Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Insiden



Januar baru sadar kalau ternyata Amber tidak mengikutinya sejak tadi. Di dalam keramaian pasar, dirinya sedikit khawatir di mana istrinya berada. Apalagi perempuan itu sedikit tempramental dan bisa memarahi siapa saja.


Namun dirinya juga tidak bisa kembali ke arah yang berlawanan, apalagi jamur yang dia suka itu sudah ada didepan mata. Akhirnya Januar memilih untuk membeli terlebih dahulu jamur sebelum mencari keberadaan Amber.


Mengikuti jejak yang tadi ketika matahari mulai kembali bersinar dan hujan sudah reda. Dimana perempuan itu berada? Sedikit menyusahkan apalagi Januar memiliki pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


Sampai akhirnya manik itu menatap Amber yang ternyata sedang berjongkok manis di depan toilet umum, tepat disamping penjaganya.


"Neng atuh duduknya jangan di sana. Kasihan banget Emang lihatnya kayak gelandangan."


Amber memilih menutup telinga daripada menjawab. "Dari tadi udah gue bilangin kalau gue itu nunggu suami gue. Tolong jangan ngomong sama gue, gue nggak mau lo kena masalah."


"Saya pengen ngerti tapi cuma nggak paham. Tapi yang saya yakini kalau dari tadi nggak ada yang masuk ke dalam, dan saya jamin suami Eneng enggak ada di sini."


"Dia pasti ada disini lagi buang air besar. Udah jangan ngomong sama gue, gue lagi males nih."


Ketika merasakan seseorang mendekat, Amber mengangkat pandangannya dan kaget ternyata itu Januar. "Lu dari mana aja sih? Gue dari tadi nungguin lu disini Kirain lagi BAB!"


"Ayo kita pulang," ucap Januar dengan santai.


"Nggak mau."


"Terus kamu mau diam di sini? Mau kerja di pasar?"


Bibirnya mengerucut menandakan kalau Amber benar-benar kesal. "Gue mau minum dulu, dari tadi gue nungguin lu di sini. Gue capek meskipun cuma Jungkook dari tadi."


"Mau minum apa?"


Kaget karena ternyata Januar menanyakan hal demikian. "Kalau gue minta Starbuck pasti nggak akan pasti dikasih, jadi gue mau itu aja," menunjuk salah satu gerobak tukang cendol yang sedari tadi menarik perhatian Amber. Tapi dia tidak membelinya karena tidak memiliki uang.


Januar mengulurkan tangan, yang kini dibalas genggaman oleh Amber, tidak ingin berjauhan lagi dengan suaminya di saat seperti ini.


"Makasih ya Mang udah jagain istri saya."


"Sama-sama, Januar. Mang nggak nyangka kalau ini ternyata istri kamu. Cantik bener kayak model. Nanti bagi tipsnya dong biar dapat istri yang kayak gini."


"Nanti lagi ya, mang. Udah nggak betah di pasar dia."


"Santai aja, kayaknya kamu kebagian yang wajahnya cantik tapi akhlaknya nggak ya?"


Amber ingin sekali melemparkan sepatu pada penjaga toilet itu, tapi memilih untuk mementingkan perutnya. "Cepetan nanti keburu penuh lagi, gue mau minum itu."


Dibawanya Amber ke tukang cendol yang perempuan itu inginkan. Bahkan ember sendiri yang meminta untuk memakannya di sana.


"Mau ke mana?" tanya Amber ketika pesanannya datang tapi Januar malah berdiri.


"Bentar nanti ke sini lagi, Habisin dulu itu cendolnya."


Sebenarnya Amber merasakan keinginan untuk mencoba cendol ini saat dia melihat anak kecil yang memesannya saat Amber menunggu Januar di depan toilet umum. Ketika minumnya, rasanya ternyata tidak buruk. Bahkan begitu enak.


Januar juga kembali sesuai perkataannya, tapi pria itu tidak makan sedikitpun. Dia hanya menunggu Amber selesai kemudian kembali menuju tempat sepeda diparkirkan.


Amber sedikit terkejut ketika melihat jok belakangnya kini memiliki busa. "Lu yang pasang busa?"


"Cepetan naik," ucap Januar demikian. Makanan yang dia beli penuh di bagian depan, tidak membiarkan Amber memegangnya. "Pegangan, soalnya saya mau ngebut."


Amber melakukannya, dia tersenyum ketika merasakan perut suaminya begitu keras.


🌹🌹🌹


"Nanti gue ngapain?"


"Ya masak."


"Tapi kan gue nggak bisa masak, bisa-bisa nanti gubuk punya lu malah kebakaran. Terus nanti lu sama nyokap lu nggak punya rumah lagi."


