
Setelah perempuan bernama Indah hendak pergi, barulah Amber merasa benar-benar lega. Tapi dia juga khawatir karena suaminya terlihat begitu perhatian pada perempuan itu.
Hujannya gede banget ya," ucap indah. "Mana ada Guntur lagi, Indah suka takut kalau misalnya ada kilat disertai Guntur."
Ya udah Kamu anterin aja, Januar," ucap Ibu Dyah, tidak berniat apapun karena ibu Dyah hanya merasa kasihan pada indah.
"Nggak papa Aa?"
Bukannya menjawab, Januar malah menatap Amber seolah bertanya apakah dirinya diizinkan atau tidak. Yang mana membuat perempuan itu menaikkan bahunya dan berkata, "Terserah kamu aja."
Amber berpikir sang suami akan peka dan meminta indah untuk pulang sendirian, tapi nyatanya pria itu malah menyatakan ketersediaannya mengantarkan indah.
"Jangan khawatir, teteh. Aa mah orangnya setia kok."
Dalam kalimat itu Amber menangkap tatapan yang seolah mengatakan, "tapi kalau ceweknya gue, gue nggak tahu dia tahan atau nggak."
Karena Amber juga mengakui kalau perempuan bernama Indah itu lumayan manis untuk seukuran gadis kampung. "Ya udah sana cepetan pergi, balik cepat juga."
Langsung melangkah menuju kamar untuk mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman, lalu tidur tidak memperdulikan suaminya. Tidak peka sekali! Amber tidak suka pria itu dekat-dekat dengan wanita lain meskipun dirinya belum benar-benar mencintai Januar!
"Si Teteh nya emang suka gitu ya? Marah-marah kayak gitu? Agak jutek juga?" dalam perjalanan itu indah bertanya.
Januar mengangguk sambil terkekeh pelan. "Iya itu yang bikin Aa jadi enggak bisa lepas dari dia."
Ketika Januar tersenyum dengan lebar seolah membayangkan Amber, hal itu malah membuat Indah tersenyum dengan miris.
"Makasih ya udah jagain ibu, Aa perlu ke dalam dulu nggak buat bicara sama mama kamu?"
"Nggak usaha, Aa. Kayaknya mereka udah tidur deh, lagian tadi Indah udah izin keluar lewat chatting."
Januar bergegas pulang setelah mengantarkan indah. Hujan semakin deras dan Guntur semakin keras. Dalam perjalanan, Januar melihat tukang bakso keliling. Dia membeli satu porsi terlebih dahulu sebelum pulang.
Begitu masuk ke dalam kamar, mendapati Amber yang sedang memainkan ponselnya dengan selimut yang menutupi sampai leher.
"Saya beli bakso buat kamu, ayo dimakan dulu."
"Amber menggelengkan kepalanya. Kan tadi udah makan, nggak mau."
"Tadi kamu makannya dikit banget." karena Januar sadar kalau sang istri sedang melakukan pencitraan hingga makanya hanya seporsi anak kucing. "Nanti lapar malam-malam, ini mumpung anget mending beli makan dulu."
"Dibilangin gue nggak mau." masih bersikukuh dan fokus pada ponselnya.
Sengaja Januar menyimpan bungkus bakso itu di meja rias kemudian meninggalkannya untuk ke kamar mandi.
Saat itulah aromanya semerbak, membuat Amber merasakan pusing dan juga air liur yang tertampung di dalam mulut. Dia tidak tahan, menatap ke sekitar dan diam-diam membuka bungkus bakso itu.
"Ayo makannya di luar aja, masih ada tahu yang tadi."
Kaget ketika mendapati Januar tiba-tiba ada di ambang pintu. Sebelum Amber mengatakan alasan, pria itu segera menarik tangan sang istri untuk pergi ke ruang makan. Menyajikan bakso itu ke dalam mangkuk dan memberikannya pada Amber.
"Punya lu mana?"
"Saya nggak beli, udah kenyang tadi."
"Masa gue makan sendirian."
