
"Udah pulang dia?" Tanya Amber setelah mandi. Yang langsung diangguki oleh Ibu Dyah. Memang Indah langsung pulang tidak lama setelah Amber meninggalkannya.
"Ibu kalau mau masak, tungguin aku ya. Mau pake baju dulu," Ucapnya demikian dan melangkah pergi ke kamar. Harusnya Amber mandi nanti saja, tapi dia ingin tampil cantik saat Januar pulang.
Melihat make up yang dimilikinya, Amber tersenyum miris. Di sana hanya ada beberapa merk yang bahkan tidak terkenal. Memastikan lagi wajahnya yang terbiasa melakukan perawatan tiap tiga hari sekali, sekarang terlihat agak kusam. "Ck. Gini rasanya jadi orang miskin. Bullshit banget ada yang bilang uang bukan segalanya. Dengan uang, kita bisa beli segalanya termasuk harga diri orang."
Takut jika nanti wajahnya jadi jelek dan Januar tidak suka padanya lagi. Yakin sekali Amber itu kalau Januar suka padanya hanya karena wajahnya yang cantik. Jika dia jadi aneh, maka Amber pasti akan ditinggalkan dan pria itu memilih Indah. Biasanya pria seperi itu.
"Nduk, cepetan kalau mau masak. Ibu nunggu kamu nih."
"Bentar." Amber melakukan pencarian dulu tentang masker dari bahan bahan herbal yang ada di sini. Timun? Hmmm, boleh dicoba.
"Nduk?"
"Bentar ya ampun, Bu." Amber segera menutup ponsel setelah membaca ke bagian bawah tanpa membuka link tersebut. Tapi dia ingat apa saja yang akan dirinya pakai untuk masker.
"Nanti Januar keburu pulang. Harus masak cepet cepet. Kamu mau dimasakin apa?"
"Biasanya juga rumput kan? Yang itu." Menunjuk daun kangkung yang mana membuat Ibu Dyah terkekeh. "Ditumis aja rumputnya, Bu. Sama bikin gorengan sama aneka sayuran."
"Bala bala?"
"Itu kali."
Karena Amber bertugas memotong sayuran, jadi dia harus bergegas. Kalau Ibu Dyah yang melakukannya, pasti dijamin menantunya itu akan marah marah. Meskipun potongannya besar besar dan tidak sesuai, Ibu Dyah memaklumi nya. Dia selalu memotongnya lagi saat Amber tidak sadar supaya tidak tersinggung. Karena setelah selesai memotong motong, Amber akan fokus menatap ponselbya. "Bu, gak punya parfume? Aku takut nanti bau badan kalau lama lama jadi rakyat jelata."
"Parfume? Gak ada sih. Ibu jarang pake. Kan pakaiannya dipakein pewangi, Nduk."
"Pewangi nya juga satu sachet buat baju tiga orang, mana kerasa."
"Lagian kamu mah nggak bau kok."
"Tetep aja khawatir." Bahkan sekarang fokus Amber hanya pada ponselnya. Dia mencoba mencari skincare yang bagus tapi dengan harga miring. Sayangnya, Amber tidak mendapatkannya sama sekali. Tidak ada skincare dengan kualitas yang begitu bagus, tapi harganya murah.
"Nduk kalau udah, kamu langsung siapin aja tempat makannya sana."
"Ibu mau kemana?"
"Mau beli garam. Udah abis."
"Ke warung?"
"Iya. Mau ikut?"
Tadinya sih Amber mau ikut untuk memastikan tidak ada yang mengganggu Ibu mertuanya. Tapi, Amber ingin mempersiapkan diri dengan kedatangan Januar. Karena, dia tidak mau Januar berpaling. Jadi Amber mengumpulkan beberapa bahan yang dia baca di internet untuk dijadikan masker. Alat penumbuk nya juga menggunakan tempat untuk membuat sambel. Tentu saja dengan dialasi oleh plastik. Amber membawanya ke dalam kamar, persiapan untuk nanti. Dia akan melakukannya tengah malam, karena tidak ingin siapapun melihatnya termasuk Januar sendiri.
