Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
EXTRA CHAPTER 1



Karena orang tua Amber dikejutkan dengan kenyataan kalau Januar tidak Jatuh Miskin, Jadi mereka terpaksa membiarkan Amber untuk pergi bersama dengan Januar. Namun sebelum itu, sang mama memegang tangan Amber terlebih dahulu dan menatap matanya dalam untuk bertanya, "Kamu yakin mau sama Januar? Ingat apa yang dia perbuat sama kamu. Meskipun dia bilang kalau dirinya itu suka sama kamu, tapi cara dia dapetin kamu itu salah. Kamu masih mau sama dia?"


"Amber nggak mau ngorbanin anak. Di sisi lain, Amber juga sayang sama Januar terlepas Apa yang dia lakukan memang salah, tapi kami berdua masih memiliki waktu buat bicara satu sama lain. Tolong izinin Amber buat pergi sama Januar."


Karena sang anak meminta dengan mata yang berkaca-kaca, mamanya tidak bisa melarang. Menarik Amber ke dalam pelukan, merasakan sang anak mengalami banyak perubahan. "Tapi sekarang Mama akan selalu ada buat kamu, Mama nggak peduli meskipun Mama kehilangan perusahaan, Mama mau sama kamu."


Amber tersenyum mendengarnya memang sulit diterima kenyataan kalau kehidupannya penuh dengan skenario yang disiapkan oleh Januar. Namun dengan jalan seperti ini, dirinya berakhir menjadi sosok yang memiliki pribadi lebih baik. "Mama jangan khawatir, sekarang Amber bakalan mudah kalau mau pergi kemanapun. Januar udah nggak tutupin identitasnya lagi sebagai seseorang yang kaya. Nanti juga duitnya bakalan Amber ambil sebagian buat pertanggungjawaban dia. Nanti dikasih ke Mama."


Sang Mama tertawa mendengarnya, anaknya benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pria yang menjadi Papa Amber juga merasakan perbedaan itu, terharu dan juga sedih harus melepaskan sang anak. "Yang Papa tahu, rumah Januari yang ada di Jakarta itu nggak terlalu jauh sama rumah kita. Nanti kamu ke sana ya. Papa sama Mama bakalan nempatin lagi rumah lama. Pokoknya Papa nggak akan takut lagi meskipun perusahaan bakalan hancur. Toh hidup miskin juga sekarang kamu udah terbiasa."


Amber tersenyum dengan hambar. Meskipun sudah terbiasa dengan kehidupan miskin, tetap saja dia tidak mau berlama-lama dalam kubangan itu.


Mereka berdua juga meminta kepada Januar untuk menjaga Amber dan tidak mempermainkannya. "Kamu udah rebut anak saya secara paksa, menjadikan anak saya hidup di bawah keadaan ekonomi yang minim. Saya masih marah, tapi dia memilih kamu lagi pula kalian berdua emang udah tercatat sebagai pasangan suami istri. Tolong jaga dia."


"Saya akan menjaga Amber sepenuh hati saya. Terima kasih sudah memberikan kesempatan dan membiarkan Amber bersama dengan saya kembali. Saya janji, Uang 15 triliun itu akan menjadi dana utama bagi pembangunan kalian." Januar mengatakannya sambil merangkul bahu sang istri.


Keduanya sama-sama menatap mobil yang pergi menjauh. Kedua orang tua Amber sudah menyerahkan dirinya kepada Januar.


****


Perihal Ayah Januar, dirinya baru saja pulang dari makam wanita yang melahirkan Januar. Semalam, sosok itu juga menginap di rumah gubuk ini. Dan sekarang, Januar sedang bersiap-siap untuk pergi ke kota. Dengan catatan ladang ini tetap menjadi miliknya dan tidak akan dijual.


Ketika Januar sedang berbicara dengan petani yang akan bertanggung jawab terhadap ladang ini, Amber memilih untuk duduk di bangku depan yang berupa papan kayu. Dirinya menatap indahnya sawah di depan mata, teringat jelas bagaimana dirinya dan juga sang ibu mertua melakukan banyak hal.


"Amber ya? Kita belum ngobrol. Kenalkan saya ayahnya Januar, berarti kamu menantu saya."


Pria tua itu malah tertawa mendengarnya. Duduk di samping Amber dan menatap pemandangan yang sama. "Januar itu suka sama kamu, tapi dia nggak tahu gimana caranya dapetin kamu hingga bikin skenario yang gila kayak gitu. Membuat orang tua kamu seolah-olah membuang kamu dan dinikahkan dengan seorang petani seperti dirinya. Padahal sejak kecil, Januar tumbuh di bawah pengawasan saya. Dia hanya mulai berantakan ketika mengetahui siapa wanita yang melahirkannya dan memilih pergi."


Pria tua itu juga menjelaskan kalau dirinya tetap memantau Januar. Dengan memberikan banyak kontribusi terhadap Kampung ini, dan juga memberikan kekuasaan kepada Januar untuk menggunakan uangnya sesuka hati asalkan Januar tetap menjadi anaknya.


"Kalau boleh tahu Kenapa anda tidak menikahi Ibu Diah? Malah membuangnya?"


"Waktu itu saya tidak bisa berpikir jernih karena masih teringat dengan mantan istri. Saya melihat wanita yang dijual oleh saudaranya sendiri di klub malam. Saya membelinya hanya untuk mendapatkan keturunan, untuk meneruskan usaha saya. Namun setelah itu, saya membuang wanita ini karena dia memang tidak dari kalangan yang baik-baik."


Amber tidak habis pikir, bisa-bisanya pria ini memperlakukan mertuanya seperti itu. Amber ingin marah, tapi tenggorokannya begitu kering hingga dia memilih untuk masuk ke dalam rumah dan mengambil air.


Sayangnya, niatan itu tertahan ketika Amber melihat di depan Januar sedang berbicara dengan indah.


Bergegas pergi ke sana dengan wajah yang masam, baru saja mereka kembali bersama, sudah diterpa badai lagi.


"Indah nggak nyangka kalau Mas JanuarĀ  memang bukanlah seseorang yang biasa. Indah pikir itu cuma desas-desus saja, tapi ternyata benar kalau Mas itu orang yang kaya. Dulu waktu ada preman di sini yang minta ampun sama Mas Januar, Indah pikir dulunya Mas itu preman juga." mengingat Bagaimana dulu Ada preman yang menakuti Kampung ini menjadi takluk di dalam bawah kendali Januar. Itulah yang menjadi pemicu orang-orang kampung menjadi takut dan segan pada Januar. Apalagi beberapa kali ada mobil mewah yang menghampiri, meskipun sebelumnya Januar dipandang dengan negatif di kampung ini.


"Saya mau pindah, kayaknya nggak sempat buat pamitan ke orang tua kamu Dan orang-orang di sini. Tapi saya akan sering datang ke sini kok. Tolong sampaikan ya pada orang tua kamu."


"Iya Mas."


Amber yang melihat itu merasa terbakar. Kenapa suaminya sama sekali tidak peka kalau dia tidak suka melihat indah di sekitar mereka. Jadi Amber langsung keluar sambil mengelus perutnya. "Mas Januar anaknya ngidam pengen dielus-elus nih." sambil menatap tajam pada indah. "Saya lagi hamil."


****