
Ternyata, sosok itu datang karena kehilangan salah satu barang yang baru saja dia beli. Amber sendiri meyakini kalau botol toner yang dia pungut itu pasti terbuang secara tidak sengaja yang berakhir ada di tempat sampah dan dirinya yang memungutnya.
"Mana ada kayak gitu. Pasti kamu nyuri kan? Orang miskin emang gak tau malu."
"Saya minta maaf, Bu. Tapi saya yakin kalau menantu saya tidak akan pernah mencurinya. Dia pasti menemukannya di tempat sampah seperti yang dia katakan. Ibu pasti lupa menyimpannya hingga berakhir di sana."
"Mana ada sih maling yang ngaku."
Mata Amber memanas kesal. "Ya terus lu mau apa? Gue gak nyuri, itu juga udah gue balikin lagi. Terus maunya apa hah? Lagian itu botol belum gue buka." Amber mengeluarkan amarahnya.
"Kamu ngaku terus minta maaf yang bener. Bukannya marah marah gak jelas."
Januar yang kesal dengan orang orang di sana akhirnya menarik Ibu dan istrinya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu sementara dirinya yang keluar menghadapi orang orang ini. Januar mengatakan, "barangnya sudah dikembalikan, istri saya mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mencuri dan menemukannya."
"Situ emangnya liat kalau istri situ mungut? Bukan maling hah? Liat aja, kalau jam sampe besok pagi istri kamu gak dateng ke rumah saya buat ngaku dan minta maaf, saya bakalan datang ke sini sama polisi," Ucapnya kemudian menarik sang suami pergi dari sana
Januar sama sekali tidak takut, dia hanya menatap perempuan itu sambil terkekeh. Kenapa ada makhluk seperti itu di dunia? Membuatnya kesal dan mengepalkan tangan
Saat masuk ke dalam rumah, Ibu Dyah maupun Amber memperlihatkan wajah ketakutannya. Bagaimana jika mereka benar benar membawa polisi datang ke sini?
"Aku gak bawa itu, aku gak maling. Tapi aku lebih takut kalau kita bakalan dipenjarakan. Jadi, ayo ke rumahnya dan minta maaf." Amber menatap sang suami dengan mata yang berkaca kaca. "Maaf."
"Kamu gak salah. Gak usah minta maaf sama siapapun. Ayok kita istirahat aja."
"Januar," Panggil Ibu Dyah yang memiliki kekhawatiran yang sama. Dimana pria itu segera menatap sang ibu dan mengatakan, "Percaya sama Januar, Bu. Mereka gak akan berani bawa polisi kemari. Biarin aja. Amber gak salah, kenapa kita harus minta maaf. Mending Ibu istirahat ya. Jangan lupa minum obat juga."
Merangkul bahu sang istri dan membawanya pergi ke kamar. Karena Amber masih terdiam dengan wajahnya yang ketakutan, Januar yang bahkan memakaikan pakaian pada sosok itu. Matanya tidak lepas dari Amber yang terlihat ketakutan. "Jangan takut, mereka gak akan pernah berani lakuin hal itu. Kamu tenang aja."
"Gimana bisa aku tenang kalau terancam dilaporkan ke polisi. Kamu gak tau gimana berkuasanya uang di sini?"
"Tau. Makannya jangan khawatir. Semuanya baik baik aja. Lagian kamu kan gak nyuri. Aku gak akan biarin kamu terluka." Januar menarik tangan Amber untuk berbaring tidur siang bersamanya. Namun, bagaimana bisa Amber terlelap di saat kondisi pikirannya seperti ini.
"Aku gak maling. Aku bener bener nemu itu di tempat sampah."
"Ya makannya kamu gak perlu khawatir. Faktanya kamu emang gak pernah ambil itu."
Januar mengusap punggung sang istri sampai akhirnya Amber terlelap. Baru setelah itu, Januar memastikan kondisi ibunya. Melihat Ibu Dyah yang tidak tidur. Sosok itu melamun menatap ke kebun miliknya. Tau sang anak mendekat, Ibu Dyah berkata, "Kamu harus bawa Amber pergi dari sini. Anaknya udah sadar, dia juga udah berubah jadi lebih baik. Jadi, lebih baik kamu kembali."
"Nggak, Bu. Januar gak akan kemana mana." Ucapnya seperti itu. Dia menggenggam tangan sang Ibu. "Ibu udah minum obat? Kalau abis, nanti beli lagi ya. Jangan khawatir. Ini uang hasil Januar kok, bukan dari dia."
