
Ternyata Amber diajak pergi ke kota terdekat dari kampung. Melihat bagaimana lampu-lampu yang menyala saja, membuat Amber begitu bahagia. Sudah lama dia tidak menyaksikan semua ini, semua hal-hal yang menarik di matanya yang sudah lama dia tinggalkan.
Meskipun begitu, Amber mengingat bagaimana dulu dirinya menikmati semua kekayaan seorang diri tanpa siapapun yang ada di sampingnya karena Amber tidak memiliki teman dekat ataupun saudara. Kedua orang tuanya selalu sibuk, meninggalkan Amber dengan setumpuk uang. Jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Mungkin hanya beberapa jam dalam seminggu, Di mana mereka bisa menaruh perhatiannya pada Amber. Itu juga tidak sepenuhnya, dikarenakan sisa Waktu mereka habiskan untuk memarahi Amber yang memberikan nilai tidak memuaskan di perkuliahan.
Untuk sekarang, Amber tidak lagi memikirkan hal-hal itu. Dia menarik nafasnya dalam dan merasakan kebebasan meskipun penuh dengan keterbatasan.
Motor itu berhenti di salah satu pedagang kaki lima di pinggir jalan. Sepertinya dirinya akan diajak makan. Amber berdehem mempersiapkan diri akan makan di tempat yang tidak sesuai dengan kriterianya.
"Nggak papa kan makan di sini? Ini salah satu tempat yang menjadi favorit saya."
"Nggak papa kok." Amber memberikan senyuman yang begitu manis pada Januar, satu-satunya orang yang dirinya miliki hanyalah suaminya sendiri.
Amber memesan makanan yang sama dengan Januar, bebek goreng dengan nasi dan juga sambal yang melimpah. "Bisa minta sendok?" tanya Amber pada sang suami.
"Maaf Neng di sini nggak nyediain sendok. Pakai tangan aja nanti saya siapin air kobokan nya."
Mendengar hal tersebut membuat Januar menawarkan diri dengan kalimat. "Mau saya suapin?"
Tapi Amber terlalu tahu trauma, dia tidak suka makanan yang pedas jadi memilih makan sendiri. Tangannya terulur menyentuh daging tersebut, rasanya berminyak dan juga aneh. Setidaknya jika makan di rumah, dia selalu memakai sendok.
"Sini biar saya yang cabutin dagingnya buat kamu." dengan telaten Januar melakukannya hingga Amber hanya tinggal melahapnya saja dengan masih.
"Makasih," berucap dengan malu-malu dan segera memakannya.
Sebagai pasangan suami istri, Amber ingin memulai percakapan dengan hal-hal yang ringan. Seperti contohnya. "Tadi kamu abis ngapain aja di ladang?"
"Lah kan kamu sendiri yang datang terus lihat saya lagi ngapain."
Pertanyaan yang salah, Amber menyadari hal tersebut begitu pula dengan Januar yang sekarang tertawa. "Saya nggak pergi ke rumahnya Indah kok. Saya tolak permintaan keluarganya. Soalnya saya mau fokus di ladang saya sendiri."
"Kalau kita ngomongnya mulai biasa aja? Aku kamu contohnya, biar lebih nyaman buat kedepannya. Aku juga males kalau orang-orang mulai lihatin kita kalau kita lagi ngomong, nggak kayak suami istri soalnya."
"Oke kalau gitu kamu Coba panggil saya dengan sebutan Mas."
Amber mengangguk antusias. "Kamu juga harus panggil aku sayang sebagai gantinya."
Hampir saja Januar tersedak, dia terbatuk-batuk dan meraih minuman yang ada di meja.
"Atau panggil aku adek juga nggak papa, kan masih pantas disebut kayak gitu. Aku kan masih muda."
"Makan yang banyak biar Mas bisa aja kamu jalan-jalan." sebagai gantinya mengatakan hal tersebut.
"Yah panggil aku sayang atau adek?"
"Saya lebih nyaman panggil kamu dengan sebutan nama aja."
"Kenapa emangnya? Kali-kali panggil sayang emang aneh ya?" karena tidak ingin terlihat memaksa, Amber segera berucap, "Aku ngomong kayak gini bukan apa-apa ya. Aku cuma pengen kita kayak suami istri pada umumnya. Lagian juga aku harus gimana lagi selain terima kamu sebagai suami aku kan? Percuma kalau aku nangis kejer juga, orang tuaku nggak akan kembali lagi jadi. Ayo kita mulai Semuanya dari awal. Kalau emang nggak mau manggil sayang atau adek, Ya udah nggak apa-apa sih. Nggak maksa juga."