***
"Ibu kemana?"
Kaget bukan main ketika Januar tiba tiba membuka pintu. Menoleh ke belakang dan mendapati keberadaan Januar di sana yang sudah tidak memakai atasan. Pria itu menatap balik pada sang istri. "Kenapa liatin aku kayak gitu? Ada apa?" Tanya Januar sambil menyimpan cangkul di belakang pintu.
"Gak papa." Amber tersenyum, Diam-diam dia mengagumi tubuh sang suami yang begitu seksi. Pria itu datang ke arahnya. Yang mana membuat Amber bersiap siap dengan memajukan bibir karena pikirnya akan dicium. Namun kenyataannya, Januar malah mengambil kaleng yang ada di tempat bumbu dan memasukan uang ke sana.
Amber berdecak. "Kirain mau di ci– Hmmphh!" Untungnya Januar benar benar melakukannya.
Rasanya aneh, rasa timun. Tapi Amber suka. "Ekhem!" Berdehem sendiri setelah mendapatkan kejutan ciuman tersebut. "Ngomong ngomong itu buang buat apa? Kenapa nggak dipake?"
"Ini buat Ibu berobat kalau sewaktu waktu butuh."
"Oh." Amber tau kalau mertuanya memiliki penyakit yang cukup serius. Tapi dia tidak tau separah apa itu. "Kenapa gak dibawa rawat jalan aja sejak sekarang? Itu kebun banyak kan? Kenapa gak dijual sebagian biar Ibu sembuh?"
"Ibu gak mau habisin sisa hidupnya di rumah sakit. Dia mau menikmati di sini."
"Emang Ibu bentar lagi mau mati?"
Belum sempat Januar menjawab, Ibu Dyah lebih dulu datang. Suara langkahnya terdengar hingga membuat Januar menjauh dari Amber, takut salah paham. Tapi ternyata Ibu Dyah sudah melihatnya. "Aduh, masih pengantin baru emang gak bisa ditinggal berdua ya."
Januar menarik napasnya dalam. "Bu, kalau mau beli apa apa bilang sama aku. Nanti dibeliin. Gak usah keluar."
"Ibu cuma keluar sebentar lagian. Kenapa kamu panik kayak gitu?"
Bagaimana tidak panik ketika Ibu Dyah terbatuk batuk seperti sekarang. "Mandi dulu sana," Ucap Amber menghentikan ketegangan diantara mereka.
Januar segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Amber mendekati sang mertua. "Bu, kan kebun banyak tuh. Kenapa Ibu gak mau jual? Kan buat Ibu juga biar sembuh."
Ibu Dyah hanya tersenyum. "Ibu tau, kalau misalnya ke rumah sakit, Ibu pasti bakalan berada di sana dalam waktu yang lama."
"Berarti bener ya? Ibu bentar lagi mati?"
Ibu Dyah terkekeh. "Nanti kalau Ibu meninggal, kamu yang urus kebun di sini ya. Jangan dijual. Ini satu satunya harta yang Ibu punya, peninggalan dari orang tua."
"Ibu padahal bakalan bisa renovasi rumah kalau jual salah satu kebun loh." Masih mencoba membujuk. Karena bagaimanapun, Amber mengharapkan dirinya bisa mendapatkan yang setidaknya satu juga untuk melakukan perawatan.
"Kan Ibu udah bilang, kalau kamu misalnya mau rumah yang gede, minta sama Januar. Dia bisa kok kasih kamu segalanya. Ibu gak bisa rombak rumah ini. Ini satu satunya peninggalan kedua orang tua Ibu juga."
Hanya helaan napas yang bisa dilakukan oleh Amber. Sulit rasanya menarik seseorang yang sudah terkontaminasi dan fokus pada masa lalunya. "Bu, lagian Ibu gak mau hidup nyaman? Jual salah satu kebun kan gak bikin kita jadi miskin. Soalnya kita emang udah miskin."
"Nanti Ibu ngomong sama Januar ya kalau kamu emang udah gak betah di sini."