
Amber masih mengeluh lapar, bagaimana bisa Januar membiarkannya. Jadi, pria itu mengambil beberapa sayuran dari kebun dan memasaknya menjadi sup. Dan apa yang dilakukan Januar itu tidak luput dari perhatian Amber yang menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut. Matanya tidak bisa berpaling dari sang suami yang begitu cekatan.
“Selain jadi petani, lu juga pernah ya kerja sebagai koki.”
“Dulu saya buka warung sama Ibu.”
“Whoaaa gila. Bener bener miskin ya lu. Gue pikir lu dulunya pernah kaya,” ucap Amber memberitahukan apa yang ada di dalam pikirannya. “Terus? Kenapa tubuh lu ada tattoo nya? Emang itu gak mahal? Harusnya itu buat hidup sehari sehari lu aja.”
Januar tidak menjawabnya, membuat Amber berdecak kesal. “Btw gue mau kuliah lagi.”
“Saya gak punya duit. Kalau mau kuliah, nyari uang sendiri.”
“Heh, lu kan suami gue. Masa lu gak bisa memenuhi apa yang gue minta. Gue juga mau skincare, gue mau iphone, gue mau baju baru, gue juga mau ke salon buat nata rambut gue.” Amber terus menyebutkan apa yang dirinya inginkan.
Sampai Januar selesai memasak dan menyimpan semangkuk sup di atas meja dengan sedikit menyimpannya kasar hingga menimbulkan suara. “Saya gak punya duit buat penuhi semua keinginan kamu. Makan.”
“Terus? Lu gimana bisa hidupin gue? Gue Cuma bisa diem aja gitu di sini? nunggu lu pulang kerja atau gimana hah?!”
“Makan,” ucap Januar dengan nada yang datar.
Meliik sup di meja, karena tidak tahan akhirnya Amber memakannya. Rasanya tidak buruk, hangat dan juga enak. Tentang lukanya, sekarang sudah dibalut oleh perban, jadi tidak terasa pedih lagi. Luka sayatan itu ada dimana mana. "Mau kemana?" Tanya Amber saat Januar hendak melangkah pergi.
"Tidur."
"Gak boleh tidur. Tungguin gue dulu di sini."
"Kenapa harus saya tungguin?"
"Kan gue gak bisa jalan. Nanti gimana kalau gue gak ada siapa siapa waktu mau ke kamar lagi. Pokoknya tungguin gue di sini!"
Januar akhirnya duduk di bangku yang bersebrangan dengan Amber. "Makan wortelnya atau saya gak akan ngasih kamu makan lagi."
Mendengus kesal. Meskipun tidak suka, Amber memang akan memakannya karena rasa lapar masih mendominasi dirinya. "Lu itu lumayan ganteng, gak kepikiran mau jadi model atau kerja lain gitu? Yang lebih menjanjikan duitnya daripada petani."
"Nggak." Sebuah jawaban yang singkat.
"Hape aja lu gak punya. Sayang banget itu wajah. Kenapa gak kerja yang lain? Lu juga punya banyak tatto. Kenapa?"
"Berisik," ucap Januar tidak suka. "Mau saya tinggal?"
"Kenapa lu maen ngancem sekarang hah?!"
Melihat Amber selesai makan, Januar mendekati perempuan itu dan langsung menggendongnya. Membuat Amber kaget. "Turunin gue!"
Januar menurutinya.
"Aw! Kaki gue gak sakit gak bisa dipake jalan!" Teriaknya sambil menatap pada kaki yang dibalut perban.
"Katanya tadi minta diturunin."
"Gendong gue lagi!"
Yang mana membuat Januar melakukannya hingga Amber bersentuhan dengan tubuh atletis tersebut. "Lu kenapa gak pake baju sih?"
Tidak menjawab, menidurkan Amber di sana sebelum akhirnya bergabung di samping sang istri. "Tidur, besok kamu harus mulai kerja."
"Hah? Maksud lu? Gue kerja? Kerja apa?" Bertanya dengan begitu panik.
