Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Menakutkan



Masakan Indah enak, pinter dan bervariasi. Dipuji seperti itu oleh orang tuanya sendiri. Amber hanya terdiam melihat bagaimana perempuan itu tersipu. 


"Ayok dimakan dulu, Amber. Pasti kamu juga suka."


Ya memang Amber akui kalau masakan yang dibuat oleh Indah ini enak. Tapi tidak perlu kan sampai dipuji puji. Ketika Januari memakannya dengan begitu lahap itu membuat Amber sedih. Haruskah dirinya juga pintar memasak supaya pria itu memakan masakannya dengan lahap? 


"Abis ini mau pulang?" Tanya Amber. 


"Bentar lagi ya. Mau ke kebun belakang liat aliran sungainya." Januar yang menjawab. 


"Mau ikut."


"Di sini aja teh. Nanti kan ke sana banyak nyamuk sama serangga."


Amber tidak mendengarkan Indah, dia tetap akan pergi ke kebun belakang bersama dengan Januar dan pria tua itu. 


"Amber ini manja ya. Istri yang gak mau ditinggal suami." Pria tua itu bercanda demikian yang hanya dibalas kekehan oleh Januar. 


Ketika mereka pergi ke kebun, Amber memaksa Januar untuk terus menggengam tangannya. Dia tidak mau jauh jauh dari sang pria. Khawatir juga ada apa apa karena di sini gelap. 


"Kalau aliran sungainya gak baik, saya gak bisa, Pak. Dulu juga pernah kelola kebun di kampung sebelah yang gak ada alirannya. Saya kesulitan."


"Cukup kali kalau segini. Bapak mau istirahat. Lagipula bapak gak nge harepin uang yang banyak. Cuma mau ada yang ngelola dan bagi hasil aja."


Plak! Amber memukul nyamuk yang menggigitnya. "Ih banyak nyamuk."


"Kan tadi udah suruh diem nunggu di sana." Januar mengingatkan. 


"Gak mau. Ikut di sini aja." Gelendotan pada sang suami. 


Sampai mata Amber terpana ketika dia melihat sebuah pisang matang dari pohonnya. "Wah kok gini sih matengnya sebagian?"


"Emang kayak gitu. Kalau pisang matengnya bisanya gak semuanya bareng, tapi sedikit sedikit lah." Si bapak tua menjelaskan. "Kalau mau, ambil aja. Petik yang udah matengnya sana."


Amber memilih mengambil pisang yang terlihat segar. "Mau ke sini bentar ya." Januar meminta izin pada sang istri untuk bisa dia tinggalkan. 


Amber mengambil satu pisang yang sudah kuning dan membukanya, menikmatinya untuk makan di tempatnya langsung. Tidak peduli apa apa lagi karena sebelumnya dia hanya makan sedikit mengingat Indah ada di sana. 


"Enak banget."


Januar dan pria itu pergi sekitar lima menit dan kembali ke tempat Amber ditinggalkan. "Ayo pul… .  Kamu ngapain," Ucap Januar terlihat panik. 


"Ini kenapa ada biji kopi? Emang kopi juga dari pohon pisang?"


"Neng, itu taiik kambing yang kering!" Teriak Bapaknya Indah. 


Yang membuat Amber seketika melemparnya dan menatap Januar dengan manik yang berkaca kaca. 


****


"Udah ilang, udah gak bau. Lagian kan itu kotoran kering jadi gak akan terlalu bau."


"Tetep aja gue pegang taiiik!" Teriaknya dengan amarah yang menggebu gebu. Jijik melihat tangannya sendiri. Tidak mau makan dan menyentuhnya. 


"Ya terus mau gimana lagi? Kan udah cuci tangan juga." Januar tetap mengayuh sepedanya. 


"Udah ayok masuk."


"Mau cuci tangan lagi."


"Nanti tangan kamu lecet. Liat udah merah kayak gini. Lagian kamu udah cuci lebih dari lima menit tadi." Januar menggenggam tangan yang tadi memegang kotoran kambing kemudian menciumnya. "Tuh. Udah wangi sabun."


Senyuman mengembangkan di bibir Amber. Senang sekali melihat suaminya melakukan hal manis seperti itu. 


"Ini wangi gak?" Tanpa rasa malu Amber menunjuk bibirnya sendiri. 


Januar mengangkat alisnya. 


"Ish! Ini juga gak dicium?"


"Oh." Pria itu mendekat dan memberikan kecupan di bibir Amber. Namun Amber dengan brutalnya malah menarik tengkuk Januar hingga ciuman kini menjadi lumatt@n yang didominasi oleh Amber. 


"Aduh, Nak! Jangan mesum di sini! Sana pada ke kamar!" Teriak Ibu Dyah yang akan menbuang sampah keluar. 


"Biar Januar aja, Bu. Yang buang."


Amber dengan senyumannya yang masih salah tingkah itu masuk ke dalam dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. 


"Nduk, cuci kaki dulu. Kan abis dari luar. Gosok gigi juga."


Amber masih enggan menjawab, dia tetap memainkan ponselnya menunggu Januar untuk ikut bergabung. 


"Tuh Januar aja langsung ke kamar mandi buat bersih bersih."


"Males, Bu." Demikian alasannya. 


"Nanti kamu jerawatan, kulitnya kusam juga. Januar mau sama kamu karena kamu cantik mulus. Kalau kamu udah jelek dia belum tentu mau."


Yang seketika membuat Amber berdiri dari tidur annya dan berjalan seketika ke kamar mandi. Dia tidak mau hal itu terjadi. "Aduh! Ibu pintu kamar mandinya gak bisa dibuka!"


Amber mengetuk seseorang di dalam sana. 


"Ada Januar, nanti nunggu dulu."


"Gak bisa! Mules! Januar buka!"


Januar membukanya, terlihat pria itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggang dengan mulut yang mengullum sikat gigi. 


Amber membulatkan mata. "Wow." Kemudian ikut masuk dan mengunci dari dalam. 


"Saya gak mau liat kamu berak. Awas saya mau keluar."


"Ih enggak. Gue bohong kok. Cuma mau bareng aja di sini. Hehehehe."


Januar memundurkan langkahnya. Kenapa Amber jadi menakutkan? 


***