Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Menuju jalan-jalan



"Udah, lagian kan kotorannya lewat di sebelah sana."


"Terus muka aku yang cantik bersih sekarang kena kotoran! Dan kamu pengen aku ikhlas gitu aja?" Tanya Amber dengan tatapan menggebu gebu


Kadang Januar heran, Amber memang sulit dikendalikan.


Jadi dia menarik sang istri mendekat kemudian mengeringkan wajahnya dengan handuk yang dia bawa. "Kamu gak telen airnya kan?"


"Kagak ih jijik." Masih berjingkrak jingkrak kesal dengan apa yang terjadi. "Mau cuci muka. Ada sabun gak?"


"Ada detergen."


"Ya gak pake itu juga kali."


Januar sendiri sibuk mengeringkan kepala Amber dengan handuk. Dia rangkup pipi sang istri kemudian memandangnya dalam. "Udah gak papa. Kan yang ini airnya bersih. Kamu udah cuci muka." Sebagai pembuktian, Januar mengecup pipi Amber yang mana berhasil membuat Amber memalu karenanya.


Dia menahan senyuman hingga lubang hidungnya membesar. Melihat itu, Januar berdehem. "Ayo ke ladang. Kita makan di sana. Kamu belum makan kan?"


"Belum," Ucapnya malu malu. "Ini kenapa kepala aku dibungkus sama handuk?"


"Biar airnya gak bikin baju kamu basah. Sudah biarkan saja. Kalau kamu sakit, nanti saya yang repot."


"Gak mau banget direpotin sama gue?" Menggelengkan kepalanya. "Sama aku?"


"Ya gak gitu, nanti kamu sendiri yang repot. Emang kamu mau sakit? Meriang gitu?"


"Enggak sih."


"Udah ah ayok." Menggenggam tangan Amber dan membawanya pergi dari area sungai. Januar juga membawa rantang makanan di tangannya yang lain.


Karena tempat berteduh di tengah sawah penuh oleh pekerja yang lain, Januar mengajak Amber duduk di tepi sawah. "Tunggu." Pria itu mengambil daun pisang untuk alas mereka duduk.


Wajah Amber langsung speechless melihatnya. Dia akan akan makan di sana dengan kondisi tanah disekitar mereka? Lalu bagaimana kalau ada hewan hewan kecil lainnya?


"Kita makan di sini?"


"Iya, di sini aja. Di sana penuh. Atau kamu mau dimana?"


"Yaudah di sini aja. Udah laper."


Sialnya, Amber malah lupa tidak membawa sendok dan garpu. dia bisa makan sekarang?


"Kenapa cuma liatin aja? Gak makan?"


"Lupa gak bawa sendok," Ucapnya dengan sedih. padahal lambungnya sudah menjerit kuat.


"Mau saya suapin?"


"Mauuu!" Langsung exited yang mana membuat Januar terkekeh.


Haduh mendengar suara beratnya saja mampu membuat Amber merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Bagaimana bisa pria itu mengambil hatinya dengan begitu mudah. Disuapi dengan tangan harusnya menjadi hal menjijikan oleh Amber. Tapi kalau itu dari Januar, dia akan menrima nya dengan baik. "Abis ini langsung pulang?"


"Nggak masih ada kerjaan lagi."


"Emang ngapain aja sih kerjaan di ladang? Gak ada abisnya heran."


"Tuh lihat." Januar mulai menjelaskan kalau area ladang ini bukan hanya padi, tapi juga beberapa sayuran yang diyakini akan menghasilkan banyak uang. Karena ke depannya mungkin musim berganti, dan Januar sudah Memperkirakannya. "Jadi biar nanti ngehasilin banyak uang juga."


"Kalau udah banyak duit, bisa bikin rumah?"


Januar mengangguk. "Bisa."


"Yaudah, kerja yang rajin ya biar bisa cepet cepet punya rumah gede." Kemudian membuka mulutnya lagi menerima suapan dari sang suami. Membuat senyumannya lebar, bahkan Amber tidak pernah disuapi semanis ini oleh orangtuanya.


"Abis ini aku pulang sendiri dong? Nanti kalau ada anjing liar gimana?"


"Asyik." Amber mendekat pada sang suami untuk meminta lagi suapan.


Dan Januar dengan telatennya menyuapi Amber. Karena Januar tau Amber tidak suka pedas, maka hanya menyuapkan nasi dan juga sayurnya saja. Sayangnya ketika Januar terdiam dan memikirkan beberapa hal, dia tidak sengaja mengaduk nasi dengan sambal dan menyuapkannya pada Amber.


"Am." Menerimanya dengan setulus hati sampai akhirnya. "Haahhh! Pedass!" Tenggorokannya terasa panas, dengan cepat Amber mengambil air dan meminumnya dengan rakus. "Kamu kenapa pake sambel ih! Pedes tau!"


***


Karena kesalahan suap pada sang istri, Amber jadi sedikit kesal. Dia marah bahkan tidak mau bicara sepanjang perjalanan ke rumah. Dimana bahkan Januar yang harus menenteng bekal makan siang.


"Lain kali kalau mau nyuapin aku, liat liat dulu dong. Jangan kayak gitu. Kamu gak tau aku kepedesan?"


"Maaf." Januar merasa bersalah. "Nanti kita jalan jalan keluar ya. Mau?"


Amber terdiam, dia belum pernah jalan jalan berdua bersama dengan sang suami. Pasti akan mengasyikan kalau pergi berduaan di malam hari. Tapi, memikirkan kalau ini adalah Juan, Amber khawatir dirinya hanya akan diajak ke pinggir sungai atau ke pinggir sawah. "Halahhh. Males, jalan jalannya pasti nanti di sawah."


