
“Amber udah, Nak. Ibu gak papa.”
“Ibi gik pipi.” Amber malah kesal dengan sang Ibu yang menerima apa yang dilakukan orang orang itu. “Lu semua gak bisa seenaknya ya nyuruh nyuruh Ibu mertua gue. Semua ada tupoksinya masing masing!”
“Amber.” Sang Ibu mencoba menahan sang anak. Tidak mau Amber terlibat banyak masalah. "Udah ayok pergi dari sini. Jangan gitu."
Karena Amber sendiri tidak mau memperpanjang masalah dengan mengeluarkan tenaganya. Dia menarik napas dalam dan berbalik ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya. Saat Amber berada di dalam, Ibu Dyah berulang kali meminta maaf pada orang orang di sana. "Tolong maafkan menantu saya, dia emang masih butuh adaptasi. Maaf ya." Berucap seperti itu.
Akhirnya kemudian saat Amber keluar dari kamar mandi, Ibu Dyah langsung menariknya untuk ke gudang yang ada di bawah menyelesaikan pekerjaan. Memang Ibu Dyah sendiri kecewa karena dirinya harus bekerja di sini di saat dirinya mengharapkan membuat kue atau semacamnya. "Udah jangan bahas apa apa lagi. Ayo selesaikan ini nanti kita pulang."
"Ibu jangan diem aja. Lawan kali kali. Bisa karate gak? Nanti aku yang ajarin ya. Aku bisa, meski cuma kuda kuda aja."
Ibu Dyah hanya tersenyum mendengar sang menantu mengatakan hal tersebut. Karena masih ada sampah yang harus diangkut ke atas. Amber mana tega melihat wanita tua renta itu. Akhirnya dia membantu mengangkatnya dengan tergesa-gesa. "Nanti kalau Amber udah kaya. Amber bantuin ibu biar gak diginiin lagi," Ucapnya seperti itu.
"Iya, Nduk. Makasih sebelumnya ya."
Begitu selesai dengan semua pekerjaan di sana, Amber tidak mau berlama lama di sini. Dia meminta sangat Ibu untuk segera membawanya pergi dari sini. "Ibu kita langsung pulang kan?"
"Bentar nanti takutnya ada yang harus ibu kerjain lagi, Nduk."
"Apa lagi, Bu? Udah ayok kita pulang aja." Tidak tahan untuk pulang. "Ya? Pulang ya? Amber yang bilang sama si ibu ibu di sini."
"Iya ayok ayok." Karena kasihan juga melihat Amber. Ibu Dyah langsung meminta untuk pulang dengan meminta izin pada Ibu Kadus. "Bu, maaf ya boleh saya langsung pulang? Kalau ada pekerjaan yang lain lagi. Ibu bisa minta yang lain ya."
Ibu kadus sebenarnya ingin menolak mereka untuk pulang karena masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan oleh Ibu Dyah. Namun ketika Ibu Kadus melihat sosok yang ada di belakang Ibu Dyah sedang menatapnya dengan tajam, dia mana berani dan akhirnya mengangguk saja. "Iya, Bu. Maaf ya saya malah suruh bersihin gudang. Soalnya yang bikin kue udah banyakan."
"Gak apa apa, Bu."
"Bentar saya bawain dulu upahnya," Ucap sosok tersebut memilih untuk melangkah pergi ke dalam kamar untuk membawakan upah
Di sana Amber kembali mendumal. "Makannya kalau apa apa itu harus sesuai sama apa yang diomongin. Ibu Kadus kok gitu. Omongannya gak bisa ditepati."
"Nduk udah." Ibu Dyah tersenyum kembali menatap sang anak. Mencoba memberitahu Amber kalau dirinya baik baik saja. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu.
"Ini, Bu. Makasih ya."
"Gak sama sama," Ucap Amber kesal. "Bu lain kali harus sesuai ucapan ya. Kalau ibu saya mau ditempatin di pembikinan kue, yang harus seperti itulah. Jangan seenaknya jadi orang. Ibu pernah nonton indosair gak? Saya korbannya, karma itu ada, Bu. Hati hati loh." Kemudian menggenggam tangan Ibu Dyah dan membawanya pergi dari sana.
