Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Sembunyi-sembunyi



Amber enggan pulang ke rumah gubuk itu, tapi dia juga tidak mau menyakiti dirinya sendiri untuk bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. Tapi…. Tadi pria itu sangat tampan dan gagah. Memangnya benar kalau itu adalah suaminya? Kenapa setampan dan segagah itu?


Amber hanya berdiri diam menatap mertuanya yang melambaikan tangan padanya menyuruh Amber segera datang. “Nak, sini mau hujan,” panggilnya seperti itu.


“Ck, males gue.”


DUAR! Namun begitu mendengar suara petir menyambar, Amber langsung berlari menuju rumah itu sekuat tenaga, apalagi hujan dibelakang mengikutinya. Dramatis sekali!


“Cepetan masuk, Nduk. Ya ampun, Ibu panggil dari tadi. Emangnya gak kedengeran?” Tanya Ibu Dyah terlihat khawatir. “Lagian kamu mau kemana? Makan juga belum. Ayok sekarang makan dulu, nanti sakit kalau perutnya gak diisi. Yuk makan dulu.”


Melihat sosok Januar di sana, terasa sangat berbeda untuk Amber. Pria itu makan dengan lahap, tampilannya benar benar berbeda. Jauh terlihat menawan. Bukankah wajah itu lebih cocok menjadi model daripada petani?


“Gak lapar,” ucapnya tetap pada pendirian.


KRUYUKKK!


“Nah itu apaloh? Perutnya bunyi, Nduk. Ayok makan dulu yuk.”


“Jijik sama nasinya, masa item gitu. Emang gak mampu beli beras yang lebih putih?”


“Udah gak usah dipaksa, Bu,” ucap Januar. Pria itu berdiri untuk menarik sang Ibu dan duduk di kursi supaya makan bersama dengannya. “Biarin aja nanti malem suruh kelaparan.”


“Jangan gitu, istri kamu masih butuh adaptasi di sini.”


Januar kembali menahan tangan sang Ibu yang hendak berdiri, memilih untuk mengambilkan piring Ibu Dyah dan mengisinya dengan lauk serta nasi. “Makan. Ibu dari tadi belum makan.”


Menghela napasnya dalam, sekali lagi Ibu Dyah menatap pada Amber. “Sini, Nduk. Makan di sini sama Ibu.”


Karena menjunjung gengsi, ditambah rasa kesal karena Januar memperlakukannya seperti itu, Amber memilih masuk kamar. “Gue gak butuh makan, biarin aja gue mati,” ucapnya sambil menahan tangisannya.


Dirinya dipastikan akan mati di sini tanpa harus disakiti secara fisik dulu.


“Kamu jangan gitu, kan kamu tau sendiri itu anak orang kaya. Jadi butuh proses buat semuanya.”


“Gak usah dimanjain. Biar dia tau diri sendiri,” ucapnya tanpa menghentikan kegiatan makannya.


“Nanti malem Ibu disuruh buat nginep di rumah Ibu Kadus. Mau ada acara yang lomba antar desa itu, Ibu diminta buat bikin tumpeng di sana.”


“Kalau ibu sanggup, pergi aja.”


“Kamu harus perhatiin Amber, pastiin dia makan ya.”


Bukannya mendengarkan, Januar malah dengan sengaja memakan semua daging yang ada di atas meja hingga membuat Ibu Dyah memukul tangan anaknya berkali kali. “Itu buat istri kamu.”


“Biarin aja dia, Bu. Gak usah dimanja lah.”


Didengar oleh Amber yang menangis di kamar sampai akhirnya tertidur. Dia bahkan menahan keinginan untuk buang air kecil.


***


Ketika malam hari tiba, Amber membuka matanya dan merasakan perut yang melilit. Dia lapar, dia ingin menangis tidak suka dengan perasaan ini. menoleh ke samping, dia mendapati Januar yang tidur dengan kaos hitam besar dan selimut yang menutupi sebagian pahanya.


Pria itu benar benar tampan, berbeda ketika memiliki jambang, kumis dan janggut, ditambah dengan rambutnya yang gondrong. Dulu, Amber pikir dia dinikahkan dengan pria tua. Tapi sekarang, Amber melihat betapa menawannya Januar.


