Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Baik baik saja



Januar menemui temannya lagi yang masih di klinik, terlihat mengerikan akibat kecelakaan. “Kapan lu balik?” tanya sosok yang sedang berbaring itu, Galang Erlangga, yang datang untuk menemui Januar tapi malah mengalami kecelakaan.


“Gue tanya ih, lu kapan balik, Bego?”


“Kayaknya kalau gue patahin leher lu, bisa banget kan? Udah lama gue gak ribut sama orang.”


Galang menelan salivanya kasar dan menggelengkan kepala. “Jangan dong, gue ke sini buat minta bantuan lu.” Pria yang sedang berbaring lemah itu menunjuk sesuatu di dalam tasnya, meminta Januar untuk membawanya kemudian membaca. “Menurut lu gimaana?”


Januar masih menggeser geser layar tablet itu. “Gak jelas, ini LCD nya rusak.”


“Lah, kenapa lu gak bilang sebelumnya? Dari tadi ngapain aja terus?”


Karena sekitar lima menit, Januar menggeser geser layar tersebut. pria yang seumuran dengan Galang itu hanya mengangkat bahu. “Nyari cara supaya bisa hidup lagi.”


“Yaudah pake hape gue nih, hape lu kan jadul. Mana bisa buka dokumen.”


Mengambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu, kini Januar benar benar focus untuk membaca. Sesekali menatap Galang yang memberikan penjelasan berupa, “Gue udah nyiapin ini dari lama, tapi bokap gue tetep aja gak kepengen gue megang ini proyek.”


“Ya gimana mereka mau kasih izin sama lu. Orang lu anak manja.”


“Heh, gue manja sama orangtua gue sendiri ya, gak ada salahnya sama sekali.”


Tepat setelah Galang mengatakan itu, pintu kamar tiba tiba terbuka kemudian memperlihatkan sosok yang terlihat kaget mendapati putranya diperban cukup banyak. “Anak Mami!” merentangkan tangannya dan memeluk anak bungsu itu.


“Mami… huhuhu… Galang sakit, kepala Galang kejedot setir terus tangan kejepit.”


“Mana yang sakit, Nak? Mana?” maminya langsung meniup niupi luka yang ada di dalam tubuh anaknya.


“Mami belum gosok gigi ya? Bau banget gak suka.”


“Heh! Kamu udah untuk Mami masih mau jenguk kamu setelah kamu bakar rumah kaca punya Papi kamu. Dit…..,” ucapannya terpotong saat menyadari seseorang di sana. “Eh Januar? Gimana kabar kamu, Nak?”


“Baik, Tante.”


“Ibu kamu sehat?”


Januar hanya tersenyum sebagai balasan, mereka langsung paham kalau Januar tidak ingin membahasnya. 


“Boleh gak kalau Tante datang ke rumah kamu?”


“Gak perlu, Tante. Januar ada urusan soalnya, jadi gak dirumah.” Pria itu berdiri dari duduknya. “Nanti gue kabarin kalau udah ada hasil.” Memberikan lagi ponsel itu pada sang temen kemudian pergi dari ruangan tersebut setelah Galang mendapatkan keluarganya datang.


Januar dengan mengayuh sepedanya kembali ke rumahnya, itu membuat Galang dan juga Maminya mengintip lewat jendela dan menghela napasnya dalam. “Tuh, kamu harus kayak Januar, gak manja.”


“Januar umurnya udah 28 tahun, Mi.”


“Cuma beda lima bulan juga.”


Setelah kepergian Januar, Galang langsung mengirimkan pesan pada Januar dengan isi, “Please, bantu gue dapetin proyek ini. Cuma lu yang bisa narik investor kaya itu. please bantuin gue.”


***


Dalam perjalanan pulang, Januar melihat ada tukang aksesoris keliling yang sedang berteduh di bawah pohon. Januar datang mendekat. 


“Eh, Mas Januar. Udah lama gak keliatan.”


“Saya ada di lading terus, Mang. Mang nya aja jarang ke daerah itu.”


“Jalannya jelek. Saya capek kalau bawa sepeda, kalau Mas Januar sih masih bugar tubuhnya.”