"Ibu minta maaf malah bikin hidup kamu susah kayak gini"
Sebelum air mata itu menetes, Januar menarik sang Ibu ke dalam dekapannya. Dia menggelengkan kepala. "Engak, Bu. Jangan bilang kayak gitu. Januar senang, bahagia kalau sama Ibu."
***
Ibu Dyah sendiri tau apa yang menjadi kekhawatiran dari sang anak. Dia mengatakan, "Jangan khawatir. Januar gak akan biarin kamu terluka. Kamu gak usah mikirin apa apa."
Namun nyatanya, itu berdampak pada jam tidur Amber yang terganggu. Dia tidak bisa memejamkan mata. Katanya, dia akan dilaporkan ke polisi kalau sampai besok pagi tidak datang dan meminta maaf.
Amber memang tidak bersalah, tapi dirinya yakin kalau orang kaya akan menang. Jadi, Amber berniat untuk pergi ke rumah itu diam diam dan meminta maaf tanpa sepengetahuan suami dan juga mertuanya. Namun untuk melakukan hal itu, sepertinya Amber harus menunggu mereka tidur dulu.
"Kenapa kamu gak tidur tidur? Stop mikirin hal itu, Amber. Gak akan ada yang berani lakuin itu sama kita."
Berapa kalipun Amber mendengar kalimat itu, dirinya tetap takut. Amber tidak bodoh, dia tau bagaimana kekuatan uang bisa mengubah segalanya. Uang bisa membuat seseorang yang tidak bersalah menjadi bersalah. Karena mereka punya kekuasaan.
Untuk mengelabui Januar, Amber memejamkan matanya pura pura tidur. Saat memejam, Amber berusaha untuk tidak terlelap. Akan susah kalau dirinya bangun terlambat.
Untungnya, semuanya aman. Jadi Amber bisa diam diam keluar dari rumah dengan membawa ponsel sebagai alat penerangan nya. Mengabaikan rasa takut, Amber lebih takut berada di dalam penjara. "Haduh. Mana jalannya kayak setan lagi. Serem banget," Ucap Amber saat melewati kebun kebun itu. Dia benar benar khawatir akan sesuatu yang mengerikan terjadi. "Gak boleh, Amber. Lu gak boleh stop di sini. Nanti lu bakalan di penjara dan laki lu juga bakalan susah."
Srekk! Namun ketika mendengar suara suara aneh, Amber jadi was was. Dia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Kenapa tidak ada siapapun padahal Amber mendengar suara langkah?
"Siapa di sana? Jangan nakut nakutin ya. Gue mau lewat doang," Ucapnya.
"Hihihihi."
Namun suara tawa itu berhasil membuat Amber ketakutan. Dia melangkah mundur dan terjatuh karena tersandung. "Aaaaa!" Langsung mencari ponselnya untuk menerangi. Sungguh, semuanya gelap. Amber merasa ada di dalam gua
"Mana hape gue? Hiks… ." Ketakutan setengah mati. Ketika Amber berhasil mengambil ponselnya, dia langsung mengarahkan senter ke depannya. Dia kaget bukan main melihat dia pria berbadan besar yang berdiri di sana. "Mau apa? Hiks… jangan sakiti saya."
"Hehehehe. Cewek cantik nih. Tapi kayaknya ada penyakitan ya? Kuning gitu mukanya. Gak papa lah. Kita sikat aja."
"Tunggu, Bro. Kayaknya dia bininya Januar." Salah satunya menghentikan ketika temannya hendak menyeret Amber.
"Jangan… tolong… ." Amber ketakutan. Kakinya juga kesakitan karena jatuh jadi tidak bisa lari.
"Haihhh sial banget kita. Yuk cabut lah." Melangkah pergi begitu saja meninggalkan Amber yang sedang menangis sendirian di sana.
Meskipun bingung, tapi rasa takut lebih mendominasi. Apalagi ketika Amber kembali mendengar suara langkah mendekat. Ketika dia mengarahkan cahaya pada sumber suara, Amber lebih kaget karena itu suaminya..
"Mau kemana?"
"Mas Januar," Ucapnya dengan air mata yang menetes dan tangan yang terlentang meminta pelukan.
Januar menarik napasnya dalam dan mendekat untuk memeluk Amber dan membawanya pergi dari sana. Dia akan memarahi sang istri, tapi tidak di sini.
***