"Saya ajarin dulu cara singkat gimana caranya masak nasi dan yang lainnya."


"Emang gue harus bikin makanan buat siapa aja?" bukannya Amber pasrah dengan keadaan yang ada dan menerima kenyataan kalau dirinya Seorang Istri petani, hanya saja sampai saat ini dirinya tidak memiliki pilihan.


"Kan katanya Nyokap lu mau di rumahnya bu RT. Terus ngapain gue harus masak?"


"Maksudnya buat nanti kedepannya. Buat sekarang paling cuma buat kita berdua aja."


"Nggak bisa beli aja gitu? Emang lu nggak punya duit sama sekali?"


"Saya itu cuma petani, harga beras juga sayuran di pasaran sedang anjlok. Terkadang hasil panen juga tidak bisa tersebar luas kan dengan baik yang hasilnya malah membusuk, ada sebagian yang kena hama. Sebelum saya panen, kamu harus bisa berhemat dulu."


"Nanti kalau lu udah panen, boleh gue beli balenciaga?"


Januari yang tidak menjawab sudah memberikan lampu merah. Yang diketahui oleh Amber adalah pria ini memiliki lahan yang cukup luas, entah itu miliknya atau milik pemerintah, dimana isinya adalah sayur-sayuran dan juga didominasi oleh padi yang belum berbuah.


Begitu sampai kembali di rumah, Amber dipaksa untuk berada di dapur dan memperhatikan bagaimana Januar memasak nasi dengan cara tradisional.


"Gue nggak akan bisa nyalain api. Gimana kalau gue malah kebakar? Terus nanti tangan gue terluka?"


"Perhatikan apa yang saya lakukan supaya kamu juga bisa melakukannya nanti," ucap Januar tanpa melihat pada Amber yang sedang menahan tangisannya.


Apakah dirinya akan seperti ini untuk beberapa waktu kedepan?


"Buat hari kedepannya, Ibu bakalan ada di sini dan bakalan ngajarin kamu masak."


"Gue nggak pernah masak sama sekali, gue selalu disediain ini itu sama pembantu."


"Makanya saya bilang kan kamu harus belajar. Itu kuping dipasang atau enggak sih?" Januar berani untuk memarahi sang istri karena sudah tidak ada siapa-siapa di rumahnya.


Pintu kamar sudah terpasang, walaupun terbuat dari kayu tanpa cat tapi setidaknya itu membuat Amber memiliki privasi di dalam ruangannya sendiri.


"Tapi sekarang gue lapar. Kalau sekarang gue yang masak, nanti bakalan gagal dan gak bisa dimakan."


Pada akhirnya Januar yang memasak tentu saja dalam kompor tradisional tanpa gas ataupun listrik. Amber hanya memperhatikan dengan menahan kantuk, hingga akhirnya dia tidak tahan dan berpura-pura akan mengganti pakaian yang kotor ke dalam kamar.


Meskipun pada kenyataannya dia malah membaringkan tubuh di atas kasur kemudian memejamkan mata. Amber sudah tidak peduli lagi di mana dirinya tidur, dia hanya ingin berharap ini semua mimpi.


Tok tok tok!


Januar membuka pintu, itu adalah orang yang bekerja di kebunnya.


"Kenapa Mang?"


"Ikut sama Mang yuk buat cek kebun, hama sekarang nggak ada kapok kapok nya. Tambah banyak dari kemarin."


Januar menoleh pada apa yang sedang dia lakukan. Makanan sudah siap, hanya tinggal menunggu nasi matang. Sepertinya tidak apa-apa jika dia tinggalkan.


"Atau mau nanti aja? Kamu yang ngecek sendiri."


"Sekarang aja lah bareng."


"Istri kamu kemana?"


"Tidur di kamar." Januar tidak bodoh untuk tahu apa yang sedang dilakukan oleh Amber.


Ketika Januar pergi, Amber terbangun dan mencari keberadaan pria itu. Tidak mendapatinya di manapun.


"Makan," ucapnya ketika melihat makanan dimeja.


Tidak lagi memperhatikan apa yang dimakan, yang penting kenyang dan juga enak. "Ini nasinya mana?"


Melihat masih ada panci di atas tungku kompor, itu pasti dia. Tangannya terangkat untuk membuka penutup panci hingga..... "Aw!" Teriaknya dengan cukup keras sehingga membuat Januar langsung berlari kesana.


Langsung disuguhi pemandangan dengan Amber yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Gue sekarat! Gue sekarang! Tangan gue melendung kayak gini! Gue pasti meledak! Tolong! Hiks! Gue nggak mau meledak!" teriaknya panik sambil menangis, matanya tidak lepas dari tangan sebelumnya terkena panas.


🌹🌹🌹