“Si anjir ini udah bikin lu kelaparan. Gak usah peduliin dia. Gue sumpahin lu mati,” ucapnya mengeluarkan semua kekesalan.


Amber tau mertuanya tidak ada di rumah, jadi dia mencari makan mumpung Januar tidur. Tidak sudi dirinya didapati sedang menyelinap makan, bisa bisa pria itu terus mengejeknya tanpa henti dan menertawakannya. Jadi memilih diam diam ke dapur untuk mencari makan.


Sayangnya, tidak ada makanan sama sekali di sana. maniknya berkaca kaca, kenapa mereka tega. Benar benar tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Hanya ada air dan bumbu dapur.


Tapi dia takut, jadi bagaimana ini? tapi lapar juga. Bisa bisa Amber pingsan. Jadi dia memutuskan untuk keluar dengan takut takut. Tidak punya ponsel, peneranganpun tidak ada hingga saat Amber memasuki area kebun, dirinya benar benar tidak bisa melihat apapun dan….. BRUK! BYUR!


“Aaaaa!” amber berteriak karena dirinya masuk ke dalam kotakan sawah dan berguling hingga seluruh tubuhnya kotor. “Mamaaa!” teriaknya spontan.


Saat itulah Januar bangun, dia melihat apa yang terjadi. “Berisik,” ucapnya membuat Amber mengadahkan kepala dan menangis terisak pada Januar.


“Sakit…. Hiks…. Gue nginjek keong…. Berdarah… hiks… tolongin gue…”


Tidak tega melihat tangan Amber yang juga berdarah, Januar menggendong sang istri ala bridal dan membawanya masuk ke dalam rumah. “Ngapain keluar?”


“Mau ambil timun… hiks… gue laper gak ada makanan.”


“Salah sendiri tadi gak mau makan.”


“Harusnya lu peka, sisain buat gue… hiks…”


Mana badannya bau, mana keong yang ditimpa tubuhnya tidak sedikit. “Tubuh gue berdarah… sakit…”


“Nanti saya obatin. Kamu mandi dulu.” menurunkan Amber di kamar mandi.


Namun bagaimana bisa dia mandi, tangannya terluka dan berdiri saja susah. “Hiks… gimana ini…”


“Mau saya mandiin?”


Karena rasa sakit dan perih yang tidak tertolong, Amber mengangguk. Dan Januar tidak menyangka akan mendapatkan jawaban itu. jadi, Januar membawa kursi untuk diduduki Amber mengingat kakinya juga terluka. Perlahan Januar membuka pakaian sang istri.


“Dalemannya gak usah hiks….,” ucapnya diambang kesadaran.


Januar menurut, dia membasuh tubuh Amber dengan hati hati.


“Aww! Sakit!” teriaknya saat lukanya terkena air.


“Dibersihin biar gak infeksi.”


Januar saja ngilu melihat luka sayatan oleh kulit keong yang tajam itu. “Pelan pelan bisa gak sih lu.”


“Mau saya bantu gak?”


“Lanjutin,” ucap Amber.


Tubuhnya menegang ketika tangan kasar Januar mengelus kulitnya, membersihkan dari lumpur. Apalagi saat bagian punggungnya disentuh. Untuk menetralkan detak jantungnya, Amber mengatakan, “Anjir banget, mana gak ada air anget. Gue kedinginan, bego.”


“Mulutnya coba dijaga, perkataannya. Gak semua orang sabar kayak saya.”


“Bodo amat,” ucap Amber dengan pipi yang memanas ketika tangan Januar terus menghapus bagian bagian yang kotor.


Hingga akhirnya selesai, Januar membalut tubuh itu dengan handuk. Dan karena bajunya basah, Januar membuka kaos.


“Lu mau ngapain?”


“Baju saya basah karena mandiin kamu,” ucapnya membuka baju dengan membelakangi.


Dan saat itulah Amber baru sadar kalau Januar punya tattoo besar di punggung…. Itu burung Phoenix? atau sejenisnya. tapi terlihat begitu gagah di kulitnya yang liat dan punggungnya yang lebar.


Menelan ludah kasar dan memalingkan wajahnya ketika pria itu berbalik ke arahnya.


***