
"Mau ke mana?" tanya Januar begitu dia melihat Amber yang keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi. "Saya tanya kamu mau ke mana?" ketika pertanyaannya diabaikan.
"Mau nyari angin keluar, lu pikir gue mau berada di sini terus disalahin terus sama lu?"
"Amber, mau ke mana, Nduk?" bahkan Ibu Dyah bertanya ketika dia mendengar percakapan mereka berdua.
Sayangnya Amber sudah tidak ingin lagi mengatakan apapun, dia melangkah pergi begitu saja meninggalkan dua orang tersebut. Januar lebih fokus kepada ibunya, dia menuangkan air hangat ke dalam gelas sebelum membawanya ke kamar sang ibu. "Minum pelan-pelan dulu Bu, abis itu Ibu tidur. Biar Januari aja yang masak."
"Susul dulu istri kamu takutnya dia pergi ke tempat yang berbahaya. Kamu tahu sendiri kalau Amber itu anaknya nekat dan gak mau dengerin omongan orang lain. Gimana kalau terjadi sesuatu sama dia? Orang tuanya udah besarin dia dengan baik." memberikan nasehat kepada Januar untuk lebih lembut kepada istrinya.
Karena Amber benar-benar harus beradaptasi. 20 tahun lebih anak itu bersama dengan keluarganya, diberikan fasilitas yang begitu mewah. "Enggak mungkin satu atau dua hari dia langsung berubah. Kamu harus sedikit lebih sabar, kan kamu sendiri yang bilang mampu untuk merubah Amber. Tapi bukan kayak gini caranya."
Januar terdiam mendengarkan nasehat sang ibu. "Udah dikasihin hadiah yang kamu beli?"
Januar menggelengkan kepalanya, pekerjaannya yang sibuk dan juga pikirannya yang terbelah membuatnya melupakan hadiah itu.
"Sekarang susul dia terus kasih hadiah yang udah kamu simpan itu. Manjain dia sedikit gak apa-apa, kan kamu suaminya."
Tidak ada jawaban dari mulut Januar, tapi pria itu merogoh ponselnya dan menelepon seseorang.
"Kamu bukannya nyusulin Amber malah nelpon."
Ini mau minta indah buat nemenin Ibu di sini. "Januar nggak mau Ibu sendirian."
"Nggak usah, kamu malah ngerepotin itu anak."
Tapi Januar tidak mendengarkan dan memilih untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari. Hadiah kecil untuk Amber. Namun pria itu tidak langsung pergi, dia akan membiarkan dulu kemana Amber menenangkan pikirannya supaya bisa diajak bicara dengan tenang.
Sekitar 30 menit kemudian, Indah datang untuk menjaga Ibu Dyah di sana. "Aa harusnya bilang sama Indah kalau ibu sakit dari kemarin. Mungkin Indah bakalan bantu buat jagain Ibu di sini."
"Nggak apa-apa lah, lagian kan kamu juga kerja."
"Aa mau berangkat ke mana?"
"Nyusulin istri."
"Emang istrinya ke mana A?"
"Lagi keluar."
Karena sang Ibu sudah tidur, Januar pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Dia memakai jaket, karena tahu tempat Amber akan pergi lumayan jauh.
Pria itu juga membeli beberapa makanan dalam perjalanan untuk mengganjal perutnya.
🌹🌹🌹
Amber beberapa kali kesal karena bus lama sekali. Sudah lebih dari 30 menit, dan dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Darren. Memulai Semuanya dari awal dan mendapatkan kehidupan yang baik-baik saja.
Begitu Amber turun dari bus, dirinya langsung berlari kecil menuju cafe yang sudah dia janjikan bersama dengan Darren.
Namun sayangnya pria itu belum datang juga, jadi Amber menunggu di sana sendirian. Ketika dia menelepon Darren, ponsel pria itu tidak aktif. Membuatnya semakin khawatir apalagi ketika Amber sudah menunggu di cafe selama kurang lebih 20 menit.
Apa yang terjadi dengan Darren? Apa pria itu kecelakaan atau sejenisnya? Membuat ketakutan Amber semakin menjadi-jadi.
