Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Pada akhirnya



Pada akhirnya, first time Amber adalah milik Januar. Dimana perempuan itu sekarang sudah menjadi wanita seutuhnya. Merasakan bagaimana kewajiban istri melayani suami. Dengan tangannya yang menyentuh pundak Januar, mencoba memperlambat  apa yang sedang dilakukan oleh pria itu.


Namun satu yang dipelajari oleh Amber malam ini, semakin dirinya terisak kewalahan, itu akan menjadikan kesenangan tersendiri untuk Januar. Pria itu m€nghent@k semakin keras melebarkan kaki Amber, dan menegakkan tumbuhnya supaya bisa melihat apa yang sedang dia lakukan.


Pemandangan c@bull itu membuat n@fsu Januar bertingkat, apalagi ketika melihat darah kering disekitar miliknya. Amber benar-benar menyerahkan semuanya untuk Januar.


"Pelan.... Pelan-pelan.... Unghhhh.... Ahhhkk arrhhhh.... hiks..... "


Beruntungnya hujan masih melanda hingga suaranya meredam tangisan Amber dan juga jeritannya. Ini terlalu nikmat hingga Amber tidak bisa menahan air matanya.


"Buka mata kamu....." Januar mengg0da. "Amber buka mata kamu....."


Wanita itu menggelengkan kepalanya dan memejamkan mata semakin rapat, tangan yang m€rem@s bantal yang ada dibawahnya membiarkan tubuhnya dihent@kkan dengan kuat hingga buah dad@nya ikut bergerak.


Brut@ll! Tapi Amber suka, merasakan bagaimana milik Januar yang begitu besar ada di dalam dirinya. Sesak dan juga panas, hingga tidak ada ruang di dalam sana dan hanya menimbulkan suara tubuh yang saling beradu.


"Amber buka mata kamu."


Suaranya layaknya orang yang memerintah, Amber perlahan membuka matanya dan melihat dengan jelas bagaimana Januar sedang mengg@gahii dirinya habis-habisan hingga kulit tubuhnya berkilau karena keringatan, liat dan juga cokelat hingga terlihat gagah dan juga sangat seksi.


Tanpa diduga Januar menarik tengkuk Amber supaya wanita itu mendongak dan melihat bagaimana miliknya sedang ditussuk-tussuk.


"Lihat apa yang sedang saya lakuin sama kamu. Saya ada di dalam tubuh kamu. Kerasa nggak?" pria itu memperlambat gerakannya dengan menarik miliknya hingga menyisakan kepalanya saja, kemudian mengh€nt@k begitu kuat hingga Amber melengkungkan tubuhnya merasakan keniikm@tan yang luar biasa.


Bahkan Amber langsung keluar saat itu juga, tumbuhnya getar dan memancarkan sesuatu dari dalam miliknya.


Belum juga dirinya menikmati pellepas@n itu, Januar sudah bergerak lagi dengan mencengkram kedua piinggulnya dan menaikkan p@ntt@t Amber sebelum akhirnya m€nghent@k dengan kuat.


Amber menangis karena niikmat Untuk yang kesekian kalinya. Pria itu begitu manis dan juga lembut saat di awal, tapi sekarang Januar dipenuhi dengan keinginan untuk mengeksplor lebih banyak gaya. Dengan mulut yang terus mengeluarkan kata kata kotor.


Tapi jujur saja itu membuat Amber ikut berrn@fsu juga. Lagi ketika tubuhnya di balik secara tiba-tiba tanpa melepaskan peny@tuan, kemudian dipaksa m€nunggiing dan kembali digerakkan di dalam sana.


Amber benar-benar merasakan bagaimana milik Januar mengg€ssek miliknya dengan begitu brutal. Apalagi ketika tangannya ditarik hingga punggung Amber bersentuhan dengan d@daa suaminya.


D@daanya diremas dengan kuat, lehernya dihiis@p, ditambah jemari Januar yang lain memainkan kacang keciill di bawah sana pada milik Amber.


Diberikan stimulus bertubi-tubi akhirnya membuat perempuan itu kembali merasakan puncaknya. Dia mend€ssah dengan sangat kuat dan menangis karena tidak bisa diberikan istirahat sebentar saja.


"Kenapa?" tanya Januar sambil menggigit telinga istrinya pelan tanpa menghentikan gerakan miliknya di dalam sana.


"Capek...." bahkan suara Amber kini sudah serak, lelah karena menangis dan juga mendess@ah dengan kuat.


"Saya baru bahkan belum keluar."


Tidaklah normal untuk Amber, ketika dirinya sudah merasakan puncak itu 5 kali, suaminya bahkan belum mengeluarkan apa-apa.


Tiba-tiba saja kecepatan naik, tussuk@n itu semakin dalam dan sesak.


