kok."


Namun Amber memilih untuk melangkah menuju sang suami. Membuat pria tua yang tadi bicara dengan Amber itu berdecak kesal dan mengatakan, "sama sama. Untung aja cantik, istrinya Januar lagi. Kalau enggak udah gue patahin tuh lehernya. Gak sopan banget. Meskipun kerja sama Januar, tapikan tetap harus dihargai."


Dibicarakan seperti itu, membuat Amber memegang telinganya yang terasa berdengung. "Ini ada alien apa sih yang masuk? Berdengung mulu perasaan."


Ketika telinga Amber mendengar suara gemercik air, matanya langsung membulat dan berjalan cepat menuju ke tempat. Amber harus melalui semak semak dan juga pepohonan. Karena sungainya rendah dan posisi Amber ada di dataran yang lebih tinggi, dia bisa melihat dari atas. 


Soalnya, yang Amber lihat adalah Januar yang sedang telanjang dada dan terlihat membersihkan dirinya di sana. Meskipun memakai celana, tapi pria itu benar benar seksi apalagi saat sedang membasuh tubuh dan rambutnya. 


Amber bersembunyi di balik pohon besar. Tangannya bergetar dan segera mengarahkan kamera pasa Januar yang sedang mandi. "Gila, otot sama tatoo nya keren banget. Kalau dijual di situs, pasti video ini viral."


Sampai Amber menelan salivanya kasar melihat tubuh Januar yang diluar batas orang tampan di dunia. "Gilaaa," Ucap Amber