
Amber bahkan sampai menyimpan terlebih dahulu makanan yang di bawa untuk Januar supaya dia bisa mengintip dengan leluasa. Suaminya itu hanya memakai celana pendek saja dan membersihkan tubuhnya yang terlihat liat oleh air yang begitu bening.
Karena terlalu fokus, Amber tidak sadar kalau dia menginjak bagian tanah yang licin hingga. Bruk! "Huaaaaa pantatttt" Teriaknya sampai membuat Januar yang sedang fokus membersihkan diri itu menoleh.
Dia melihat sang istri ada di sana, sedang memegang kakinya yang sepertinya tergelincir. "Kamu ngapain di sana?"
"Malah nanya! Bantuin gue!" Teriaknya dengan kesal. Hingga tiba tiba teringat masukan dari Ibu Dyah kalau Januar menyukai wanita yang lemah lembut. "Bantuin aku maksudnya!"
Januar segera melangkah mendekat dan membantu Amber untuk berdiri. "Emang mau kemana sih?"
"Tuh mau nganterin makan. Disuruh sama Ibu. Taunya malah di sungai. Mana licin lagi jalannya." Mendumal ketika Januar mengajaknya turun menuju sungai. "Aku gak mau ikutan masuk ke sana. Gak mau ikutan mandi"
"Siapa yang ngajak kamu mandi? Saya mau basuh itu kaki kamu yang kotor."
Amber berdehem, dia pikir akan diajak mandi lalu main sentuh sentuhan. "Oh," Ucapnya menahan kekesalan.
Amber didudukan di sebuah batu besar. Dimana Januar berjongkok kemudian membersihkan kaki Amber yang kotor karena tanah. "Lain kali kalau nganterin makanan, titipin aja di sana. Gak usah nyusul ke sini."
"Gue ke sini karena gue mau mastiin ini makanan dimakan." Sadar lagi apa yang diucapkan, Amber segera menggelengkan kepalanya. "Aku maksudnya."
Yang berhasil membuat Januar tertawa.
"Eh, aku ngomong baik gini bukan karena kamu ya. Ini suruhan Ibu. Ibu yang maksa, bilang aku harus jadi perempuan yang penurut."
Januar hanya menganggukan kepala mencoba memahami isi kepala sang istri. Setelah dirasa kaki Amber sudah bersih, Januar melangkah pergi. "Kamu diem jangan kemana mana. Saya mau pake baju dulu."
"Dimana?"
"Nah di belakang pohon itu."
Namun sayangnya Januar tetap melangkah pergi dari sana. Sebelum bersembunyi di balik pohon, Januar berpesan, "Jangan ke sungai yang sebelah sana ya. Diem di yang ini aja."
Dikatakan seperti itu, Amber malah penasaran dengan sungai yang ada di sisi lain. "Wah kok bisa ada dua sungai sama dua aliran beda gini ya."
Menggelengkan kepalanya heran dan memilih untuk masuk ke area sungai di samping. Bedanya, yang ini lebih tenang dan tanpa buih seperti yang satunya lagi.
"Kayaknya seger dah." Amber yang tidak tahan itu akhirnya mencuci wajahnya di sana. Berseri seri karena menikmatinya sampai Amber melihat sebuah benda berwarna kuning mengambang lewat. "Itu… . Kotoran? Aaaaaaa!"
Menjerit kuat dan langsung berlari ke aliran sungai satunya. Amber membasuh wajah di sana dengan cepat. "Tunggu. Kalau di sini juga ada taikkk! Sama aja dong?! Huaaa!"
"Kenapa?" Tanya Januar yang baru saja selesai berpakaian.
"Ada taikkk manusia di sungai."
"Kamu ke sini ini?" Januar menunjuk sisi dimana Amber sebelumnya ke sana.
"Iya."
"Kan udah saya bilangin. Jangan ke sini. Ini memang aliran kotoraaan orang orang yang gak punya toilet."
"Lahhh?! Ini juga sama dong?"
"Sungai yang inimah bersih, emangnya ke– Amber kamu ngapain?!" Januar terkejut bukan main ketika melihat Amber menenggelamkan kepalanya ke dalam air hingga rambutnya ikut basah juga.
"Huaaaaa! Mamaaaaa!" Teriaknya sambil menangis ketika kepalanya muncul dari sana.