Amber menjerit-jerit kewalahan. Hingga akhirnya Januar menekan dalam miliknya kemudian menggeram pelan mengeluarkan puncaknya di dalam tubuh Amber.


Rasanya begitu hangat, tubuh Amber bergetar hingga membuat Januar merasa lebih nikmat ketika miliknya terasa direm@s-rem@ss.


🌹🌹🌹


Saat Amber bangun dirinya sudah membayangkan kalau akan ada di dalam dunia novel seperti diperlakukan dengan begitu manis, disiapkan sarapan dan juga ciuman bertubi-tubi.


Tapi kini bahkan Amber tidak mendapati suaminya yang berbaring di sampingnya. Kemana pria itu pergi? Pagi buta seperti ini meninggalkannya, terlebih lagi mereka semalam sudah melakukan kegiatan suami istri.


Pemilik Amber terasa perih. Pemikiran yang berspekulasi tentang hal-hal buruk pada Januar, kemana pria itu? Sudah memakai nya tapi malah pergi.


Tok tok tok. 


"Bentar." Amber mengambil kaos yang sebelumnya dipakai oleh Januar. Sementara bagian bawahnya ditutupi oleh selimut.


"Masuk aja."


Malah perempuan ini yang datang dengan membawakan semangkuk bubur di tangannya. Senyuman Ibu Dyah mengembang.


"Kenapa?" tanya Amber merasa aneh.


"Ibu bentar lagi dapat cucu ya? Seneng banget deh. Sekarang makan dulu ya. Biar kamu cepat ada tenaga lagi."


"Januar kemana?" menerima bubur yang aromanya begitu wangi.


"Temannya ada yang masuk rumah sakit, dia harus pergi sebentar. Rumah sakit di sini kok, cuman dua puluh menit kalau naik motor."


"Kenapa nggak bangunin gue dulu?" bergumam dengan sedih.


"Tadi kamu tidurnya nyenyak banget kata Januar, jadi Januar titip kamu ke ibu. Kalau butuh apa-apa panggil aja ya, Ibu lagi bikin bolu kukus pesanan Tetangga."


Harusnya Januar ada disini membantunya pergi ke kamar mandi. Semakin kesal ketika Amber berdiri, kakinya bergetar merasakan sakit.


"Tau ah gue sebel sama itu orang." memilih untuk memakan bubur terlebih dahulu.


Hingga dua suapan terakhir, Januar akhirnya Datang dengan tiba-tiba membuka pintu dan masuk begitu saja.


"Kirain belum bangun." pria itu berucap, tatapan dan juga tindakannya seolah tidak ada yang terjadi semalam.


Itu membuat Amber semakin kesal, dia tidak mengatakan apapun pada Januar.


"Kenapa diem aja?"


Amber masih tidak mengeluarkan suaranya. Pria itu menarik nafasnya dalam, tahu apa yang ada di dalam pikiran sang istri. Mengambil duduk di dekat Amber kemudian menjelaskan kalau temannya yang datang dari kota malah kecelakaan dalam perjalanan. Padahal kedatangannya ke sini untuk berkunjung pada Januar.


Tapi tetap saja Amber hanya mengeluarkan satu patah kata. "Oh." katanya demikian.


Sampai Ibu Dyah tiba-tiba memanggil. "Januar, ada Indah datang. Katanya dia mau ketemu sama kamu."


Alarm bahaya Amber langsung berbunyi, perempuan itu menahan tangan Januar. Saat pria itu menoleh, Amber langsung menyambar bibirnya dengan ciuman. Hingga..... "Lu habis makan apa sih? Kok pahit banget bibirnya?" Amber memundurkan kepalanya dan menggambar minuman yang ada di meja.


"Tadi saya habis minum jamu. Emang pahit ya?"


Otaknya tidak berjalan! Amber bersumpah serapah di dalam otaknya!


Namun ketika ketukan pintu kamar kembali terdengar, disusul dengan kalimat. "Aa, maaf ganggu waktunya. Ini indah. Bisa ngobrol bentar nggak? Penting banget ini."


Dengan penuh nafsu Amber tiba-tiba mendorong tubuh Januar supaya pria itu terlentang, kemudian dirinya langsung menindih dan menduduki perut bawah Januar. "Aghhh......"


Tiba-tiba seperti itu cara membuat mata Januar membulat, dan mencengkram pinggang Amber di kedua Sisi supaya berhenti bergerak di sana.


Sialnya lagi perempuan itu belum memakai celana! Bisa-bisa Januar menerkamnya lagi.


"Jangan sekarang itu ada tamu."


"Ayo kita ingin digituin lagi."


"Lihat punya kamu udah merah gitu."


Sementara di belakang pintu, Indah terdiam mendengar percakapan absurd itu.


🌹🌹🌹