Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Bukan yang pertama



Karena kepanikan yang dialami oleh Amber, maka Januar memutuskan untuk membawanya ke Puskesmas terdekat. "Supaya meyakinkan perempuan itu kalau semuanya baik-baik saja.


"Nggak ada yang bakalan meletus, semuanya baik-baik aja."


"Terus kenapa ini tangan gue kayak gini?"


"Kan tadi udah denger penjelasan dari dokter, kamu dengerin nggak?" tanya Januar dengan kesal.


Amber hanya bisa mengerucutkan bibirnya ketika mendapatkan tatapan tajam dari suaminya, pria itu menghela nafasnya dalam. "Lain kali hati-hati, udah tahu itu ada di atas kompor, artinya panas."


"Iya nanti hati-hati. Gue kan nggak tahu, mana lagi lapar lagi," gumamnya seperti itu. "Mau pulang, mau makan."


"Bentar tinggal nunggu resep dari dokter."


Keduanya duduk di ruang tunggu bersama dengan pasien yang lainnya. Ketika ada orang yang duduk di samping Amber dan memiliki bau badan yang tidak sedap, perempuan itu mendekat pada Januar, lebih mepet hingga keduanya bersentuhan.


"Atas nama Ibu Amber."


Januar yang berdiri untuk mengambilnya, tapi Amber mengikuti dari belakang. Seperti anak pada ayahnya.


"Tunggu dulu, Saya mau ke toilet dulu."


"Heran banget gue sama lu, dimana-mana terus aja ke toilet. Kelihatan banget mumpung di luar sama kamar mandi yang bersih, nggak kayak yang di rumah."


Mulut itu masih saja tajam, Januar mengabaikannya. Hingga Amber duduk di tempat sebelumnya, tidak nyaman karena ditatap beberapa orang bahkan diberikan pertanyaan.


"Istrinya Januar ya?"


"Udah tahu masih nanya," gumam Amber seperti itu. Lama menunggu Januar, bahkan ini sudah hampir dari 30 menit. Pria itu sakit perut atau bagaimana?


"Mbak kalau toilet di sebelah mana ya?"  tanya Amber Karena dia sudah lama menunggu pada salah satu pekerjaan yang ada di puskesmas.


"Ada di sebelah sana Mbak."


Kalau toilet cowok nya sebelah mana?"


"Toiletnya cuma ada satu, yang disana aja."


Bahkan Amber merasa aneh ketika diajak ke tempat seperti ini, dulu dirinya memiliki dokter pribadi sehingga melakukan apapun di rumah. 


Terus berjalan dengan petunjuk dari orang tadi, Amber terkejut melihat Januari yang sedang berbicara dengan seseorang..... Perawat?


"Aa kalau mau nanti diajarin sama Indah."


"Nggak papa udah paham kok. Makasih ya."


Ternyata ini alasannya betah sekali di kamar mandi, ada perempuan yang terlihat memandangnya dengan penuh kekaguman. Amber yakin kalau perempuan itu menyukai Januar, matanya berbinar apalagi ketika mata itu menatap ototnya.


Dasar! Semua wanita sama saja!


"Januar!" Panggil ember seperti itu dengan Tatapan yang tajam dan menggebu-gebu. "Ditungguin dari tadi kok malah di sini?"


Kemudian beralih pada perempuan yang namanya katanya indah. "Lu siapa?"


"Amber Jangan kasar," ucap Januar kemudian menggenggam tangan itu. "Makasih ya, Ndah." 


Dan bergegas membawanya pergi sebelum Amber kembali melontarkan kata-kata jahat.


Begitu sampai di parkiran sepeda, Amber menghempaskan tangan Januar. "Kenapa lu lama banget? Lu mau selingkuh sama itu cewek nyampe bikin gue nunggu 30 menit lamanya? Lu tahu nggak kalau gue itu kelaperan! Dari tadi gue bilang kalau gue itu lapar?! Hmph!"


Karena kesal Januar akhirnya membekap mulut Amber dengan tatapan yang tajam kemudian mengatakan, "Nggak usah teriak-teriak nanti kamu jadi pusat perhatian."


Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel layar sentuh dari sakunya dan memberikan pada Amber. "Saya nggak ada duit kalau beli yang baru, itu saya beliin yang second tapi lumayan masih bisa dipakai."


