Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Kedudukan



Perempuan itu belum juga pulang, karena Ibu Dyah mengajaknya untuk makan malam bersama. Bahkan Ibu Dyah yang memasaknya bersama dengan Indah. Ibu mertuanya itu malah mengatakan, "Amber istirahat saja, pasti capek kan abis perjalanan. Biar ibu yang masak."


Karena Amber sedang sensitif dia merasa dirinya sedang didepak dan digantikan oleh perempuan lain. Jadi Amber hanya diam mengurung diri di dalam kamar sambil menatap jemarinya sendiri.


Ketika pintu terbuka dan seseorang masuk, Amber menoleh mendapati itu adalah suaminya.


"Abis dari mana?"


Mengingat Januar tiba-tiba pamit tanpa mengatakan kemana dirinya akan pergi, meninggalkan Amber seorang diri di dalam kamar dengan semua pemikirannya.


"Habis beli bahan makanan, tadi lupa nggak mampir dulu."


"Kenapa nggak ngajakin gue? Gue kan juga pengen ikut, pengen keluar daripada di sini."


"Tadi katanya kamu mau mandi, ya saya nggak ajak."


Tidak jadi karena malas lewat dapur dan mendapati dua orang itu sedang tertawa. Bahkan sampai kamar, suara tawa mereka Terdengar.


"Ibu nanti gosong kalau pakai metode kayak gitu. Coba sini Indah ajarin metode baru biar nggak gosong."


"Pinter banget Kamu, Nduk. Kalau kamu buka restoran pasti bakalan rame pelanggannya."


Bahkan untuk percakapan seperti itupun didengar oleh telinga Amber. Januar yang paham itu tiba-tiba saja mengusap rambut Amber.


Kaget karena perlakuan seperti itu, Amber mengadakan kepalanya menatap sang suami yang berdiri di hadapannya.


"Cepetan mandi, nanti makan malam sama-sama. Atau enggak mau mandi? Atau mau mandi bareng-bareng?"


Kalimat itu mengingatkan Amber pada hal-hal panas yang dilewatkan bersama dengan jantung arah.


"Antar ke sananya, gue nggak mau sendirian. Takutnya nanti gue kesandung batu terus tengkurap gimana?"


"Ya ayo saya antar." bahkan pria itu mengulurkan tangannya.


"Bentar mau ambil dulu baju." membuka lemari yang selama beberapa hari ini menjadi tempat Amber untuk menyimpan baju.


Hanya daster, dress yang biasa, dan juga baju-baju bekas Ibu Dyah muda, yang di dalam pikiran wanita tua itu ini masih modis dan pasti disukai oleh Amber.


Sayangnya Amber bukan penyuka baju vintage, dia lebih suka baju yang glamor, yang memperlihatkan kekuasaannya, dan juga kekayaannya.


Jadi pilihannya hanya jatuh pada daster batik yang menurutnya nyaman untuk tidur.


Sayangnya Amber merasa salah karena meminta Januar mengantar ke kamar mandi. Karenanya, pria itu malah berbicara dengan perempuan bernama Indah ini.


"Aa mau ke mana?"


"Nggak kemana-mana ini nganterin Amber ke kamar mandi takut kepleset." tangannya mengelus punggung sang istri. Sana masuk, "Makanya jangan lama-lama nanti masuk angin."


Sayangnya begitu Amber masuk kamar mandi, dia malah menempelkan telinganya pada pintu untuk mendengarkan percakapan di sana.


"Aku bisa bantuin enggak?" itu suara Indah lagi.


"Bantuin gimana."


"Ini kupasin bawangnya. Kasihan Ibu matanya perih."


"Sini cabenya biar Aa yang potongin juga. Nanti tangan kamu panas."


Dan itu benar-benar membuat Amber geram. Kenapa Januar menyebut dirinya sendiri Aa? Menawarkan bantuan bahkan perhatian pada perempuan itu?


"Makasih ya, Aa."


Amber juga tidak bodoh untuk mengetahui kalau Indah menyukai suaminya secara terang-terangan! Itu benar-benar menyebalkan!


"Kok nggak kedengaran suara air ya? Istrinya Aa suka ada ritual dulu sebelum mandi gitu?"


Januar yang sadar akan hal itu mendekati pintu kamar mandi, kemudian mengaduknya pelan, "Amber kamu nggak kenapa-napa kan?"


Bergegas Amber menyalakan kran air dan mengabaikan pertanyaan itu.


Salah satu ide gila yang ada di dalam pikiran Amber adalah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Untuk membuktikan bagaimana mulus tubuhnya, cantik kulitnya dan juga bersinar.


