Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Persiapan



"Kamu ngapain?" Tanya Januar lagi yang mana membuat Amber hanya menahan senyumannya. 


Perempuan itu menggelengkan kepala dan berucap, "Nggak kenapa napa, orang gue cuma mau gosok gigi dan lain lain kok." Begitu ucapnya sambil menaikan bahu dan kembali fokus pada dirinya sendiri 


Januar berdehem, dia juga mencoba untuk fokus. Menggelengkan kepalanya heran melihat tingkat Amber yang demikian. 


Januar pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Amber lebih dulu. Mendapati sang Ibu yang masih membersihkan dapur. 


"Besok aja lagi, Bu. Istirahat sekarang mah."


"Tanggung. Biar besok ibu gak ngerasa capek."


"Besok dibantuin sama Januar. Udah sana Ibu tidur." Memaksa sang Ibu untuk masuk kembali ke kamarnya dan istirahat. 


Begitupula dengan Januar yang sudah siap untuk tidur, dengan tanpa memakai baju. 


Ketika pintu kamar terbuka, Januar menoleh dan melihat Amber yang sedang berdiri di sana dengan senyuman yang masih sama. Januar heran, ada apa dengan istrinya? 


"Kamu kenapa?"


"Gue gak papa kok." Masih dengan nadanya yang sombong. Amber menutup pintu dan berbaring di sisi lain ranjang. 


Malam kemarin dirinya dijadikan bahan tusukan oleh Januar, mendessah dengan kuat dan berkeringat bersama dengan terasa sangat menyenangkan. 


Namun sekarang, Januar terlihat tidak peduli dengannya. Hanya bisa menatapnya heran kemudian memejamkan mata tanpa adanya sentuhan sama sekali. 


Amber tidak suka ini, dia mulai berfikiran negatif. Apakah Januar sudah bosan padanya karena sudah mendapatkan apa yang dirinya inginkan? 


Dan sialnya, pria itu sepertinya sudah mulai tidur dengan posisi tubuh membelakangi nya. Amber benar benar sedih karenanya. 


"Gue gak butuh lu!" Teriaknya dalam hati dan membalikan badan membelakangi Januar dan mulai menahan isakan sedihnya. 


Sampai akhirnya Januar tiba tiba menariknya hingga mereka berdua saling berhadapan, dan membawanya ke dalam dekapan. "Tidur, Amber. Saya gak mau kamu kecapean. Saya juga sebenarnya nahan nafsu kalau misalnya peluk kamu kayak gini. Tapi nyatanya susah banget, jadinya lebih baik gini aja."


Amber langsung terdiam menahan senyumannya hingga lubang hidungnya membesar dan mengembang saking senangnya. 


"Tidur, punya kamu masih sakit kan?"


Akhirnya malam itu Amber bisa tidur dengan nyenyak dikarenakan pelukan hangat yang diterima nya dari Januar. 


Dan beruntungnya Amber bisa mengamati seperti ini sampai akhirnya dia sadar kalau jam masih memperlihatkan masih pagi. Harusnya ada sesuatu yang dia lakukan supaya membuat Januar terkesan dan kembali jatuh bertekuk lutut dengannya kan? 


Jadi diam diam Amber keluar dari kamar setelah memberikan kecupan pada pipi Januar. Dia akan membuat pria itu terpesona dengan kemampuan kemampuannya yang lain. 


Dan melihat dapur yang masih dingin, ibu mertuanya belum bangun dan memulai aktivitasnya. 


Jadi sebagai menantu yang miskin, Amber memilih membangunkan sang mertua dulu supaya dia tau apa yang harus dia lakukan dan juga urutan tata cara membuat Januar bangga padanya. Dia enggan kalah dengan Indah. 


"Bu. Bu, bangun," Ucapnya menggoyangkan tubuh tersebut. "Ibu bangun, ayo kita mulai eksekusi di dapur harus gimana aja?" Tanya Amber lagi. 


Akhirnya Ibu Dyah bangun. "Kenapa Nduk?"


"Mau belajar masak sama buat seneng Januar di hal lainnya. Gimana caranya? Harus ngapain dulu?"


Ibu Dyah terkekeh dan akhirnya bangun duduk. "Oke yok, ibu bantuan kamu harus mulai dari mana dulu." Ibu Dyah memakai ciputnya sebelum ke dapur dan memulai aktivitas dengan Amber. 


"Kita angetin dulu makanan yang ini ya. Biar bisa dimakan juga hari ini. Cara nyalain tungku apinya kayak gini."


Amber melihat dengan seksama bagaimana cara menyalakan api dengan korek lalu membakar pada kayu dan dimasukan ke tungku api. 


"Nanti kamu belajar ini ya."


Amber mengangguk. "Mau bikin kopi aja buat Januar, supaya dia bangga gitu."


"Boleh. Coba ambil kopinya di sana. Sedih pake gelas itu."


Amber menurut. Setelah membuatnya, Ibu Dyah meminta Amber membangunkan Januar supaya segera meminumnya. 


Amber pun melakukannya, dia mengguncang tubuh Januar dan mengatakan, "Kopinya udah siap. Bangun cepetan lu nanti kesiangan buat kerja di ladang." Kemudian kembali lagi ke dapur untuk menghilangkan perasaan salah tingkahnya. 


Januar yang masih setengah sadar pergi ke dapur dan melihat keributan apa yang sedang dilakukan oleh Ibu dan istrinya. Kemudian menoleh pada jam, "kalian kenapa sih? Ini masih jam 1 malem."


Amber seketika terdiam. What the… .. Jam berapa ini? 


***


l