Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Amarah menggebu



Amber memilih untuk ikut bersama dengan ibu mertuanya. Sebelumnya dia hanya cemberut melihat Januar yang memakai kaos juga celana pendek untuk pergi ke pasar. Yaiya sih, masa pakai kemeja. 


Melihat istrinya yang cemberut, Januar mendekat dan memberikan kecupan di kening secara tiba tiba. "Berangkat dulu ya. Kamu nurut sama Ibu dan jangan lakuin hal yang aneh aneh. Oke?"


Amber mengangguk, memangnya dia akan melakukan hal yang aneh apa? "Iya, nanti pulang jam berapa?"


"Hah? Makan siang juga pulang buat makan. Saya bukan kerja kantoran, Amber. Tenang aja, saya bisa pulang kapan aja."


Berdecak kesal. "Nantinya ke rumah si Indah gak?"


"Nggak mau ngapain? Ada perlu?"


"Lah itu kebun dia kan mau kamu olah kan. Gimana sih?"


"Ohh. Belum pasti, ini fokus dulu di ladang sendiri dulu mau gimana gimana nya."


Ketika mereka sedang berbicara di dalam kamar, Ibu Dyah memanggil. "Januar! Nih ada Mang Emon udah dateng!"


"Saya berangkat." Mengusap rambut Amber dengan penuh kasih sayang. Yang mana membuat Amber menahan senyumannya di wajah. Dia tidak tahan untuk terus tersenyum. Jadi dia berdehem karenanya dan menggelengkan kepala. "Sadar. Kok lu gitu banget sama Januar. Padahal dia bukan siapa siapa. Bisa bisanya lu pengen deketan terus sama dia."


Ibu Dyah masuk ke dalam kamar yang mana membuat Amber yang sebelumnya teesenyum sendiri jadi diam seketika. 


"Nduk ayok. Katanya mau ikut ke rumah Ibu Kadus."


Karena bosan di rumah, Amber akhirnya ikut. Tidak ada yang bisa dia lakukan di tempat ini. Tidak ada televisi, ponsel juga tidak memiliki hal yang menyenangkan di sini. 


Sialnya mereka berjalan menuju ke rumah Ibu Kadus. Membuat Amber mengeluh beberapa kali karena sinar matahari yang menyengat tubuhnya. Ketika sinar matahari datang, Amber akan bersembunyi di bawah pohon atau apapun itu untuk melindungi kulitnya. 


"Duh panas lagi!" Teriaknya dan berlari berteduh. 


Jika seperti ini, Ibu Dyah tidak akan sampai sampai karena dia ikut menunggu bersama dengan Amber di sana. "Nduk ayok. Ini udah gak panas kok."


"Mana ada gak panas. Itu masih ada."


"Jalan sini aja yuk. Ke sini panasnya gak terlalu banyak." Menunjuk jalan setapak yang biasa dilewati jalan kaki. Rindang oleh pohon pohon di sana. 


Amber cemberut. "Tapi nanti gosong."


"Nggak gosong, Nak. Kan ada pohon yang lindungin kulit kamu."


"Yaudah deh. Tapi pelan pelan." 


Amber tidak memiliki skincare lagi. Dia khawatir kalau nantinya dia jadi jelek dan Januar akan lari darinya. Dia mengintil di belakang Ibu Dyah hingga akhirnya sampai di salah satu rumah yang lumayan lebih baik dari tempatnya tinggal sekarang. 


"Ini kita ngapain ke sini?"


"Makannya kita datang ke sini buat nanya," Jawab Ibu Dyah mengetuk pintu. 


"Eh Ibu Dyah udah dateng. Sini masuk, Bu. Ini menantunya ya?"


"Iya. Kenalkan ini Amber. Amber, ini Ibu kadus kita, Nak. Salaman dulu."


Amber menyalaminya dengan senyuman yang dipaksakan. Dia ikut masuk ke dalam. "Gini, Bu. Saya mau minta tolong bersihin seluruh rumah ya khususnya gudang. Ada banyak sampah di sana. Tolong ya."


"Baik, Bu. Ini di sini rame rame ada apa ya?"


"Ini mau bikin kue kue. Tapi orangnya udah penuh. Tadinya mau cancel Ibu buat dateng ke sini, tapi udah tanggung. Jadi beresin rumah saya aja ya, Bu." Ucap wanita paruh baya tersebut. 


