Stuck With Poor Farmer

Stuck With Poor Farmer
Petaka yang terjadi



Kenyataannya Amber memilih untuk berjalan-jalan sendirian mengabaikan Bagaimana Ibu Dyah yang sekarang mungkin sedang mencarinya. Dia butuh ketenangan untuk kehidupannya yang sekarang, yang semakin mengerikan baginya. Bagaimana bisa orang tuanya membiarkan Amber bersama dengan orang-orang yang tidak peduli padanya.


Dan hal itu dilakukan Amber kurang lebih selama 30 menit. Mengelilingi pasar yang bau, tapi tidak sebahu dan kacau hatinya yang dilanda kegelisahan dan juga kesedihan.


Ini kali kedua dirinya ke pasar, jadi mudah untuk menemukan jalan pulang. Kembali lagi ke tempat dimana dirinya meninggalkan tukang ojek.


Dan disana dia hanya mendapati satu orang yang tersisa. Kemana ojek Milik ibu mertuanya?


"Ya ampun Neng kemana aja? Dari tadi dicariin! Bikin semua orang panik aja!"


"Kenapa emang malah marah-marah sama gue! Enggak tahu apa kalau gue lagi pusing?!"


"Mertua Neng hampir pingsan soalnya nyari-nyari neng ke dalam pasar. Saya dimintai dia buat nunggu Neng di sini."


"Hampir pingsan?" Amber menyadari kalau dirinya pasti akan berada di dalam masalah, buru-buru naik jok belakang motor yang membuat tukang ojek itu hampir oleg.


"Neng pelan-pelan kenapa?!"


"Cepetan kita pulang!"


Dalam perjalanan Amber berdoa Semoga hari ini tidak menjadi masalah untuknya. Dia sudah benar-benar malas berurusan dengan Januar.


"Emang Neng tadi ke mana sih? Kenapa tiba-tiba ngilang gitu aja. Ibu Dyah bilang tadinya Neng ada di belakang beliau, kenapa ngilang?"


"Daripada ngomong mulu mending lu cepetan ngebut deh."


"Lihat di depan ada truk. Kalau saya salip, nanti saya nggak bawa Neng pulang ke rumah, tapi bawa pulang neng pada Tuhan."


Entah ini perasaan Amber saja atau semua orang memang menyebalkan. Begitu dia sampai di sekitaran rumah, Amber langsung berlari kecil di jalan yang sempit. Pengingat motor tidak bisa lewat di jalan itu, jadi Amber harus berlari menuju rumah.


Lagi-lagi Amber melihat dokter yang keluar dari sana, berpapasan dengannya.


"Istrinya pak Januar ya?"


Tersenyum dengan manis yang diabaikan oleh Amber dan memilih untuk melihat kondisi mertuanya. Di dalam kamar, Ibu Dyah Tengah di genggam tangannya oleh Januar.


"Ibu nggak papa. Yang harus kamu hawatir itu itu istri kamu. Dia menghilang. Gimana kalau dia tersesat di dalam pasar? Kasihan dia pasti ketakutan."


"Perempuan Barbar kayak dia nggak mungkin punya rasa takut."


"Maksud lu apaan ya?" tidak tahan untuk masuk ke dalam percakapan ketika dirinya disepelekan seperti itu.


Ibu Dyah maupun Januar menoleh.


"Ya ampun, nak. Kamu kemana aja bikin Ibu khawatir? Sini dulu, cerita sama ibu."


"Nggak boleh," ucap Januar dengan penuh penekanan ketika Amber hendak masuk ke dalam.


"Pria itu berdiri dan berjalan menuju arahnya.


Januar jangan keterlaluan." Ibu Dyah memperingati tapi diabaikan.


Mencekal pergelangan tangan Amber kemudian membawanya keluar dari kamar.


"Tangan gue sakit!" teriak Amber mendesis menahan remasan yang begitu kuat. Dia tidak main main! Ini begitu sakit!


Tidak ada nada suara yang naik, tapi kalimat yang penuh penekanan juga tatapan mata yang tajam mampu membuat Amber tidak terima, dirinya seolah disalahkan.


"Gue cuma keliling buat nyari tempat di mana gue bisa duduk dan merenung! Kehidupan gue ini berubah drastis dan gue nggak suka! Gue muak dengan semua ini! Lu tahu nggak tahu gimana menderitanya gue!"


"Kamu harusnya jangan egois, lihat apa yang kamu perbuat sekarang. Ibu jadi sakit."