Ketika dia ditawari menu oleh pegawai di sana, Amber hanya meminta air putih saja karena sadar dirinya tidak mampu membayar. Dia khawatir kalau nantinya Darren tidak datang dan dirinya tidak ingin mencuci piring sebagai pengganti.
Namun Kenapa tatapannya terlihat berbeda, seolah dirinya jijik?
"Kenapa kamu lama banget? Dari mana aja? Kamu bikin aku khawatir tahu. Padahal dari Jakarta ke sini bisa dalam waktu 30 menit."
Darren duduk di depan kursi yang berhadapan dengan Amber kemudian mendapat gelas berisi air putih di depannya.
"Kenapa kamu nggak pesan apa-apa?"
"Aku nunggu kamu dulu, kalau misalnya kamu udah datang baru mau pesan. Takutnya nanti aku kekenyangan."
"Bukan takut gak bisa bayar?"
Amber kaget mendengar pertanyaan itu, kenapa dirinya seolah sedang direndahkan?
"Maksud kamu gimana ya? Kenapa sekarang kamu jadi nyebelin dan bener-bener bikin aku kesel."
"Ada gosip yang beredar di kampus kalo kamu jadi orang miskin. Kalau keluarga kamu udah nggak punya apa-apa lagi, lagi kamu udah nggak kuliah disana. Kamu juga udah nggak tinggal dirumah cantik itu lagi. Pas aku datang ke sana ternyata orang lain yang bukain pintu."
Amber meremas ujung pakaian yang merasa kalau dirinya benar-benar sedang direndahkan. "Bukannya kamu datang mau minta maaf? Atas semua kesalahan kamu dan memulai Semuanya dari awal lagi?"
"Kalau gini kenyataannya aku udah nggak mau. Aku pikir itu cuma gosip aja, tapi kenyataannya benar." menatap Amber dari atas ke bawah dengan tatapan yang menghakimi. "Lihat aja sekarang kamu pakai baju yang gak bermerek sama sekali. Lusuh banget, kulit kamu juga kelihatan kering. Kamu nggak keurus kan?"
"Jaga ucapan kamu, Darren." mata Amber berkaca-kaca ingin menangis.
"Memang kenyataannya kayak gitu kan, kamu udah nggak kaya lagi. Kita juga udah nggak satu Kasta lagi. Aku nggak mau mempermalukan keluarga aku. Jadi tolong bukain apa yang aku bilang sebelumnya."
Darren terdiri hendak pergi, tapi digagalkan karena seseorang mencengkram pundaknya kemudian memaksanya untuk duduk kembali dengan begitu kuat.
"Lu apa-apaan?! Lepasin Gue!"
Amber kaget melihat Januar ada disini, apa lagi ketika pria itu menekan tengkuk Darren dengan begitu kuat hingga pria itu tidak bisa berdiri dari duduknya.
Januar merendahkan tubuhnya untuk berbisik. "Saya tahu kalau kamu itu hanya anak simpanan dari pemilik kampus. Ibu kamu seorang pel@cur kan? Ditambah lagi kamu bukanlah anak yang dibanggakan oleh keluarga kamu. Pembuat onar. Dan kamu tahu apa lagi? Kalau Ayah kamu berpotensi di penjara karena dia melakukan korupsi terhadap mahasiswanya sendiri. Jadi sebelum kamu pergi, segera bersujud pada Amber, atau keluarga kamu yang akan saya hancurkan."
Tubuh Darren menegang, rahasia keluarga yang tidak mungkin diketahui oleh siapapun, tapi bisa diketahui oleh pria yang tidak tahu asal-usulnya ini.
"Jadi anak yang baik, sebelum saya pulangkan kamu dalam keadaan tidak punya nyawa."
Kemudian Januar menegakkan kembali tubuhnya dan menepuk-nepuk pundak Darren.
Amber bertanya-tanya apa yang dibisikkan suaminya pada Darren, hingga kini dia bisa melihat tatapan tatapan ketakutan dari Darren yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Amber.
"Aku minta maaf," ucapnya dengan bibir bergetar. "Atas apa yang aku katakan barusan."
"Yang benar minta maaf nya," ucap Januar.
Membuat tubuh Darren semakin bergetar, dan akhirnya pria itu merendahkan tubuh untuk berlutut. "Amber, aku minta maaf."
What the hell!!
🌹🌹🌹