
Sekali lagi, Amber membuat kehebohan. Dimana Ibu Dyah bahkan terbangun dan menunggu sang menantu kembali. Ketika melihat Amber datang dengan Januar yang menggendongnya, Ibu Dyah menarik napasnya lega. Amber masih hidup, tapi dengan kaki yang terlihat terluka. "Itu kenapa, Nduk? Kamu luka?"
"Ibu tidur aja. Biar Januar yang obatin kaki Amber." Januar menurunkan sang istri di atas ranjang.
"Gimana bisa ibu tidur sementara Amber lagi kayak gini. Sini, biar Ibu yang bersihin lukanya."
Amber bungkam, dia menahan tangisannya ketika sang mertua mengobati kakinya. Menggigit bibir bagian bawahnya. Tidak mau menangis karena Amber khawatir Januar semakin marah padanya. Setelah selesai diobati, Amber langsung berkata, "Udah gak papa kok, Bu. Makasih ya. Ibu tidur aja lagi."
Ibu Dyah tau apa yang ada di dalam pikiran sang menantu tanpa bertanya sekalipun. Jadi dia menarik napasnya dalam dan meninggalkan Amber berdua bersama dengan Januar di sana.
Ini sudah lewat tengah malam, dan dua orang itu masih terdiam satu sama lain. Amber duduk bersandar pada kepala ranjang. Sementara Januar tengah menyilangkan tangannya di dada. "Ganti baju dulu sebelum tidur ya." Mengambil salah satu kaos sebelum mendekat pada Amber dan membantu sang istri mengganti pakaiannya.
Setelah itu, Januar naik ke atas ranjang dengan lampu yang sudah dimatikan. Hanya cahaya dari luar yang menjadi remang penglihatan mereka. "Gak mau tidur?"
Amber masih diam. Lebih menakutkan amarah Januar sendiri. "Sini mau dipeluk gak?"
Ketika Januar merentangkan tangannya, Amber menghela napas lega dan langsung datang padanya untuk dipeluk. Pria itu masih menerimanya. "Lain kali jangan kayak gitu lagi. Harus dengerin apa kata suami. Kamu itu akhir akhir ini ngeyel banget. Sadar gak?"
"Maaf." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Amber.
"Daerah sana itu berbahaya. Banyak orang yang suka mabok mabokan. Makannya jarang ada orang yang lewat sana. Kadang dijadiin bahan bercandaan sama orang orang yang jail, pokoknya berbahaya apalagi kalau mereka lagi dalam pengaruh alkohol."
"Aku cuma khawatir besok gimana."
"Gak bakalan gimana gimana. Besok bakalan baik baik aja. Tolong, Amber. Kamu harus percaya sama suami kamu sendiri." Ketika Januar mengatakan hal itu dengan penuh permohonan, Amber diam saja. Dia merasa sangat bersalah.
Keesokan paginya, Amber terbangun dari tidurnya. Sang suami sudah tidak ada, matahari juga sudah terbit yang mana membuatnya langsung lompat dari tempat tidur.
Dan sesuai perkataan wanita itu kemarin, dia ada di sini bersama dengan keluarganya. Tapi, wajah songongnya sudah tidak ada. Dan ketika melihat Amber, dia terlihat begitu bahagia. "Nak Amber, kami mau minta maaf atas tuduhan kami kemarin. Saya minta maaf yang sebesar besarnya. Sebagai gantinya, ini untuk kamu ya. Saya mohon maafkan kami ya."
Amber yang baru bangun, belum cuci muka dan rambut masih seperti singa itu kebingungan. "Ini maksudnya gimana ya?"
"Maksudnya gitu, saya minta maaf. Kamu gak ambil barang saya. Maaf udah nuduh. Kamu maafin saya kan?"
Amber mengangguk kaku. "Makasih, Terima kasih."
"Eh ngapain ini." Amber menarik tangannya ketika hendak dicium. Aneh sekali, apa yang terjadi dengan orang ini.
Bahkan setelah Amber memaafkan, dia terburu buru mengajak suaminya pergi dari sana. Sikapnya juga jadi sangat sopan pada Januar. Perlu dipertanyakan apa yang terjadi dengannya.