"Baik, Bu."


Ibu Dyah langsung menggenggam tangan Amber dan menggelengkan kepalanya. "Udah, jangan," Ucapnya memohon. "Maaf ya, Bu." Meminta maaf pada orang yang akan memberikannya gaji. 


Membawa Amber ke gudang kemudian mengatakan, "Udah bukan salah Ibu Kadus. Ibu kan dipanggil belum tau mau ngapain."


"Tapikan bersih bersih satu rumah itu gak masuk akal. Dia gak berakal emang."


***


Amber mencoba membantu Ibu Dyah dengan memilah barang barang yang ada di gudang untuk dipindahkan ke tempat sampah. Meskipun jijik, dia tetap melakukannya karena kasihan dengan tubuh renta sang mertua. 


"Anjir ini bekas apaan banyak banget debunya?" Kadang berbicara sendiri seperti itu. 


Yang mana membuat Ibu Dyah tertawa karenanya


"Bu, gue mau pipis."


"Ke atas sana. Minta maaf sama Ibu Kadus buat ikut ke toilet."


Amber menurut. Karena gudang ini ada di ruang bawah tanah, jadi dia harus melangkah keluar dari tempat tersebut. Menaiki tangga dan mencari kamar mandi. 


Saat hendak menuju dapur, Amber mendengar percakapan ibu ibu lain yang sedang membuat kue. 


"Iyaa istrinya Januar gak sopan banget ya. Dia ngomongnya kasar sama mertua sendiri. Mana songong lagi mukanya."


"Ditambah lagi dia itu katanya anak orang kaya yang dibuang ya? Duh kasian banget dengernya. Tapi keliatan sih sombongnya."


"Kalau Januar sama neng indah cocok lah. Dia sopan, manis, baik. Kirain ibu Dyah bakalan beruntung dapetin menantunya neng indah. Tapi ternyata malah zonk."


Amber mengepalkan tangannya kasar dan melangkah pergi dari sana. Tanpa mendengar kalimat selanjutnya dari ibu ibu tersebut. "Tapi kayaknya bener kalau gosip tentang Januar itu. Kalau enggak ya mana mungkin anak orang kaya mau sama Januar. Tapi, ya tetep ya itu laki laki malah jadi petani."


"Hush jangan ngegosipin dia. Kalau gosip tentang Januar itu beneran, nanti habis lu ditelan bumi." Salah satunya mengingatkan. 


Sementara Amber turun kembali. 


"Kok sebentar banget pipisnya?"


"Udah gak pengen. Udah aja." Begitu ucapnya dengan bibir yang tetap mengerucut. Duduk di salah satu kursi sambil bersedekap dada. 


"Amber kenapa, Nak?" Ibu Dyah sedang mengepel, tapi matanya tidak lepas dari sang menantu. 


"Amber gak akan ngomong kasar lagi. Mau belajar jadi istri yang baik." Yang paling tidak dia sukai adalah disandingkan dengan orang lain yang jelas jelas dia benci. "Amber bakalan jadi istri yang baik."


Ibu Dyah bingung, tapi dia bahagia mendengar Amber mengatakan hal tersebut. "Iya nanti ibu bantu ya kalau ada apa apa." Menegakan tubuhnya. "Ibu mau ke kamar mandi. Mau bareng?"


"Mau," Ucapnya dengan manja kemudian mengikuti Ibu Dyah dari belakang. 


Ibu ibu di sana banyak diam ketika Amber dan ibunya datang. Amber duluan yang masuk ke kamar mandi. Saat keluar, dia malah mendapati ibu mertuanya sedang mencuci piring. "Bu, katanya mau ke kamar mandi."


"Bentar, Nduk. Tanggung ini."


Dan yang lebih menyebalkan adalah saat salah satu ibu ibu di sana memberikan baskom kotor ke wastafel tempat ibu Dyah cuci piring sambil mengatakan, "Tanggung satu lagi ya, Bu."


Amber murka, dia mengambil baskom itu dan memberikannya lagi pada ibu ibu tadi. "Pegang!" Teriaknya. "Cuci sendiri! Kan semuanya udah punya tugas masing masing! Punya tangan sama kaki kan? Atau calon orang lumpuh? Terus aja nyuruh mertua gue?!"


"Amber udah, Nak."


***