Januar hanya terkekeh sambil memilih beberapa aksesoris yang bagus untuk dia bawa pulang. aksesoris rambut, mengingat Amber jarang sekali mengikat rambutnya.


“Iya, Mang. Istri saya suka yang berkilauan kayak gini.”


“Kenalin dong istrinya sama saya. Katanya cantik ya.”


“Ini berapa?” ketika senyuman Januar luntur dan digantikan dengan wajah serius, itu membuat sang pedagang ketar ketir. Langsung menghitung belanjaan Januar.


“Yang ini bonus deh, buat Mas nya.”


“Gak usah, dagangin aja buat Mang.” Kemudian kembali mengayuh sepeda.


Dimana hal itu membuat si pedagang menghela napas lega setelah Januar pergi. “Hampir aja, kayaknya jangan ngomongin istrinya lagi kalau ketemu.”


Januar dengan orang orang yang menyapanya sepanjang dirinya mengayuh, menikmati keindahan kampung yang begitu asri dan membuatnya betah. Begitu sampai di rumah, Januar melihat ibunya masih mengukus bolu bolu pesanan itu. dan juga hasil panen yang sudah diambil orang.


“Bu, udah jangan kerja terus. Capek. Janu minta orang buat bantuin ya?”


“Jangan, Januar, Ibu mampu sendiri. Lagian kerja kayak gini bikin Ibu senang, Ibu punya kegiatan.”


Melihat rengkuh tubuh itu membawa panci, Januar segera membantunya. Tapi malah ditepis berulang kali oleh Ibu Dyah. “Gak usah, kamu gak usah bantu. Sana mending hitung uang yang hasil panen buat nanti penanaman selanjutnya.”


Januar mengambil uang dalam kaleng dan menghitungnya, dia menghela napasnya dalam saat uang itu tidak sebanyak yang dipikirkannya. Ibu Dyah diam diam melirik sang anak dan tersenyum karenanya. 


“Amber kemana, Bu?”


“Tidur. Jangan marah sama dia, Ibu yang nyuruh dia istirahat. Kasian kecapean kan semalam?”


“Januar mau kerja di bengkel, Bu. Pak Somad minta orang buat pengerjaan truk.”


“Gak papa, asal jangan lupain kewajiban kamu di ladang aja. ibu gak bisa kalau sendiri soalnya.”


“Ibu jangan khawatir.” Januar datang dan mengecup puncak kepala sang Ibu. Dia begitu menyayangi sosok ini. sebelum akhirnya masuk ke kamar. Dan mendapati Amber sedang bermain game.


Perempuan itu kaget, dia segera menyembunyikan ponsel itu di bawah pant@ttnya. “Kenapa? saya gak akan protes kok, tau kalau kamu capek.”


Perempuan itu menggelengkan kepalanya kuat sambil tetap mengatupkan bibirnya. “Kamu kenapa?” tanya Januar merasa ada yang aneh dengan istrinya. Tidak mendapatkan jawaban, Januar memilih untuk duduk di bibir ranjang dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Ikat rambut. 


“Buat kamu.”


Menatap ikat rambut di tas bantal itu. Amber mengigit kedua bibirnya rapat dan hidungnya mulai mengembang. Apa perempuan ini sedang menahan senyumannya? Dengan mata yang berkaca kaca, itu membuat Januar keheranan. 


“Kamu kenapa?”  tanya Januar lagi.


Namun, Amber tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Perlahan bibirnya melengkung, dan giginya mulai terlihat.


Mata Januar membulat seketika. “Itu gigi kamu kenapa merah semua?”


Seketika Amber ingat apa yang terjadi dengan dirinya. Dia langsung menutup mulut dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal dengan posisi menunggiing.


PLAK! Januar memukul pelan pantt@t yang tidak sengaja mengenai pipinya saking Amber panic. Januar memegang dagunya yang tidak sengaha tersenggol oleh pantt@t montok Amber.


“Kamu kenapa sih?”


Bukannya kepala yang menggeleng, malah pantt@t yang bergoyang.


“Aku gak papa,” ucapnya dengan suara teredam bantal.


***