"Dia kenapa?" Tanya Amber masih dengan kebingungan. Ketika Amber memeriksa apa yang diberikan oleh wanita tersebut, Amber cukup terkejut. Ini satu set skincare yang Amber inginkan. Yang mana membuatnya langsung menjatuhkan tas itu. "Gak mau! Tar disangka maling lagi!"
***
Beberapa hari ini, Amber berfikir dengan keras. Memang banyak yang dia lewati ketika menjadi sosok istri dari Januar, dia banyak mengacau dan menempatkan diri dalam bahaya. Namun ketika bahaya di depan mata dan Amber merasa terdesak, orang orang yang mengincarnya akan langsung menciut begitu mendengar nama Januar. Ketika Januar bilang kalau semuanya akan baik baik saja, kenyataan itu benar benar terjadi.
Lalu cincin yang Januar berikan padanya, ini tidak terlihat seperti cincin muraha. Membuat Amber semakin yakin, kalau Januar pasti sosok yang begitu berpengaruh. Tapi bagaimana bisa? Dia hanya seorang laki laki miskin. Tidak mungkin dirinya memiliki harta yang banyak. Karena suaminya ini miskin.
Demi membuktikan kecurigaannya, Amber akan jalan jalan keluar sekarang. Melewati Ibu Dyah yang sedang membuat sambal karena sebentar lagi malam tiba. "Nduk mau kemana? Bentar lagi Januar juga pulang."
"Mau pergi jalan jalan bentar, Bu. Nanti ke sini lagi kok. Cuma mau cari angin."
Karena sekarang Amber sudah menyelimuti tubuhnya dengan body lotion yang begitu tebal, jadi tidak takut kena debu.
Pertama, Amber pergi ke warung. Karena bisanya di sana berkumpul para pria yang terlihat nakal.
"Hai cantik," Ucap salah satu dari mereka menggoda.
"Hoi, itu bininya abang Januar, lu mau mati hah?" Bisik salah satu sahabatnya yang didengar oleh Amber. Nah benarkan, sosok ini ditakuti entah karena apa.
"Iya, lu godain gue. Nanti gue bilangin sama laki gue loh."
"Eh jangan, Mbak. Ampun, Mbak. Jangan kayak gitu dong. Kan saya cuma bercanda aja. Sumpah, Mbak. Ampun ya."
Karena pasti mereka punya alasan takut pada Januar. "Lu pada pernah dihajar sama laki gue gak?"
"Aduh, Mbak. Kalau dihajar, kayaknya kita udah mati deh."
Nah, keuntungan lainnya diam di warung juga Amber bisa mendengar desas desus. Seperti sekarang dirinya ikut duduk dan ditanyai oleh sang pemilik warung. "Neng Amber butuh apaan?"
"Mau susu hangat. Tapi diminum di sini aja."
"Tumben banget, Neng. Biasanya suka Ibu Dyah yang datang ke sini."
"Mau nyari kabar terbaru. Di rumah gak ada TV, jadi butuh gossip baru."
Ibu pemilik warung tertawa. Karena di sana bukan hanya ada Amber, wanita lain yang sedang belanja kemudian berucap, "Si bu kadus katanya mau mengundurkan diri dari jabatannya. Soalnya lakinya ketauan selingkuh. Haduh, ternyata udah punya anak sama simpenannya tau, Neng."
"Bener, Bi? Ya ampun, gak nyangka banget." Amber terdengar malas menanggapi. "Tau pemilik rumah yang ada di tengah hutan itu nggak, Bi? Yang rumahnya gede."
"Oh iya, yang juragan kebun itu. Kenapa emangnya?"
"Kabarnya gimana sekarang?" Tanya Amber.
"Oh, katanya pindah dia, Neng. Gak tau kemana."
Benar benar membuat Amber semakin penasaran dengan siapa itu suaminya. Kalau dipikir pikir, tato miliknya juga tatto mahal. Tidak mungkin murahan dengan tinta yang begitu pekat dan tidak hilang hilang.
Sampai fokus Amber teralihkan pada sosok yang berlari ke arahnya, sambil menatap matanya. "Kenapa, Mang?"
"Ibu Dyah dibawa ke rumah sakit, Neng."
***