"Enggak, nanti saya ajak kamu jalan jalan keliling desa ya? Malem malem?"


Baru juga Amber hendak menjawab perihal tersebut, Januar lebih dulu dipanggil dengan teriakan, "Bang Janu! Kata Teh Indah nanti malem ke rumahnya. Ada yang mau diomongin!" Kemudian sosok yang berteriak itu kembali naik pohon kelapa.


Seketika Amber menghentikan langkah dan menatap sang suami. "Kenapa?" Tanya Januar.


"Nanti mau ke rumah si Indah lagi? Heran deh sering banget ke sana. Lagian kan gak jadi kan? Terus aja itu orang manggil kamu ke sana. Mau apa? Mau gimana?"


"Yuk pulang dulu yuk." Januar kasihan dengan sang istri. Hari ini dia siap berat, sudah cuci muka di sungai yang kotor, ditambah lagi makan sambal, dan sekarang kepanasan.


Begitu sampai di rumah, Amber langsung pergi ke kamar untuk berbaring. Bahkan dia mengunci kamar dari dalam yang membuat Ibu Dyah bertanya, "Itu kenapa istri kamu?"


"Gak papa, Bu. Biasa lagi ribut sedikit. Nanti juga baikan lagi kok." Menyimpan tempat makan yang kotor dan mencuci tangannya. "Januar mau ke ladang lagi, sekalian mau pinjem motor punya Mang Engkus buat ngajak jalan jalan Amber nanti malam."


"Nah gitu dong. Ajak jalan jalan istrinya. Ibu gak papa ditinggal di sini sendiri. Istri kamu itu butuh hal yang lebih, Januar. Jangan sampai perempuan yang kamu sayangi malah susah karena Ibu."


Januar menggenggam tangan ibunya dan menciumnya cukup lama. "Ibu jangan mikirin apa apa, Januar gak akan kemana mana. Gak akan ninggalin Ibu. Januar senang hidup di sini. Amber juga bisa belajar memaknai hidup jika di sini." Kemudian Januar memeriksa obat sang Ibu. "Kalau obatnya habis, bilang ya. Nanti kita ke rumah sakit."


"Nggak usah, uangnya dipake dulu buat kebun. Lagian Ibu masih bisa pake herbal."


Januar menggelengkan kepalanya. "Pake duit tabungan aku, Bu."


"Gak, Ibu gak mau pake uang itu."


"Ini uang Januar kok, bukan dari mereka."


"Udah cukup." Ibu Dyah enggan membahas hal ini lagi. Dia beranjak melangkah menuju ke arah dapur. "Sana kalau mau ke ladang. Jangan lupa nanti pulangnya jangan kesorean kalau mau ajak Amber jalan jalan. Kasian dia kalau harus kehujanan. Biasanya kalau malem suka hujan soalnya."


Januar menghembuskan napasnya kasar. Dia tidak bermaksud seperti itu. Yang dia inginkan hanyalah kesembuhan sang ibu terlepas dari uang siapapun itu. "Gimana bisa sembuh kalau misalnya Ibu gak mau berobat." Merasa berat sekali akan hal tersebut.


***


Dikarenakan Januar sudah berjanji akan mengajak Amber jalan jalan. Jadi dia meminjam motor untuk mengajak Amber jalan jalan. Sementara Amber sendiri terlalu lelap dalam tidurnya. Ibu Dyah yang mengetahui rencana sang anak itu segera membangunkan Amber dengan cara mengguncang tubuhnya dan mengatakan, “Nduk, Januar lagi pinjem motor sama tetangga. Kamu gak mau bangun? Terus siap siap?”


“Hmmm?” jujur saja Amber malas membuka mata, tapi dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya.


“Cepetan bangun, Nak. Itu Januar bentar lagi ke sini. kan mau jalan jalan.”


Langsung teringat apa yang Januar janjikan tadi, Amber langsung mengedarkan pandangan dan sadar kalau dirinya belum mandi. “Kok aku lama banget sih tidurnya? Ibu kenapa gak bangunin juga?” kesal sendiri dan bergegas keluar untuk mandi.


Ibu Dyah menghela napasnya dalam, untung saja dia punya kunci cadangan hingga bisa masuk dan membangunkan Amber. Dimana perempuan itu mandi dengan cepat karena tidak ingin membuat Januar menunggu. Tidak ingin salah kostum dan tau kalau dirinya akan naik motor, Amber memakai celana panjang, jaket yang ada di lemari dan juga sandal capit. Melihat penampilannya, Amber tersenyum miris. Benar benar berbeda dengan dirinya yang terdahulu. “Bodo amat ah, mikirin masa lalu gak bisa bikin gue kayak lagi.” Segera mengikat rambutnya dengan benar. Meskipun susah karena Amber terbiasa diikat oleh salon professional yang bisa dia panggil ke rumah. “Gak papa lah, digerai aja,” ucapnya pada diri sendiri.


“Nduk, tuh Januar udah nunggu diluar.”


“Semoga aja Nyokap Bokap gue masih hidup, meskipun gue gak tau mereka kenapa buang gue.” Segera keluar. Yang ingin Amber lakukan sekarang hanya menjalankan peran, menikmati kehidupan dan juga sosok yang membuat hatinya berdebar.


Sosok Januar yang sekarang sedang menunggunya di atas motor RX-king. Dengan jaket kulit yang membuatnya terlihat tampan. Setidaknya, inilah satu satunya alasan Amber bertahan pada Januar. Pria itu tampan! Membuatnya betah melihat wajahnya lama lama! Tidak seperti papanya yang suddah tua! “Hehehehe, jalan jalan.” Amber melangkah dengan tidak sabaran dan naik ke atas motor sang suami.