Dan itu tidak ada apa-apanya dengan Indah pastinya.


"Dia cuma cewek kampung yang pasti nggak pernah perawatan. Dia harus insekyur lihat kulit gue yang mulus bersinar kayaknya mentari pagi." berkomat-kamit sendirian mengungkapkan rasa kesalnya.


Bukan hanya ingin memperlihatkan tubuh mulusnya saja, Amber juga ingin memakai pakaian yang lebih bagus. Dia harus memperlihatkan kepada perempuan bernama Indah itu kalau dirinya yang lebih baik. Jadi tidak akan ada kesempatan untuk nya menyukai Januar.


"Kenapa nggak pakai baju?" tanya Januar begitu dia melihat Amber keluar dari kamar mandi.


Dan Amber semakin sebal, melihat pria itu sedang menata meja makan hanya berdua bersama dengan Indah.


"Bajunya basah, mau ganti yang lain. Mana Ibu?"


"Ibu ada di kamar, kenapa emangnya?"


Tanpa menjawab pertanyaan Januar, Amber melangkah pergi menuju kamar sang ibu mertua.


"Ibu Dyah kaget, dia juga hendak keluar dari kamar. Kenapa Nduk? Nyariin ibu?"


"Boleh minta bedak nggak? Atau apa gitu kayak lipstik? Nggak punya soalnya."


"Ada, punya ibu nih. Besok Ibu bilangin Januar buat beliin kamu kosmetik ya."


Mendapatkan pouch kosmetik yang isinya adalah barang-barang dari merek kuno. Bergegas masuk ke dalam kamar menghindari tatapan mata dengan sang suami, bahkan Amber mengunci pintunya dengan kuat hingga terdengar sampai ke ruang makan.


"Kamu ribut lagi sama istri kamu?"


"Enggak kok."


"Dia mukanya kaya yang lagi nggak senang gitu," ucap Ibu Dyah khawatir.


Dan Indah dengan rasa penasarannya bertanya. "Emang sering ribut ya, A?"


"Nggak sering sih, cuma adalah yang namanya juga rumah tangga. Ribut kan pemanis dalam rumah tangga."


Indah tersenyum dengan miris. "Aa suka sama Amber? Soalnya sebelumnya kayak nggak pernah dengar dengar rumor kalau Aa punya pacar atau tunangan. Tahu-tahu udah jadi istri aja. Maaf ya bukan maksud apa-apa Indah itu."


Januar hanya tersenyum dengan manis kemudian mengatakan, "Dia istri Aa."


Pertanyaan Indah itu jelas didengar oleh Amber, membuatnya menggebu-gebu untuk berdandan dengan begitu cantik dan memakai salah satu baju vintage milik ibu Dyah ketika masih muda.


"Panggilin istrinya, suruh dia makan dulu."


Baru juga Januar hendak melangkah ke kamar. Istrinya lebih dulu keluar, dan itu membuat semua orang di sana terdiam beberapa saat.


"Nduk mau kemana? Cantik benar?" tanya ibu Dyah mengungkapkan isi hatinya, kemudian bertanya kepada Januar dengan bisikan, "Kalian mau kondangan?"


Januar segera menggelengkan kepalanya. Bertanya dengan lembut supaya tidak tersinggung, "Kenapa pakai baju ini? Emang nyaman?"


"Emangnya kenapa? Nggak cantik ya?"


"Cantik kok, cantik banget malah."


"Pipi Amber terasa panas mendengarnya, dia melirik pada Indah dengan tatapan mata yang mengatakan, "Tuh gue dibilang cantik sama laki gue sendiri! Jangan ikut-ikutan masuk kedalam urusan gue ya!"


Dengan santainya Amber melangkah ke salah satu kursi dengan mengangkat roknya sebelum melepaskan ketika mendudukan pantatnya.


"Kalau makan malam biasanya aku emang pakai baju yang kayak gini. Ayo kita mulai makannya."


Memang sih, orang-orang kaya selalu memakai gaun yang cantik ketika makan malam. Tapi disini posisinya mereka makan di sebuah rumah tua yang bahkan tidak memiliki lantai, dengan masakan yang Januar makan dengan tangan pula.


Ini lebih mirip seperti seorang putri yang tersesat ke dalam warteg. Apalagi ketika melihat penampilan yang lainnya. Januar dan Indah dengan kaosnya, Ibu Dyah dengan dasternya.


"Kenapa kalian lihatin kayak gitu? Ayo makan."


🌹🌹