Diabaikan oleh Januar yang berbaring membelakangi.
"Eoy! Gue nanya kerja apa?"
"Tidur!"
Kenapa Amber jadi takut sekarang?
🌹🌹🌹
Oh itu suara Januar. Amber membuka maniknya perlahan dan menatap sosok yang ada di dekatnya. "Wow, tampan banget, Anjir," ucapnya sambil terkekeh. Matanya mengedip ngedip. "Lu lebih ganteng dari mantan gue. Coba kalau lu kaya, gue bakalan sayang banget sama lu."
Bahkan kini Amber memajukan bibirnya ingin mencium pria tampan itu. "Sini, cium gue dulu, Pak Tani."
Ibu Dyah masuk tanpa mengetuk dan, "Aduhhh maaf!" Teriaknya panik. "Nanti Ibu pasangin pintu deh sama Mang Rohmat!"
Teriakan itu mampu membuat Amber terdiam, mengadahkan kepala dan… "Huaaa! Lu ngapain peluk peluk gue?!"
"Kamu yang meluk saya semalaman ya," ucap Januar melangkah keluar kamar dengan membawa handuk di bahu.
Amber diam, mengingat tadi malam dia bermimpi menemukan pangeran tampan yang sedang tidur. "Sial! Masa itu si Janu! Ihhh jijik!"
"Nduk! Sini sarapan, Nak. Kamu semalam makan sop doang kan? Gak makan nasi?"
"Gue gak bisa jalan!" Teriaknya.
Saat Ibu Dyah masuk, barulah Amber mengadu pada mertuany itu kalau semalam dia kelaparan dan terjatuh. "Tuh liat luka lukanya!"
"Iya, Nduk. Ibu tau. Makannya kalau nanti Ibu suruh makan, ya makan."
"Ya mana mau gue kalau makan sama makanan yang jijik kayak gitu." Melotot pada nasi yang di bawakan oleh Ibu Dyah. "Gak mau! Gak suka sama itu!"
"Coba dulu, ini enak banget kok. Nasinya bagus, cuma warnanya aja yang kayak gitu."
"Gak mau! Beliin nasi lain!"
"Udah gak usah disuruh makan, Bu. Biarin aja dia kelaparan," ucap Januar yang baru selesai mandi dengan handuk melilit di pinggang.
"Makan ya, Nduk. Ibu tinggal kamu dulu, Ibu mau ke rumah Pak RT lagi. Nanti kalau masih lapar, goreng telur aja ya." Kemudian berpesan pada sang anak, "Kamu jangan keterlaluan sama istri kamu. Jangan lupa kasih uang jajan buat Amber."
Meninggalkan pasangan itu di sana. Amber mengerucutkan bibirnya. "Lu itu suami gue kan? Harusnya lu itu kasih apa yang gue mau, manjain gue dan kasih gue segalanya."
Melirik sekilas dan fokus memakai baju. Sial! Seksi sekali.
"Kamu harus kerja kalau mau uang."
"Tapi lu suami gue. Harusnya lu kasih gue duit dong."
"Saya lagi gak punya uang sekarang," ucap Januar menatap Amber yang terus menatap tajam pada makanan di nampan. "Makan."
"Emangnya gue mau kerja apa? Liat gue masih terluka kayak gini," ucap Amber dengan kesal.
"Bawain saya bekal ke ladang, siapin baju saya. Layanin saya, baru nanti saya kasih uang buat kamu."
"Katanya lu gak punya duit? Gimana sih?!"
"Ya biar uang saya gak hilang sia sia," ucap Januar segera membuka gorden kamar ketika mendengar suara seseorang datang. "Eh, Mang Rohmat?"
"Mana yang mau dipasang pintu?"
"Yang ini, Mang." Mempersilahkan masuk dan melihat kamar.
"Eh, ini suami kamu, Jan?"
"Iya, Mang."
"Neng Ember ya?" Tanya sosok tua itu dengan mata yang exited. "Aneh banget ya nama orang orang kota. Untung cantik dikasih nama Ember juga."
🌹🌹🌹