Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Kesal



"Nyebelin, lu tahu nggak kalau-- hmph!" kalimat itu terhenti ketika bibir Amber dibungkam oleh bibir Januar. Pria itu melum@tnya dengan penuh nafsu, dan mata yang berkilat seolah ingin memakan Amber saat itu juga.


Apalagi ketika kedua bahwa Amber ditahan, mulutnya dipaksa terbuka sehingga lidah itu bisa memporak-porandakan mulut bagian dalam Amber. Gigitan, lum@tan, dan sekarang sialnya tangan Januar mulai masuk ke dalam daster yang dikenakan oleh Amber. Di mana langsung memegang paha, kemudian berlanjut ke bagian atasnya.


Amber memukul dada Januar ketika mulai kehabisan nafas. Pria itu menjauhkan wajahnya tanpa menghentikan gerakan tangannya di bawah sana. Meremas dan mencubit milik Amber.


Dia pikir, perempuan ini akan mendorongnya dan marah. Tapi setelah mengambil nafas, Amber kembali menarik tengkuknya dan menyatukan bibir.


Sepertinya Januar mendapatkan lampu hijau untuk menggagahi perempuan ini.


"Ah....."


Berdesis ketika ciuman itu terlepas, dan dengan kurang ajar nya beralih pada leher yang menjadi korban.


"Januar...." ucapnya sambil memejamkan mata, tubuh yang melengkung ketika tangan kekar pria itu masuk ke dalam celana bagian dalam dan mengelus miliknya. 


Panas, tubuh Amber terasa panas dan juga menginginkan hal yang lebih. Berbeda ketika dirinya menonton, keinginan ini lebih menggebu-gebu.


Apalagi saat Januar kini melabuhkan gigitannya pada buah dada Amber. Hadirnya masih mengenakan daster, pria itu menggigitnya dari balik pakaian.


Tapi rangsangannya benar-benar luar biasa, menegang sekujur tubuh, ingin disentuh dan tidak sabaran.


"Ah...... Januar.....," ucapnya lagi ketika jemari pria itu dengan berani mengorek ke dalam sekitar bibir bagian bawahnya.


Namun kesenangan itu tidak berselang lama, karena gempa tiba-tiba melanda.


"Januar! Amber! Cepetan keluar! Ada gempa!" teriak Ibu Dyah dengan panik dan keluar lebih dulu.


Januar seketika menjauhkan tubuhnya dari Amber, menarik tangan perempuan itu dan membawanya keluar.


"Sebentar, cel@na dal@m gue melorot," ucapnya berhenti sesaat di depan pintu.


"Nanti aja dibenerinnya, ini belum berhenti gempanya."


Karena demi apapun guncangan itu begitu besar, bahkan membuat Amber kesal karena kegiatannya dihentikan. 


"Kenapa kalian lama banget?" tanya ibu Diah dengan takut-takut, dia memeluk Januar sambil menghela nafas dalam ketika gempa itu terhenti.


Amber menyipitkan matanya melihat adegan itu sambil membenarkan letak cel@na dal@mnya. Padahal kalau tidak ada teriakan itu, dirinya dan Januar bisa terus berlanjut. Tidak masalah ada guncangan. Bukankah lebih nikmat jika keduanya diam, dan diguncangkan oleh dunia?


Hingga tiba-tiba, Ibu Dyah kehilangan kesadarannya dalam pelukan Januar. Pria itu jelas kaget.


"Ibu?" wajahnya memperlihatkan ketakutan. Pria itu membawa Ibu Dyah ke dalam rumah dan memberikannya disana. "Ibu?" 


"Ibunya pingsan," ucap Amber yang sedari tadi mengikuti. "Nanti juga sadar sendiri kan?"


"Ambilin HP saya."


"Emang situ punya HP?"


"Di lemari baju, di rak ketiga. Ada di bawah pakaian. Cari di sana cepet."


Hingga akhirnya Amber menemukan sebuah ponsel jadul, dia segera memberikannya pada Januar.


"Ibunya nggak akan kenapa-napa kali, dia Cuma kaget doang karena gempa."


Tapi itu tidak membuat Januar berhenti untuk khawatir.


"Udah deh, nyokap lu pasti akan baik-baik saja. Biarin dulu dia istirahat."


