
“Sebenarnya siapa Januar?” bergumam seorang diri. Karena Amber tidak tahan, maka dia akan menanyakannya malam ini.
Sayangnya, Januar bilang dia akan pulang ke rumah sebentar dan meminta Amber untuk menunggu Ibu Dyah di sini. amber ingin menolak, tapi sayangnya dia merasa kasihan. Wajah sang suami tampak panic. “Kamu kenapa sih?” tanya Amber mengulurkan tangan dan menyentuh pipi sang suami. “Apa yang kamu sembunyiin sebenernya?”
“Hmmm? Aku mau pulang buat mastiin para pekerja besok bisa kerja.”
“Kamu lebih peduliin para pekerja daripada Ibu kamu?”
“Cuma sebentar, abis itu aku ke sini lagi.”
“Ada yang mau aku bilang sama kamu, Mas.”
“Nanti ya.” Januar menarik Amber ke dalam dekapannya dan mencoba meminta pengertian lewat bahasa tubuh.
Amber menyandarkan pipinya pada dada sang suami. “Banyak yang ingin aku tanyain sama kamu.”
“Iya, semuanya akan terjawab nanti. Kalau aku udah beresin ini. kamu tunggu Ibu di sini ya.”
Karena tidak memiliki pilihan lain, akhirnya Amber menganggukan kepala dan membiarkan sang suami pergi dari ruangan itu. sementara Amber hanya diam duduk di sofa mencari celah untuk menjawab semua kejanggalan yang terjadi dengan suaminya.
Amber juga tidak bisa menunggu lebih lama, dia mengantuk apalagi sekarang sudah pukul setengah dua belas. Amber mengantuk, dia menguap berulang kali. Memutuskan untuk tidur, Amber malah mendengar suara ketukan pintu. Siapa? Perawat mau apa di jam seperti ini?
Namun ketika Amber membuka pintu, dia kaget bukan main ketika mengetahui kalau itu adalah Mamanya. Iya, itu Mamanya yang sudah tidak Amber lihat selama beberapa bulan. “Mama?” bibir Amber bergetar. Dan tanpa bisa ditahan, air matanya menetes begitu saja.
“Nanti Mama jelasin, sekarang ikut Mama dulu.”
Karena pikiran Amber buntu, dia membiarkan sang Mama membawanya begitu saja. keluar dari rumah sakit, sampai Amber baru sadar ketika dirinya ada di dalam mobil. “Ma, di dalam sana ada mertua aku lagi sakit. Suami aku juga, aku gak bisa ninggalin mereka.”
“Jangan. Mereka itu jahat, Amber,” ucap Mamanya memeluk sang anak dengan sangat erat. “Mereka itu jahat, mereka bawa kamu dari Mama. makannya, sekarang Mama datang buat bisa bawa kamu kembali.”
“Maksud Mama gimana?” amber melepaskan pelukan pada sang Mama. “Mereka Cuma orang miskin. Kalau aku tinggalin, mereka gak punya siapa siapa lagi.”
Antara terharu dan sedih, Mamanya mengusap pipi Amber dan mengatakan, “Kamu udah dewasa, kamu udah bisa tau mana yang baik dan enggak. Tapi, Mama ngomong yang sebenarnya. Tempat itu gak aman buat kamu. Mereka gak sebaik itu.”
“Tapi Amber gak bisa tinggalin mereka, Ma.” Menatap sang sopir. “Stop! Cepetan!” amber menarik rambut sang sopir hingga mobil hampir oleg dan direm dadakan.
Setelah mobil berhenti, Amber buru buru keluar dari dalam mobil. Sang Mama menarik napas dalam, dia menatap pada sang supir. “Yaudah, cara yang kedua cepetan. Saya ditunggu sama suami ini.”
“Baik, Bu.” Sopir mengejar Amber tanpa diketahui perempuan itu dan membekapnya hingga Amber kehilangan kesadaran. Dia langsung dibawa ke dalam mobil dan dibaringkan di samping majikannya.