"Ya kan saya temenin di sini." mengambil duduk di samping Amber, membuat perempuan itu berdehem. Akankah dirinya tahan dengan makan ditatap oleh Januar?
***
Apalagi ketika Januar tiba-tiba menyeka ujung bibirnya, "Makanya jangan belepotan lagian saya nggak akan ninggalin kamu juga."
Hal itu malah membuat kuah bakso yang ada di mulut Amber keluar karena mulutnya tiba-tiba terbuka, terpana karena wajah Januar yang begitu dekat.
"Kamu gimana sih? Makanya yang bener ini jadi basah di nih."
Mana kuah bakso sekarang sudah merembes masuk ke dalam baju Amber.
"Ya lu nya diam dong, gimana bisa gue makan kalau lu ada di sekitar gue?"
"Mau saya tinggal aja?"
"Ya jangan!"
Teriakan Amber itu bersamaan dengan Guntur, membuat perempuan itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali makan. Makan dengan cepat karena baju bagian atasnya basah.
"Gue gak mau cuci piring."
Tanpa berkata apapun Januar mengambil mangkok tersebut dan mencucinya. "Gue mau ganti baju dulu, ini basah."
Kemudian bergegas pergi ke kamar. Sayangnya sebelum Amber selesai berpakaian, pintu kamar lebih dulu terbuka.
Ih kan gue udah bilang mau ganti baju."
"Lagian Saya pernah lihat, emangnya apa yang mau kamu sembunyiin lagi?"
Pipi Amber berhasil memerah karena kalimat itu. Apalagi ketika Januar tiba-tiba mendekat! Sungguh dirinya hanya sedang memakai br@ dengan celana pendek saja.
"Nggak mau di bersihin dulu ini bekas kuah baksonya?" Tangannya tiba-tiba terulur menyentuh belahan d@daa Amber.
Perempuan itu memejamkan matanya, namun dirinya tidak kunjung mendapatkan sentuhan ataupun r€m@san. Ketika membuka matanya, Amber mendapati Januar yang mengambil daun bawang dari sana.
"Kena kuah bakso jadinya d@daa kamu rasa bawang."
Amber terlanjur kesal, semua caci-maki nya sudah terkumpul di tenggorokan. Namun ketika dirinya hendak mengutarakannya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh bibir Januar.
"Hmph....." dengan beringas Januar m€lum@t bibir Amber seolah tidak ada hari esok. Bahkan kini tangannya dengan berani m€rem@s dengan kuat. Dengan kurang ajar nya pula, Januar melepas br@ hingga Amber benar-benar polos bagian atasnya.
Diberi waktu untuk mengambil nafas 1 detik sebelum akhirnya kembali dicium, tubuhnya diangkat dan diturunkan di atas ranjang.
Bagian atas tubuh mereka saling bersentuhan, rasanya geli ketika Amber merasakan Ujung d@daanya bersentuhan dengan d@daa bidang Januar yang masih dibalut di kaos.
Pria itu begitu handal dalam permainan ini membuat Amber kewalahan. Apalagi ketika tangannya mulai masuk ke dalam dan menyentuh milik Amber.
Hingga tiba-tiba Januar menghentikan aktivitasnya, dengan tangan yang bersemayam pada milik Amber, d@daa mereka yang bersentuhan dan 1 tangan Januar yang lain mengelus Puncak kepala Amber dengan penuh kelembutan.
"Kenapa?" tanya Amber dengan suaranya yang parah, dia sudah tidak tahan.
Pria itu mengecup bibir Amber dengan penuh kelembutan sebelum akhirnya bertanya. "Boleh enggak saya rusak Kamu malam ini?"
Menjatuhkan wajahnya di ceruk leher jenjang milik Amber, Januar berbisik dengan suara yang begitu berat. "Saya pengen kamu mendesah malam ini, Saya pengen kamu nangis karena nikmat, Saya pengen hamilin kamu."
Dan itu membuat libid0 Amber naik, apalagi ketika tangan Januar yang ada di bawah bergerak dengan sensu@l. Bagaimana bisa dirinya menolak?
***