
Amber menunggu sang mertua di ruangannya. Tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh Januar di luar sana. Dia masih belum kembali dan membuat Amber bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu Januar masuk ke ruangan, Amber langsung berdiri dan menatap pada sang suami dengan tatapan yang khawatir. "Gimana?"
"Mereka bilang, Ibu bisa dioperasi. Jadi semuanya akan baik baik saja." Menarik napasnya dalam dan duduk di bangku yang ada di dekat ranjang. Tangannya terulur mengelus rambut sang Ibu. "Kamu mau nemenin ibu di sini?"
"Emangnya aku mau kemana?" Gumam Amber. Tidak mungkin dirinya meninggalkan sosok ini. "Aku bakalan di sini. Cuma, mungkin aku harus pulang dulu buat bawa baju. Gak papa, Mas?"
"Gak papa. Pulang aja dulu. Mobil yang nganterin kita tadi bakalan nganterin kamu pulang juga." Januar mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam sakunya. "Beli makanan yang kamu mau juga." Pria itu menarik Amber mendekat padanya untuk dia kecup keningnya lama. "Hati hati di jalan."
Tadinya Amber ingin diperhatikan dengan diantarkan turun ke bawah. Tapi sadar kalau ini bukan waktu yang tepat. Jadi Amber pergi sendiri ke sana dengan kepala yang masih penuh dengan pertanyaan. Siapa sebenarnya Januar? Jadi karena hal itu, Amber akan menanyakan langsung pada sopir yang mengantarkannya pulang.
"Silahkan masuk, Nona Amber." Mempersilahkan Amber masuk ke dalam.
"Bapak ini, siapanya Januar?"
"Saya supirnya Tuan Januar."
"Tapi yang punya supir itu biasanya orang kaya. Bapak itu temenya apa gimana nya? Atau emang Juan itu kaya? Apa gimana?"
Sopir itu terlihat tidak nyaman. Sepertinya dia sudah salah bicara hingga wanita di belakangnya menanyakan hal ini. "Rumah Nona di sebelah mana?"
"Kan tadi bapak yang jemput ibu mertua saya. Masa gak inget?"
"Jadi, Bapak siapanya Januar? Bener sopir nya? Ini mobil juga punya Januar?"
"Non udah nyampe."
Amber berdecak kesal. Dia turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah untuk membawa beberapa pakaian dan juga skin care untuk dibawa ke rumah sakit. Juga beberapa makanan yang sempat Amber dan mertuanya buat.
Melihat pakaian ibu Dyah, Amber jadi sedih sendiri. Mengapa hal ini terjadi pada mertuanya? Kasihan sekali dia. Padahal Amber memiliki banyak wacana dengan Ibu Dyah jika dirinya sudah kaya lagi nanti. "Kalau Ibu panjang umur, nanti Amber mau berusaha jadi orang kaya lagi biar bisa ajak ibu jalan jalan dan gak susah lagi."
Karena Amber benar benar penasaran dengan seorang Januar. Dia mengambil pisau sebelum masuk lagi ke dalam mobil. Kali ini, Amber duduk di bangku depan yang mana membuat sang sopir berdehem. "Kenapa di sini, Nona?"
"Mau deket sama Bapak. Kalau ada apa apa biar bisa langsung bilang." Ketika mobil melaju, Amber kembali bertanya, "Pak, saya mau nanya serius ini. Tentang Januar. Dia itu sebenarnya siapa? Kenapa bapak bisa jadi supirnya?"
"Bukan supirnya. Saya temennya kok. Cuma emang dulu saya punya jasa ke Mas Januar. Jadi ya memposisikan diri jadi supirnya."
Amber tidak tahan, jadi dia meminta sang sopir untuk berhenti di depan. Tepat di tempat yang sepi dan juga rimbun pepohonan. "Kenapa, Non?"
Tidak diduga, Amber menyodorkan pisau. Namun, Amber lupa tidak membuka penutupnya. Yang mana membuat sopir itu Waspada dan langsung mengambil alih pisau tersebut.
"Eh, gak gitu! Tadi cuma mau minta tolong buat bukain pisaunya!" Amber malah panik sendiri.