“Haduh, bagus sekali mental anak ini jadi lebih baik. Tapi dia tidak akan aman kalau sama mereka terus. Apalagi Januar, Amber gak boleh kembali ke sana.”
***
Saat Amber membuka matanya, hal yang pertama dia lihat adalah langit langit dengan corak salju. Jelas Amber mengenalnya, ini adalah ornament yang harus ada di kamarnya. Ingat apa yang terjadi, Amber langsung bangkit.
“Papa?”
“Biar Papa jelasin apa yang terjadi sama kamu selama ini. ini, minum dulu.”
Entah kenapa, sekarang Amber menatap Mama dan Papanya dengan penuh kecurigaan.
“Minum, ini bukan apa apa kok. Cuma air biasa.” Mamanya mengingatkan. “Mau denger penjelasan Mama sama Papa gak? Sama siapa sebenarnya Januar?”
Amber lebih tertarik pada penjelasan itu dari pada harus minum. “Jadi gimana? Siapa Januar?”
Papanya menarik napas dalam. “Januar itu anak dari pesaing perusahaan Papa. dia udah naksir sama kamu sejak lama. Pernikahan kamu sama dia dengan dasar kami yang membuang, itu gak bener, Nak. Kami dipaksa memberikan kamu buat nikah sama dia dan dibawa pergi dari kami. Kalau enggak, Januar mengancam dia bakalan up semua borok perusahaan Papa. karena selain pengusaha, dia juga dicurigai jadi Bandar pengedar narkoba meskipun gak terungkap, tapi semua bukti ngarah ke dia. Gak ada yang berani sama dia, makannya kami terpaksa kasih kamu ke dia.”
Amber terdiam, kemudian tertawa sedetik kemudian. “Please deh, kalian ngarangnya gila banget.” Namun saat kedua orangtuanya diam, Amber berdehem dan menarik napasnya dalam.
“Kami gak bohong, dia emang gitu faktanya.”
“Kalau dia kaya, dia bakalan bawa aku ke gedung gedung yang tinggi, jadiin aku tawanan kaya di novel novel, bukannya malah di gubuk jelek.”
“Karena itu kelemahannya, Ibunya adalah kelemahannya. Katanya, Januar itu lahir dari seorang wanita di desa. Ibunya korban pemerkosaan ayahnya Januar, jadi begitu Januar lahir dia langsung dibawa. Cuma selama beberapa tahun terakhir ini, dia milih buat nemenin ibunya. Mereka bilang dia sakit sendirian dan nolak semua uang dari pria yang udah merkossa dia. Makannya Januar di sana, kerja sebagai petani demi ibunya.”
Amber masih tidak percaya.
“Mama bener bener gak bohong, Amber.”
“Terus sekarang kalian berani bawa aku? Kenapa? gimana kalau Januar ngejar ke sini?”
“Karena perusahaannya udah bangkrut, perusahaan Mama sama Papa juga udah bersih.” Memperlihatkan layar monitor. Di sana jelas tertulis berita tentang kebangkrutan sebuah perusahaan besar.
“Sekarang, dia bener bener jadi petani. Makannya kami berani. Meskipun dia masih mengedarkan narkoba, sekarang dia gak punya kekuatan atau ancaman buat ngusik kita.” Sang Papa mendekap Amber dan mengusap rambut anaknya. “Jadi, kamu aman sekarang.”
Terlalu tiba tiba, terlalu aneh. Amber tidak mempercayainya. Dia menggelengkan kepala kemudian berdiri. “Tolong keluar dulu, aku butuh waktu buat mencerna semua ini.”
“Amber…”
“Tolong, Ma.”
Sang Mama menutup mulutnya tidak percaya, mereka keluar dari sana dan menutup pintu. “Pah, Amber bilang tolong. Kamu percaya gak? Dia berubah sedrastis itu?”
“hmmm, bagus sih. tapi gak akan kita biarin dia menderita lagi. Walau bagaimanapun, dia anak kita satu satunya.”
***