Amber terdiam, kata-kata indah yang diajarin tentang Android? Inikah alasannya?


🌹🌹🌹


"Nggak papa kok Bu. Cuma tangannya aja yang sedikit melepuh."


Sedikit apanya! Amber menatap tangannya sendiri yang kini sudah tidak cantik lagi, takut ada bekasnya. Dia ingin ke rumah sakit dan klinik kecantikan, tapi apalah daya kalau memiliki suami yang miskin.


"Januar mau ke ladang lagi."


"Nggak mau makan dulu ini?"


"Nanti aja, Bu, tanggung, tadi ada yang harus diberesin."


Tanpa berpamitan kepada Amber, pria itu pergi begitu saja. "Sini makan dulu."


Sepertinya Amber sekarang sudah terbiasa memakan makanan yang aneh seperti ini, dengan nasi yang warnanya kumal.


"Katanya Januar mau beliin HP buat kamu, udah ada?"


"HP second juga," ucapnya menggerutu  sambil terus mengunyah makan siangnya.


"Maaf ya, soalnya Januar bukan lahir dari keluarga yang kaya raya. Lahan yang kita punya itu satu-satunya Sumber penghasilan kita. Tapi Ya namanya juga petani harus muter otak, belum lagi kalau misalnya hasil panen yang nggak sesuai."


"Emang nggak bisa dijual aja itu lahan?"


"Nanti kalau dijual, kita makan apa dong? Uangnya juga nggak bisa muter. Sabar ya, tunggu Januar punya tabungan yang gede buat bisa beliin kamu rumah."


Amber tidak percaya lagi, dia tidak akan menunggu apapun dari keluarga ini.


"Habis makan, bisa tolong anterin makan buat Januar ke ladang?"


"Nggak mau ah panas! Gue maunya tiduran aja! Kan ini tangan juga sakit!" menunjukkan tangannya yang diperban. Masa iya harus beraktivitas.


"Tapi Ibu mau ke rumah Pak RT lagi. Tolong banget ini mah, nanti malam Ibu masakin daging sapi deh."


Karena diiming-imingi hal tersebut, Amber akhirnya mau untuk menghantarkan makanan ke ladang. Karena takut terbakar, ember memakai caping di kepala.


"Bodo ah yang penting gue nggak item," ucapnya demikian.


Dengan menenteng rantang pergi menemui suaminya yang ada di ladang jagung. Pria itu sedang memanen jagung hingga senyuman Amber terbit seketika. "Lagi panen ya? Nanti dijual kan? Nanti bisa beliin gue baju sama Skin Care?"


Datang-datang sudah di todong hal demikian. "Ini lahan punya Pak Somad jadi kita bagi dua hasilnya."


"Tapi tetap kan bisa beliin gue skin care sama baju baru?" tidak ada jawaban dari Januar membuat Amber kesal. "Jawab gue kenapa sih?!"


Pria itu menghentikan kegiatannya, menarik tangan ember untuk berteduh di gubuk yang ada di Tengah ladang.


"Kata nyokap lu harus ngasih lu makan. Habis ini gue mau balik lagi ke rumah mau tidur, tapi panas, Gue gak mau kulit gue item."


"Iya Panas banget cuacanya."


Saat ember menoleh, dia kaget bukan main melihat Januar yang membuka kaos bagian atasnya. Aduh itu otot ada dimana-mana, ada keringat juga, menambah keseksian dengan warnanya lihat.


Amber tidak bodoh, Dia pernah melihat video porno. Dan pria seperti inilah yang selalu membuat wanita mendesah di bawahnya.


Hingga dia tanpa sadar menggigit bibirnya keras, dan mengeluarkan darah. Januar terkejut.


"Bibir kamu terluka, jangan digigit," menyeka nya dengan baju yang tadi dikenakan oleh Januar.


Harusnya bau keringat kan? Tapi kenapa aroma yang begitu membuat Amber semakin naik libidonya?


"Gue nggak tahan!" teriaknya kemudian tiba-tiba meraup bibir Januar.


Karena ini bukan Ciuman Pertama Amber, jadi dia sudah lihai.


🌹🌹🌹