"Dia emang udah sakit-sakitan kan? Namanya juga udah tua." Amber tidak menerima, dia ingin Januar mengerti dirinya kalau semua ini tidaklah mudah untuknya.


Tapi pria itu malah menatapnya dengan tajam, kemudian menyeringai. "Manusia kayak kamu emang gak akan pernah tahu apa itu artinya sopan-santun, apa artinya kemanusiaan. Kalian orang-orang kaya cuma manusia yang gak punya hati."


Sedetik setelah mengatakan itu, Januar berbalik meninggalkan Amber yang merasakan sakit hati, dadanya berdenyut terasa nyeri. Dan tanpa dia sadari air matanya menetes. Memberikan tanda bagaimana kata-kata yang Januar lontarkan telah menggores hatinya.


Apalagi ketika pria itu menutup pintu kamar mereka dengan kencang, menimbulkan suara amarah.


🌹🌹🌹


Karena rasa sakit hati yang mendalam, Amber memutuskan untuk diam di dalam kamar. Dia memainkan ponselnya, dan membiarkan air matanya jatuh begitu saja.


Padahal dulu dirinya seringkali dimarahi, dibentak oleh kedua orang tuanya. Tapi tidak pernah rasanya sesakit ini. Dikatain tidak memiliki peri manusiaan, Apakah seburuk itu dirinya di mata orang lain?


Gue harus ngapain? Bosen banget di dalam kamar?"


Sesekali telinganya mendengar suara batuk-batuk dari Ibu Dyah yang masih ada di dalam kamarnya. "Siapa juga yang punya niat buat bikin itu emak-emak sakit? Gue kan juga pengen tenangin diri sendiri dulu. Emangnya semudah itu buat bisa adaptasi sama semua ini?"


Lama-kelamaan tiba-tiba Amber teringat dengan nomor ponsel milik mantan pacarnya yang bernama Darren. Iseng menghubungi nomor itu dengan mengiriminya pesan dan mengatakan kalau dirinya adalah Amber.


Dan tanpa diduga, mantan pacarnya itu malah menghubunginya dengan telepon. Amber langsung terperanjat dia menegakkan tubuhnya dan menatap ponsel itu dengan takut. Menelan salivanya kasar, apa yang harus dia lakukan sekarang?


Ketika 1 panggilan tidak terjawab, panggilan-panggilan lainnya berdatangan dari nomor yang sama. Sampai akhirnya nomor Darren mengirimkan sebuah gambar, tempat di mana mereka berdua biasa bersenang-senang ketika masih pacaran, dengan pesan berisikan kalimat. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya, aku minta kamu buat ngasih aku kesempatan. Aku benar-benar pengen bertemu sama kamu. Dan kamu tahu? Aku udah beliin kamu perhiasan yang kamu mau."


Kemudian gambar lainnya datang, itu adalah potret di mana Darren sedang memegang kalung berlian yang berkilau.


Pria itu terlihat menyesal, jadi Amber mengangkat panggilannya.


"Sayang kamu dimana? Kamu tahu gimana paniknya aku waktu tahu kamu keluar dari kampus dan pindah. Aku bener-bener nyesel atas apa yang aku lakuin sama kamu. Itu adalah sebuah kesalahan. Bisa nggak kita ketemu? Dan memulai Semuanya dari awal lagi? Dan awalan itu aku pengen kita tunangan."


Siapa yang tidak terkejut? Seorang Darren yang menjunjung tinggi egonya kini memohon padanya, bahkan menjanjikan sebuah status diantara mereka.


Aku nggak bisa pergi dari tempat ini."


Aku yang bakalan jemput kamu ke sana."


"Enggak jangan gitu!" teriak Amber seketika. Gimana kalau kita ketemuan aja? Di tengah-tengah?"


"Kirim aja alamatnya."


Ketika panggilan terputus, Amber langsung mengirimkan alamat dimana dirinya ingin bertemu dengan Darren. Berbekal uang yang diberikan oleh ibu Dyah sebelumnya, Amber yakin kalau semua ini akan cukup.


Karena begitu dia bertemu dengan Darren, pria itu pasti akan memberikannya lebih banyak uang dan juga perawatan yang menjanjikan, terlebih lagi cinta yang hanya ditunjukkan padanya.


Amber akan meninggalkan tempat ini! Dengan janji yang lebih baik! Dengan pria yang memperlakukan nya lebih baik daripada Januar!


🌹🌹🌹