"Halo dok? Ibu saya jatuh pingsan lagi. Bisa tolong datang ke sini? Saya tunggu," ucap Januar mengabaikan keberadaan Amber disana.


Tunggu, pria itu memanggil dokter untuk datang ke sini? Di luar jam kerjanya? Lebih lagi ini tengah malam?


Kenapa Januar seperti orang orang kaya yang selalu melakukan ini? Seperti dirinya dulu ketika bersama dengan kedua orangtuanya.


Tapi lagi-lagi, Amber diabaikan. Karena Januar fokus untuk menggenggam tangan sang ibu dan menciumnya berulang kali. Memperjelas bagaimana pria itu sangat menyayangi ibunya.


Sayangnya, Hal itu membuat Amber kesal dan juga iri.


🌹🌹🌹


Ternyata dokter itu benar-benar datang, memeriksa Keadaan ibu Dyah. Dia cuma kaget, kamu jangan khawatir karena besok Ibu Kamu akan sadar dan seperti biasa lagi."


"Terima kasih dok."


Kalau dilihat-lihat Amber yakin dokter ini bukanlah pria yang miskin, mobilnya saja Civic. Pasti dia dari kalangan orang kaya.


"Gimana lu bisa hubungin dokter seenaknya kayak gini?"


"Tidur, ini udah malam."


"Mau tidur bareng." Amber berucap dengan malu-malu.


"Jangan manja duluan aja, saya harus menjaga ibu."


Seketika apa yang ada di dalam bayangan nya runtuh. Padahal tadi Amber sudah mencoba untuk membuka hatinya dan meyakini kalau Januar adalah pria yang baik untuk dirinya Karena Dipilihkan oleh kedua orang tuanya.


Tapi sekarang, Amber kembali Ketus. "Sakit gitu aja padahal nggak papa, Lagian lu tungguin selama apapun kan kata dokter sadarnya besok!"


Melangkah pergi meninggalkan Januar yang mengalah nafas. Malam itu, Amber benar-benar tidur seorang diri. Dengan rasa kesal yang membuncah di dada.


Ketika Keesokan paginya bangun, Amber sudah mencium aroma masakan yang begitu enak" berjalan dengan lunglai keluar kamar, mendapati wanita paruh baya yang kemarin tadi malam merepotkan.


Ibu udah buatin makan buat kamu. Ibu nggak bangunin kamu soalnya Kamu pasti capek dan juga kaget karena semalam. 


"Udah nggak pingsan lagi?" tanya Amber dengan sinis.


"Maaf ya kalau ibu repotin. Ibu punya penyakit jantung yang kadang Emang nyusahin orang."


Tidak menanggapi dan memilih untuk duduk. Pandangannya mengedar mencari pria yang semalam mengacuhkannya.


Januar lagi pergi buat beli pupuk. Panen kali ini bakalan ada banyak orang Soalnya "Ibu Udah nggak mampu buat lakuin semuanya sendiri. Nanti ikut Ibu ke pasar ya."


Sudah pasar lagi! Amber benar-benar waktu dengan aroma itu.


"Nanti kita ke pasarnya naik motor kok."


"Emang bisa naik motor?"


"Ya enggaklah nanti kita ngojek aja."


Tanpa menunggu Ibu Dyah yang masih berkutat dengan pekerjaannya, Amber makan seorang diri. Tangannya tetap mengepal mengingat apa yang terjadi semalam.


Bahkan ketika di pasar Amber layaknya robot yang hanya diam dan bergerak kaku mengikuti kemana arah ibu Diah.


"Maaf ya ini agak lama bentar. Kamu mau jajan?"


"Gak punya duit."


Tanpa diduga, Ibu Dyah memberikan uang senilai 50 ribu rupiah. "Kalau mau jajan, jangan jauh jauh. Sekitaran sini aja."


Tapi kenyataannya, ketika Ibu Dyah sibuk dengan urusannya sendiri, Amber malah jalan jalan untuk menjernihkan pikiran karena semalam. Tanpa dia sadari, apa yang dilakukannya itu akan membawa petaka. 


"Gue benci sama Januar. Dia permainin gue apa gimana sih?" Mengusap air matanya kasar. 


🌹🌹🌹