Kalimat yang dikatakan oleh Amber itu membuat Januar penasaran. Tangan pria itu terulur untuk menyentuh kening sang istri, kemudian dirinya berkata, "kamu nggak demam kok. Kenapa jadi waras kayak gini?"
Ini bukanlah kota besar tempat di mana Amber tumbuh. Tapi setidaknya ini menjadi daerah yang lebih modern dari kampung. Januar mengajak Amber berjalan-jalan ke taman, membeli beberapa camilan sampai akhirnya hujan tiba-tiba melanda dan Januar menarik tangan Amber untuk berteduh di sekitaran Hotel megah yang ada di sana.
Motor Mereka ada di parkiran, cukup jauh jika harus pergi ke sana dan akan berakhir dengan basah kuyup.
"Kamu bawa jas hujan nggak?"
"Enggak."
Amber langsung lemah seketika, dirinya ingin langsung berbaring saat ini juga. Tapi sepertinya mereka harus menunggu sampai hujan reda, mengingat jarak dari sini ke rumah lumayan memakan waktu.
"Terus kita nungguin aja di sini gitu?"
"Emangnya kamu mau diajak hujan-hujanan."
Menggeleng seketika. Siapa yang mau hujan-hujanan dan berakhir sakit nantinya? Jadi mereka hanya berdiri di sana menunggu hujan reda. Januar merasakan kalau sang istri sedang kedinginan, dia merangkul Amber dan berakhir dengan memeluknya.
Mata Amber menatap gedung hotel tempat dirinya berteduh. Sepertinya ini hotel bintang 3 yang lumayan masuk ke dalam kategorinya. Tapi tidak mungkin untuk Amber sekarang menginap di sana, jadi dia hanya membalas pelukan Januar dan menarik nafas dalam.
Hujan tidak kunjung reda, di sana juga tidak ada bangku untuk mereka duduk. Ketika tengah malam hampir tiba, orang satpam mendatangi keduanya mengatakan, "Tolong berteduhnya jangan di sini. Ini khusus untuk tamu hotel. Jika ingin pergi saya akan pinjamkan payung."
Yang mana membuat Amber melepaskan pelukan pada Januar dan menatap pria itu dengan kebingungan. "Ayo kita pergi."
Tapi melihat sorot mata Amber yang terlihat terluka, Januar jadi tidak tega. "Kami tamu di hotel ini." pria itu menarik tangan Amber untuk masuk ke lobi hotel.
Sebelum mencapai resepsionis, Amber menarik tangan Januar dan mengatakan, "Jangan Gila kamu, kalau kita nginep di sini pasti bakalan ngeluarin uang yang banyak dan kita nggak akan mampu. Gimana kalau mereka malah nyuruh kita buat jual ginjal?"
"Nggak akan, semuanya bakalan aman." berkata demikian dan menarik lagi tangan ampere untuk memesan kamar di sana.
Semakin mengejutkan ketika Januar memilih salah satu suite room, bahkan meminta beberapa makanan untuk diantarkan ke atas. Pria itu juga mengeluarkan kartu kredit berwarna hitam yang bahkan tidak pernah Amber miliki sebelumnya. Papanya mungkin memilikinya.
Jadi ketika mereka sudah menerima kartu untuk masuk ke dalam kamar, Amber langsung bertanya pada Januar. "Dari mana kamu dapetin kartu itu? kamu nggak ngelakuin hal yang jahat kan?"
Januar malah tertawa dengan dugaan Amber yang di luar prediksinya. "Ini bekas majikan saya, yang belum saya kembaliin."
"Majikan yang mana lagi, perasaan kamu banyak banget majikan yang pinjemin ini itu deh. Yang kasih kelonggaran ini itu."
"Jangan khawatir, yang penting kita bisa tidur di tempat yang nyaman sekarang. Dan nggak bikin kamu pusing."
Karena ini waktu untuk mereka tidur. Begitu Januar membuka pintu, Amber langsung memekik merindukan suasana seperti ini. Dia berlari ke dalam kemudian menjatuhkan diri dengan posisi tengkurap di atas kasur. Membalikan badannya menatap sang suami yang melangkah ke arahnya.
"Karena kita udah ada di sini. Gimana kalau kita manfaatin moment?"
"Momen buat apa?"
"Buat anu." menggigit telunjuknya sendiri karena malu untuk mengatakannya. "Buat bikin anak, Soalnya kita ada di hotel yang mahal. Biar jadi doa buat anak kita nantinya jadi pemilik hotel ini. Yuk."
Tanpa malu lagi Amber mengajaknya Karena dia sudah sangat merindukan sentuhan Januar lagi.