"Nduk, walaupun kita emang dipandang rendah sama mereka, kita gak boleh seenaknya kayak gitu. Kita gak boleh sama kayak mereka."
Ibu Dyah tidak mendengar jawaban apapun dari Amber. Dia malah mendengar Amber yang sedang sesegukan. Hingga Ibu Dyah menghentikan langkahnya. "Nduk kamu nangis?"
"Nggak, lagi pilek aja," Ucapnya menyeka air mata. Ternyata seperti inilah jadi orang miskin. Dipandang sebelah mata sungguh menyakitkan.
"Nduk, kenapa nangis?" Tanya Ibu Dyah memandang sang menantu penuh kekhawatiran yang dibalas celengan kepala oleh Amber begitu sampai di rumah.
"Januar kapan pulang? Katanya makan siang mau ke sini mau pulang."
"Kalau gak makan di sini. Mungkin dia lagi makan di luar."
"Ke rumah makan gitu? Gak ajak ajak?"
"Bukan, maksudnya makan di sana kayak nemu pisang atau apa jadi masih kenyang." Ibu Dyah sedang menghitung uang di tangannya. Dia terlihat sibuk. "Nduk sini. Nih buat kamu."
Amber memandang uang yang diberikan oleh Ibu Dyah dengan tatapan yang datar. "Kurang ya? Yaudah nih. Ini beliin kosmetik sana, cukup kali ya?"
"Gak mau. Buat Ibu aja." Memalingkan wajahnya merasa kasihan dengan Ibu Dyah. Dan enggan untuk menangis lagi di hadapan Ibu Dyah, Amber memilih. "Mau istirahat aja. Mau tiduran."
"Oh yaudah gak papa. Ini uang yakin gak mau? Simpen nih."
Masih kekeuh menggelengkan kepalanya. "Dibilangin buat Ibu aja ih. Simpen, Biar Ibu punya pegangan," Ucapnya seperti kemudian kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi.
Amber menutup pintu, dia tidur tengkural sampai tiba tiba saja air matanya menetes begitu saja. Ternyata, seperti inilah rasanya menjadi miskin kawan kawan? Direndahkan bahkan ditertawakan. Yang membuat Amber jadi ingin menjadi kaya lagi. Tapi bagaimana caranya? Apakah dirinya harus bekerja? Tapi dia bisa apa?
Hingga akhirnya, Amber menutup matanya perlahan dan terlelap. Jika dia tidak kaya di dunia ini, maka dia akan menjadi kaya di dunia mimpinya.
Ibu Dyah memastikan keadaan Amber, dia masuk ke kamar sang menantu diam diam dan mendapati Amber sudah terlelap sambil tengkurap. Tangannya terulur mengelus rambut sosok tersebut. "Maaf ya, Nduk." Seperti itu sebelum akhirnya keluar lagi.
Amber bangun lagi saat matahari sudah berada di puncaknya. Tubuhnya dipenuhi keringat akibat tidur yang terlalu lama dan tidak ada AC di sini. "Haduhhh," Ucapnya kepanasan. Segera bangun dan melihat ponselnya, ini sudah siang. Amber membulatkan matanya. Dia harus belajar memasak. "Ibu!" Teriaknya langsung keluar dari dalam kamar.
"Kenapa?" Ibu Dyah kaget bukan main.
"Januar udah pulang?"
"Belum, ini Ibu mau nganterin ke ladang. Tapi mau bikin dulu."
"Oh belum bikinnya?" Amber langsung tersenyum. "Aku mau dong ikut masak. Terus nanti nganterin ke sana ya?"
"Boleh. Sini, Nduk. Kita masak makanan kesukaan Januar. Tumis daun pakis."
Melihatnya saja sudah mengerikan untuk Amber, tapi dia mencoba yakin kalau masakan sang mertua selalu enak. "Gila amat si Januar suka makan beginian? Gue mah ogah."
"Nduk, katanya mau mulai jadi istri yang baik buat Januar, coba manggil dia juga yang sopan. Panggil Mas, gimana?"
"Mas?" Baru juga membayangkan, Amber sudah tersenyum sendiri. "Ah malu."